Trash Of The Duke Family

Trash Of The Duke Family
Ch 5 The Hidden Ones


__ADS_3

“Aku ingat betul, didalam cerita novel THE LEGEND OF HISTORY. Adikku tidak sengaja menemukan sesuatu yang tersembunyi di dalam perpustakaan keluarga Lion D’or, sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak mengetahuinya namun penulis tidak menceritakan secara rinci apa yang tersembunyi itu, mungkinkah ada sesuatu yang berharga di dalam perpustakaan tua ini” ucap Edward sambil tetap berjalan menuju rak buku no 125 yang berada di ujung ruangan perpustakaan


Di rak buku terdapat enam susunan rak berisi puluhan buku – buku syair dan kiasan filsuf yang terkenal di ribuan tahun sebelumnya, ada yang berasal dari dataran pasir, pegunungan Citara, dan ada yang berasal dari dataran Abilion yang telah menjadi legenda. Setiap buku memiliki sampul dengan warna ungu yang hampir sama di setiap susunan rak tersebut menutup cover utama setiap buku


Jika dilihat sekilas memang tidak ada keanehan di dalam susunan buku tersebut, namun ketika kalian melihat dari sudut pandang yang berbeda maka kalian mungkin dapat menyadari sesuatu hal yang mengganjal. Dan tentu saja salah satu buku yang berada di susunan rak tengah ada yang sedikit keluar dari susunan buku lain, adikku mungkin


dapat menemukan keanehan itu dengan cepat sepertiku. Namun mengapa baru pada saat itu dia menyadarinya sesuatu terkubur didalam sini, disaat era kehancuran itu tiba.


Edward lalu menekan buku yang memiliki judul the hidden lands tanpa ragu hingga sejajar dengan buku yang lainnya. Karena takut sesuatu ketika ditekan menghasilkan sebuah ledakan, Edward mengambil beberapa langkah kebelakang sesudahnya sambil memperhatikan sekitar menunggu reaksi apa yang muncul saat buku itu ditekan.


Dan sesuai dugaan, rak – rak buku yang berada di sekitar Edward mulai bergetar menghasilkan gempa kecil ke seluruh ruangan perpustakaan. Dan rak buku no 125 yang berada didepan Edward  perlahan mulai turun ke lantai menampilkan sebuah celah rahasia yang berada dibelakang rak tersebut.


Angin berhembus pelan, menggoyangkan beberapa helai rambut merah Edward. Dan angin tersebut berasal dari celah rahasia, yang dapat dipastikan bahwa celah rahasia itu memiliki ruangan tersembunyi didalamnya. Disepanjang lorong celah tersebut sangatlah gelap, tanpa pencahayaan mungkin dapat membuat seseorang mungkin mengurungkan niatnya untuk memasuki celah tersebut.


Namun pada akhirnya dengan rasa penasaran yang melanda di otak Edward, memaksa dia untuk memasuki celah tersebut kedalam. Ketika sedang menuruni anak tangga pertama, perlahan rak buku  kembali naik dan menutupi celah sehingga membuat pandangan edward gelap gulita.


Tapi secara kebetulan sebuah batu yang menempel di tiap dinding lorong tersebut kini menampilkan cahaya terang dan mulai menerangi setiap anak tangga. dengan cahaya putih yang lembut tanpa menyilaukan mata penggunaan jalan tersebut. jika secara detail didalam permukaan batu tersebut terdapat sebuah rune yang menghasilkan cahaya.


Dibawah sinar batu cahaya yang mengkilap Edward kembali menyelusuri anak tangga yang menurun,


cahaya yang begitu memukau menerangi setiap langkah Edward hingga langkah tersebut terhenti di sebuah tembok yang menghalanginya kembali. sebuah tembok dengan permukaan tembok yang terdapat sebuah ukiran. menampilkan sesosok perempuan yang bersujud dihadapan sebuah singa besar yang perkasa


“Pasti ada sebuah tombol rahasia di sekitar tembok ini” ucap Edward sambil mengetuk permukaan dinding tersebut di beberapa bagian

__ADS_1


“TUK, TUK, TUK,  TOK!”


“Ketemu”


Sekali lagi tembok yang berada di depannya perlahan turun ke lantai, namun kali ini bukan celah atau lorong melainkan sebuah ruangan besar kosong dengan sebuah altar kecil di tengah ruangan. Diatas altar tersebut terdapat suatu


benda yang berkilau memantulkan cahaya


berasal dari celah  ke empat baru cahaya yang mengelilingi ruangan tersebut dan pantulan


tersebut tepat mengenai kedua mata Edward.


Walaupun tidak terlalu menyilaukan mata, namun pantulan tersebut seolah olah dibuat sengaja agar seseorang yang baru saja memasuki ruangan langsung tertuju dan tergerak menuju artefak yang berada diatas altar itu. sesampainya Edward didepan altar tersebut kini, dia dapat dengan


dengan di alaskan sebuah bantal kecil yang nampak banyak sekali debu - debu di atas bantal tersebut menandakan bahwa artefak tersebut sengaja di tinggalkan oleh pemilik sebelumnya di ruangan ini selama jutaan tahun lalu.


