
Sore harinya, Rhys datang lagi ke panti asuhan itu, ia membawa kostum serigala dan satu kaos polos yang dibeli Zaid bersama Chiara waktu itu. Sedangkan kaos merah polos yang ia kenakan saat jatuh ke jurang sudah ia kenakan sekarang.
Sebenarnya, ada beberapa potong pakaian yang sudah Zhang Xiao dapatkan dari para donatur dua minggu lalu, ia mengatakan Zaid bisa memakainya. Tapi Rhys tetap menyerahkan kostum serigala dan kaos polos itu pada Zaid, karena beralasan ini memang milik Zaid dan lagi pula hanya dua pakaian, tidak banyak.
Zaid yang berada di pintu berhadapan dengan Rhys, dengan Tuan Zhang di belakangnya, menerima dua pakaian itu. Melihat kostum serigala itu, Zaid baru teringat festival di gunung Oru, dua hari lagi akan diselenggarakan.
Mungkin aku tidak akan pergi ke festival itu, pikir Zaid.
Tidak banyak percakapan antara Zhang Xiao dan Rhys; Zaid langsung menuju ke kamarnya di atap, menaiki tangga batu, sambil membawa dua pakaiannya.
Tiba di atas, Zaid mendapati salah satu dari sepasang kembar yang duduk di kasur dirinya sendiri, ia tengah membaca buku coklat tua.
"Oh, Hai Zaid. Kau memilih baju lagi?" Tanya remaja bermata belang berambut keriting coklat tua itu.
"Tidak, ini benar-benar milikku," jawab Zaid.
Saat pertama kali tiba, Zhang Xiao menyuruh Zaid untuk memilih beberapa potong pakaian yang memang disediakan untuk anaka yang baru masuk panti asuhan.
Zaid membuka lemarinya, di sana tertata rapi baju-baju lain yang sudah ia pilih tadi pagi. Di samping lemari Zaid juga tergantung handuk di dinding papan itu, sedangkan peralatan mandinya trpat di bawah handuk.
Zaid melipat kostum serigala dan kaos polos itu di karpet (ia tak terlalu peduli jika karpet itu hanya sedikit berdebu), namun Zaid merasa ada sesuatu di saku kostum serigalanya, ia lalu mengeluarkannya, ternyata ada lipatan kertas. Ia menoleh ke belakang, si mata belang itu tetap fokus membaca bukunya.
Untung saja ia tak melihatanya, batin Zaid lega, tapi, apa ini? Apa mungkin pesan dari Paman Rhys atau Kak Chiara. Baiklah, kubaca nanti saja, sekarang bukan waktu yang tepat.
Zaid kemudian menyelipkan kertas yang masih terlipat ke bawah tumpukan ****** ********, jadi kalaupun ada orang yang membuka lrmarinya, mana mungkin ia berani menyentuh ****** ********.
Kalau seperti ini, pikir Zaid, sepertinya aman.
__ADS_1
Zaid lantas menutup dan mengunci lemarinya.
"Oh, ya, Kak..." Zaid tak melanjutkan kalimatnya, ia bingung.
"Ichi," kata Ichi sendiri, ia tahu Zaid kebingungan mengingat ia punya saudara kembar.
"Kak Ichi, buku apa itu?" Tanya Zaid. Ia sebenarnya tak tahu mau melakukan apa, maka ia mencoba basa-basi.
"Oh, ini buku kumpulan hewan pendamping," jawab Ichi.
"'Hewan pendamping'?"
"Ya, kalau kau mau lihat, kemarilah." Ichi menepuk-nepuk kasur, memberi isyarat pada Zaid untuk duduk di sampingnya.
Zaid agak malu, tapi kemudian memberanikan diri.
Ichi mengulang lagi buku yang ia pegang dari halaman pertama. zaid sekilas bisa melihat gambar-gambar hewan yang bentuknya unik juga aneh, yang disertai deskripsi dan informasi tentang heean di gambar tersebut.
Membaca kata 'Bung-Alone', Zaid merasa aneh 'Alone'? 'Sendirian'?
Zaid merasa tertarik, ia membaca tulisan di bawahnya mengenai bunglon; Ichi membiarkannya.
