
"Kita belum makann!" Jerit mereka semua (kecuali Linda) mengagetkan Ratna.
"Jangan berteriak! Kalian bisa mengganggu pelajaran kelas lain." Tegas Ratna.
Mereka terdiam sambil menatap Ratna dengan tajam seakan menyalahkannya atas semua ini (kecuali Linda yaa).
"Kenapa kalian menatapku begitu?" Tanya Ratna.
Meskipun Ratna bertanya namun mereka masih diam menatapnya (masih selain Linda) seperti berharap sesuatu. Tiba tiba terdengar sebuah suara..
*KRUUUK KRUUYUUK*
"Ehh? Huwaaahhh maaff!!" Teriak Linda menutup wajahnya yang menjadi merah karena malu.
Yang lain terdiam melihat tingkahnya yang lucu lalu..
"Hahahahahaha.." Tawa mereka meledak dan Ratna yang wajahnya datar bisa tersenyum (bibir yang terangkat sekitar 0,2mm ┐(´д`)┌).
"E... ehhh?" Ucap Linda.
"Hahaha. hahh perutmu jujur juga ya." Kata Chessy terengah.
"suara perutmu mewakili kami semua hahaha." Ucap Ezra masih tertawa.
"Aku berterima kasihh." Ucap Elvin pada Linda sambil melirik Ratna.
"Heii. Ku pikir tadi itu suara perutku wkwkwkwk." Kata Farzan masih terbahak.
"Untung saja perutmu jujur hahahahahaha." Kata Rezvan.
Di tengah tengah suara pekikan tawa mereka tiba tiba muncul kepala di balik pintu kelas lain.
"Hei! Kalian mengganggu pelajaran!!" Teriak guru dari kelas itu.
"I.. iyaa!" Jawab mereka berlari meninggalkan tempat (kecuali Ratna).
"Maaf, Pak. Kami permisi." Ucap Ratna sopan.
Sementara yang lain berlari tidak karuan entah ke mana dan berhenti di suatu tempat.
"Hahh..hahh.. hahh.. Lahhh. Kenapa kita ke kantin? hah hah" Tanya Rezvan heran.
"Yahh.. ku rasa kaki kita lebih jujur." Ucap Elvin.
"Mungkin." Kata Ezra.
Mereka semua menatap kantin dan memikirkan seharusnya mereka dengan santai membeli makanan dan duduk sambil mengunyah makanan makanan itu, tapi mereka harus segera masuk kelas. Di tengah tengah suara menelan ludah dari mereka tiba tiba Ratna datang dan langsung membeli makanan dan memakannya dengan santai.
"Hah?!" Tanya mereka semua heran.
"Kalian boleh makan. Apa yang ku jelaskan kemarin kurang jelas? Pengurus OSIS boleh masuk kelas terlambat asal dapat mengejar pelajaran." Ucap Ratna sambil mengunyah makanannya.
KRIK KRIK
"Oraaa! Oraaa! Oraaa! Ayo kita makann!" Seru Farzan.
"Baiklah. Ternyata aku tidak akan mati hari ini." Ucap Rezvan memegang perutnya.
"Manusia bisa bertahan tanpa makanan selama 3 minggu." Ucap Elvin memegang bahu Rezvan.
"Cih.Padahal kau juga lapar." Ketus Rezvan menepis tangan Elvin.
"Setidaknya aku tidak selebay seseorang." Ucap Elvin kesal.
"Lebih baik aku makan." Kata Ezra meninggalkan dua orang itu.
__ADS_1
"Ehh. Apa mereka punya masalah?" Tanya Linda pada Chessy.
"Yahh. Mereka kan rival di klub basket. Aku sering mendengar kakakku mengumpat seseorang, ternyata itu dia. Sudahlah, lebih baik kita makan." Kata Chessy pergi membeli bakso.
