
Kelas X-MIA 1
Linda mengetuk pintu ingin meminta izin masuk kelas.
"..Per.. permisi,bu. Saya izin masuk."
Perhatian semua murid di kelas itu tertuju padanya dan membuatnya semakin gugup.
"Baiklah, kamu boleh masuk. Lalu catat semua yang ada di papan tulis. Kamu sudah melewatkan pelajaran."
Ucap Bu Susi dengan lembut.
Ucapan lembut bagaikan Shusii dari Bu Susi membuat Linda merasa sedikit tenang dan lega secara bersamaan. Dia bersyukur bukan Bu Junet yang mengajar karena sudah pasti dia dihukum berdiri satu kaki di depan kelas.
Ketika Linda berjalan ingin ke kursinya di ujung kelas kakinya disandung seseorang hingga dia terjatuh. Hal itu membuatnya ditertawakan dan diledek habis habisan. Tentu saja dia merasa sangat malu juga takut.
"Sudah sudah. Linda berdiri dan kembali ke kursi. Kalian diam dan lanjutkan menulis."
Tegas Bu Susi membungkam semua orang.
Meski begitu, tetap saja masih ada orang yang meledeknya.
"Masa' orang pintar selusuh itu sih? Hahaha."
"Iya. Lihat rambutnya yang kusut. Pasti nggak dikeramas sebulan penuh tuh. Ahahaha."
"Hei diam. Nanti dia dengar. Hahaha."
"Biarin aja. Apa yang bisa cewek itu buat? Dia cuman jadi hama di sini. Meskipun nilai dia bagus. Tapi cupu ya cupu. Hahahaha."
"Bisa bisa derajat sekolah ini turun karna dia. dia pintar tapi jelek. Hiih. Bikin malu saja. Udah ah, Berhenti membicarakan makhluk menjijikkan kek dia."
Itu.. kalimat yang sering didengar olehnya sepanjang masuk SMA. Dia tetap diam meski mendengar itu semua. Deolinda adalah anak yang pintar dan dia bisa masuk SMA Antaresa yang elit adalah karena beasiswa. Dia tidak bisa berbaur dengan anak anak yang tergolong kaya di SMA itu dan hanya bisa menyendiri. Dia juga adalah anak yang tidak terlalu mementingkan penampilan.
**Dari sini cerita berpusat pada Deolinda dan diceritakan dari sisi Deolinda**
Jam 05.12 AM
TRILILILILIT LILILILIT LILILIT
Suara itu..suara yang selalu membangunkanku tiap pagi. Menandakan aku harus memulai pekerjaanku.
-05.15 mandi
-05.22 mencuci
-05.37 menjemur
-05.43 membangunkan Gilang adikku
-05.45 membereskan rumah
-05.52 menyiapkan sarapan
-06.07 ganti baju dan mengambil tas
-06.15 membangunkan tante dan ayah
-06.18 Sarapan
-06.25 berangkat sekolah
Banyak ya? Memang banyak. Tapi hari ini aku melakukan kesalahan. Aku terlambat bangun karena keasikan baca buku tadi malam sehingga aku terlambat.
"Apa yang kau lakukan sampai telat bangun begini?! Sudah ku bilang kau harus melakukan pekerjaannu dengan baik kan?! Sekarang Gilang juga ikut terlambat karnamu! Gak guna kamu jadi anak! Untung saja ayahmu menginap di grosir. Jika tidak dia juga akan terlambat buka grosir!"
Itu.. perkataan ibu tiriku. Dia tidak sejahat itu kok, hanya saja dia akan berkata yang cukup kasar jika aku melakukan kesalahan. Aku tau karena aku memang salah.
"Sudah Mahhh. Aku nggak papa kok. Lagian Kak Linda pasti capek. Ngapain mamah marahin terus sih?!"
Dan itu adikku. Umurnya 13 tahun. Dia adikku dari ibu yang berbeda. Untung saja, dia pengertian. Dan dia juga yang sering menenangkan tante kalau dia lagi marah padaku.
Saat itu aku tidak menyangka kalau aku akan seterlambat ini. Aku takut akan dihukum terlalu lama dan ketinggalan pelajaran.
"Sekarang sebutkan nama dan kelas masing masing dari kiri ke kanan. Beserta alasan terlambat, jika alasan kalian tidak masuk akal saya akan memanggil orang tua kalian!"
Aku pasrah jika begini. Padahal baru kali ini aku terlambat tapi dibilang sudah terlambat tiap hari. Duhh pak, jangan suka bilang hal yang sebaliknya dari kenyataan (TvT). Yah.. salahku juga karena tidak mengatakannya. Terkadang aku benci dengan sikap introvert ku ini.
