Tulip Di SMA

Tulip Di SMA
Pollux [Chap 2 - Ezra]


__ADS_3

Keesokan pagi


Kicauan burung yang merdu, panggilan tukang sayur yang memancing ibu ibu buat ghibah, kokokan ayam yang membuat jantung bergoyang dan tentu saja beberapa jeritan emak emak ngebangunin anaknya.


**Ghibah \= Suatu perbuatan yang sering dilakukan para wanita (you know lah)**


Saat itu pukul 05.59. Satu menit lagi menuju pukul 6 tepat. Sudah terdengar suara orang orang yang sedang mandi, entah itu di kamar mandi maupun di sungai. Ezra memompa ban sepedanya dengan maksimal dan memperkuat sekrupnya.


Di belakangnya sudah ada Bi Ayu yang memanggilnya untuk mandi.


"Ra.. Mandi habis itu sarapan."


"Iya, Bi. Udah kelar, kok. Lagian aku juga udah kapok terlambat."


Ujar Ezra merapikan peralatannya.


"Makanya, udah bibi bilang Rezvan dibonceng aja, tapi kamu nggak mau."


Kata bi Ayu.


"Bibi kan tau dia segede apa. Selain aku takut sepedaku kenapa napa, sudah pasti nyawaku tinggal setengah pas di sekolah."


Kata Ezra.


"Hahahaha. Yaudah, kamu mandi aja sana. Nanti telat lagi."


Ucap Bi Ayu pergi ke dapur.


Ezra pun pergi ke kamarnya untuk mengambil handuk dan mandi. Setelah mandi dan memakai seragam sekolah dia membangunkan adiknya.


"Fikri.. Bangun woi. Sekolah sekolahh.. Hwooooo!! Sekolah...! Kruuuukukukuuuuuyuuuk! Sekolah! Ada ufo datang tuuh! Bangunn!"


Teriak Ezra sambil menggoyang goyangkan tubuh Fikri.


"Euhh! Apa sih! Punya kakak kok gini amat Gustii. Sana! aku udah bangun."


Meskipun katanya begitu, tapi Fikri masih tidak membuka matanya.


Ezra yang kesal mengambil ancang ancang dan memasang kuda kuda. Dia menyungkit tilam kasur Fikri dan membalutnya.


"Aaaahh! Iya iya aku banguunn! Udah awas! aku ga bisa nafas inii! Woii!"


Teriak Fikri memberontak.


Ezrapun melepaskan Fikri disusul Sebuah tendangan dari Fikri.


"Eits! Nggak kena!"


Ezra menghindar


"Hiat!"


Seru Fikri meninju Ezra.


Ezra pun masihh bisa menghindar.


"Kalian ingin jatah makan siang dikasi ke si Momo? Hm?"


Bi Ayu tiba tiba muncul di balik pintu dengan wajah yang... **** (Maap disensor, ntar aku ditampol Bi Ayu TwT)


"Maaff!"


Serentak mereka pergi dari kamar, Ezra ke ruang makan dan Rifki ke kamar mandi.


Di ruang makan Ezra sudah melihat paman Yusuf yang sedang baca koran sambil meminum tehnya.


"Pagi, Paman."


Ucap Ezra dengan sopan dan duduk di kursi.


"Hmm."


Paman Yusuf kembali menyirup tehnya dan tidak bicara apa apa lagi. Namun, ketika Ezra hendak mengambil makanan, Paman Yusuf tiba tiba bicara.


"Ku dengar kau dihukum karna terlambat? Sudah ku bilang jangan berteman dengan anak itu."


Ia berkata tanpa memandang Ezra.


Ezra terdiam sebentar dan sedikit kesal.


"Kami sudah lama berteman, di SMP juga kami lumayan sering terlambat. Jadi aku tidak masalah."


Kata Ezra sambil mengunyah makanannya.


"Kenapa kau selalu membantah apa yang ku ucapkan?! Ternyata aku salah mengizinkanmu masuk sekolah mahal itu. Seharusnya aku memasukkanmu ke sekolah negeri dan tidak menguras warisan ayahmu."


Koran itu ditutupnya dan memandang Ezra dengan emosi.


Tentu saja Ezra juga semakin kesal dan membalas perkataan pamannya.


"Kenapa paman yang ikut campur atas warisan ayah yang diberikan padaku? Lagipula aku memakainya untuk pendidikan bukan untuk berfoya foya."

