Tujuh Elemen

Tujuh Elemen
Rencana Bilal


__ADS_3

Bertangan robot itu sudah bebas dari es yang menyelimutinya, Iya baru selesai membersihkan diri di kamar mandi. Ia mengelap kepalanya yang botak dengan handuk.


Pintu lift besar itu terbuka, sebuah mobil masuk ke ruangan, Dadan dan Dindin keluar dari pintu mobil bagian depan, lalu keduanya membopong Dudun yang berbaring di belakang.


Setelah itu Didin berkata, "Berpisah." Dan Seketika mobil itu menjadi 3 motor kembali.


Karcho, kurcaci ilmuwan yang melihat ketiganya, bertanya, "Bagaimana, Apa kalian mendapatkannya?"


"Tidak," jawab Dadan pendek dan datar.


"Sekarang bukan waktunya untuk menanyakan hal itu, bantu dia, obati," kata Didin. Ia menunjuk Dudun yang sudah dibaringkan di sofa ruangan itu. Sementara ia memarkirkan ketiga motor.


Karcho menuju sofa tempat Dudun berbaring menghadap langit-langit, setelah mengecek keadaan tubuhnya, Karcho langsung menuju laboratoriumnya, mengambil suntikan berisi cairan berwarna biru berlian, menyuntikkannya di lengan Dudun.


"Dalam 3 hari tubuhnya akan membaik," jelas Karcho.


"Bagus," kata Dadan. "Di mana Deden dan Dodon?"

__ADS_1


"Keduanya tengah mandi," jawab pria bertangan robot. Di ruang bawah tanah itu ada dua toilet dan dua kamar mandi yang terpisah, jadi Deden dan Dodon tentu tidak mandi bareng.


Tepat beberapa saat kemudian, layar monitor raksasa di ruangan itu menyala, menampilkan wajah tuan putri.


"Bagaimana? Apa kalian bertiga mendapatkan apa yang kumau?" Tanya tuan putri.


"Ti-tidak," jawab Dadan. "Di tempat yang kami tuju terdapat dua orang yang menghalangi-"


"Hanya dua orang dan kalian bertiga kalah?"


"Ya-ya, tetapi keduanya bukan orang biasa. Seorang dari mereka ahli pedang; seorang lagi ilmu sihirnya tak kalah hebat. Itu sebabnya kami kalah, dan bahkan Dudun pun terluka cukup parah."


"Baiklah, begini saja," kata tuan putri kemudian, "Dadan, Didin, kalian beristirahatlah, jaga tempat ini. Dan Mike," ia berkata pada pria bertangan robot, "Besok pagi, kau bersama dua kembar sisanya, berpencar dan cari xiberium di 3 tempat yang berbeda dan bawa pulang ke sini. Kalian tidak perlu mencari tempat yang banyak xiberium-nya, usahakan cari xiberium di tempat yang minim penjagaan, meski xiberium di tempat itu sedikit."


"Dan Karcho, beri Mike dan si kembar sesuatu yang berguna besok pagi, entah itu obat atau apapun, terserah kau.


"Baik, Tuan Putri," kata Karcho menyanggupi.

__ADS_1


"Itu saja," tutupnya, lalu layar monitor itu mati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Halo, apa ini dengan Chiara?" Tanya Bilal lewat handphonenya.


Di seberang sana, Chiara sedikit terkejut. "E, ya, ini aku, Chiara. Dan tunggu, dari mana anda tahu nomor handphoneku? Dan siapa anda?"


"Soal dari mana aku tahu nomormu, itu tak penting. Aku salah satu bodyguard yang bekerja pada Tuan Muza, ayah Elena. Apa kau tahu Elena?"


"Oh, ya, aku tahu Èlena dan Tuan Muza, siapa yang tak kenal mereka? Lantas apa maumu?"


Bilal menghela napas. "Elena ingin ke rumahmu, lagi, tapi kami tak mengizinkan. Ia bahkan sampai tak sopan pada Halil, bodyguardnya sendiri. Sampai-sampai Halil menamparnya, dan Elena sekarang mengurung diri di kamar. Apa kau bisa menginap di sini? Atau setidaknya sampai Elena tertidur. Kasihan dia, ia sampai tak mandi dan entah apakah sekarang Halil dan aku bisa membujuknya untuk makan malam.


"Oh, kasihan sekali," kata Chiara. "Namun, entahlah, cuaca sekarang seperti kurang memungkinkan, tapi, aku akan tanyakan pada kedua orangtuaku, jika mereka mengizinkan dan langit tak keburu hujan, pasti aku akan ke sana.


"Ee... Tapi," kata Chiara lagi, "apakah anda sudah memberitahukan hal ini terlebih dahulu kepada Tuan Muza, kalau-kalau hujan turun dan aku benar-benar harus menginap di sana? Dan aku juga minta bukti bahwa anda memang benar-benar orang yang bekerja padanya," kata Chiara.

__ADS_1


"Aku sudah memberitahu Tuan Muza sebelumnya, dan jika kau meminta bukti, aku akan mengirimkannya padamu bukti tersebut."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2