Tujuh Elemen

Tujuh Elemen
Rumah Elena Diserang


__ADS_3

Bodyguard berwajah khas Turki itu sedari tadi sudah menggunakan pedang yang dikeluarkan dari jam tangan di tangan kirinya untuk terus menangkis serangan dari dua orang kembar, Dadan Dan Didin yang juga menggenggam pedang, mereka berdua mengenakan jubah hitam, hanya tampak matanya saja.


Bodyguard itu bernama Halil, terus menangkis ayunan pedang yang dilancarkan Dadan dan Didin, berjaga dengan sangat rapat. Beberapa kali ia nyaris tertebas, namun karena Ia memang kidal, maka ia hanya sedikit kesulitan.


Sementara itu, tak jauh dari tempat ketiganya bertarung dua lawan satu, Bodyguard berkulit hitam berbibir tebal itu juga berduel dengan Dudun, keduanya imbang.


Berbeda dengan pertarungan sebelumnya, hanya berduel dengan kekuatan mereka.


Bilal, bodyguard berkulit hitam itu membentuk bola api dan melemparkannya ke arah Dudun.


Dudun membuat tembok tanah untuk melindunginya dari bola api, ya selamat.


Dzing, Dudun berteleportasi, muncul di depan Bilal. Tangannya yang sudah diselimuti api meninju dadanya.


Bilal berkelit, tinju api itu berhasil ia hindari, ia mengulurkan kedua tangan yang sudah diselimuti es, hendak menangkap tangan lawan.


Dudun keburu menarik tangannya kembali, Bilal hanya mencengkram udara kosong.


Dzing, Dudun berteleportasi lagi setelah sesaat ia melemparkan bom asap.


Bilal tidak bisa melihat yang lain selain kepulan asap di sekitarnya.


Sementara Dudun berada di luar asap, ia melempar bola api ke asap itu, berharap melukai lawan di dalamnya.


Mendengar suara api yang berkobar dari luar, Bilal melompat mundur dari kepulan asap dibantu angin, bola api lawan meleset, tak mengenainya.


Saat asap itu hampir menghilang seluruhnya, Bilal lalu mengeluarkan jurus, ia menghentakkan kakinya yang beraura hijau, lalu disusul barisan bambu tajam setinggi 1,5 meter menyembul keluar, terus memanjang ke depan, hendak menyerang Dudun dari bawah.


Mengingat kedua kaki atau bahkan (maaf) alat vitalnya yang bisa saja tertusuk, Dudun melompat tinggi dengan kekuatan angin, jubahnya berderu. Saat bambu tajam itu tidak meninggi lagi, baru ia mendarat perlahan di dua bambu tajam dengan kaki yang sudah diselimuti tanah liat cukup tebal. Ia menjaga keseimbangan di atasnya.


Jurus-jurusnya hebat, puji Dudun dalam hatinya pada pria hitam itu.


Untuk mencegah lawan menghilangkan jurus bambunya dan ia jatuh, Dudun menyalurkan energi tumbuhannya ke bambu tajam di kaki tanahnya. Itu mirip seperti melapisi, ketika lapisan pertama hilang, masih ada lapisan kedua.


Tetapi di luar dugaan, Bilal tidak menghilangkan jurus bambunya, justru ia melompat ke bambu tajam itu, kakinya juga diselimuti tanah liat. "Baiklah, mari kita bermain," gumam Bilal.


Sepasang kaki kedua orang itu bertumpu di atas bambu hijau tajam, bambu-bambu tajam di sekitar keduanya yang tidak dijadikan tumpuan bagai menjadi penonton sekaligus ring, jika dalam olahraga tinju.


Bilal mengeluarkan petir di kedua tangannya, hendak menyamabar Dudun.


Dudun melompat menghindar, mendarat ke bambu di belakang, bambu di depannya yang tadi menjadi tumpuan hancur tersambar petir.


Dudun juga mengeluarkan jurus yang sama, Bilal melompat ke belakang, yang menjadi korban hanyalah bambu-bambu itu.


Bilal hanya berdiri di tempat, tapi ia bisa menumbuhkan kembali bambu yang sudah hancur.


Ba-bagaimana mungkin, pikir Dudun, bagaimana mungkin ia bisa menumbuhkan bambu itu padahal jaraknya dengan bambu yang hancur lumayan jauh, bagaimana ia mengalirkan energi tumbuhannya lalu menumbuhkan bambu itu kembali?


Dudun tidak tahu jika di dalam tanah, bambu-bambu itu bagai pipa yang sambung menyambung, itulah kenapa Bilal bisa menumbuhkannya lagi. Sebenarnya Dudun juga bisa melakukannya, namun ia tak tahu.