__ADS_1


Ezra menghentakkan sendoknya ke piring hingga membuat Bi Ayu dan Fikri mendengar pertengkaran mereka.


Paman Yusuf kelihatan sangat marah tapi dia tidak bisa berbuat apa apa.


"Kau akan menyesali ini."


Ia pergi ke kamarnya dengan kesal. Fikri mendatangi Ezra sedangkan Bi Ayu menenangkan suaminya (paman Yusuf).


Aku tidak peduli meski dia pamanku, dia hanya ingin mengambil warisan ayah yang disisakan pada kami. -Batin Ezra


"Kak. Sesekali aku bawain golok gapapa?"


Kata Fikri dengan wajah polos.


Ezra terkejut dan menyentil dahi Fikri.


"Gila kau. Semarah marahnya jangan sampe bunuh orang. Apalagi itu paman. Darimana kau dapat pemikiran kayak gitu? Masih bocil udah kayal psikopat ente."


"Sakit ****. Bercanda doang kok. 14 tahun itu remaja, jangan ngatain gue bocil napa."


Kata Fikri kesal.


"Wahhhh, darimana lagi kau bisa mengucapkan kata itu hah?!"


Ezra dan Fikri gelud. (Gelud ringan)


Beberapa saat kemudian


Ezra dan Fikri bersiap berangkat sekolah dan menyalam Bi Ayu.


"Kami berangkat, Bi"


Mereka pun berangkat. Sementara Bi Ayu merasa kasihan pada Ezra.


"Seandainya Kak Rudy masih hidup, kalian tidak mungkin seperti ini."


Gumam Bi Ayu.


Di sisi lain, Rezvan menunggu kedatangan Ezra di depan gang lebih dari 15 menit yang lalu.


"Tu anak kok lama amat sih."


Dari kejauhan sudah tampak Ezra yang mengayuh sepedanya ke arah Rezvan.


"Lu lama amat sih. Gue udah nunggu lama."


Kata Rezvan kesal.


"Lu nggak bersyukur sudah gue jemput.. Gue tinggal mam**s lu."


"E... Ya Maap. Jadi, beneran gue yang bawa?"


"Iya. Pelan pelan, ini bukan sepeda lu. Gue nggak mau sepeda gue bernasib sama kek sepeda lu."


"Yaa.. Gue juga nggak tau sepeda gue serapuh itu sampe stangnya bisa patah."


"Bukan sepeda elu yang rapuh Udinn! Lu yang bawa kayak setan. Sudah, cepetan."


"Emang setan naik sepeda?"


"Lu kan setan.."


"...., Gue temenan sama jin dong. Wkwkwkwk."


"Gue nggak mau telat. Gue gampar lu nanti."


Mereka akhirnya berangkat sambil adu mulut yang tidak selesai selesai.


Di sekolah.


SMA Antaresa menerapkan harus ada kegiatan sebelum dimulainya pelajaran selain upacara di hari senin. Senam di hari selasa dan sabtu, apel pagi di hari rabu dan kamis dan kegiatan keagamaan di hari jumat.


Dan saat itu pas sekali adalah hari rabu, beberapa pengurus OSIS di seksi keamanan dan guru berpencar untuk mencegah adanya murid murid yang bolos sekolah (meskipun dilakukan tiap hari).


Dan untung saja Rezvan dan Ezra tidak terlambat. Mereka segera masuk ke barisan kelas mereka.


"Wehh bro.. gue denger kalian masuk OSIS ya? Selamat bersenang senang yahh.. wkwkwkwk."


Kata salah seorang teman Ezra.


"Iya. Kok bisa bisanya Pak Aji ngasi hukuman kek gitu? Ngeri ****.."


Sambut satu temannya lagi.


"Jangan tanya. Gue juga stress, bisa bisanya Pak Aji masukin kami ke sana. Ditambah pengawas kami kak Ratna, kek gimana lagi nasib kami nanti."


Keluh Rezvan


"Ratna? si Perfect demon itu? Awokwokwok, Gue doain baik baik aja yha bro.. wkwkwkwk."


Ujar temannya menepuk Rezvan.

__ADS_1


"Lha.. sudah dapet julukan aja dia.. Lu juga napa diem aja Raa? Woi Ezra.."


