
"Kenapa gue bilang pelakor, karena nyokab lo ngerebut Papa Damian dari Mama gue. Lo tahu dong kita selisih umur nggak sampai 1 tahun. Karena mama kita beda, bukan karena Mama kebobolan. Papa sama Mama itu udah pacaran dari lama. Tapi saat Mama hamil Papa ninggalin Mama dan Nikah sama Mama kamu".
Tit tit tit tit
Terdengar bunyi monitor yang semakin nyaring, seakan memberikan semangat Aurel untuk bercerita lebih lagi.
"Mama yang nggak terima saat tahu Papa nikah dengan Mama kamu datang sambil bawa aku yang baru berusia 2 bulan dan mengatakan pada Mama kamu bahwa aku adalah anak Papa Damian. Awalnya sih Papa Damian mengelak, namun karena hasil tes DNA mengatakan kalau gue benar anak Papa Damian jadi mau nggak mau Papa Damian harus akuin gue sebagai anaknya".
Tit tit tit tit tit
Tersenyum senang Aurel mengamati monitor dengan mata yang berbinar. Tidak ada niatan untuk sekadar menekan tombol panggilan ke perawat atau mencari dokter.
Dengan senyum mengembang Aurel meneruskan ceritanya. " Mama lo yang nggak terima dengan kenyataan langsung terlibat cekcok dengan Papa Damian. Dan naasnya Mama lo yang tengah marah berlari keluar rumah dan terjatuh dalam kondisi tengah hamil 7 bulan. Dan lo bisa nyimpulin sendiri kan kelanjutannya. Mama lo mati saat lo dilahirkan, karena kondisi lo yang lahir belum cukup umur ngebuat lo punya sakit jantung. So lo adalah penyebab Nyokab kandung lo mati. Dan gue sama Mama Anisa benci sama lo karena lo anak pelakor".
Tubuh Clarissa kejang dengan air mata yang mengalir di pelupuk matanya yang tertutup. Dengan senyum iblisnya Aurel melihat kondisi tubuh Clarissa yang tengah kejang tersebut lalu dengan bersenandung dia mengambil tombol panggil darurat dan menekannya setelah 1 menit Clarissa mengalami kejang.
Dengan wajah panik Papa Damian berlari di koridor rumah sakit. Dia meninggalkan meetingnya saat mendapat kabar bahwa kondisi Clarissa tengah kritis.
"Dokter kenapa dengan Clarissa ?" Tanya Papa Damian kepada dokter Farhan yang baru saja keluar dari ruangan rawat Clarissa.
"Kondisi Clarissa kritis. Tadi dia mengalami kejang, terpaksa Clarissa harus dipindahkan ke ruang ICCU" kata Dokter Farhan.
ICCU atau Intensive Cardiology Care Unit adalah tempat perawatan intensif untuk penderita penyakit jantung seperti Clarissa. Disana kondisi Clarissa akan dipantau secara intensif, karena ada perawat yang mendampingi selama 24 jam.
"Dan secepatnya transplantasi jantung harus dilakukan. Apakah Pak Damian sudah mendapatkan donornya?".
"Saya belum menemukanya dokter" Kata Papa Damian dengan
lesu.
Kring
__ADS_1
Kring
Terdengar suara ponsel yang berbunyi. Papa Damian merogoh saku celananya karena ponselnya dan menekan tombol angkat pada ponsel tersebut saat mengetahui siapa yang tengah menghubunginya.
"Halo ada apa" tanya Papa Damian pada si penelopon.
"Apa?, Dimana?. Baik tolong urus secepatnya. Saya akan bayar berapapun biayanya" ucap Papa Damian.
"Dokter saya mendapatkannya" ucap Papa Damian sambil menatap kearah Dokter Farhan.
"Saya dapat pendonornya dokter"
"Dokter, pasien yang bernama denaa yang dioperasi oleh dokter kemarin sore, sekarang mengalami mati batang otak dokter" ucap salah satu perawat memberikan informasi kepada dokter bedah yang melakukan operasi kepada dena.
"Innalilahi, kasihan anak itu" ucap dokter tersebut sambil berjalan menuju ruang dimana dena berada.
"Dan ini ada permintaan untuk menjadikan pasien dena sebagai pendonor jantung dokter".