Bilal terus mengeluarkan petir di tangannya, mengambil kesempatan ketika lawan bingung dan lengah, Dudun hanya bisa melompat menghindar dan menghindar sampai beberapa bambu tajam di sekitarnya banyak yang hancur.


Bilal lalu menyalurkan energi tumbuhan dari kakinya, membuat bambu-bambu hijau di sekitar lawan yang hancur tumbuh kembali.


Aneh, pikir Dudun, kenapa ia memberiku ruang untuk bergerak leluasa? Ia menghancurkannya, tetapi ia juga menumbuhkannya kembali. Yang masih jadi pertanyaanku bagaimana ia melakukannya?


Bilal mengangkat tangan, menyerang Dudun dengan petir lagi, Dudun menghindar, Bilal mengirim petir lagi, Dudun menghindar lagi. Bilal terus menyerangnya dengan petir, tidak memberi kesempatan untuknya berpikir, sementara, ia sudah punya rencana.

__ADS_1


Dudun melompat ke belakang, menghindari petir yang kesekian, dan inilah saatnya.


Ketika Dudun di udara, salah satu lubang/rongga bambu menyemburkan air panas ke atas, dengan semburan yang sangat kuat, membuat Dudun yang hendak jatuh mendarat malah terdorong lagi 5 meter ke udara oleh semburan air panas yang mengenai punggungnya. Dudun kepanasan, ia mengerang tertahan.


Dzing, Didin yang beradu pedang dengan Halil, dibantu kakaknya, Dadan, memutuskan membantu Dudun, tetapi, dzing, Halil dapat menebak ke mana Didin berteleportasi, yang menghalangi 5 meter di hadapan Didin.


Whuss, baru saja muncul, Halil langsung melompat secepat angin, mengayunkan pedang di jam tangan di tangan kirinya. "Lawanmu adalah aku!" Serunya.


Ting! Pedang Didin terlempar, lepas dari genggamannya.


Halil mengayun pedang lagi, hendak menebas Didin dengan pedangnya.


Didin melompat mundur 7 meter dengan bantuan angin, pedang Halil menebas udara kosong.


Halil tak menyerah, ia melompat lagi dan mengayunkan pedang, mengincar leher Didin.


Whuss, Dadan melompat dan sampai di depan Didin, menangkis pedang yang datang.


Tring! Pedang Dadan dan Halil beradu, mengeluarkan percikan api.


Dadan menyebut dua huruf, "M-M!" Itu adalah kode, 'Menyerang-Mundur (menyerang di belakang)'.


Didin mengerti, tidak ada waktu menyelamatkan Dudun, ia langsung melompat mundur beberapa meter dan sambil mendarat ia mengeluarkan gadget berupa tabung sebesar pipa sepanjang 15 cm.. Ia menekan tombol di tabung itu, tabung itu bertransformasi menjadi busur.


Didin menarik tali busur, ia membentuk anak panah dari energi tumbuhan, dan siap membackup Dadan yang beradu kelincahan teknik pedang. Kemungkinan anak panah itu beracun.


Semburan air panas itu berhenti, Dudun akan jatuh. Ia mencoba mengendalikan angin, bermaksud mengurangi resiko jatuh terlalu keras.


Bilal, tangannya bergemeletuk, ia mengeluarkan petir lagi, menyerang punggung Dudun, dan kali ini tidak meleset, tepat mengenai punggung karena musuhnya malah memperlambat 'penjatuhan' diri sendiri yang membuat Bilal mudah 'membidik'.


Bagai Burung yang sudah lelah dan lemah mengudara lantas ditembak pemburu, Dudun akhirnya benar-benar jatuh bebas. Ia tidak mengendalikan angin lagi, tubuhnya sudah lemah dan akan tertusuk bambu-bambu hijau tajam di bawah sana.


Elena yang sedari tadi melihat kedua bodyguardnya bertarung di jendela di kamarnya menutup mata. Dan...


Terdengar suara tubuh yang jatuh, Dudun beruntung, tidak ada bambu yang menggores apalagi menusuk tubuhnya, ia hanya nyaris tertusuk.


Kalian lihat, tubuh Dudun yang terbaring lemah dikelilingi oleh bambu 1,5 meter yang tajam. Bambu itu ada di sekeliling kepala, di samping leher, di samping ketiak, di sekitar kedua kaki dan (maaf) di antara kedua paha bagian atas (benar-benar nyaris mengenai bagian tersebut). Tapi hanya jubah bawah saja yang tertusuk bambu. Tidak ada darah yang mengotori jubah, berarti, bagian di bawah pusar juga tak tertusuk.


Dzing, Bilal berteleportasi, hendak menolong Halil. Ia mencabut pedang yang menancap di tanah, berteleportasi lagi, muncul di belakang Didin yang terus meluncurkan anak panah beracun ke arah Halil yang bertarung dengan Dadan. Pedang yang ia genggam di arahkan ke leher orang itu. Tangannya yang lain menangkap dadanya.


