
Mansion keluarga De Lion terbilang salah satu mansion kerajaan yang cukup luas dan megah dari 3 keluarga bangsawan yang memiliki tempat tinggal yang luas dan megah.
Keluarga bangsawan ini adalah salah satunya, untungnya didalam ingatan Edward dia hapal setiap tempat dan sudut mansion ini. Mulai dari ruang makan keluarga, ruang tamu, taman belakang,dapur, kamar setiap anggota atau kamar – kamar para pelayan, perpustakaan, dan lain - lainnya.
Memang jarak dari kamar Edward untuk menuju kearah ruang makan terbilang cukup jauh, namun anehnya Edward sama sekali tidak merasa lelah ketika berjalan di setiap lorong yang dihiasi oleh barang – barang mewah dan lukisan yang cantik
Edward kini tiba didepan pintu ruang makan yang menjulang tinggi dan besar terlihat perkasa dari ukiran – ukiran pintu itu, didepan pintu itu terdapat dua orang penjaga yang bertugas untuk membuka pintu tersebut.
Kedua penjaga yang berjaga keheranan ketika melihat orang pertama yang datang memasuki ruang makan adalah tuan mudanya sendiri, biasanya memang Edward selalu memasuki ruang makan paling akhir ketimbang ayah atau ibunya.
Namun ketika Arya yang kini mengambil
alih tubuh Edward dia tidak akan melewatkan
waktu yang berharga untuk sarapan. Sesampainya didalam ruangan makan, Edward langsung menuju ke tempat kursi yang biasanya dia tempati. Sambil menunggu kedua orang tuanya datang, Edward memilih untuk mengawasi pekerjaan para
pelayan secara diam – diam.
Walaupun beberapa pelayan ada yang menyadari bahwa tuan mudanya sedang mengawasi mereka, namun mereka tetap melanjutkan pekerjaan mereka menata makanan yang siap disajikan seperti biasanya, tampil elegan dan anggun.
Pelayan – pelayan di mansion keluarga ini merupakan para pelayan terbaik yang dipilih dari ribuan orang yang mencoba melamar
pekerjaan ini di kota Panthera.
Dan juga ada beberapa anak pelayan keluarga sebelumnya yang mendapat kesempatan untuk bergabung bersama kedua orang tuanya untuk menjadi bagian dari pelayan keluarga, misalnya adalah kedua pelayan yang mengurus kebutuhan Edward. Mereka adalah anak dari pelayan lama yang menikah dan memilih untuk mendedikasikan anak mereka agar menjadi pelayan keluarga Lion D’Or selamanya karena hutang budi mereka kepada ayah dan ibu dimasa lalu
Lalu para pelayan – pelayan yang terpilih baik
itu pria atau pun wanita akan melakukan pelatihan ketat yang dibina oleh kepala pengurus rumah “Steven” yang telah mengabdi menjadi pelayan ayah ketika dia berusia lima belas tahun.
“Didalam novel yang kubaca, penulis hanya menjelaskan beberapa metode pelatihan yang diberikan kepada pelayan keluarga ini, mungkin aku bisa menanyakan hal itu kepada ayah ataupun kepada Steven nanti karena mungkin hal itu dapat berguna suatu saat” ucap Edward yang penasaran
Tidak lama berselang pintu ruang makan kini kembali terbuka, dan menampilkan dua sosok yang memasuki ruangan tersebut yang tidak lain adalah ayah dan ibu, ayah seperti biasa memakai baju kemeja putih rompi coklat favoritnya sedangkan ibu memakai gaun klasik berwarna merah tua dengan motif yang sederhana, lebih tepatnya gaun klasik “Victorian gothic dress”
Edward beranjak bangun dari tempat duduknya dan mulai menyapa kedua orang tuanya yang baru saja datang. sebagai bentuk tradisi dan penghormatan
“Selamat pagi, ayah dan ibu” ucap Edward sambil membungkukkan badannya sejauh 15 derajat.
Terlihat nampaknya kedua orang tua Edward cukup terkejut melihat anak semata wayangnya sudah tiba duluan diruang makan
“Ooh ya ampun, Edward kamu sudah ada disini?” ucap Richard “aku kira kamu masih tidur dikamarmu hahahaha”
__ADS_1
“Sayang, sudah cukup! Memangnya kenapa kalau anak kita lebih dahulu tiba disini, mungkin dia sudah lapar dan kita malah membuatnya menunggu” balas charlotte sambil tersenyum kepada Edward
“Eh…iya, iya hahahaha baiklah, mari”
Mereka lalu segera menuju tempatnya masing – masing, ayah selalu menempati kursi tengah, Edward berada di sisi kanan sedangkan ibu berada di sisi kiri ayah. Kamipun lalu mulai menyantap makanan yang disajikan seperti kebudayaan bangsa eropa ketika mereka makan tidak ada satupun yang makan sambil berbicara.
Dengan elegan ayah dan ibu memotong daging steaknya sambil menikmati anggur. Ayah dengan rambut bronde panjang yang di kuncir belakang kepala ketika sambil makan seperti selalu menampilkan kesan berwibawa sedangkan ibu dengan rambut merah keriting yang terurai terlihat amat cantik dan juga elegan.
