
Bel pulang berbunyi, dena bergegas keluar dari kelas. Tak ia hiraukan kedua temannya yang memandangnya dengan tatapan bertanya. dena masih kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Amel kepadanya, dia juga berpikir apa Nadia mengetahui perbuatan yang Amel lakukan. Kalau benar Nadia juga mengetahui hal tersebut. Lalu pertemanan seperti apa yang ia jalani saat ini.
"Woi tukang tipu. Mau pulang lo" teriak wati.
"Heh hidup lo nggak tenang ya kalau semenit aja lo nggak ganggu gue" geram dena lalu berjalan kearah wati serta cantika
"Bilang sama temen lo buat nggak ganggu gue atau gue bakal sebar rekaman obrolan lo sama Amel di rooftop saat istirahat siang tadi" ucap dena pada cantika.
"Eh lo apa-apaan pake ngancem-ngancem temen gue segala. Kalau kalah saing yang fair dong" ucap wati sambil berdiri didepan cantika seakan menjadi tameng untuk teman laknatnya itu.
"Fair?" Sarkas dena sambil tersenyum smirk kearah cantika lalu pergi meninggalkan cantika yang tengah mematung dengan wajah pucat.
dena tunggu" teriak cantika memanggil dena yang tengah berjalan ke halte bus
"Lo.. lo denger apa di rooftop tadi" tanya cantika.
"Oh gue cuma denger lo ngobrol sama Amel soal lo kasih dia duit buat masukin tumpukan kertas ke loker gue" jawab dena acuh.
"Cuma denger doang kan, siapa yang bakal percaya kalau lo bilang gue yang udah fitnah Lo, secara semua siswa di SMA Pelita Bangsa udah tahu kalau Lo curang" ejek cantika yang merasa dena hanya memberikan gertakan saja tanpa memiliki bukti.
"Eh gue belom bilang ya tadi kalau gue juga ngerekam obrolan kalian tadi" ucap dena sambil memutar rekaman suara di ponselnya.
"Gimana ya kalo rekaman ini gue sebar di grup chat sekolah. Kayaknya bakal heboh deh" kata dena sambil mengutak Atik ponselnya.
"Lo awas aja ya, siniin ponsel lo" marah cantika sambil berusaha merebut ponsel dena.
Apaan sih lo minggir sana" kata dena sambil berusaha mempertahankan ponselnya.
Karena postur tubuh dena yang lebih tinggi dari Sandra membuat cantika sedikit kesulitan merebut ponsel milik dena. Namun cantika tidak bisa menyerah begitu saja. Karena bagaimana pun masa depannya bisa hancur kalau rekaman itu tersebar. Belum lagi kalau orang tuanya mengetahui hal ini. Sudah dipastikan kalau cantika akan mendapatkan masalah besar.
Aksi saling tarik dan mendorong pun terjadi di pinggir jalan yang agak ramai kendaraan berlalulalang. Namun sepi dengan siswa, sebab kebanyakan yang bersekolah di SMA Pelita bangsa adalah anak dari para pengusaha dan orang kaya. Suatu keberuntungan untuk Nada yang bisa mendapatkan beasiswa di SMA elit tersebut.
"denaa Arrghh" teriak cantika yang dengan membabi buta berusaha merebut ponsel dena.
__ADS_1
"Ups aduh jari gue kepleset, yah terkirim deh" ucap dena sambil menunjukan rekaman yang telah terkirim ke grup chat sekolah.
"dena lo brengsek" teriak cantika sambil mendorong tubuh denaa dengan kuat.
dena yang tidak siap terdorong kebelakang kearah tengah jalan raya.
Ckiiitt
Brakk
Tubuh dena terpental sejauh 5meter setelah sebuah mobil terpental dengan kecepatan tinggi mengahantam tubuh dena..
Wiu.. wiu..
Suara sirine ambulance yang tengah melaju dengan kecepatan diatas rata-rata membelah padatnya jalanan sore itu untuk membawa pasien yang berada didalamnya dengan segera kerumah sakit agar dapat mendapatkan pertolongan dengan segera.
Sesampainya di depan IGD rumah sakit para petugas dengan cekatan memindahkan tubuh seorang gadis yang berlumuran darah kearah brankar untuk mendapatkan pertolongan.