"Berhenti, atau kupenggal kepalamu!" Ancam Bilal.


Didin berhenti membuat anak panah dari energi tumbuhan miliknya, ia menurunkan kedua tangannya tapi tak melepas busurnya yang kemudian bertransformasi menjadi tabung kembali.


Dan tanpa sepengetahuan Bilal, tabung memanjang lagi menjadi tombak besi, ujungnya yang tajam hampir menusuk perut kanan Bilal, ia terpaksa melepas lawan dan mundur menghindar.


Didin membalik badan, memasang kuda-kuda, dengan tombak yang bagai anak panah raksasa itu ia siap melawan.


Dudun melihat langit yang tampak remang-remang baginya, ia benar-benar lemah sekarang. Lalu ia berbicara dalam hatinya, menggunakan teknik telepati. Kakak! Kakak! Cukup, kita sudah kalah, seluruh tubuhku hampir tak bisa bergerak, hanya kedua bola mata saja yang masih bisa kugerakkan, tolong hentikan, kita harus kabur. Kalaupun kalian, apakah bisa menjamin aku tak mati dan sehat kembali? Lagi pula kita tak tahu di mana persisnya xiberium yang ada di rumah itu.


Dadan dan Didin, mereka bisa mendengarnya, ujung tombak Didin lalu masuk ke dalam, lalu mengeluarkan benda lempengan itu yang langsung meledakkan asap hitam, menutupi pandangan Bilal yang tadinya hendak ia lawan. Didin lantas berteleportasi.


Dadan yang sejak tadi berduel pedang dengan Halil sedikit melompat menjauh, ia meminum ramuan, menciptakan kloningan diri sendiri.


"Tahan dia!" Titah Dadan pada kloningannya sendiri. Ia sendiri melompat jauh dengan bantuan angin, kakinya bertumpu di batang bambu, bermaksud menyelamatkan Dudun. Ia membopong Dudun dan berteleportasi, entah sekarang ia berada di mana.


Didin dan Dadan, keduanya sudah kabur, entah ke mana.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Bilal pada Halil. mengingat ia melawan dua orang, Bilal takut terdapat luka di tubuhnya.


"Tidak." Halil terengah-engah. Halil menekan tombol di jam tangannya, pedang yang muncul di jam tangannya memendek dengan cepat dan masuk kembali menjadi isi dari jam itu. Mirip seperti meteran.


Elena, anak perempuan berusia 6 tahun dengan rambut pirang bergelombang serta telinganya yang runcing itu keluar dari dalam kamarnya, menuju kedua Bodyguardnya di halamannya yang amat luas.


Sebenarnya halaman itu bekas rumah tetangganya, ayah Elena membeli rumah itu dan baru meratakannya. Dia berencana membang toko obat di tanah itu. Istrinya yang akan mengelolanya, sehingga Elena tidak kesepian lagi karena ditinggal kedua orang tuanya ke kota Frerzney untuk bekerja.


Elena selalu merasa kesepian, sejak setahun lalu saat kakaknya (Zayd) menghilang entah ke mana, Elena sering bermain dengan anak tetangganya itu, tapi sekarang rumah itu sudah rata dengan tanah, pemiliknya sudah pindah. Dan tiga bulan terakhir setelah rumah itu diratakan, Elena lumayan sering ke rumah Chiara. Selain seperti mendapatkan teman baru, Elena merasa ia juga mempunyai kakak baru. Selain baik, Chiara juga pencerita yang baik, itu salah satu hal yang ia sukai dari sosok seorang Chiara.


"Paman Halil, Paman Bilal, kalian tidak apa-apa" Elena mendongak menatap wajah kedua boddyguard sekaligus pembantunya yang berkeringat.


"Kami tidak apa-apa, Elena," jawab Bilal sambil berjongkok lalu mengusap kepala anak itu.


"Sebenarnya mereka siapa? Ke-kenapa mereka datang ke sini? Dan apa yang mereka inginkan?"


"Kami tidak tahu, Elena," jawab Halil. Yang pasti, pikir Halil, mungkin mereka mengincar beberapa xiberium milik ayahmu. Tapi, kalaupun kami kalah, kami sendiri tidak tahu di mana ayahmu menyimpannya.


"Nah, mari kita masuk," kata Bila, ini sudah sore, sebaiknya kau bergegas mandi." Bilal memegang tangan Elena , mengajaknya masuk.


"Tapi, aku ingin ke rumah-"


"Tidak hari ini, Elena," potong Halil yang berada di belakangnya dan Bilal. "Dua hari terakhir kau menginap di rumahnya, Apa kau tak malu?"


