Tuan Muda & Nona Berandalan

Tuan Muda & Nona Berandalan
Tuan Muda & Nona Berandalan / Chapter 4


__ADS_3

"Kenapa kamu jadi salah tingkah? Kamu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dari aku? Kamu sebenarnya siapa? Jangan-jangan kamu anak orang kaya? Apa itu benar?"



Daniel terdiam mendengar pertanyaan Yuna. "Yuna, jangan salah paham dahulu. Dengarkan dulu penjelasan aku," pinta Daniel.



"Oke, kamu ikuti aku."



Yuna menggenggam erat tangan Daniel dan membawanya pergi ke taman yang beranda dekat dengan area kampus.



***



"Sekarang jelaskan padaku. Kenapa kamu ada di depan gedung kampus golongan satu?" tanya Yuna.



"Emmm, sebenarnya ... aku sedang melakukan pekerjaan tambahan," jawab Daniel asal-asalan.



"Melakukan pekerjaan tambahan? Pekerjaan apa?" Yuna tampak kurang yakin.



"Emmm, pekerjaan ... pekerjaan yang aku lakukan ... itu ... emmm ... ah, aku menjadi supir," jawab Daniel asal-asalan kembali.



"Supir? Bukannya kamu bilang kamu bekerja sebagai kasir di mini market? Kenapa tiba-tiba menjadi supir?" Yuna mulai curiga.



"Jadi begini Yuna, aku baru saja di pecat. Tapi untunglah aku diberikan pekerjaan oleh putra keluarga Kang. Mereka mau menerima aku sebagai supir mereka," jelas Daniel banar-benar menghayati perannya.



"Putra keluarga Kang? Siapa?"



"Emmm ... maaf Yuna aku tak bisa membocorkan informasi pribadi. Kamu tahu kan betapa susahnya bekerja dengan keluarga konglomerat. Maafkan aku. Lupakan masalah itu, jadi bagaimana dengan kencan kita?" tanya Daniel.



"Kencan?"



"Ya! Kencan satu minggu kita. Kapan kita bisa mulai?"



"Malam ini saja kita mulai. Baiklah, kalau begitu selamat bekerja. Aku pergi dulu, bye." Yuna pun pergi meninggalkan Daniel.



"Heh, dia sungguh imut. Aku benar-benar suka dengan dia, aku pasti akan bisa mendapatkan kamu Yuna." Daniel tersenyum kecil.



***



Yuna kembali ke kampusnya dan masuk ke kelas dengan senyum yang terus terpancar. Mahasiswa lain yang melihat sikap aneh Yuna sungguh merasa terheran-heran. Biasa Yuna tak pernah tersenyum secerah itu sebelumnya. Bahkan sahabat terdekat Yuna yaitu Varell pun kaget dengan sikap Yuna.



"Yuna kamu sakit?" tanya Varell.



"Ada apa dengan pertanyaan kamu? Apa aku terlihat sedang sakit di mata kamu?" Yuna merasa bingung.



"Ya."



"Benarkah? Apa wajahku pucat? Atau aroma mulutku bau? Arghh, mungkin malam tadi aku terlalu banyak minum."



"Bukan itu!"



"Lalu apa?" Yuna kebingungan.



"Kenapa hari ini tersenyum begitu cerah? Apa kamu kesambet atau semacamnya?" tanya Varell.



"Aku tersenyum? Benarkah? Mungkin karna Daniel, dia benar-benar membuat aku merasa hidup kembali." Senyuman Yuna kembali tersenyum.



"Kamu benar-benar aneh. Tapi, siapa Daniel?"



"Daniel? Daniel itu, lelaki tampan, imut, lembut, emmm ... dan ..." Yuna membayangkan saat Daniel mencium dirinya.



"Dan apa?" Varell penasaran.



"Dia itu, sangat ... sangat tampan. Kurasa sekarang aku sudah mulai menyukai dia," ujar Yuna.



"Dia anak orang kaya?"



"Bukan."



"Kamu yakin?"



"Entahlah. Tapi, aku yakin dia tidak mungkin anak orang kaya. Walaupun penampilannya mirip, tapi sikapnya tidak. Dia berbeda, dia sangat lembut dan ramah." Yuna kembali tersenyum.



