
Lucifer berhasil naik ke atas bukit dengan punggungnya yang menggendong gadis yang ia selamatkan. Bersyukurlah karena lengan dan kakinya sangat kokoh, sehingga mereka berdua bisa berhasil keluar dari jurang seringgi tiga meter itu.
"Siapa namamu?" Tanya Lucifer dengan nada datar. Kakinya masih berusaha berpijak dengan benar.
"Lumina," bisiknya pelan.
Gadis itu—Lumina—memeluk leher Lucifer erat, menyadari jika pendarahan di kakinya semakin parah. Sehingga membuatnya meringis.
"Kau mau mencekikku atau apa?" Ujar Lucifer dingin.
Lumina tidak bergeming, ia masih setia memeluk leher Lucifer erat sambil meneteskan air mata. Rasa sakit dan perih terasa kental di kakinya. "S-sakit," lirihnya.
"Aku tahu. Tapi jika kau terus mencekikku, bagaimana aku bisa menolongmu, hm? Aku kesulitan bernapas," seru Lucifer. Lumina menurut, ia merenggangkan pelukannya di leher Lucifer.
Lucifer membuka pintu mobil dan memasukan Lumina ke kursi belakang—dengan posisi terbaring. Ia melepaskan jaket hitam miliknya dan melipatnya guna dijadikan bantal untuk Lumina.
"Sial," umpatnya saat melihat darah yang keluar begitu banyak dari kaki Lumina. Lucifer sadar jika gadis itu telah banyak kehilangan darahnya.
Tangannya mengeluarkan ponsel yang tersimpan di dashboard mobil. Ia menyambungkan telepon dengan seseorang. "Suruh Alex menyiapkan peralatan medisnya, ada yang mengalami pendarahan di kaki!" Serunya cepat saat telepon tersambung.
Orang di seberang sana mengernyit. "Kau terluka?"
"Bukan aku. Intinya suruh saja dia bersiap, aku akan segera berangkat!"
"Hei, bagaimana dengan keluarga yang menjadi targetmu? Sudah kau habisi semuanya? Atau--"
Lucifer mematikan sambungannya sepihak. Persetan dengan Alex, dirinya saat ini sedang tidak bisa berpikir jernih. Seumur hidupnya, seorang Lucifer yang dingin itu akhirnya merasakan apa itu yang dinamakan perasaan bingung. Ia bingung harus ia apakan gadis kecil di dalam mobilnya. Tidak ingin berlama-lama, dan membuat Lumina merengek kesakitan. Lucifer memasuki mobilnya dan menjalankannya dengan kecepatan tertinggi menuju markasnya.
Malam ini sangat sepi, lebih sepi dari hari-hari sebelumnya. Pikir Lucifer mungkin semua orang sedang tertidur atau mungkin keluar rumah untuk merayakan tahun baru.
Kurang dari satu jam, mobil Lucifer sudah sampai di depan markasnya. Dengan tergesa ia mengangkat Lumina yang tertidur, karena ia dengan sengaja memberi sebotol air minum yang sudah tercampur dengan obat tidur pada gadis itu.
Dirinya disambut oleh kedua temannya yang menatapnya dengan tatapan heboh.
"K-kau membawanya?" Damian lah yang paling shock diantara kedua temannya. Lucifer menanggapinya dengan tatapan tajam, kemudian mengangguk malas.
__ADS_1
"Hm, jangan tanya kenapa! Karena aku yang harusnya bertanya pada James sial*n itu, kenapa sampai salah mengirimiku alamat?!"
Alex mengambil alih tubuh Lumina dari gendongan Lucifer. Dirinya menggendong Lumina dan menidurkannya di sofa markas mereka. Terlihat Alex sedang fokus dengan peralatan medisnya, membuat Lucifer mengacuhkannya.
Damian menggeleng heran. "Baru kali ini aku melihat wajahmu seperti itu. Tapi tenang saja, klien kita itu akan menambahkan lima puluh juta lagi untukmu,"
Lucifer menggeram. "Dan lima puluh juta itu kugunakan untuk membiayai anak ini. Puas! Aku sama sekali tidak mendapat keuntungan, yang ada hanya kerugian. Sial!" Lucifer mengacak rambutnya kasar. "Harusnya kubunuh saja klien bodoh itu," lanjutnya dingin.
"Whoa, tenanglah Lucifer. Ini bukan seperti dirimu, kau harus tenang. Dia tetaplah klien kita yang sudah membayar mahal," Damian mencoba menepuk bahu Lucifer, namun tangannya terlebih dulu di tepis oleh pria itu.
"Kau mencoba menyentuhku, maka akan kupatahkan tanganmu itu. Aku sedang tidak dalam kondisi baik saat ini!" Ujarnya datar.
"Sepertinya aku tahu alasanmu untuk membiarkannya hidup, bahkan mau mengurusnya," celetuk Damian lantang. Lucifer menghujami Damian dengan tatapan tajam menusuk, sambil bersiap dalam mode brutal. Damian sangat menguras habis kesabarannya.