**introvert\=suatu sifat dimana seseorang yang lebih suka menyendiri dan tidak terlalu tau bersosialisasi juga cenderung tidak terlalu mementingkan hal lain selain dirinya**
__ADS_1
Giliranku menyebutkan nama.
"Sa.. Saya Deolinda Jovanka. X-MIA 1. Sebelum berangkat sekolah saya..harus mengurus rumah dulu. Sehingga saya.. lupa waktu."
Aku mengatakannya cukup pelan tapi Pak Aji tidak mendengarnya. Tapi lebih sakitnya itu pendengarannya bilang namaku J**anda. (TvT)
"I.. iya. Maaf. Saya Deolinda Jovanka kelas X-MIA 1."
Sekarang mereka memandangku dengan tatapan itu lagi. Tatapan yang merendahkan dan jijik. Tapi biarlah, aku sudah terbiasa. Di SMP aku tidak terlalu introvert begini tapi pas masuk SMA di minggu ke dua. Aku mengingatkan guru bahwa ada PR dan setelah itu teman teman sekelas seperti menjauhiku.
Dan sekarang, kenapa tatapan Pak Aji sangat mengkhawatirkan? Firasatku tidak enak.
"Saya memutuskan..! Kalian akan masuk OSIS sebagai hukuman!"
"Tidaaak!!"
Kami berteriak serentak.
Gusti.. tolong bantu aku. Sudah cukup julukanku sebagai murid cupu dan lusuh. Tolong jangan ditambah lagi. Bagaimana bisa namaku nanti ditambah jadi si Deolinda budak guru cupu dan lusuh. Tidaaaakk!!
Ditambah pengawas kami adalah kak Ratna. Aku tidak ingin mengingat kelamnya hidupku di masa MOS ketika dia nyuruh aku kenalan sama Ketos dan bagi dia bunga. TvT.
"Hei. Namamu Deolinda kan? Boleh ku panggil Linda?"
Ehhh?? Dia bicara padaku? Seriusann?? Apa apa apa yang harus ku lakukan??
Pada akhirnya aku membalas jabatan tangannya. Kapan ya aku bisa seperti dia.. Bisa dengan mudah bicara pada orang lain. Aku hanya bisa berkhayal.
Aku bersyukur bukan Bu Junet yang masuk. Jika tidak dia akan dihukum di depan kelas. Melihat bu Susi aku selalu teringat ibuku yang lembut.
Ah. Aku tersandung. Mereka tertawa melihatku, aku sungguh malu. Jika aku melawan mungkin aku akan semakin dikucilkan. Lebih baik aku langsung duduk dan belajar seperti biasanya dan menunggu gumaman menyebalkan mereka berhenti. Aku.. sudah terbiasa.
"Linda? Kamu tidak menjawab. Linda!"
**Cerita dari sisi Deolinda selesai**
Bu Susi memanggil manggil nama Linda berulang kali hingga dia menyadarinya.
"I.. Iya Bu."
Linda berdiri dari kursinya.
"Jangan terus melamun dan perhatikan pelajaran ya."
Waktu berlalu hingga bel pulang sekolah terdengar.
TING TONG TING TONG
Tebak kalimat apa yang paling indah? Kalimat itu memiliki nada yang familiar dan membuat seluruh orang di sekolah sangat bahagia. Yaitu..
"PELAJARAN SUDAH BERAKHIR. SAMPAI JUMPA BESOK PAGI DENGAN SEMANGAT BELAJAR BARU."
Meskipun yang indah cuman di kalimat Pelajaran sudah berakhir saja.
Seperti yang dikatakan Ratna. Mereka pergi ke ruang OSIS dan disambut petinggi petinggi OSIS di sana. Ada Ketos, Waketos, Sekretaris, Bendahara, Pengurus seksi, dan anggota anggota lainnya.
"Ku pikir anggota OSIS sedikit hingga mereka bilang kekurangan anggota. Tapi ini sudah lebih 2 lusin! Jangan bercanda!"
Teriakan itu berasal dari Farzan dan disusul duo pirang (Chessy dan Elvin) di belakangnya.
"Dilarang berteriak di sini. Selamat datang di Organisasi Siswa Intra Sekolah. Atau lebih sering dikenal dengan OSIS."
Sambut Ketos.
