
Yu Dong berdiri diatas atap sambil menatap orang-orang yang ada diatas. Orang-orang itu bersorak dengan meriah, seakan-akan mereka menyambut para pahlawan yang oembali dari medan perang.
"Sungguh konyol!" Yu Dong bergumam diatas atap sambil menatap sang tokoh utama disana. Yang dia tatap adalah Mu Lian, seorang gadis dengan paras yang sangat cantik.
Untuk beberapa alasan, Yu Dong bisa merasakan kegugupan, kegelisahan, ingin keluar, dan tidak ingin diganggu. Yu Dong hanya tertawa kecil. Siapa sangka ada seorang gadis yang sangat cantik, sangat dihormati, dan direbut oleh 3 lelaki tampan, ingin keluar dari situasi itu.
Yu Dong melompat turun, tepat dibelakang orang-orang yang perhatiannya sedang teralihkan. Dia berjalan, memngikuti parade itu dari samping. Sambil menatap Tokoh Utama yang ada disana.
"Hm?" Yu Dong sadar, ia saat ini saling tatapan dengan putri Kaisar Surgawi Mu. Ia kemudian tersenyum nakal, seolah-olah ingin tertawa. 'Konyol sekali!'
Ia benar-benar ingin tertawa saat itu. Tapi, jika tertawa apa pendapat orang lain dengannya? Yu Dong kemudian, mengeluarkan dua keping koin perak lalu mengambil salah satu topeng di toko yang ia lewati. Ia menghilang dengan sangat cepat, dan dua koin perak terletak diatas meja toko tersebut.
Dengan senyum, Yu Dong melewati berbagai orang, tanpa disadari seseorang pun. Ia kemudian memasang topeng.
Ia masuk kedalam barisan dibelakang tandu, sambil tertawa kecil. Kemudian, seseorang dengan tinggi yang melebihi Yu Dong berdiri disampingnya. Topeng yang ia pakai juga sama.
Yu Dong merasa hawa keberadaannya terasa sangat familiar. "Te-tetua?"
Pria yang ada disampingnya seakan-akan menatap Yu Dong. "Murid Dong? kenapa kamu ada disini?"
"Tetua juga! Kenapa ada disini?" Yu Dong berseru dengan sedikit tawa.
"Dasar anak nakal, kamu juga ikutan menikmati parade konyol ini?" Tetua tertawa kecil saat berkata.
"Tetua juga seorang Tetua Nakal! Kenapa tidak berada di gedung utama sekte?" Yu Dong tambah tertawa saat mengingat posisi orang tua yang ada di depannya.
Memang, seharusnya pata Patriark dan Matriarks lalu ketua sekte seharusnya ada di gedung utama Sekte Awan Surgawi, tapi seperti nya ia tidak mengikuti peraturan.
"Nak Dong, Tetua ini kabur dari tugasnya!" Tetua yang ada didepan Yu Dong ini berkata dengan sangat riang.
"Nakalnya!" Yu Dong kemudian tertawa dengan lantang. "Tetua adalah tetua terburuk! Haha,"
"Diam bocah, kamu juga menyusup kesini!" Tetua itu tertawa kecil.
Beberapa saat kemudian, sebuah alunan musik terdengar dari arah depan. Alunan music itu dikhususkan untuk mengiringi para penari.
Yu Dong dan Tetua itu kemudian saling tatapan. Walau ditutupi oleh topeng, tapi dari balik topeng itu bisa diketahui bahwa mereka merencanakan sesuatu.
"Tetua, apa anda bisa menebak apa isi kepala saya saat ini?" Yu Dong tertawa pelan.
__ADS_1
"Tentu saja! Aku bisa menebaknya!" Tetua serta Yu Dong keluar dari barisan belakang dengan sangat lincah tanpa diketahui orang lain.
Beberapa saat kemudian, mereka lewat dibawah Tandu yang amat besar itu tanpa menganggu orang lain. Bahkan yang membawa pun tidak tau ada mereka dibawah sana.
Yu Dong serta Tetua menarik dua orang dan membawa mereka pergi ke gang kecil.
"Huwaaa! Siapa kalian?"
"Apa kalian salah satu dari pemberontak?!"
Kedua orang laki-laki itu terlihat sangat takut dengan dua orang yang memakai topeng.
"Nak Yu Dong, jangan terlalu kasar ya!"