“Berarti rambut merah dan mata yang aku miliki ini didapat dari ibu sedangkan postur badan didapat dari ayah” ucap pelan Edward sambil mengamati kedua orang tuanya makan
Tanpa Edward sadar ternyata ibunya menyadari bahwa anak mereka sedang memperhatikan dirinya dan suaminya ketika sedang makan, sedang untuk suaminya sepertinya sudah mengetahui duluan namun tetap mengabaikan perhatian anaknya
“Ada apa nak? ucap Charlotte “apa ada yang salah di wajahku sayang?”
“Tidak ada ibu, hari ini sepertinya wajah ibu terlihat begitu cantik cocok dengan gaun yang ibu pakai, Aku suka” balas Edward sambil melanjutkan melahap makanannya
“Oh ya ampun.....kamu ini, bisa saja” balas charlotte yang tersipu malu sambil memegang pipinya dengan sebelah tangannya
“uhuk, uhuk,uhuk”
Richard sepertinya tersedak ketika mendengar perkataan yang diucapkan oleh Edward, dia pun segera meminum anggurnya perlahan dan mengambil nafas sebentar. Sedangkan charlotte yang melihat suaminya tersedak segera membantunya
“geez, kenapa kamu begitu terkejut ? diakan anakmu pastinya dia belajar darimu sayang”
“hahahaha, tapi memang penampilanmu selalu cantik sayang, aku sungguh pria yang beruntung bisa memilikimu selamanya”
“hentikanlah, ada Edward disini”
Edward hanyalah tersenyum sebagai respon kepada mereka sambil tetap melanjutkan makan hidangannya yang enak, karena baginya dalam ingatan lama ia tidak pernah merasakan masakan yang terbilang mewah ini di kehidupannya.
Jadi sebagai gantinya Edward memilih
untuk menikmati makanannya sendiri
Tidak jauh dari sana sepasang mata menatap tajam kearah Edward, dan itu adalah ibunya sendiri. Charlotte yang tengah mengamati tata karma yang dimiliki anaknya pada saat makan meningkat
pesat. Dia ingat betul bahwa dia sama sekali
belum mengajarkan Edward tata karma dalam menyantap makanan, Karena selama ini dia dan suaminya membiarkan Edward makan dengan cara yang nyaman baginya tanpa ada paksaan. Charlotte berencana baru mengajarkan tata karma kepada Edward ketika hendak berusia sepuluh tahun.
Namun kali ini menurutnya ada yang aneh dengan sikap dan perilaku Edward yang telah dia awasi dari dia kecil. Yang biasanya bangun siang kini dia terlihat dapat bangun pagi hari, lalu tutur katanya walaupun Charlotte hanya sedikit berbicara kepada Edward sekilas dia merasa bahwa tengah berbicara dengan pria dewasa yang seumuran atau bahkan lebih tua dari suaminya sendiri.
__ADS_1
Suara garpu dan pisau pun masih berdentang ketika tengah memotong daging steak yang mereka makan Tidak lama berselang ayah sepertinya
lebih tertarik membaca surat kabar sambil
sesekali kembali menyantap makanannya
dan itulah kebiasaan buruk ayah yang
dibenci oleh ibu.menurut ibu bahwa makanan adalah sebuah maha karya dari seorang koki,
maka karyanya harus diapresiasi dengan
menikmati makanan tersebut
“terima kasih atas makanannya” ucap Edward sebelumnya hendak meminum air di gelasnya
Piring milik Edward terlebih dahulu kosong, dia telah selesai menyantap makanannya. Sambil menunggu pelayan membersihkan piring kotornya, Edward tidak lupa berkumur untuk membersihkan mulutnya dari sisa makanan yang menempel
dan membuangnya di nampang perak yang dibawakan oleh pelayan sebelum beranjak
bangun meninggalkan meja makan
“Ayah, ibu, ijinkan aku untuk undur diri lebih dahulu karena ada hal yang ingin aku kunjungi hari ini”
“Apa itu sayang” ucap charlotte pelan sambil menghentikan tangannya memotong daging
“Perpustakaan keluarga”
Sejenak suasana menjadi hening sebentar, sebelum suara lembaran surat kabar milik ayah kembali terbalik menampilkan halaman berikutnya.
Di balik wajah ibu dia terlihat sedikit terkejut namun dia menutupi hal itu, dan kembali memakan hidangannya. Sedangkan ayah juga kembali membaca surat kabar miliknya sebelum yang tadinya melihat kearah Edward dengan tatapan serius kini kembali teralihkan kembali kearah surat kabar
“Perpustakaan, hmm, baiklah mungkin kamu menemukan sesuatu yang menarik disana” ucap ayah sambil terus membaca surat kabarnya
“hati – hati dijalan sayang, Eva, temani Edward menuju kesana”
“Baik Madam” ucap Eva sambil membungkuk hormat
Edward lalu beranjak pergi meninggalkan ruang makan keluarga menuju kearah
perpustakaan sambil terus tersenyum di sepanjang lorong mansion ini
__ADS_1