"Untuk pertama kalinya aku tidak suka kamu tersenyum!" Varell tampak kesal.

__ADS_1



"Kenapa? Bukankah kamu bilang sangat ingin melihat senyum aku kembali? Kamu benar-benar sulit dipercaya. Kenapa tiba-tiba tidak ingin melihat aku tersenyum?" tanya Yuna dengan sedikit nada suara kesal.



"Karna aku tidak ingin melihat senyum kamu terbuat dari usaha lelaki lain. Aku tidak bisa terima itu!" Varell pun pergi dengan wajah kesal.



"Dia kenapa? Dia sungguh aneh, apa tadi pagi dia salah makan? Dia sungguh aneh." Yuna kembali kebingungan.



***



Varell tampak sangat kesal mendengar cerita dari Yuna sahabat kecilnya yang tahu segala rahasia Yuna.



"Siapa sebenarnya Daniel itu? Apa dia begitu spesial sampai bisa membuat Yuna tersenyum seperti itu? Aku harus cari tahu siapa itu Daniel."



Terpancar jelas dari raut wajah Varell, Varell sepertinya cemburu pada Daniel. Dan sepertinya Varell menyimpan sebuah perasaan cinta bagi Yuna.



***



Daniel kini pun terus menebar senyuman manis. Senyuman tak henti-hentinya terpancar dari wajah lelaki tampan itu.



Senyuman Daniel membuat ketampanan yang dimilikinya semakin terpancar, dan membuat banyak wanita hampir melelah seperti es krim di buatnya.



"Hah, aku sungguh tidak sabar untuk pergi kencan dengan Yuna. Yuna, aku berjanji akan membuat pandangan kamu tentang orang kaya itu salah! Tidak semua orang kaya jahat, contohnya saja aku. Aku baik, tampan, dan imut."



Daniel & Yuna kini benar-benar tengah di mabuk cinta.



***



Sekitar jam 17.45 Daniel menunggu kedatangan Yuna di dekat taman yang berada tak jauh dari kampus. Dan tak membutuhkan waktu lama, Yuna pun datang.



"Hallo."



"Kamu datang? Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Daniel.



"Emmm ... entahlah. Sebaiknya apa yang kita lakukan?" Yuna balik bertanya.



"Bagaimana jika kita jalan-jalan ke mall?"




"Kenapa?"



"Ke mall hanya akan menghabiskan banyak uang. Kamu kan baru di pecat, aku tidak mau kamu nanti kehabisan uang karna aku," ujar Yuna.



'Astaga, kenapa aku harus berbohong? Padahal uang di dompet aku banyak, sungguh melelahkan.' ucap batin Daniel.



"Emmm ... bagaimana jika kita makan di restoran atau kafe saja?" tanya Daniel.



"Tidak! Itu juga akan menghabiskan banyak uang."



"Lalu apa yang harus kita lakukan? Aku lapar," ucap Daniel.



"Emmm ... bagaimana jika kita belanja bahan makanan saja lalu membuatnya sendiri. Aku jago masak, bagaimana?"



"Itu bukan ide yang buruk. Jadi, apa yang harus kita lakukan dahulu?" tanya Daniel.



"Belanja bahan."



***



Daniel & Yuna pergi ke super market untuk berbelanja bahan makanan. Setelah selesai berbelanja, Daniel & Yuna pun pergi ke rumah Yuna untuk makan bersama.



"Maaf, rumahku kecil."



"Tidak papa. Rumahku juga kecil," dusta Daniel.



"Kalau begitu kamu duduk saja di sini. Aku akan masak untuk kamu." Yuna pun bersiap untuk memasak, sedangkan Daniel berkeliling rumah kecil Yuna yang tampak rapi dan tertata.



"Penampilannya dari luar tampak seperti berandalan, tapi aslinya dia gadis yang imut. Dia bahkan mendekorasi kamarnya dengan sangat cantik." Daniel tersenyum saat melihat foto masa remaja Yuna.



***



Di saat Daniel asik melihat-lihat kamar Yuna, Yuna saat ini sedang asik memasak untuk makannya bersama dengan Daniel.

