Transmigrasi Gadis Culun(Pembalasan Dendam)

Transmigrasi Gadis Culun(Pembalasan Dendam)
bab08


__ADS_3

Tapi Pak. Apa bapak yakin Sandra bisa memenangkan olimpiade itu dan mengharumkan nama SMA Pelita Bangsa. Dia saja melakukan kecurangan agar bisa ikut olimpiade" kata Nada sedikit merasa kesal dengan sikap Pak Ahmad.


"Jangan sombong kamu dena. Kami tim guru disini yang akan membimbin cantika secara maksimal agar cantika bisa mendapatkan hasil yang memuaskan" ucap Pak hasan dengan wajah yang memerah menahan emosi.


"Kenapa Bapak marah, saya hanya berpendapat Pak. Lagipula ini sangat aneh kenapa nama saya bisa dengan mudah diganti sedangkan cantika sudah tidak bisa diganti padahal baru selang 1 hari".


"Karena memang begitu aturannya. Apa jadinya nanti kalau nama peserta sering diganti-ganti".


"Baik Pak, semoga memang benar begitu adanya. Bukan karena hal lain. Dan saya harap rumor kalau saya berbuat kecurangan bisa segera diklarifikasi. Karena wati teman cantika tadi bilang KALAU Pak hasan sendiri yang mengatakan bahwa saya Di skors gara gara bolis karena melakukan sebuah kesalahan tidak masuk sekolah" kata dena sambil menekankan ucapanya di beberapa kata.


"Saya permisi Pak.


Assalamualaikum" pamit dena saat ia tidak mendapatkan respon apapun dari Pak hasan.


Kini dena berjalan menuju kelas XII IPs1 karena memang jam istirahat sudah selesai. Dia sudah tidak melupakan keberadaan Nadia dan Amel.


Brugh


"Ups sorry" ucap sebuah suara yang menabrak dena.


"Ngapain lo dari ruangan Pak hasan. Habis mohon-mohon biar ga di skors Kasihan nggak bisa ya?. Mangkanya jangan curang ngadu segals lgi" ejek wati gadis yang menabrak dena dengan sengaja.


"Masalah elo sama gue apa sih?" Kesal dena.


"Gimana ya, gue nggak suka aja lihat tampang sok pinter lo itu. Yang nyatanya lo itu penipu tukang curang. Jangan-jangan selama ini nilai lo bagus karena sering curang lagi" kata wati mulai menyulut emosi dari dena.


"Diem lo, nggak usah banyak bacot kalau nggak tahu yang sebenarnya" ucap dena sambil berlalu meninggalkan wati yang masih saja mengolok-olok dena.


Bukan karena dena yang penakut atau tidak bisa melawan wati. Hanya saja untuk apa adu urat kalau dena bisa menunjukan bukti kalau dia tidak melakukan kecurangan. Dan tentunya dengan cara yang elegan bukan cara berkoar-koar.


"dena....!!" Teriak Nadia sesaat setelah Nada memasuki kelas.


"Eh kutu, lo kemana aja. Pamitnya ke toilet nyusulin Amel. Tapi sampe Amel nonggol lo kagak balik-balik" omel Nadia tanpa rem.

__ADS_1


"Lo kenapa den?, Kok jutek?, Harusnya gue yang marah nih. Gue yang ditinggal sendirian di kantin" protes Nadia karena mendapatkan respon yang datar dan terkesan dingin dari dena.


"Lo kenapa Nad?" Tanya Amel yang heran dengan sikap dena.


"Bukan urusan lo" sahut dena dengan tatapan dingin kearah Amel.


"Njir lo kesambet setan toilet apa bagaimana ini, aneh banget" ucap Nadia sambil memengang dahi dena.


"Apaan sih lo" kata dena sambil menepis tangan Nadia.


Nadia dan Amel saling lirik dan bertanya dalam hati. Heran dengan sikap dena yang tiba-tiba berubah menjadi aneh setelah tadi dari kantin.


Selama jam pelajaran terakhir tidak ada perbincangan antara mereka bertiga. Meskipun Amel dan Nadia yang terkadang melirik kearah dena yang tengah memasang wajah datarnya sambil menatap kearah depan melihat guru yang sedang mejelaskan pelajaran.


