Tujuh Elemen

Tujuh Elemen
Belajar Dan Cerita (bagian 3)


__ADS_3

Zaid terus mengikuti Ichi-Icha satu setengah meter dari belakang, jika dilihat dari belakang, sepasang kembar itu bukan lagi 'mirip', tetapi seolah-olah benar-benar 'sama persis'. Zaid dibawa ke ruangan besar dan tak ada apa-apanya itu.


Di ruangan berlantai papan betula dan berdinding batu seluas 20×20 meter persegi dengan langit-langit mencapai 10 meter itu sudah berkumpul sedikitnya 18 anak-anak berusia 5 sampai 13 tahun. Yang duduk di bangku masing-masing dengan setiap satu orang diberi jarak dua meter. terdapat tiga jajar bangku di ruangan itu. 1 jajar terdapat 7 bangku dari ujung ke ujung.


"Apakah ini ujian?" Tanya Zaid. Ia melihat semua anak-anak yang duduk di bangku diberi jarak 2 meter.


"Tidak, ini belajar biasa," jawab Icha, sambil sekilas menoleh pada Zaid.


Tapi, pikir Zaid, kenapa semua anak yang beragam usia disaturuangankan, bukankah akan sulit untuk mengajarnya? Lagi pula siapa gurunya?


"Semuanya," Zhang Xiao berseru lantang, "kalian seperti biasa akan belajar bersama Paman Oako dan kurcaci-kurcaci yang lain." Pertanyaan Zaid secarà tak langsung sudah dijawab oleh Zhang Xiao. "Aku ada perlu, nanti malam mungkin aku tidak berada di sini. Namun jangan khawatir, Kak Leo ada di sini untuk menjaga kalian."


Zaid menyangka yang dimaksud Zhang Xiao adalah lelaki itu, ia melihat badannya tegap, tinggi besar, rambutnya pirang terbelah dua. Usianya sekitar 22 tahun.


Setalah itu Zaid melihat 10 kurcaci masuk dari pintu masuk panti asuhan. Termasuk Oako. Disusul Zhang Xiao yang keluar panti asuhan.


"Hei, Anak Muda, kau masih ingat namaku?" Tanya Oako pada Zaid.


"Eko?" Zaid sebenarnya ingat namanya Oako, hanya sengaja pura-pura lupa.


"Oako! Aku tahu kau sengaja," kata Oako sedikit kesal. Entah bagaimana ia tahu bahwa Zaid sengaja.


Zaid tertawa kecil.


"Sudahlah, ayo cepat duduk di sana, Anak Muda!" Oako menunjuk bangku di pojok paling belakang yang kosong. Ia tidak menyadari, sudah sejak tadi anak-anak di ruangan itu memerhatikannya.


Zaid salah tingkah ditatap banyak pasang mata, ia langsung bergegas duduk di bangku yang tadi ditunjuk Oako.


Zaid mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu. Ini benar-benar seperti ujian, pikir Zaid, kukira bahkan benar-benar ujian. Entah kenapa harus diberi jarak 2 meter dari satu anak ke anak lainnya, dan yang pasti tidak ada istilah 'teman sebangku'. Jika pembelajaran biasa saja seperti ini, bagaimana saat ujian nanti? Zaid bertanya-tanya.


Zaid menghela napas, ia baru menyadari Leo tidak ada di ruangan itu, entah kemana dia sekarang, cepat sekali perginya.


Zaid lalu mendengar seorang kurcaci wanita setinggi 90 cm menyebutkan nama anak-anak di ruqngan itu, mengabsennya. Semua anak hadir di kelas, hingga kurcaci wanita itu menanyakan pada Zaid siapa namanya.


"Nama lengkapku Muhammad Zaid Husain," jawab Zaid.


"'Zaid'? namamu terdengar aneh," celetuk salah satu anak perempuan di ruangan itu.


Karena ia masih tujuh tahun, Zaid tak menghiraukannya, bersikap biasa saja.


"Jangan bicara sembarangan, Kayla," kata kurcaci wanita si pengabsen.

__ADS_1


Oako mendorong rak buku kecil beroda, dan sampai di tempat Zaid.


