
TM & NB Chapter 5
Daniel & Yuna pun menikmati makanan yang telah di buat oleh Yuna.
"Bagaimana rasanya? Tidak enak?" tanya Yuna.
"Tidak. Ini sangat enak. Kamu sungguh jago memasak, kamu sudah memenuhi syarat utama menjadi ibu rumah tangga," ujar Daniel.
"Benarkah?"
"Ya. Aku tidak menyangka gadis yang dari luar penampilannya seperti berandalan, tetapi aslinya gadis biasa, yang lembut dan jago masak. Kamu penuh kejutan," kata Daniel sembari menikmati makanannya.
"Daniel, besok kita akan melakukan apa?" tanya Yuna.
"Kamu ingin melakukan apa?"
"Apa saja asal tidak menghabiskan banyak uang."
"Apa kamu sedang membutuhkan uang?" tanya Daniel.
"Ya," jawab Yuna.
"Apa kamu butuh bantuan? Aku bisa pinjamkan kamu uang, jika kamu benar-benar butuh."
"Tidak perlu. Jangan lakukan itu, aku tidak suka berhutang. Lagipula aku sudah melamar pekerjaan untuk menambah uang bulanan aku," ucap Yuna.
"Benarkah? Kamu bekerja di mana? Dan menjadi apa?" tanya Daniel.
"Aku melamar pekerja untuk menjadi pelayan di rumah utama keluarga Kang," jawab Yuna.
Mendengar jawaban Yuna, Daniel pun hampir tersedak karnanya. "Apa? Pelayan di rumah keluarga Kang? Kenapa harus di sana?" tanya Daniel dengan nada suara sedikit kesal.
"Kenapa kamu begitu? Kenapa sepertinya kamu tidak senang?" tanya Yuna.
"Bukan begitu. Aku bukannya marah ataupun kesal, tapi kenapa harus bekerja di sana?"
"Karna gaji di sana lumayan. Tapi, kenapa kamu begitu tidak mau aku bekerja di sana? Memangnya di sana ada apa?" tanya Yuna.
"Emmm ... tidak ada apa-apa. Tapi lebih baik kamu mencari pekerja lain, aku akan bantu."
"Tidak bisa!"
"Kenapa?"
"Karna aku sudah di terima bekerja. Kenapa kamu melarang aku bekerja di sana?" tanya Yuna.
"Karna aku mengkhawatirkan kamu," jawab Daniel.
"Kenapa kamu harus mengkhawatirkan aku? Memangnya di sana ada apa?" tanya Yuna.
"Di sana sangat berbahaya. Kehidupan asli keluarga Kang sangat berbeda dengan apa yang kita lihat di majalah, koran, ataupun berita di televisi."
"Bagaimana kamu tahu semua itu?" tanya Yuna.
"Emmmm ... itu ... aku tahu tentang hal itu karna ... karna ... karna aku ..."
"Apa kamu punya hubungan dengan keluarga Kang? Apa kamu salah saat dari mereka?" tanya Yuna.
"Bukan begitu. Sebenarnya aku bekerja sebagai putra bungsu keluarga Kang." Daniel terpaksa kembali berbohong pada Yuna.
"Jadi, kamu menjadi supir keluarga Kang?" tanya Yuna.
"Ya."
"Tapi bagaimana kamu tahu keluarga mereka berbahaya?"
"Itu karna aku sudah melihat semuanya. Jika kamu sudah masuk di sana, kamu akan sulit untuk keluar. Jadi kumohon, cari pekerjaan lain saja," pinta Daniel.
"Aku tidak bisa! Aku harus melakukan pekerjaan ini. Aku tidak butuh persetujuan kamu, lebih baik sekarang kamu pergi. Aku ingin sendiri, kumohon pergilah!"
"Coba pikirkan kembali Yuna. Aku melakukan ini karna aku mengkhawatirkan kamu, dan jangan lupa hubungi aku saat kamu sudah mau bicara denganku lagi." Daniel pun pergi dari rumah Yuna.
Setelah Daniel pergi Yuna merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Daniel dari dirinya.
"Kenapa aku merasa Daniel sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Sebenarnya apa yang dia sembunyikan? Dan, siapa dia sebenarnya?"
***
Daniel kembali ke rumah dengan wajah bingung dan juga sedikit sedih. Kesedihan Daniel semakin menjadi saat kedua orangtuanya kembali bertengkar di depan matanya.