Teng


Teng


Teng


"Woi tukang tipu. Mau pulang lo" teriak wati.


"Heh hidup lo nggak tenang ya kalau semenit aja lo nggak ganggu gue" geram dena lalu berjalan kearah wati serta cantika


"Bilang sama temen lo buat nggak ganggu gue atau gue bakal sebar rekaman obrolan lo sama Amel di rooftop saat istirahat siang tadi" ucap dena pada cantika.


"Eh lo apa-apaan pake ngancem-ngancem temen gue segala. Kalau kalah saing yang fair dong" ucap wati sambil berdiri didepan cantika seakan menjadi tameng untuk teman laknatnya itu.


"Fair?" Sarkas dena sambil tersenyum smirk kearah cantika lalu pergi meninggalkan cantika yang tengah mematung dengan wajah pucat.


dena tunggu" teriak cantika memanggil dena yang tengah berjalan ke halte bus


"Lo.. lo denger apa di rooftop tadi" tanya cantika.

__ADS_1


"Oh gue cuma denger lo ngobrol sama Amel soal lo kasih dia duit buat masukin tumpukan kertas ke loker gue" jawab dena acuh.


"Cuma denger doang kan, siapa yang bakal percaya kalau lo bilang gue yang udah fitnah Lo, secara semua siswa di SMA Pelita Bangsa udah tahu kalau Lo curang" ejek cantika yang merasa dena hanya memberikan gertakan saja tanpa memiliki bukti.


"Eh gue belom bilang ya tadi kalau gue juga ngerekam obrolan kalian tadi" ucap dena sambil memutar rekaman suara di ponselnya.


"Gimana ya kalo rekaman ini gue sebar di grup chat sekolah. Kayaknya bakal heboh deh" kata dena sambil mengutak Atik ponselnya.


"Lo awas aja ya, siniin ponsel lo" marah cantika sambil berusaha merebut ponsel dena.


Apaan sih lo minggir sana" kata dena sambil berusaha mempertahankan ponselnya.


Karena postur tubuh dena yang lebih tinggi dari Sandra membuat cantika sedikit kesulitan merebut ponsel milik dena. Namun cantika tidak bisa menyerah begitu saja. Karena bagaimana pun masa depannya bisa hancur kalau rekaman itu tersebar. Belum lagi kalau orang tuanya mengetahui hal ini. Sudah dipastikan kalau cantika akan mendapatkan masalah besar.


Aksi saling tarik dan mendorong pun terjadi di pinggir jalan yang agak ramai kendaraan berlalulalang. Namun sepi dengan siswa, sebab kebanyakan yang bersekolah di SMA Pelita bangsa adalah anak dari para pengusaha dan orang kaya. Suatu keberuntungan untuk Nada yang bisa mendapatkan beasiswa di SMA elit tersebut.


"denaa Arrghh" teriak cantika yang dengan membabi buta berusaha merebut ponsel dena.


"Ups aduh jari gue kepleset, yah terkirim deh" ucap dena sambil menunjukan rekaman yang telah terkirim ke grup chat sekolah.


"dena lo brengsek" teriak cantika sambil mendorong tubuh denaa dengan kuat.


dena yang tidak siap terdorong kebelakang kearah tengah jalan raya.


Ckiiitt


Brakk


Tubuh dena terpental sejauh 5meter setelah sebuah mobil terpental dengan kecepatan tinggi mengahantam tubuh dena..


Wiu.. wiu..


Suara sirine ambulance yang tengah melaju dengan kecepatan diatas rata-rata membelah padatnya jalanan sore itu untuk membawa pasien yang berada didalamnya dengan segera kerumah sakit agar dapat mendapatkan pertolongan dengan segera.

__ADS_1


Sesampainya di depan IGD rumah sakit para petugas dengan cekatan memindahkan tubuh seorang gadis yang berlumuran darah kearah brankar untuk mendapatkan pertolongan.


"Keluarga korban sudah dihubungi?" Tanya perawat yang merawat pasien.


__ADS_2