Rezvan memanggil manggil Ezra yang perhatiannya menuju ke barisan kelas X-Mia 1.


"Lu liat apa sih?"


Seru Rezvan ingin melihat apa yang diperhatikan Ezra.


"Dia.. cewek kemarin kan? si Linda.."


Kata Ezra tanpa mengalihkan pandangannya dari Linda.


"Hm? Iya.. kenapa? Btw, pipi dan tangannya kenapa banyak diplester gitu tuh?"


Kata Rezvan penasaran.


"Nah itu yang gue perhatiin. Trus kayaknya dia dikucilkan gitu kan. Satupun gak ada yang bicara sama dia tuh."


Ujar Ezra.


"Siapa..? Oh tu cewek.. Katanya sih, dia dibenci cuman karna ngingetin soal PR. Konyol ga sih, kalo kita mah terima terima aja pas dihukum ga ngerjain PR. Lah mereka ngucilin dia cuman karna itu.. Kesian banget tu cewek. "


Ucap salah satu teman mereka.


"Nahh, kalo luka dia sih kata sepupu gue yang rumahnya deket dengan dia.. itu karna mak tirinya tuh. Mak tirinya serem, suka mukul dia dan marah marah ga jelas."


Sela teman mereka satu lagi.


"Woi! Apel udah mulai, lu semua cowok tapi ngeghibah. Diem!"


Seru ketua kelas membuat mereka semua tidak berkutik.


Sedangkan Ezra masih sedikit mencuri pandang pada Linda yang seperti kesakitan. Ia sedikit merasa kasihan pada Linda setelah mendengar apa yang dikatakan teman temannya.


Waktu berlalu hingga bel istirahat berbunyi. Seseorang dari pengurus OSIS mendatangi kelas Ezra, Rezvan, Linda, Chessy, Elvin, dan Farzan untuk memanggil mereka ke ruang OSIS.


Ketika mereka berenam bertemu di lorong, Chessy penasaran dengan luka luka yang ada pada Linda.


"Emmm, lukamu banyak banget? Kenapa bisa gini? Kamu harus jaga tubuh.. kamu kan cewek."


Ucap Chessy.


Linda sedikit terkejut karena dia berpikir Chessy adalah orang pertama yang bertanya tentang luka lukanya.


"Aku.. Hanya terpeleset dan membentur meja. Makasih sudah mengkhawatirkanku."


Linda tersenyum.


Yang lainnya memperhatikan mereka berdua dari belakang hingga sampai di ruang OSIS. Mereka ragu untuk masuk ruangan yang mencekam itu dimana anak anak seperti mereka akan mendapatkan siksaan.


"Kenapa kalian diam di situ? Cepat masuk."


Mereka kaget mendengar suara seseorang di belakang mereka. Dan ternyata itu adalah Ratna. Mereka segera masuk ruangan yang sunyi dan tidak ada siapa siapa di situ selain mereka bertujuh.


"Yang lain sudah selesai. Kalian yang terlalu lama datang ke sini."


Ucap Ratna tiba tiba sambil membuka laci meja.


"Wah. Dia bisa tau apa yang akan kita tanyakan." (ini Farzan)


"Luar biasa." (Ini Elvin)


"Apa aku harus memuji atau mengumpatnya?" (Ini Rezvan)


"Kereenn." (Ini Linda)


"Seriusan? Dia kayak bisa baca pikiran kita."


(Ini Chessy)


"Ternyata ini kekuatan sesungguhnya dari si perfect demon ya?" (Ini Ezra)


Ratna menyadari tatapan mereka yang aneh padanya.


"Kenapa kalian menatapmu seperti itu?... Sudahlah. Ini adalah beberapa tugas yang akan kita lakukan selama menjadi OSIS."


TAK


Mereka terperangah melihat apa yang diberikan Ratna pada mereka.


"Beberapa yang kau maksud itu adalah sebuah tumpukan kertas yang tulisannya sangat padat?"


Kata Elvin.


"Ini masih hal yang perlu kalian pelajari karena kalian masih baru. Jika kalian sudah mahir melakukannya maka tingkatannya akan ditambahkan."


BANG


(Apa yang terjadi? Entahlah.. mungkin mereka semua pingsan. (¬_¬)


Ya.. Mereka tumbang.

__ADS_1


Chap 2 selesai


__ADS_2