Mereka semua memesan makanan yang disukai masing masing dan duduk bersampingan. Hingga beberapa waktu tidak ada percakapan di antara mereka sampai Chessy membuka pembicaraan.
"Ngomong ngomong, apa kakak juga sering terlambat begini?" Tanya Chessy pada Ratna.
"....., Tidak terlalu." Ucap Ratna dan langsung diam.
"Sing..singkat sekalii yaa." -Batin Chessy.
"Oh iya. Jika kami masuk kelas, apa yang harus kami katakan pada guru?" Tanya Ezra.
"Masuk seperti biasanya saja. Nama kalian sudah ada di daftar pengurus OSIS. Dan setiap nama pasti sudah ditandai oleh guru, maka guru akan memaklumi jika ada pengurus OSIS yang terlambat." Ucap Ratna.
"Hmmm. Aku penasaran, jika begitu bukankah ada anggota yang menyalahgunakannya untuk melakukan suatu yang salah?" Tanya Farzan.
"Itu tidak akan terjadi. Pak Aji punya banyak mata mata.. bahkan orang orang di luar sekolah. Jika ada yang melakukan sesuatu pasti sudah ketahuan olehnya." Ucap Ratna panjang lebar.
"Ku pikir OSIS sebebas yang ku pikirkan." -Batin Farzan
"Kalian juga tau Pak Kepsek selalu travel di sekolah ini pas istirahat atau setelahnya." Ucap Ezra tiba tiba.
"Yahh benar juga." Balas Rezvan.
"Lebih baik cepat selesaikan makan kalian. Kita hanya diberi waktu 15 menit sedangkan sekarang sudah lebih dari 10 menit. Aku akan pergi duluan, sampai jumpa."
Ucap Ratna datar dan meninggalkan mereka sambil melongo memperhatikannya.
"Uapaaa?! Kenapa tidak bilang dari tadiii!! Krauk krauk." Seru Farzan sambil mengunyah makanannya.
"Seharusnya aku tau ini akan terjadi..uhh." Ucap Elvin.
"Akhhh. Kenapa tidak bilang dari awal sihh?!" Seru Rezvan menggebrak meja.
"I.. iya maaf." Kata Rezvan.
"Hehh. Kebiasaan sih lu. Cepetan habisin tuh makan, gue udah kelar. Atau nggak gue duluan?" Ucap Ezra.
"Iya iya. Ga sabaran amat ente." Kata Rezvan kesal.
Ezra, Rezvan, Farzan, Elvin, Linda dan Chessy makan dengan terburu buru mengejar 5 menit terakhir untuk mengunyah. Siapa yang tau waktu 5 menit akan terkejar karena Farzan dan Rezvan adalah orang yang lumayan kuat makan.
"Sudahlahh. Lebih baik tinggalin aja tuh makanan." Ucap Ezra pada Rezvan.
"Mubazir! Kalo nggak lu bantuin gue." Seru Rezvan.
"Lah ogah. Makan lu pedes pedes semua. Gamau lah gue." Ketus Ezra.
"T*i. Yodahlah. TvT selamat tinggal makananku." Kata Rezvan kecewa.
Ezra tidak suka makanan pedas sedangkan Rezvan adalah orang pencinta pedas. Di menit menit terakhir mereka membayar makanan masing masing dan berlari ke kelas masing masing juga. Seperti biasanya, Ezra, Rezvan, Elvin, Chessy, dan Farzan mendapat sambutan hangat (tapi menyebalkan ) dari teman teman mereka sedangkan Linda hanya mendengar ocehan dan bualan negatif bahkan sebelum dia masuk ke kelasnya.
Ratna dan Linda memiliki persamaan dalam hal ini. Ocehan ocehan itu hanya mereka abaikan dan terima begitu saja meskipun kadang ocehan itu berada di luar batas.
TING TONG TING TONG
Pelajaran sudah berakhir. Sorak sorai gembira setiap siswa menggema di mana mana tak terkecuali suara guru yang berseru menyuruh murid muridnya diam. Di tempat lain beberapa pedagang berdatangan di depan gerbang sekolah menunggu murid murid keluar.