"Kau bisa membaca, kan, Anak Muda? Pilih bukumu sendiri," titah Zaid.


Tanpa banyak tanya Zaid meraih salah satu buku, di rak buku itu hanya tersisa 5 buku.


"Oh, ya, aku belum mengetahui namamu," kata Oako.


"Aku telah menyebutkannya tadi." Ingatan kakek ini buruk, wajar, sih, pikir Zaid. Ia kemudian menyebutkan nama lengkapnya lagi.


Oako tertawa kecil. "Nama yang aneh itu sebenarnya aku masih ingat." Oako tertawa, ia ternyata hanya 'berchanda'.


"Tugasmu hanya membaca dan menghafalnya. Itu buku sejarah dan dongeng yang disatubukukan," jelas Oako, lalu ia pergi dari bangku Zaid.


Kenapa sejarah dan dongeng disatukan, pikir Zaid, dan lagi, pembelajaran di sini tidak benar-benar diajari. Ini sama saja seperti kita belajar sendiri. Ah sudahlah, aku tak peduli.


Zaid menyapukan pandangan ke bangku anak-anak yang lain, dan melihat setiap satu kurcaci sedang mengajari satu anak yang belum bisa membaca, sedangkan yang sudah bisa membaca dibiarkan membaca buku sendiri tanpa dibimbing. Ternyata, pikir Zaid mungkin memang sistemnya seperti ini.


"Oh, ya, untuk Kakak-Kakak yang sudah bisa membaca, kalian hanya perlu membaca buku yang kalian pilih, dan menghafal apa yang penting dari buku itu," jelas Oako. "Jika ada sesuatu yang kurang dimengerti, tanyakan pada kami kurcaci berilmu," kata Oako sedikit menyombongkan diri.


Zaid menahan tawa saat mendengar dua kata 'kurcaci berilmu'.


Zaid langsung membuka halaman daftar isi, dan terkejutnya Iya ketika membaca tulisan 'Sejarah Virus Orch-Goblin 19'.


Bukankah itu yang pernah diceritakan Kak Chiara, pikir Zaid. Ia Membuka halaman 39 sesuai yang tertera di daftar isi.


Zaid membacanya sedikit dan ternyata memang benar itu yang pernah diceritakan Chiara padanya.


Zaid lalu mencari sampai mana Chiara waktu itu bercerita, lalu ia membacanya.


Ketika itu, jumlah penyihir yang tersisa 100.000 orang di seluruh dunia dikepung oleh orch dan Goblin yang jumlahnya 10 kali lipat lebih banyak. orch dan Goblin yang mengepung para penyihir pun secara sengaja tak sengaja terkepung oleh belatung-belatung raksasa yang memenuhi seluruh benua Esia yang tercipta akibat bangkai-bangkai orch, goblin, manusia dan elf yang tercampur. Ukuran paling kecil dari belatung-belatung raksasa itu adalah sebesar gerbong kereta.


Seketika belatung-belatung itu memakan orchdan goblin yang mengepung para penyihir. mengurangi beban para penyihir yang tersisa.


Tetapi, jika dibiarkan, setelah para orch dan goblin itu dilahap habis, belatung-belatung itu akan mengepung para penyihir dan akan menjadi masalah baru yang lebih menyulitkan.


Mengingat tim ekspedisi belum juga kembali, si Dewa Es, Freezor, memutuskan untuk melakukan hal gila, ia menyuruh semua penyihir untuk mengevakuasi diri masing-masing ke bawah tanah, ke tempat yang lain dievakuasi.


Si Dewa Es, Freezor, setelah memakan kapsul oksigen, ia terbang ke angkasa dengan kekuatan anginnya yang hebat. Layaknya ultraman, dalam sekejap ia sudah sampai di angkasa.


Si Dewa Es, Freezor lalu mengeluarkan jurusnya yang luar biasa di angkasa, ia meledakkan dirinya sendiri dengan kekuatan esnya yang sudah ia latih puluhan tahun. Radius ledakkan uap dingin itu sampai membekukan bagian luar (hanya permukaannya saja) dari 8 planet; planet Mekarius, Pinus, Imub, Nars, Jukiter, Starnus, Orangus, Neptwonus. Dan termasuk satelit alami dari kedelapan planet.