"Iya dokter kebetulan ternyata dena memang telah mendaftarkan diri untuk menjadi pendonor organ" kata perawat tersebut.
"Bagaimana apa sudah selesai prosedurnya Nu" tanya Papa Damian pada Danu asisten pribadinya.
"Sudah Pak" jawab Danu.
Papa Damian berjalan keruangan dokter Satria guna memberikan kabar mengenai pendonor jantung untuk Clarissa.
"Dokter Farhan. Prosedur semua sudah dilakukan. Beruntung anak tersebut memang sudah mendaftar sebagai pendonor organ. Jadi data kesehatannya juga sudah lengkap" ucap Papa Damian antusias.
"Baik Pak kita akan segera melakukan tindakan, kondisi Clarissa juga sudah mulai stabil, operasi bisa kita lakukan setidaknya malam ini"
Dengan penuh harap Papa Damian berdoa untuk kelancara operasi transplantasi jantung yang akan dijalani oleh Clarissa malam ini.
__ADS_1
Bebeda dengan Mama Anisa dan Aurel yang berdoa semoga operasinya gagal dan Clarissa tidak selamat.
Waktu yang ditunggu akhirnya tiba. Clarissa dan dena dipindahkan keruang operasi secara bersamaan.
Diruang operasi 1 tim dokter bersiap untuk mengambil jantung dena yang telah mengalami mati batang otak.
Sedangkan diruang operasi 2 tim dokter tengah menyiapkan Clarissa untuk menerima transplantasi jantung dari dena dengan menyambungkan pembulu darah Clarissa kesebuah alat Bypass jantung-paru yang menjadi penganti sementara fungsi jantung Clarissa yang tengah menjalani transplantasi.
Setelah hampir 5 jam menjalani operasi dokter keluar dan memberikan berita bahwa operasi telah selesai dilaksanakan dan Clarissa sekarang tengah berada di ruang observasi pasca operasi sebelum nanti akan dipindahkan keruang ICCU lagi.
Papa Damian bernapas lega karena operasi berjalan lancar dan setelahnya menyuruh Danu asistenya untuk mengurus pemakaman dena secara layak. Karena dena yang merupakan anak yatim piatu tanpa sanak saudara sehingga Papa Damian mengambil tanggung jawab untuk memakamkan dena.
Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan.
Tak terasa sudah 3 bulan Clarissa tidak sadarkan diri. Meskipun hasil operasi dikatakan berhasil dan tidak ada efek samping yang terjadi Clarissa belum membuka matanya. Entah apa yang dilakukan Clarissa dialam bawah sadarnya sehingga ia tidak mau bangun menyapa orang-orang yang menunggunya dengan cemas.
"Sayang bangunlah Nak, Papa rindu dengan sikap manja kamu" ucap Papa Damian sambil mengusap punggung tangan Clarissa 'huh kenapa si anak sial itu masih bertahan juga' keluh Mama Anisa yang melihat kearah Papa Damian yang tengah duduk disamping Clarissa.
"Eh ini gue dimana, perasaan kemarin gue kecelakaan gara-gara di dorong cantika. Kok ini gue baek-baek aja ya" Kata dena sambil mengamati tangan kaki dan anggota badannya yang lain.
"Ini dimana sih, taman Deket rumah gue nggak bagus kayak gini deh, mana sepi lagi nggak ada bocil-bocil yang lagi asyik maen" ucap dena sambil berjalan menyusuri jalan setapak diantara tanaman bunga yang bermekaran.
Hiks.. hiks..
"Eh busyet suara apaan tuh, kok kayak ada orang nangis. Masak siang-siang begini ada hantu" Kata dena sambil berjalan mencari sumber suara tangisan yang didengarnya.
Tampak disana seorang gadis dengan kulit yang putih dan rambut hitam panjangnya tengah duduk dipinggir kolam sambil menekuk kedua lututnya.
"Hantu bukan ya, tapi kakinya nggak melayang kok. Samperin kali ya"
"Ha-hai. Lo kenapa" dengan ragu denaa menyapa gadis tersebut dan duduk disampinya.
__ADS_1
"Kamu siapa?" Tanya gadis itu sambil menghapus air matanya.