"Apa yang sedang kalian lakukan? Apa kalian tidak lelah selalu bertengkar? Aku yang hanya melihat saja lelah. Bisakah satu hari saja kalian tidak bertengkar, demi aku."
"Ini semua karna Ayahmu! Dia tiba-tiba ingin membawa Jimin kembali," ujar Ny. Kang.
"Kak Jimin ingin kembali? Bukankah itu hal yang bagus?"
"Lihat! Daniel saja tidak keberatan dengan kehadiran Jimin kembali ke rumah ini. Biar bagaimana pun juga, Jimin adalah putra sulung keluarga ini. Walaupun kau bukan ibu kandung Jimin, kau harus menjaga sikapmu. Jangan membandingkan antara Daniel dan Jimin."
Sebenarnya Ibu Daniel adalah istri kedua Tn. Kang, sebelum menikah dengan Ibu Daniel Tn. Kang menikah dengan seorang wanita dan akhirnya wanita itu melahirkan seorang putra tampan nan rupawan bernama Jimin.
Setelah kelahiran Jimin, Tn. Kang amat sangat bahagia. Tapi sayangnya takdir berkata lain, kebahagiaan itu pun mulai hilang saat Tn. Kang tahu istrinya meninggal dunia akibat pendarahan yang begitu parah.
Sejak kematian istrinya saat melahirkan Jimin membuat Tn. Kang terpaksa kembali menikah lagi dengan Ibu Daniel, dan 1 tahun kemudian Daniel pun lahir.
Daniel & Jimin tumbuh bersama. Sejak kecil Daniel tak pernah tahu jika kakaknya Jimin, bukanlah kakak kandungnya.
Tapi, saat berusia 15 tahun entah tahu dari mana Jimin pun mengetahui segalanya dan memutuskan untuk meninggalkan rumah dan pergi ke Amerika.
Sudah hampir 7 tahun Jimin pergi dan tak pernah kembali. Daniel selalu merindukan sang kakak, tapi entahlah apa Jimin juga merindukan dirinya.
***
Yuna membereskan sisa-sisa makanan yang telah ia makan bersama dengan Daniel tadi.
Tanpa di sadari Yuna kembali tersenyum saat memikirkan Daniel. "Dia begitu polos, dan lugu. Kebanyakan lelaki dalam situasi tadi pasti akan memanfaatkan hal itu dengan sangat baik, tapi Daniel? Dia benar-benar imut."
'Tok ... tok ... tok ...'
Suara ketukan pintu membuat Yuna pun membukakan pintu. Ternyata yang datang ke rumahnya tidak lain adalah Varell.
"Varell, sedang apa kamu di sini?" tanya Yuna.
"Tidak papa. Aku hanya ingin berkunjung saja, apa kamu habis makan? Tapi kenapa masak begitu banyak? Apa Paman dan Bibi tadi datang?" tanya Varell.
"Tidak."
"Lalu kenapa kamu memasak sangat banyak?"
"Tadi Daniel kesini. Jadi kami makan bersama," Jawab Yuna.
"Apa? Si Daniel itu pergi kerumah kamu tadi? Kalian hanya berdua? Hey, Yuna apa kamu sudah tidak waras? Kenapa kamu membawa lelaki ke rumah kamu?" Varell tampak kesal dan tak suka.
"Dia hanya berkunjung. Apa salahnya?"
__ADS_1
"Salah! Lelaki tidak boleh berkunjung kerumah gadis yang tinggal sendirian. Itu hanya akan mengundang kesalahpahaman warga sekitar," jelas Varell.
"Benarkah?"
"Tentu saja!"
"Kalau begitu pergilah dari rumahku!" titah Yuna.
"Kenapa kamu mengusir aku? Padahal aku baru datang," keluh Varell.
"Kamu ini bagaimana sih? Tadi barusan kamu bilang, lelaki tak boleh masuk kerumah gadis yang tinggal sendirian. Aku seorang gadis, dan kamu seorang lelaki jadi kamu tidak boleh ada dirumah aku. Keluar!"
"Tadi aku berbeda."
"Berbeda apa? Kamu bukan lelaki? Apa kamu seorang gadis?"
"Tidak. Hey, bagaimana pun aku tetap lelaki, dan kamu gadis. Tapi, disini aku sudah kenal semua orang yang tinggal di lingkungan ini, dan mereka tahu apa hubungan kita. Jadi aku terkecuali." Varell tersenyum puas.