__ADS_1


Beberapa peneliti juga mengatakan planet-planet kerdil seperti planet Fluthor dan Series juga terkena dampak beku, dengan ditemukannya asteroid es yang berada di sekitar planet-planet kerdil itu.


Beberapa peneliti lain juga mengatakan setengah dari bola matahari juga sempat terbekukan, yang membuat planet Imub (dan yang lain) yang sudah beku mengalami gelap total selama 15 menit, dan setelah 30 menit, es yang membekukan setengah bola matahari itu mencair sepertiganya, 15 menit kemudian dua pertiga esnya mencair, hingga sampai satu jam seluruh es itu baru mencair lalu menguap dan lenyap. Fenomena itu dinamakan Gerhana Es Mencair yang hanya terjadi ketika itu.


Para peneliti mengatakan, bukti bahwa matahari pernah beku setengahnya adalah, sebelum fenomena itu terjadi, panas matahari diperkirakan 1,2 kali lebih panas dari panas matahari yang sekarang.


Tetapi yang jelas, belatung belatung itu,dan orch serta goblin semuanya telah membeku dan lama-kelamaan mati. Sedangkan para penyihir selamat karena sudah mengevakuasi diri mereka ke bawah tanah.


Anda sebagai pembaca mungkin bertanya-tanya, jika semua orang berada di bawah tanah, di tempat tinggal para kurcaci, lantas siapa yang tahu si Dewa Es Freezor meledakkan diri? Jawabannya adalah, memang tidak ada satu orang pun yang melihat kejadian itu secara langsung, tapi satelit buatanlah yang menyaksikannya, Ia merekam seluruh kejadian yang terjadi di permukaan Imub dari awal ia diciptakan lantas diopersikan, sampai 1000 tahun kemudian baru memorinya penuh dan harus diganti.


Lantas, pertanyaan lain yang muncul di benak kalian adalah, 'apakah satelit buatan itu tidak ikut beku?', jawbannya tentu tidak. Satelit itu sudah terpasang perisai plasma yang akan otomatis aktif saat terdeteksi bahaya apapun itu, termasuk uap dingin.


Kala itu, orang-orang, baik itu kurcaci, elf dan manusia, setiap bulan mengecek keadaan di permukaan, dan alangkah terkejutnya ketika melihat seluruh orch, goblin sudah menjadi tulang, belatung hanya tersisa kulitnya saja, dan permukaan yqng dipenuhi genangan air.


Ketika menyadari hal tersebut, orang-orang keluar, naik ke permukaan. Kurcaci-kurcaci mulai menanam semua jenis tumbuh-tumbuhan, baik yang berbuah maupun tidak.


Para kurcaci juga mengecek rekaman di satelit beberapa bulan terakhir, dan mereka kaget ketika melihat seseorang yang tak lain adalah si Dewa Es terbang dari permukaan Imub lalu meledakkan diri, membuat sistem tata surya membeku.


Untuk menghormatinya karena telah berjasa besar, mohon sejenak tutup buku anda dan katakan, "Dingin!"


Zaid reflek menutup bukunya dan berseru, "Dingin!"


Semua anak-anak dan kurcaci, minus Leo, entah ke mana, semuanya reflek menoleh, menatap Zaid aneh. Dingin?


"Ini masih sore, Zaid," celetuk Ryan lantas tertawa, diikuti yang lain.


"Haha, Kak Zaid ini lucu, mana ada yang kedinginan sekarang."


"Iya, bahkan aku saja sedikit berkeringat."


"Namanya aneh, tingkahnya pun aneh."


Zaid, mukanya memerah, ia dari tadi sudah menutupi wajahnya dengan buku.


Seorang dari 10 kurcaci mendekatinya, bukan Oako, ia membawa tongkat.


"Dingin? Dingin apanya?" Kjrcaci itu memukul-mukul tangan Zaid dengan tongkat. "Apa kau mengigau? Baca dengan serius!"


Zaid tak kesakitan sebenarnya, ia membiarkannya. Yang menyebalkan adalah rasa malu yang harus ditanggung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2