"Keluarga korban sudah dihubungi?" Tanya perawat yang merawat pasien.tengah memeriksa kondisi gadis tersebut.
Iya gadis yang tengah tergolek diatas brankar dengan darah yang mengalir di telinga serta pelipisnya adalah dena. Agaknya benturan yang dialami oleh dena sangat keras hingga darah juga keluar dari kedua telinganya.
"Hubungi pihak sekolah tanyakan tentang keluarganya, pasien harus segera menjalani operasi" seru dokter yang menangani dena kepada perawat yang ada disampingnya.
"Dokter saya sudah menghubungi pihak sekolah dan ternyata pasien ini adalah anak yatim piatu dokter" kata perawat tadi sambil menatap iba pada dena.
"Wali lainnya?" Tanya dokter
"Tidak ada dokter, dia tinggal sendirian" jawab perawat itu kembali.
"Baik kita bawa pasien ke ruang operasi sekarang"
"Tapi dokter wali pasien?"
__ADS_1
"Saya yang akan bertanggung jawab ini kondisi yang darurat"
Operasi perjalan cukup lama karena kondisi Nada yang cukup parah. 8 Jam lebih dokter berjibaku mengoperasi perdarahan dikepala dena.
"Saya berharap kamu bisa pulih Nak" ucap Dokter bedah yang memeriksa kondisi dena dan melakukan tindakan operasi kepada Nada.
...----------------...
Sementara di ruang VVIP dikamar rawat Clarissa terdapat seorang perawat yang tengah Menganti pakaian Clarissa setelah selesai menyeka badan Clarissa.
"Ibu untuk tangan dan kaki mbak Clarissa sering-sering digerakkan seperti ini ya" ucap perawat tersebut sambil memberikan contoh kepada Mama Anisa yang tengah menunggu Clarissa.
"Agar peredaran darahnya lancar, jadi nanti kalau mbak Clarissanya sadar otot-ototnya tidak kaku. Sambil diajak bicara mbak Clarissanya. Diberi motivasi dan semangat untuk sembuh. Karena meskipun dalam kondisi koma pasien tetap bisa mendengarkan suara orang-orang disekitarnya" kata perawat tersebut ramah. Sambil masih memberikan pijatan-pijatan lembut pada badan Clarissa.
"Saya permisi ya Bu" pamit perawat tersebut setelah selesai melakukan tugasnya.
"Huh biarin aja ototnya kaku kalau bisa lumpuh lebih bagus, atau mati sekalian lebih bagus lagi" omel Mama Anisa sesaat setelah perawat yang bertugas keluar ruangan.
"Eh kamu anak sial. Kenapa nggak langsung mati aja sih. Pakai koma segala. Kamu pikir perawatan dirumah sakit ini gratis. Cepet mati sana biar kamu nggak habisin duit Papa kamu" kata Mama Anisa sambil memandang kearah Clarissa yang tengah koma.
"Saya jadi nggak bisa shopping gara-gara harus nungguin kamu dirumah sakit. Emang anak nyusahin kamu itu. Jelas aja Mama kamu milih mati setelah ngelahirin kamu ketimbang ngurusin kamu. Karena dia nggak mau ngurusin anak penyakitan kayak kamu" lagi-lagi Mama Anisa mengomel di hadapan Clarissa yang tidak sadarkan diri.
Ceklek
"Ma gimana kabarnya, masih bertahan aja adik nggak tahu diri ini" ucap Aurel yang baru datang dengan masih memakai seragamnya.
"Iya nih, nggak tahu Mama betah banget dia tidur disini. Kenapa nggak langsung mati aja" kesal Mama Anisa.
"Apa kita sabotase aja alatnya itu ma" ucap Aurel sambil menunjuk alat yang berfungsi sebagai menyokong fungsi tubuh Clarissa.
"Jangan nanti kalau ketahuan bisa bahaya. Kamu tekan aja mental dia biar dia drop" bisik Mama Anisa pada Aurel.
"Sip Ma" Aurel mengacungkan ibu jarinya
__ADS_1
"Mama keluar dulu ya, ganti kamu yang jaga. Suntuk mama disini terus. Mau nyalon dulu" Ucap Mama Anisa sambil meraih tas selempang miliknya.