Semua orang tahu, bunglon adalah hewan yang unik, ia bisa melakukan teknik mimikri untuk bersembunyi dari mangsanya. Tapi bunglon yang satu ini sedikit berbeda dari bunglon pada umumnya. Ia memiliki teknik mimikri yang lebih hebat. Ketika ia melakukan teknik mimikri, ia seolah-olah seperti benar-benar menghilang. Berbeda dengan bunglon biasa, yang hanya bisa merubah warna tubuhnya sesuai dengan sekitarnya tanpa mampu menyembunyikan tonjolan tubuhnya.
menurut peneliti, bunglon jenis ini cukup sedikit jumlahnya, atau bisa saja lumayan banyak karena sulit ditemukan. Mereka juga mengatakan hanya kurang dari 100 orang yang memilikinya dari total semua orang di dunia.
Menurut si Mata Elang, Liu Bei, bunglon ini hidup sendiri-sendiri. Itulah kenapa bunglon ini kemudian diberi nama Bung-Alone. Ia juga mengatakan mereka biasanya berdiam di tempat-tempat tinggi, terutama hampir di ujung bambu hijau. Menurutnya, alasan kenapa Bung-Alone sulit ditangkap adalah karena penglihatannya yang tajam. Ketika Bung-Alone melihat seseorang dari jarak 100 m, ia akan langsung 99% menghilang sambil terus berlari menjauh.
__ADS_1
Selain itu, kehebatan bunglon ini adalah, Iya bisa menghilangkan sesuatu yang ia menempel dengan anggota tubuhnya. Jika ia melilit lengan orang dengan ekornya, orang itu juga akan menghilang beserta pakaian yang ia kenakan dan termasuk sesuatu apapun yang ia bawa (itulah Kenapa pencuri dan pengintip banyak yang menginginkan hewan ini).
Untuk makanannya sendiri, menurut orang-orang yang memiliki hewan ini, mereka suka memakan daun bambu.
"Buku ini menarik," gumam Zaid kemudian. "Tapi, 'hewan pendaming', maksudnya, hewan pendamping siapa?"
"Hewan pendamping siapa saja," jawab Ichi. "Semua orang berhak mempunyai hewan pendamping.
"Tapi, aku sudah melihat banyak orang, mereka tidak terlihat membawa hewan mereka, " kata Zaid. Lantas ia teringat Vin, kucing abu-abu milik Elena. "Oh, ya, kecuali satu orang, ia masih anak-anak, usianya 6 tahun, Dia mempunyai kucing yang bisa berteleportasi.
"Oh, aku rasa ada di dalam buku ini, "kata Ichi. Ia lalu Membuka halaman bagian daftar isi dan mencari jenis kucing itu. "Ini dia."
Zaid bisa melihat di halaman 51 buku itu, ada gambar kucing abu-abu. Di bawah gambar tertulis: Kucing Kudzing.
Membaca kata 'Kudzing', Zaid merasa buku itu aneh, kenapa jenis kucing itu juga dimiripkan dengan sebutan umumnya, 'kucing'.
Tadi Bung-Alone, pikir Zaid, sekarang Kudzing, lalu selanjutnya apa lagi? Cacing menjadi 'Casing"? Ulat menjadi 'Alat'? Koala menjadi 'Kewali'? Panda menjadi 'Pandan'? Cicak menjadi 'Cicuaks'? Zaid dibuat bingung oleh pertanyaannya sendiri.
"Hei, hei, Zaid? Kau baik-baik saja?" Ichi melambai-lambaikan telapak tangannya di hadapan muka Zaid, membuat Zaid tersadarkan dari lamunannya.
"Oh, ya, aku tidak apa-apa, kata Zaid kemudian.
"Hei, Kak," kata Icha yang setengah badannya berada di kamar di atap, setangah badannya lagi berada di lantai bawah.
"Kelas segera dimulai, ayo turun. kau juga, Zaid," kata Icha, ia tersenyum tipis pada Zaid.
"Oh, ya," jawab Ichi pendek. Ia beranjak bangkit dari kasur lantas menyimpan bukunya di rak buku kecil yang ada di kamar itu. "Kau juga cepat, Zaid."
__ADS_1
"Baiklah," Zaid beranjak bangkit dari kasur, mengikuti sepasang kembar itu dari belakang, Ryan mungkin sudah ada di bawah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...