Di sisi lain Linda pergi ke kamar mandi untuk membersihkan sisa sisa tinta di pergelangan sweeternya.
"Duh, susah banget hilangnya." Keluh Linda.
Tak berapa lama terdengar suara cewek cewek lain dari luar hingga membuat Linda kelabakan masuk ke toilet.
__ADS_1
"Itu kan anak anak di kelasku." -Batin Linda.
Linda menguping apa yang mereka bicarakan dan menunggu mereka pergi dari sana.
"Eh eh. Gimana liptint gue? Warnanya bagus kan? Nih liat."
"Wah iya. Lu beli di mana?"
"Gue beli online lah.. Mana mau gue beli sembarangan."
"Iya iya. Lu mah selalu tampil beda. Untung aja ni sekolah ga ngelarang murid pake make up."
"Iya dong. Udah bayar sekolah mahal mahal kok dikasi banyak peraturan. Ga etis lah."
"Bener juga. Eh itu tas siapa? Kayanya kenal deh."
Di tengah pembicaraan mereka, Linda masih menunggu agar mereka pergi, tapi dia malah melakukan kesalahan. Kaki Linda tergelincir dan juga dia lupa mengambil tasnya yang ada di luar.
"Wah wah. Ada yang lagi nguping. Si cewek lusuh yaaa..."
"Lohh. Kok nggak dijawab sih."
"Hei. Kita kunciin aja gimana?"
"Boleh tuhh. Tasnya biar aja di sini, ntar tangan kita kotor."
"Ja..jangan. Duhh, kakiku sakit." -Batin Linda
Linda berusaha menghentikan mereka agar tidak dikuncikan, namun apa daya. Mereka berdua sedangkan Linda sendirian. Dia tidak bisa mendorong pintu itu kembali.
"Bersenang senang di sana ya. Nanti kami panggilkan penjaga sekolah. Bye."
Suara langkah mereka semakin menghilang dan Linda mencoba mendobrak dobrak pintu.
"Ku mohon! Tolongg! Buka pintunya!! Apa ada orang?! Seseorang! Tolong!"
Karena sat itu sudah pulang sekolah, sangat jarang ada murid yang datang ke kamar mandi. Bisa saja Linda akan terjebak di sana semalaman.
"Uhhhh. Apa yang akan ku lakukan sekarang? Kakiku juga sakit." Keluh Linda memegang kakinya.
Ia terduduk memikirkan cara terbaik untuk keluar dari sana hingga kembali bangkit dan mencoba berteriak lagi.
"Tolongg!! Seseorang! Pakk! Bukk! Tolong! Uhhh. Tolong!"
Dia berteriak namun tak ada seorangpun yang mendengarnya. Di titik terakhir dia hampir menyerah, ia mencoba memanjat dinding dan keluar melalui atas meskipun kakinya masih sakit.
Tangannya mencoba meraih ujung pintu dan berpijak di kloset. Ketika tangannya sampai, ia menarik dirinya dan mengaitkan kakinya ke pintu itu.
"Ahh!"
Kakinya hampir tergelincir dan dia berhasil duduk di atas pintu.
"Ti..tinggi sekali. Uh."
Meskipun begitu dia tetap mencoba turun. Sedikit demi sedikit dia perlahan melepaskan pegangan tangannya.
BRUK
"Agh. Tadi kaki kanan sekarang kiri. Nasibku benar benar sial." Keluh Linda.
Lindapun bergegas mengambil tasnya dan menuju pintu dengan tergopoh gopoh.
KLEK KLEK KLEK KLEK
"Ehh? Eh? Pintu ini juga dikunci?! Huuu Huaaaa! Tolong! Ku mohon siapapun!! TOLONG AKU!!"
__ADS_1
Chapter 5 selesai