"Terserah saja." Yuna benar-benar putus asa melawan Varell.
"Tapi ingat jangan biarkan Daniel itu kembali lagi kesini. Kamu paham kan?"
"Ya, aku paham Pak."
"Kalau begitu, berikan aku makan," pinta Varell.
"Dasar. Tunggu, aku akan masakan mie instan," ucap Yuna.
"Kenapa mie instan?"
"Karna hanya itu yang ada dirumah kecilkku. Mau apa tidak?"
"Mau."
"Tunggu."
Yuna pun merasakan mie instan untuk Varell. Begitulah Varell, setiap kali kerumah Yuna alasannya hanyalah ingin meminta makan, tapi alasan sebenarnya adalah merindukan Yuna.
***
Saat mengejarjakan tugas tiba-tiba Daniel kepikiran tentang Yuna.
"Yuna bilang dia ingin bekerja di sini. Apa yang harus aku lakukan nanti saat dia ada di sini? Intinya saat Yuna bekerja di sini aki harus menghindar dari dia, ya aku harus menghindarinya."
"Permisi, tuan muda."
"Ya. Ada apa Bi?"
"Tuan ingin bertemu dengan tuan muda," jawab Bibi.
"Baiklah, sebentar lagi saya akan pergi menemui Papah."
"Baik tuan muda."
***
"Ada apa Pah?" tanya Daniel.
"Kamu tahu kan Jimin sangat membenci kamu?"
"Iya. Lalu, kenapa?"
"Iya. Buat apa aku keberatan? Jimin itu kakaknya, jadi aku senang dia kembali," ujar Daniel.
"Kalau Jimin kembali, dia mungkin akan merebut semuanya dari kamu. Apa kamu siap untuk kehilangan perusahaan yang berdiri hanya untuk kamu?" tanya Tn. Kang.
"Asal keluarga kita bisa kembali utuh, aku tak akan keberatan kehilangan semua itu. Uang memang bisa membeli segalanya, tapi uang tak bisa membeli kebahagiaan dan juga cinta. Jadi tidak papa, jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja. Lebih baik Papah segera berbaikan dengan Mama. Daniel balik kekamar dulu ya pah, selamat malam." Daniel pun pergi kembali kekamar.
Daniel benar-benar berbeda dari Jimin. Di satu sisi Daniel yang tak memperdulikan uang dan kekuasaan, tapi hanya memperdulikan cinta dan kebahagiaan.
Sedangkan Jimin? Jimin tak terlalu memperdulikan kebahagiaan dan cinta, tapi ia hanya memperdulikan uang dan kekuasaan.
***
Hari ini adalah hari libur. Hari ini Yuna harus mulai bekerja di rumah keluarga Kang.
Hari ini juga bertepatan dengan kedatangan Jimin kembali ke rumah keluarga Kang.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di halaman rumah keluarga Kang, Yuna benar-benar kaget melihat betapa luasnya rumah itu dan terlihat banyak pelayan yang tampak sibuk untuk menyambut kedatangan Jimin.
Menurut informasi, malam ini keluarga Kang akan mengadakan pesta penyambutan untuk Jimin.
"Hey, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya seorang pelayan wanita yang sepertinya seumuran dengan Yuna, namanya Jihan.
"Aku di sini ingin memulai pekerja pertama sebagai pelayan. Tapi sepertinya semua orang sedang sibuk, jadi aku bingung harus bagaimana," jelas Yuna.
"Kalau begitu lebih baik kamu pergi ke gedung di belakang sana, itu adalah tempat khusus buat para pelayan. Setelah sampai di sana ganti baju dan bantu kami mempersiapkan pesta!" titah Jihan.
"Ya."
***
Setelah berganti baju, Yuna pun membantu pelayan lain untuk mempersiapkan pesta penyambutan Jimin.
Di sisi lain Daniel hanya bisa memperhatikan Yuna dari balik kaca kamarnya yang berada di lantai dua.
"Dia begitu bekerja keras. Dia pasti lelah, apa yang harus aku lakukan untuk membantu dia? Emmm ... aha, aku punya ide."
Daniel mengambil jaket hitamnya, lalu keluar dari kamar dengan membawa sebotol minuman di tangannya lalu kemudian berjalan kearah Yuna.
Setelah memastikan situasi telah aman, Daniel menarik Yuna ketempat yang tak terpasang CCTV dan juga sepi.
