Tuan Muda & Nona Berandalan

Tuan Muda & Nona Berandalan
Tuan Muda & Nona Berandalan / Chapter 7


__ADS_3

TM & NB Chapter 7



Daniel yang tak mengetahui apa yang terjadi pada Yuna hanya bisa terus menyesali perbuatannya. "Harusnya dari awal aku tak perlu berbohong seperti ini. Sekarang semua menjadi kacau, Yuna pasti sangat membeci diriku." Tampak jelas Daniel menyesali perbuatannya.



***



Di sisi lain Jimin masih tercengang dengan apa yang ia saksikan tadi. "Jadi ... Daniel memiliki hubungan dengan gadis pelayan itu? Sungguh menarik." Jimin tersenyum sembari menikmati wine di tangannya.



***



Orang-orang berjas hitam yang menculik Yuna membawa Yuna ke sebuah rumah besar dan mewah yang letaknya berada tak jauh dari rumah keluarga Kang.



Yuna yang masih pingsan di bawa ke sebuah ruangan kemudian tangan dan kakinya di ikat di sebuah kursi.



Saat itu Yuna masih juga tak sadarkan diri. Obat bius itu sepertinya sangat kuat sampai membuat Yuna tertidur lama sekali.



Di sekeliling Yuna banyak pengawal berjaga-jaga, dan kemudian terdengar suara langkah kaki menuju kearah Yuna.



Suara langkah kaki itu berasal dari seorang wanita cantik yang membawa segelas air di tangannya tapi kemudian menumpahkan air itu di wajah Yuna. Hasilnya Yuna pun terbangun dengan terkejut.



"Ada apa ini? Di mana aku?" Yuna kebingungan.



"Kau ingin tahu? Kau ada di istanaku, istana Park Ji Hyo." Wanita cantik itu membentangkan tangannya.



"Park Ji Hyo? Siapa?" Yuna berusaha mengingat.



"Kau tak kenal aku sepertinya. Tapi, tidak papa. Aku tidak akan menghukum kau untuk itu. Tapi, aku akan menghukum kau karna tlah menggoda my oppa Daniel," ujar Ji Hyo.



"Oppa Daniel? Maksud kau, Kang Daniel?" Yuna memperjelas.



"Tepat sekali. Bagaimana cara kau menggoda Daniel oppa?" tanya Ji Hyo sedikit menekan.



"Aku tidak menggoda dia!"



"Jangan berbohong! Tadi aku melihat dengan jelas kau menjadi rebutan di pesta, dan ... tadi kau bersama Daniel oppa pergi. Jadi aku akan bertanya satu kali lagi. Bagaimana caranya kau menggoda Kang Daniel? Beri tahu aku!" gertak Ji Hyo.



"Harus bagaimana lagi aku jelaskan? Aku tidak menggoda dia, tapi ... dia menipuku. Jadi, jangan bertanya tentang dia lagi padaku, aku membenci dia."



"Arghh, benar-benar tidak berguna! Hey bebaskan dia!" titah Ji Hyo pada pengawalnya.



***



Setelah Yuna kini tlah di bebaskan oleh Ji Hyo, Yuna berencana untuk langsung pulang tapi seketika di hentikan oleh Ji Hyo.



"Ini ambil." Ji Hyo memberikan sebuah amplop berisi uang.



"Ini apa?" tanya Yuna dingin.


__ADS_1


"Uang."



"Buat apa?"



"Sebagai tanda permintaan maaf aku pada kau. Maaf karna tlah menculik kau, jadi ambil ini. Jika kurang kau bisa katakan saja, aku akan berikan, aku ini kaya raya," ujar Ji Hyo menyombongkan kekayaannya.



Yuna menarik napas panjang. "Aku tidak peduli mau kau kaya ataupun tidak. Asal kau tahu saja, aku benci orang kaya, jadi aku tidak ingin menerima uang dari mereka. Intinya, aku tidak perlu uang kau, aku sudah maafkan kau. Biarkan aku pergi."



Tanpa berpikir panjang lagi Yuna langsung meninggalkan rumah Park Ji Hyo yang identitasnya belum jelas di ketahui.



"Apa-apa'an wanita itu? Dia sangat angkuh. Tapi, bagaimana bisa Daniel dan Jimin memperebutkan wanita seperti dia? Apa itu hanya kebetulan saja?"



Sepertinya Park Ji Hyo adalah seseorang yang dekat dengan keluarga Kang. Dan, sudah pasti juga Park Ji Hyo menyukai Kang Daniel.



***



Yuna pulang ke rumah dengan langkah berat. Sesampainya di rumah Yuna membersihkan diri lalu berbaring di kasur.



"Dasar penipu!"



Tanpa di sadari tiba-tiba air mata Yuna pun mulai jatuh dari matanya. Air mata Yuna jatuh bukan tanpa alasan, air mata itu jatuh sudah pasti karna kebohongan yang di lakukan Kang Daniel.



***



Di rumah keluarga Kang pesta sudah usai, dan kini hanya tinggal Tn. Kang, Ny. Kang, Daniel, dan tentu saja Jimin.