"Tenang saja! Aku hanya akan mengambil pakaian serta aksesoris mereka!" Yu Dong tertawa nakal dibalik topengnya.
Bunyi musik semakin meriah, dan membuat para penari semakin lincah bergerak. Orang-orang yang melihat hanya bersorak sambil tepuk tangan.
Dan yang berada diatas Panggung yang dibawa oleh 10 orang itu, hanya menatap datar para penari. "Membosankan!"
Sang Tokoh Utama, Mu Lian berkata. Para tuan muda hanya tertawa canggung melihatnya.
"Nona Mu Lian, jangan terlalu cemberut! Nikmati saja sesukamu!" Yu Han berseru didekat Dong Han.
"Yang dikatakan saudara Yu Han dan Dong Han benar! Nikmati saja!" Lin Zong berkata sambil tertawa.
Mu Lian yang menatap mereka dari depan, hanya menghela nafasnya dan tersenyum. "Sesuka ku kan?"
Beberapa saat kemudian, tatapan Mu Lian terarah pada orang tau dan seorang anak kecil yang memakai topeng saat itu.
Mu Lian kemudian tertawa kecil. Tarian yang mereka peragakan terlihat sangat aneh, seakan mereka tidak pernah menari.
"Tetua, apa kamu menikmatinya?" Yu Dong berkata sambil menggerakkan badannya.
"Tentu saja! Aku bisa melihat ekspresi mereka yang tidak tahan dengan gerakan kita berdua!" Tetua berseru dan mengganaskan gerakannya.
Yu Dong yang melihat gerakan Tetua yang semakin cepat dan cepat membuat Yu Song juga mengeluarkan semua tenaga nya. Kemudian, mereka berdua berhasil menyamakan tarian mereka dengan para senior disana.
"Bocah nakal, apa kamu bisa mengikuti tarianku yang akan mengguncang mereka?" Tetua berseru.
__ADS_1
"Anda pikir saya siapa?" Yu Dong membuat tarian yang acak, namun masih terlihat natural dihadapan mereka.
Para penari mungkin tidak sadar karena sibuk dengan menyesuaikan tarian mereka, namun para penonton hanya bisa membuka mulut mereka saat melihat tarian dua orang yang ada ditengah-tengah.
Suara dari music semakin kencang dan kencang. Tidak ada yang dapat menghentikan irama musik tersebut. Suara gendang, dan merdu kecapi menjadi satu dan semakin ganas.
Bam!
Akhirnya berhenti. Parade itu sudah sampai ditujuan. Gerbang istana Awan Surgawi sudah didepan mata.
Para penari berhenti menarikan tarian mereka. Dan suara musik sudah tidak terdengar. Lalu, tandu yang mengangkat para bangsawan besar itu dibawa masuk kedalam gerbang.
Yu Dong dan Tetua ingin kabur, tapi sepertinya mereka sudah terkepung. Penari, dan orang yang mengiringi para penari berkumpul menatap Yu Dong dan Tetua.
"Kalian siapa?"
"Tarian kalian memang bagus, tapi dimana dua saudara kami?"
"Kalian tidak membunuh mereka kan?"
Yu Dong dan tetua hanya tertawa canggung saat nereka dikelilingi oleh para pekerja parade. "Ka-kami tidak membunuhnya kok!"
Kata-kata Yu Dong membuat para pekerja itu semakin menatap mereka dengan tajam.
"Saudara! Saya disini!" Suara dari pekerja dari kerumunan orang yang mulai bubar terdengar dari jarak jauh membuat perhatian mereka teralihkan.
Beberapa saat kemudian, asap mengelilingi sekitar dan menghalangi pandangan.
Mereka kembali menatap, namun mereka berdua sudah menghilang tanpa jejak.
—————————
Catt. Pengarang:
Jujur aja, ch kali ini kurang dari yang kubayangkan, tapi tetap aja aku ingin membuatnya, yah sebelum tragedi, berpesta apa salahnya? wkwkwk
Kalau begitu, bagi yang menikmati terima kasih, bagi yang tidak saya bisa berucap apa? Setiap orang berbeda, begitu pula dengan selera :v
Kalau begitu, saya ucapkan selamat tinggal, dan semoga kalian para pembaca menikmati cerita dan dukung penulis nya sekali yak, biar semangat :v
__ADS_1
Goodbye, readers~~~~