__ADS_1



"Sudah lama aku tidak memasak seperti ini. Ibu, aku sangat senang saat ini. Kuharap kalian ada di sini untuk mencoba masakan aku." Yuna tersenyum kecil sembari mencoba masakannya.



"Emmmm ... sangat enak."



***



Tidak lama kemudian masakan yang di buat Yuna pun selesai. Yuna hanya membuat ayam goreng, dan juga sup pedas ikan.



Tapi setelah selesai memasak Yuna baru menyadari bahwa Daniel belum keluar juga dari kamarnya.



"Kenapa dia belum keluar dari kamar aku? Sebenarnya apa yang dia lakukan di dalam sana?"



Karna penasaran Yuna pun pergi untuk mencek apa yang sedang dilakukan oleh Daniel di kamarnya, dan ternyata di sana Daniel tengah tertidur di kasurnya.



"Dia tidur? Apa dia tertidur di sini? Hmmm ... dia benar-benar mengemaskan," ucap Yuna sembari memandangi wajah Daniel dari dekat, tapi tiba-tiba Daniel menarik tangan Yuna hingga akhirnya tubuh Yuna terjatuh di atas tubuh Daniel.



"Apa aku benar-benar mengemaskan?" tanya Daniel.



"Makanannya sudah selesai. Mari kita makan sekarang," ajak Yuna.



"Kenapa buru-buru? Kamu tidak mau memukulku?" tanya Daniel.



"Kenapa aku harus memukul kamu? Mari kita makan sekarang sebelum makanannya dingin," ajak Yuna kemudian pergi.



"Dia benar-benar imut. Yuna, tunggu aku." Daniel mengikuti Yuna dari belakang.



Saat Yuna ingin memindahkan makanan ke mangkuk yang sudah di siapkan tiba-tiba Daniel memeluknya dari belakang.



Yuna yang melihat dan merasakan hal itu sontak saja kaget dan syok.



"Apa yang kamu lakukan?" tanya Yuna malu-malu.



"Aku mencintai kamu," jawab Daniel.



"Daniel, cinta bukan hal yang muda untuk di katakan. Kamu yakin, rasa yang kamu rasakan itu cinta?"



"Ya. Aku yakin, aku mencintaimu, aku tak akan melepaskan kamu. Selamanya," ucap Daniel.



Mendengar hal itu Yuna membalik badannya, dan kini posisinya mata mereka saling bertemu dan memandang satu sama lain.



"Kamu benar-benar yakin dengan perasaan kamu?"



"Ya."



"Tapi sayangnya aku tidak yakin dengan perasaan aku," ujar Yuna.



"Kalau begitu, aku akan buat kamu yakin dengan perasaan kamu."



"Bagaimana caranya?"



"Dengan begini ..."



Daniel kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Yuna, dan akhirnya bibir mereka pun kembali bertemu.



"Bagaimana? Bagaimana rasanya? Kamu menyukainya?" tanya Daniel.



Yuna tersenyum kecil. "Kamu sebut itu sebuah ciuman? Itu bukan ciuman untuk seseorang seusia kita. Biar aku tunjukkan bagaimana caranya."



Yuna mengalungkan tangannya di leher Daniel dan kemudian melumat bibir Daniel dengan penuh gairah.



Yuna menikmati bibir Daniel seperti menikmati sebuah permen. Puas menikmati bibir Daniel, Yuna pun menikmati leher jenjang Daniel pula membuat Daniel merasa terkejut, dan menghentikan apa yang dilakukan Yuna.



"Hentikan!"



"Kenapa? Kamu tidak menyukainya?"



"Tidak. Aku menyukainya, tapi seharusnya aku yang melakukan hal ini untukmu, bukan kamu. Dan, kita belum pantas untuk melakukan hal itu. Lebih baik sekarang kita nikmati makanannya," ujar Daniel mengecup lembut kening Yuna kemudian pergi ke kamar mandi.



"Dia benar-benar berbeda dengan lelaki pada umumnya. Kurasa aku sekarang yakin dengan perasaan aku, aku menyukai dia, aku menyukai Daniel." Yuna tersenyum puas.


__ADS_1


***


Bersambung ....


__ADS_2