"Ta-tapi, Kak Chiara sendiri tidak keberatan, bahkan semua anggota keluarganya tidak keberatan." kecuali satu orang, batin Elena, dia menyebalkan. Tapi, dia bukan termasuk anggota keluarga Kak Chiara, sih.


Yang dimaksud Elena tentunya Zaid, tapi ia tak tahu Zaid sudah berada di panti asuhan Zhang Xiao.


"Meski dia dan keluarganya tidak keberatan," kata Halil. "bukan berarti dia akan terus mengizinkanmu menginap di sana, Elena. Ini rumahmu, tidurlah di rumahmu sendiri. Dan ingat, dia hanya orang lain, bukan keluarga atau saudaramu. Sebaik-baiknya orang lain terhadapmu, bisa saja kemungkinan suatu saat, ia akan menghianatimu."


Elena, meski usianya dan sifatnya masih anak-anak, pemikirannya tidak seperti anak-anak seusianya, maka sedikit- banyak yang mengerti nasehat Halil kepadanya. Namun ia tak setuju.


"Kak Chiara tidak mungkin seperti itu! Aku tahu seperti apa Kak Chiara, Bahkan ia tak hanya baik kepadaku, ia baik pada siapapun, tak pandang bulu. Dan karena itu aku yakin dari dulu sampai kapanpun, Kak Chiara tak akan berkhianat, kepadaku, atau siapapun juga," kata Elena berapi-api. Dan ajaibnya, lidahnya tidak terpeleset.


"Dan kau!" Elena tak segan menunjuk Halil, Halil tak menyangka Elena akan tak sopan padanya. "Kau benar, Kak Chiara memang orang lain, tapi dari sekian banyak orang lain yang kutemukan, Kak Chiara-lah yang benar-benar tulus baik kepadaku, sedangkan kau, kau bisa saja berlaku baik padaku hanya karena kau bekerja pada ayahku, bahkan menurutku sendiri kau itu sedikit jahat. Kau selalu melarangku untuk pergi kemanapun, termasuk ke rumah Kak Chiara. Lagi pula jarak rumahnya tak jauh dari sini, jalan yang kulalui juga dilalui orang banyak. Di sana juga ada menara penyihir yang berjaga. Apakah menurutmu, jika aku diculik, Tidak adakah orang yang akan menolongku?"


Tiba-tiba, terdengar suara keras, pipi Elena ditampar cukup keras oleh Halil.


Helena tak menyangka ia akan ditampar. "Kau, jahat!" Elena melepas genggaman tangan Bilal yang longgar, ia lari, masuk ke rumahnya, lalu mengunci diri di kamar, mata hijaunya yang jernih berkaca-kaca, sebelah pipinya merah.


"Kau berlebihan, Halil," kata Bilal menatap pintu rumah majikannya.


"Bukankah Tuan mengizinkan kita menamparnya jika ia kurang ajar atau tidak menurut pada kita?" Tanya Halil datar, lantas menghela napas.


"Tapi, ia masih anak-anak. kalaupun ia menghina atau kurang ajar, biarlah, jangan sampai kita terbawa perasaan. Kalaupun menurutmu ia salah, apakah perbuatanmu tadi sepenuhnya benar?"


Mendengar pertanyaan Bilal itu, Halil terperanjat. Ia rasa ia memang berlebihan.


"Meskipun Tuan mengizinkan kita menamparnya, jika tadi dia ada di sini, kuyakin ia tak akan menerima anaknya diperlakukan seperti itu. Bisa saja ia hanya beromong kosong karena ia mengira kita tidak berani menamparnya," jelas Bilal.


"Tapi, apakah kau tidak khawatir jika kita membiarkannya menginap lagi di sana? Awalnya Ia hanya ingin bermain, tapi ia seperti sengaja di sana sampai larut malam agar menginap dan baru kembali ke sini esok hari, menurutmu Ini rumah siapa?"


"Iya, memang," kata Bilal, "tapi kuharap kau tak menamparnya lagi waktu jika hal seperti ini terulang lagi. Sudahlah, ayo kita masuk, aku punya rencana yang lebih baik. Kuharap ia mau." Bilal masuk ke dalam rumah, diikuti Halil.


Mendengar kalimat 'rencana yang lebih baik', Halil tak bisa menebak apa rencana itu, tapi ia tak menanyakannya.


Sementara itu, Elena meringkuk di kasur di kamarnya. Ia menangis.

__ADS_1


Elena, ia merasa rumah mewah dan besar milik keluarganya bagai emas palsu, tak berharga sama sekali. Bahkan lebih buruk dari emas palsu itu sendiri. ia bagai burung yang dikurung di dalam sangkar, sekalipun sangkar itu mewah, kebebasanlah yang ia inginkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2