"Kau siapa? Berani sekali ingin macam-macam denganku."
Tanpa berpikir panjang Yuna langsung memukul perut Daniel hingga Daniel jatuh ke tanah dengan teriakan kesakitan.
"Wah, ini akibat karna kamu berani macam-macam dengan Yuna. Kamu siapa sebenarnya?"
"Aku Daniel," jawab Daniel membuka topi yang menutupi wajah tampannya.
"Oh? Daniel? Maafkan aku, tapi kenapa kamu melakukan hal itu padaku? Jangan bilang kamu mau culik aku?" tanya Yuna mulai berpikir jauh.
"Tidak. Tadi aku melihat kamu bekerja keras, jadi aku berencana memberikan minuman untuk kamu, tapi untuk memberikan minuman aku harus membawa kamu ketempat yang tak ada CCTV agar tak ada yang bisa melihat," jelas Daniel.
"Oh begitu? Sekali lagi maafkan aku," pinta Yuna.
"Tidak papa! Cepat minum ini, kamu pasti lelah kan?" tanya Daniel sembari mengelus kepala Yuna.
"Terimakasih, apa kamu di sini untuk bekerja?"
"Ya, tentu saja."
__ADS_1
"Tapi sebenarnya kamu menjadi supir siapa?"
"Putra bungsu keluarga Kang," jawab Daniel.
"Oh begitu? Tapi aku tidak pernah melihat dia keluar dari rumah, apa dia orangnya aneh?"
"Tidak! Tentu saja tidak, dia itu baik, tak sombong, tampan, ramah, tapi dia hanya pemalu."
"Oh begitu? Oke kalau begitu aku kembali bekerja dulu ya, sampai jumpa nanti."
Sebelum pergi Yuna memberikan sebuah kecupan manis di bibir Daniel, kemudian pergi meninggalkan Daniel yang kini hanya bisa tersenyum malu.
"Sepertinya sekarang cinta aku tidak bertepuk sebelah tangan lagi. Yes, sekarang misi aku tinggal meyakinkan Yuna bahwa orang kaya tidak seburuk seperti apa yang dia pikirkan. Wah, aku sangat bahagia." Senyuman terus terpancar dari wajah Daniel.
***
Tanpa di sadari malam pun kini tiba. Semua orang telah berkumpul untuk mengikuti pesta yang akan berlangsung.
Semua pelayan pun di izinkan untuk ikut serta dalam pesta itu, tapi mereka di wajibkan untuk berpakai bagus.
Yuna sama sekali tak berminat untuk pergi ke pesta itu. Di tambah semua orang di wajibkan untuk memakai topeng.
Jadi untuk menghilangkan rasa bosan, Yuna hanya menunggu pesta selesai dan membereskan semuanya, dan menunggu di taman yang ada di belakang rumah Kang.
"Hmmm ... enaknya mereka menjadi orang kaya. Mereka bebas melakukan apa saja, mengandakan pesta apa pun, sungguh membuang-buang uang." tanpa di sadari air mata pun mulai jatuh dari mata Yuna.
"Kamu kenapa?" tanya seorang lelaki yang datang entah dari mana, dan lelaki itu tidak lain adalah Jimin.
"Anda siapa? Kenapa Anda di sini? Anda tidak boleh sembarangan masuk area ini," ujar Yuna belum tahu siapa Jimin.
"Benarkah? Sebenarnya aku salah satu bagian dari pesta ini. Siapa nama kamu?" tanya Jimin.
"Kim Yuna."
"Yuna? Nama yang bagus. Kamu kenapa menangis di sini? Apa kamu tidak ingin pergi ke pesta?" tanya Jimin.
"Aku tidak suka pesta," jawab Yuna.
"Kenapa?"
"Maafkan aku, tapi aku tidak kenal kamu jadi aku tidak ada alasan untuk menjawab pertanyaan kamu."
"Baiklah. Tapi aku sarankan lebih baik kamu pergi ke pesta itu, siapa tahu kamu akan mendapatkan hal yang menarik. Aku suka padamu," ujar Jimin.
"Dasar lelaki. Hal menarik seperti apa?" tanya Yuna.
"Kenapa kamu tak coba cari tahu?"
"Walaupun aku ingin karna aku penasaran, aku tak bisa kesana."
"Kenapa?"
"Aku tak punya baju pesta, dan lagi aku benci memakai baju gaun. Tidak cocok denganku."
