
Setelah sarapan Rhys menunggu sampai tangis Zaid benar-benar reda, baru mengajaknya keluar.
Rhys dan Zaid tampak berjalan bersisian, mereka berjalan melalui jalan setapak yang dilalui satu dua orang. Di sekitar keduanya layaknya pedesaan; ada orang-orangan sawah, beserta petani dan juga tentu dengan sawah dan tanahnya. Rumah-rumah papan dan batu berjejer di kanan kiri mereka. Mereka juga melewati rumah papan milik perempuan Turki yang mengenakan gamis coklat susu yang sedang memeras susu sapi. Ia tampak mengenakan cadar. Mata, bulu mata dan alisnya menjadi kombinasi yang indah.
Zaid bahkan sempat meliriknya dari arah samping dan merasa bahwa wanita itu cantik (bukan berarti menyukainya).
Wanita Turki bergamis coklat dan bercadar itu sadar bahwa dirinya tengah diperhatikan, maka ia menolehkan pandangannya ke arah Zaid, sehingga Zaid dapat melihat sisi lain dari wajahnya; sebelah matanya yang lain tampak rusak seperti tertusuk benda tajam. Ia juga tanpa segan membuka cadarnya sedikit, yang memperlihatkan pipi kanannya yang putih. Di pipinya terdapat empat bekas luka seperti bekas cakaran, tak terlihat dalam, namun masing-masing garis horizontal itu lebar.
Zaid bergidik melihatnya dan langsung memalingkan wajah, fokus ke depan.
Astaga ternyata ia menutupi wajahnya karena luka, pikir Zaid. Ia tak tahu kalau wanita Turki itu merusak matanya bukan karena hal itu.
Wanita itu menatap punggung Zaid datar, ia lantas mengenakan cadarnya kembali dan melanjutkan pemerasan terhadap sapi, maksudnya susunya.
__ADS_1
"E, Paman Rhys, kita hendak pergi ke mana?"
"Kau ikut saja, nanti kau tahu sendiri," jawab Rhys datar, tetap fokus menghadap ke depan. "Dan jangan panggil aku 'paman', panggil aku 'ayah', kau mengerti?"
"Oh, ya... Ba-baik." Mungkin Paman Rhys punya maksud tertentu, pikir Zaid. Ia jadi ingat waktu ia ke pasar dengan Chiara, Chiara membual bahwa dirinya saudara angkatnya. Yah, mungkin memang harus seperti itu, pikirnya lagi, aku tak punya keluarga di sini, tak mungkin aku membuat orang lain mencurigai diriku sendiri.
Mereka berdua terus berjalan melewati jalan setapak, empat ratus meter kemudian belok kiri di persimpangan. Mereka terus menapaki jalan sampai setengah kilometer. Keduanya sampai di rumah batu besar yang sedikit berlumut. itu tujuan mereka, lebih tepatnya tujuan Rhys.
Di teras rumah itu terdapat pot-pot berisikan tanaman-tanaman aneh yang Zaid tak pernah lihat.
Pintu rumah itu didorong dari dalam perlahan, dan keluar seorang perempuan paruh baya berpakaian pembantu. Kepalanya ditutupi kain putih yang diikatkan di bawah dagunya.
"Maaf, Tuan Zhang sedang tidak ada di rumah. Silakan berkunjung lagi lain waktu," kata pembantu itu.
__ADS_1
Meskipun pembantu itu menuturkan kalimatnya dengan lancar dan tanpa ragu, seperti tidak menampakkan celah sama sekali, Rhys tahu sebenarnya ia adalah pembantu yang menyamar.
"Aku akan tetap masuk," kata Rhys sedikit memaksa.
"Bukankah kau mencari Tuan Zhang? Sudah kubilang Tuan Zhang sedang tidak ada di rumah. Aku sebagai pembantunya pasti tahu ia berada di sini atau tidak. Memangnya, apa menurutmu aku ini berbohong?" Pembantu itu melontarkan pertanyaannya pada Rhys.
Rhys dalam hati memuji orang itu, ia ternyata pandai mengarang dan menyusun perkataan, pikir Rhys, dan setiap kata yang ia lontarkan diucapkan dengan lancar, tapi... Aku tak akan tertipu, jelas sekali ia melontarkan pertanyaan tadi agar aku mempercayai perkataannya. Ada kemungkinan ia berbohong. Aku bisa melihatnya dari ekspresinya.
"Maaf memaksa, aku akan tetap masuk. Aku yakin Tuan Zhang tidak akan keberatan," kata Rhys. Ia pun langsung masuk ke dalam.
"Baiklah." Pembantu itu tak menghalangi Rhys.
Zaid mengikutinya masuk, meski sempat ragu sejenak. Diikuti pembantu tadi.
__ADS_1
Tangan pembantu itu perlahan mengambil sesuatu di saku bajunya, pisau. Tangan pembantu itu terangkat, hendak menerbangkan pisau itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...