“Sepertinya aku pernah melihat ukiran – ukiran pada bola kaca ini? bentuk dan ukurannya pun sama” Edward sambil perlahan mengambil bola kaca tersebut secara hati – hati.


Namun ketika tangan Edward menggenggam permukaan bola kaca tersebut, seketika bola kaca tersebut bersinar terang membuat ruangan sekitar menjadi putih, dan aliran listrik menyambar dari bola tersebut ke segala arah bahkan tubuh Edward pun terkena sambaran petir itu.


"Adegan ini benar - benar mirip seperti perkiraanku. namun merasakan langsung seperti ini membuat diriku tidak tenang sekaligus dibuat takjub dengan kecanggihan teknologi ini" ucap Edward perlahan.


Perlahan perubahan suhu terjadi dari tangan yang pada awalnya hangat menjadi panas dan kini mulai menjalar keseluruh tubuh, Dan genggaman tangan Edward tidak dapat melepaskan bola kaca tersebut. lalu ketika petir – petir yang menyambar menuju kesegala arah perlahan mulai berpusat di hadapan Edward. Menampilkan siluet seseorang yang mulai terlihat jelas di depannya.

__ADS_1


Hal itu membuat Edward semakin panik, dan berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya yang menempel di bola kaca, sebelum sebuah tangan yang entah darimana datang dan ikut menaruh tangannya tersebut diatas tangan


Edward. Tangan itu terasa begitu dingin seperti seseorang yang sudah lama meninggal, tetapi sentuhan tangan itu malah membuat perasaan


Edward mulai membaik. Perasaan panas yang tadinya menyelimuti seluruh tubuh Edward kini mulai kembali normal akibat perpaduan hawa dingin yang berasal dari tangan orang itu.


Jika dilihat, tangan tersebut seperti tangan wanita dewasa. dan kini warna kulit tangannya mulai kembali seperti tangan normal yang cerah dan lembut, berbeda dengan tangan dingin dan kasar tadi.


“Aku sungguh tidak dapat mempercayai hal ini, bahwa garis keturunanku yang dipilih oleh takdir mendatangiku lebih dahulu di ruangan ini diwaktu yang sangat awal” ucap seorang wanita.


“Yang terpilih?” tanya Edward yang bingung.


Wanita itu tersenyum lembut kearah Edward sebelum meletakkan salah satu tangannya di kepala Edward dan membelai secara perlahan rambut merahnya yang halus.


“Dahulu ada seseorang teman yang bilang kepadaku, suatu saat ketika garis keturunanku ada yang memiliki bola mata merah dan rambut yang merah sepertimu, dia adalah keturunanku yang terpilih dengan anugrah besar dari  tuhan berupa Animal Spirit yang kuat. Dapat membuatnya menjadi simbol agung dan membawa nama besar keluargaku hingga pada puncak kejayaannya kembali” jawab wanita tersebut yang kini menundukkan badannya sambil melihat kearah wajah Edward “Namun sayangnya demi memenuhi takdir tersebut, membuat aku harus mengorbankan seluruh jiwaku untuk tertidur bersama bola Kristal itu, agar dapat mengajarkanmu kekuatan sejati keluarga singa emas kita”.


Sambil mendengarkan penjelasan dari wanita tua yang terus mengoceh tanpa henti memaksa Edward memperhatikannya dengan seksama hingga seluruh penjelasannya berakhir. Dan dari kesimpulan yang Edward dapat, animal spirit dari keluarganya berupa seekor singa Nemea yang agung dan perkasa dengan pertahanan yang absolut. lambang dari keluarga singa emas dan sekaligus pelindung suci setiap garis keturunannya.


Di Benua ini hanya beberapa bangsawan tua yang masih memiliki kekuatan animal spirit yang diwariskan secara turun temurun ke garis keturunannya, membuat bangsawan tersebut memiliki status yang tinggi di kelas sosial dan biasanya menduduki jabatan penting di kerajaan.


“AH! aku lupa mengatakan sesuatu terlebih dahulu, maafkan nenekmu ini yang lupa berkenalan dengan cucunya sendiri. aku Joan D’Lion, orang – orang mengenalku dengan julukan Mother Of The Lion Famili dikarenakan ketangkasan ku dalam pengendalian animal spirit level tinggi dan diberkahi dengan Demi-god battle force yang memberikanku perlindungan mutlak dari setiap serangan melalui aura di sekelilingku, membuat tombak ku bagaikan dewa kematian itu sendiri didalam medan perang” jawab Joan sambil membusungkan dadanya dengan bangga.


“salam nenek buyut, aku cucu ke 125 dari keturunan lion D’Or, Edward ” balas Edward yang terkejut mendengar namanya. Nama yang hanya dapat dilihat dan didengar di setiap legenda kisah heroik dalam benua ini.

__ADS_1


Setelah mendengar salam dari Edward, Joan sangat kagum dengan tata krama yang dia miliki namun setelahnya dia merasakan sesuatu yang aneh didalam tubuh cucunya membuat Joan merasa ada suatu keanehan yang terjadi.


__ADS_2