"Kau merasa bersalah, bukan?" Tanya Damian. Lucifer berdecih, ia tak dapat menyangkalnya. Namun juga tidak dapat membenarkan ucapan Damian.
"Anak itu yang memintaku untuk membawa dan menyelamatkannya. Jadi tidak ada hubungannya denganku, sial*n!" Geram Lucifer.
Damian berkata 'wow' hanya dengan gerakan mulutnya. Ia terkekeh pelan. "Nyali anak ini bagus juga. Ia malah meminta seorang pembunuh sepertimu membantunya?"
Tepat ketika Damian akan membuka mulutnya lagi, Alex berdiri dan menghampiri Lucifer. Ia berbicara jika ia sudah selesai untuk memberi pertolongan pada anak itu.
"Aku pergi dulu, ini obat untuknya. Dan jangan lupa untuk membayarnya," ujar Alex seraya berlalu pergi begitu saja setelah memberikan satu bungkus obat untuk Lumina.
Lucifer dan Damian sama-sama menghela napas, kemudian terdiam beberapa saat sebelum Damian membuka suara. "Aku yang akan membayarnya. Hitung-hitung sebagai permintaan maafku karena tak bisa membantumu."
"Terserah," Lucifer berlalu begitu saja. Ia menghampiri Lumina yang masih terlelap, kemudian mengangkatnya. "Aku akan langsung pulang," pamitnya datar.
Damian hanya bisa menggeleng miris. Raut wajah Lucifer malam ini adalah raut paling menyedihkan yang belum pernah ia lihat. Lucifer yang biasanya tenang, bisa se-emosi itu. Lucifer yang biasanya tak menggunakan hatinya, kini bisa menolong seseorang?
"Menarik," gumam Damian.
...***...
Cristh menatap langit malam yang sangat bercahaya di kota Roma. Pria itu menghela napas berat, ia menatap Stella yang sudah tidur terkulai di bahunya.
__ADS_1
Sudah hampir satu setengah jam mereka menelusuri jalan dengan mobil hitam yang di tumpanginya. Remang-remang lampu jalan menerangi jalanan. Tangan besar Cristh mengusap lembut rambut hitam Stella.
Bersyukurla, ia masih memiliki Stella di sisinya sehingga beban di pundaknya terasa ringan. Ia sudah berjanji, Cristh akan melindungi Stella.
Menjaga Stella dari bahaya apapun. Ia akan menjaga istrinya apapun yang terjadi, walaupun ia harus ...
"Mengorbankan oranglain demi menyelamatkanmu," gumamnya pelan. Dengkuran halus terdengar dari mulut istrinya.
Cristh mengubah duduknya lagi, menjadi menghadap ke depan. "Zoey," panggilnya pada seseorang yang mengemudikan mobil hitamnya.
Zoey melirik sekilas. "Iya, Tuan?"
"Apakah 'dia' sudah menyerang villa yang dipuncak pergunungan itu?" Tanyanya tak bernada.
Pria berumur 37 tahun itu mengangguk. "Sudah, Tuan. Seperti apa yang dikatakan Tuan sebelumnya, ada seseorang yang sedang mengincar keselamatan keluarga Tuan,"
Cristh menghela napasnya lagi. "Bagaimana keadaan keluarga itu?"
"Mereka semua mati. Anda tak perlu khawatir, Tuan," ujar Zoey menenangkan saat melihat perubahan ekspresi dari wajah Tuannya. "Villa itu sudah terbakar habis, lagipula tim kita sudah ada disana untuk membereskan kekacauan."
Cristh menyandarkan kepalanya ke kursi. Ia mengurut pangkal hidungnya dengan mata yang terpejam. "Aku ini orang sangat buruk. Bahkan aku telah membuat orang lain jadi umpan," lirihnya berharap wanita kesayangannya itu tak terbangun.
Cristh tahu, Stella akan marah besar atau bahkan tak mau bicara sama sekali padanya karena hal ini. Namun ia tak punya pilihan lain, selain menjalankan plan C yang tidak pernah ia pikirkan sama sekali. Yaitu—menjadikan keluarga lain umpan.
Persaingan antara perusahaan memang ketat dan juga berbahaya. Orang-orang biasa tidak akan ada yang tahu, jika dibalik kesuksesan yang menjulang tinggi, harus ada pengorbanan. Dan Cristh salah satunya.
Ia harus mengorbankan hatinya untuk menjadi dingin dan kejam, sampai ia dengan teganya menjadikan umpan orang lain untuk dirinya sendiri.
Setitik air mata menetes dari ujung matanya yang terpejam. Zoey melihatnya dari kaca mobil, namun pria itu hanya diam tak mau memperkeruh suasana.
"Maafkan aku Stell. Aku manusia yang buruk."
...\=\=\=\=\=...
...-TBC-...
__ADS_1