"Pakai ini." Jimin memberikan sebuah kotak besar yang di dalamnya berisi, gaun putih, sepatu, dan beberapa aksesori lain.
"Apa ini?"
"Tadinya aku ingin memberikan ini pada seseorang. Tapi lebih baik aku berikan pada kamu, pakai itu dan datanglah ke pesta. Aku akan menantikan kedatangan kamu." Jimin pun pergi.
"Haruskah aku pergi? Jika aku pergi, aku mungkin bisa bertemu dengan Daniel di sana. Ya aku akan pergi, tapi aku pergi hanya untuk bertemu dengan Daniel, bukan hal lainnya."
Yuna pun telah memutuskan akan datang ke pesta itu.
***
Dengan perasaan canggung memakai baju yang tak biasa ia pakai membuat Yuna menjadi pusat perhatian.
Untung saja saat itu Yuna memakai topeng yang menutupi wajahnya. Yuna berkeliling, untuk mencari di mana keberadaan Daniel tapi seseorang menarik tangannya.
"Nona Yuna?" tanya Jimin masih saja mengenali Yuna.
"Eh? Kamu lelaki di taman tadi?"
"Kamu datang? Kamu sangat cantik dengan gaun ini, kamu sungguh cantik."
"Biasa saja. Tapi siapa nama kamu? Aku belum tahu nama kamu," ujar Yuna.
"Sebentar lagi kamu juga akan tahu." Jimin tersenyum.
***
Orang-orang di pesta itu sangat banyak dan semua memakai topeng, itu membuat Yuna bingung di mana keberadaan Daniel.
Karna kehilangan akalnya, Yuna pun memuka topeng di wajahnya dan berharap Daniel mengenali dirinya.
Usaha Yuna pun tak sia-sia. Daniel melihat Yuna, dan langsung menghampiri dirinya.
"Yuna? Kamu datang?" Daniel tampak senang sekaligus gugup.
"Akhirnya aku menemukan kamu. Ya aku datang, aku merindukan kamu jadi aku memutuskan untuk pergi."
"Kamu benar-benar berubah memakai gaun ini. Kamu benar-benar cantik, kenapa selama ini kamu menutupi kecantikan kamu?" tanya Daniel.
"Kecantikan seseorang bukan hanya di nilai dari wajah dan penampilan, tapi yang paling penting hatinya," jelas Yuna.
"Kamu benar juga. Oya, kamu mau kan menunggu aku sebentar? Aku harus pergi memanggil putra bungsu keluarga Kang, acara sebentar lagi akan di mulai. Jadi tunggu sebentar, tidak papa kan?"
"Tidak papa. Pergilah, aku akan menunggu kamu."
Daniel pun kembali pergi untuk mengganti baju serta topeng agar tak di kenali oleh Yuna nanti saat ia dan keluarganya naik ke atas panggung.
***
Tak lama kemudian acara pun di mulai, semua keluarga Kang naik ke atas panggung, dan saat itulah Yuna menyadari bahwa lelaki yang baik padanya itu ternyata adalah putra sulung keluarga Kang.
Suasa hati Yuna pun kini merasa sangat kacau. Ia merasa tak senang karna mendapatkan bantuan dari orang kaya.
"Jadi itu putra bungsu keluarga Kang? Bentuk tubuhnya tampak familiar, tapi kalau dia ada di sana, Daniel di mana?"
Yuna kembali mencari Daniel, tapi tak berhasil bertemu. Akhirnya Yuna pun memutuskan untuk duduk dan menikmati pesta.
Kini telah tiba saatnya untuk berdansa. Semua orang mencari pasangan untuk berdansa, tapi Jimin & Daniel berencana ingin berdansa bersama Yuna.
Dari arah kanan Daniel berjalan mendekati Yuna yang kini duduk termenung, sedangkan dari arah kiri Jimin pun kini telah mendekat.
Dan, akhirnya keduanya pun bertemu dan sama-sama tunduk di hadapan Yuna dan memberikan tangan mereka agar di gapai oleh Yuna dan mereka pun bisa berdansa bersama.
"Nona, apa Anda ingin berdansa denganku?" tanya Daniel & Jimin secara bersamaan.
Pemandangan di mana kedua bersaudara itu merebutkan satu gadis menarik perhatian para wartawan, mereka pun salung mengambil foto tentang kejadian itu sedangkan Yuna kini bingung harus berbuat apa.
__ADS_1
***
Bersambung....