"Lumayan bagus. Dan, aku juga senang bertemu dengan Ibu dan juga Daniel," jawab Jimin.



"Daniel. Kamu kenapa? Dari tadi kamu melamun terus, apa ada masalah?" tanya Ny. Kang.



"Tidak ada apa-apa. Aku hanya lelah, boleh aku kembali ke kamar?"



"Baiklah. Pergilah ke kamar. Malam ini pasti berat bagimu, 'kan? Istirahatlah."



Danial yang tlah mendapatkan izin pun pergi meninggalkan meja ruang pertemuan keluarga itu.



"Ada apa dengannya? Di lihat dari wajahnya sepertinya dia sedang banyak pikiran," ujar Tn. Kang.



"Itu hal biasa Ayah. Anak muda seperti Daniel pasti memiliki banyak masalah, salah satunya pasti cinta," jelas Jimin.



"Cinta?"



***



Daniel kembali ke kamarnya dan langsung berusaha menghubungi nomor Yuna. "Tolong angkat! Angkat ... angkat ... angkat, kali ini saja."



Mencoba menghubungi Yuna beberapa kali tapi panggilan itu tak di jawaban sama sekali oleh Yuna.

__ADS_1



Tak kunjung menerima jawaban dari Yuna membuat Daniel merasa cemas akan kaadaan Yuna. "Bagaimana ini? Tadi dia pergi dalam kaadaan syok, lalu hujan, apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah sampai ke rumah? Argh, aku sungguh mengkhawatirkan dia. Bagaimana ini?" Daniel sangat pusing memikirkan Yuna.



Di kepala Daniel hanya ada Yuna, Yuna, Yuna, dan Yuna. Tidak ada hal lain di pikiran Daniel kecuali mengkhawatirkan kondisi Yuna saat ini.



Daniel mondar mandir di depan televisi memikirkan bagaimana kondisi Yuna saat ini. Tapi tiba-tiba langkah Daniel terhenti saat mendapatkan telpon dari Yuna.



[Halo! Yuna! Kamu baik-baik saja kan?]



[Halo! Maaf, tapi saya bukan Yuna. Saya pemilik rumah yang di tempati Yuna. Saat ini Yuna di bawa ke rumah sakit, tadi saya menemukan dia pingsan di tempat tidur dan suhu tubuhnya sangat dingin.]



Daniel kaget mendengar berita itu. Tanpa berpikir lebih banyak lagi Daniel langsung berlari keluar kamar dan berangkat menuju rumah sakit yang tlah di berikan oleh Ibu pemilik rumah yang di tempati Yuna.



"Ya tuhan apa yang terjadi dengan Yuna? Semoga dia baik-baik saja. Tolong jaga Yuna, tolong jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya. Kumohon!"



Daniel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dengan hati yang tak tenang akhirnya kini Daniel pun sampai di rumah sakit.



Sesampainya di rumah sakit Daniel berlari ke UGD dan mencari di mana Yuna. "Suster saya boleh bertanya? Pasien yang bernama Kim Yuna, yang baru saja di bawa ke rumah sakit ini di mana ya?"



"Kim Yuna? Oh dia sudah di pindahkan ke ruangan rawat," jawab Suster.



"Di mana?"



"Di lantai dua, belok kanan, ruangan ketiga di sebelah kanan."



"Terimakasih."



Setelah mendapatkan di mana tepatnya ruang rawat Yuna, Daniel kembali berlari menaiki anak tangga karna tak ingin lama menunggu antrian lift. Akhirnya Daniel pun sampai di ruangan Yuna.



Daniel duduk di samping Yuna sambil menggenggam tangannya yang dingin. "Maafkan aku. Ini semua kesalahanku. Harusnya dari awal aku tak berbohong tentang status aku, harusnya aku katakan yang sebenarnya. Maafkan aku." Daniel benar-benar merasa bersalah pada Yuna.



"Ibu ... Ayah ... jangan pergi! Jangan tinggalku aku ...." Yuna berbicara sendiri padahal saat itu matanya tertutup.



"Yuna, ada apa? Kamu baik-baik saja?" Daniel khawatir pada kondisi Yuna.



Suhu tubuh Yuna setiap menitnya makin dingin bagaikan es.



Yuna sepertinya sedang dalam mimpi buruk dia berteriak-teriak meminta seseorang untuk tak pergi. "Jangan pergi ... jangan pergi ...."



Dengan air mata yang terus mengalir dari matanya Yuna terus berteriak sembari menangis hingga akhirnya sampai pada puncaknya yang membuat Yuna terbangun.



Seketika Yuna bangun dengan tangisan yang sama mengiringi dirinya, lalu tiba-tiba Daniel datang dan memeluk Yuna dengan kehangatan.



"Jangan menangis. Jangan khawatir, jangan takut, aku ada di sini untuk kamu." Daniel memeluk Yuna dengan erat dan akhirnya membuat Yuna tenang.



***



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2