"Lah.. Kita juga tau ini OSIS. ape sih." (ini Ezra)
"Loh. Ketosnya kok rada **** yah?" (ini Farzan)
"Penyambutan aneh macam apa ini?" (ini Elvin)
"Loh.. itukan emang singkatannya OSIS." (ini Chessy)
"Tau tuh. Kok rada kesel juga yak.." (Ini Rezvan)
"Anu.. kami juga tau ini OSIS." (Ini Linda)
Seketika entah kenapa mereka bisa telepati :v. Suasana hening sesaat sampai Ratna menyuruh mereka masuk yang masih di depan pintu ruang OSIS.
Mereka kelihatan tertegun melihat ruang OSIS yang lunayan besar. Kira kira 9 x 10m. Sedangkan kelas biasa besarnya 9 x 8m. (Tunggu, kenapa aku harus memberitahu luas ruangannya? _-)
__ADS_1
"Baguslah kalian tidak kabur. Jika itu terjadi aku akan langsung melaporkannya pada Pak Aji."
Ucap Ratna dengan datar.
"Hiiiiyy.. serem." (Ekspresi mereka seperti mengatakan itu (¬_¬)).
Lalu sekretaris membuka buku berisi data data anggota OSIS.
"Saat ini kami kekurangan anggota di bagian Seksi Kesenian. Sementara banyak juga yang ingin berpindah ke Seksi bela negara dan Humas. Jadi, kalian ditugaskan di Seksi kesenian saja. Lu setuju Yan?"
Dia menghadap ke Ryan (ketos) sambil menunjukkan buku itu. Setelah membaca dan memperhatikan mereka berenam dengan seksama, Ryan setuju dengan usulannya.
"Karna Pak Aji sudah nunjuk Ratna buat ngawasin kalian, jadi dia yang akan membimbing kalian juga. Kebetulan Ratna juga adalah ketua seksi kesenian."
Kata Ryan.
"Pantesann.." (ini Elvin)
"Kasihan sekali nasibku.." (ini Farzan)
"****** dah kita Ra." (ini Rezvan)
"Gue kayak gini kan karna lu juga bambank." (ini Ezra)
"Fix. Capek gw bakal nambah 2 kali lipat." (ini Chessy).
"Habis sudah." (ini Linda)
Lagi lagi mereka bisa telepati :v. Mereka yang saling pandang dikejutkan dengan kedatangan Pak Aji.
"Bagaimana?"
Dengan entengnya Pak Aji duduk dengan santai dan menggoyang goyangkan kakinya sambil senyum. Ya, Senyum yang cukup menyebalkan.
"Mereka ditugaskan masuk di bagian seksi kesenian, Pak. Dengan begitu kekurangan anggota bisa diatasi."
Ucap Ryan pada Pak Aji.
"Hmm. Bagus, keputusan kalian tepat. Dan untuk kalian, jika kalian terlambat juga besok. Hukuman kalian akan saya tambah. Camkan itu."
Kalimat yang diucapkan Pak Aji semakin menusuk hati mereka sampai yang paling dalam, bahkan menembus tubuh. Masuk OSIS adalah hukuman yang paling berat dan katanya ingin ditambah. Sampai mana lagi nanti roh mereka berkeliaran.
"Oke. Kalian bisa pulang dan besok aku akan menjelaskan tugas tugas kalian. Ingat, jangan terlambat." Tegas Ratna pada mereka.
Jika Pak Aji bagai jarum, maka Ratna bagaikan badai salju. Yang menimpa dan menyiksa mereka secara perlahan. Entah apa yang akan dilakukannya jika mereka melakukan kesalahan kecil saja.
"Mampuss." (Ini mereka semua ╮(╯▽╰)╭)
Tekanan batin di ruangan itu membuat mereka cukup sesak dan langsung berhamburan pergi.
"Tatapannya.. sama seperti Bu Junet yang menangkap basah murid yang main game pas jam pelajarannya."
Elvin menepuk jidatnya sendiri.
"Tidak.. dia iblis.. iblis.."
Kata Farzan ketakutan.
"Dih, lebay amat sih. sama Kak Ratna aja takut."
Ledek Rezvan.
"Halah.. barusan lu gemetaran gitu di hadapannya. Jangan sok iye deh. "
Kata Ezra memukul Rezvan
"***. Mana mungkin. Lu jangan nyebar hoax lah."
"Terserahlah."
Adu mulut mereka berhenti ketika Chessy bertanya.
"Menurut kalian, tugas seksi kesenian berat nggak?"
Tanya Chessy mengalihkan perhatian mereka.
"Kita berharap saja kesulitannya tidak sesulit nahan eek pas jam pelajaran guru killer."
Ucap Farzan
__ADS_1
Setelah dia mengatakan itu mereka terdiam dan memikirkan memang sesulit itulah nahan eek. Hingga beberapa saat mereka pulang ke rumah masing masing.
Chap 1 selesai