
"Ku mohon... Tolong. Hikss.. hikss.."
Meskipun Linda berteriak dan mendobrak dobrak pintu itu, tetap saja balasannya hanya kesunyian. Dia sudah menyerah, terduduk sambil memeluk tasnya sambil menangis.
Hingga beberapa lama terdengar suara langkah kaki dari luar.
"Apa ada orang?! Tolong! Aku terkunci di dalam! Ku mohon!"
KLAK
Pintu itupun terbuka hingga membuat Linda senang dan lemas secara bersamaan.
"Kau tidak apa apa?" Tanya orang itu.
"I...iya. Terima kasih. Hiks, terima kasih." Jawab Linda terharu dengan kondisi masih terduduk.
"Seharusnya aku memeriksa tempat ini dari tadi." Ucap orang itu.
"Eh. Suara ini... Kak Ratna?"
"Kita pergi dari sini dulu. Sini ku bantu." Ucapannya dingin, namun terasa lembut.
Ratna membantu Linda berdiri dan memapahnya berjalan menuju UKS.
***
"Ke..kenapa kakak belum pulang?" Tanya Linda.
"....., apa kau berharap tidak ada yang menolongmu saat itu?" Tanya Ratna balik.
"Eh. Bu.. bukan. Aku hanya bertanya.. Maaf." Jawab Linda dengan gagap.
Ratna terdiam sesaat memerhatikan Linda yang terus menunduk. Kemudian mengambil kotak P3K dari lemari.
"Ehhh? Biar aku saja..!"
Seru Linda menghentikan Ratna yang mencoba mengobati kakinya
"Apa maaf sudah menjadi kata wajibmu setiap hari?" Ucap Ratna tiba tiba.
"Apa? Apa maksudnya? Situasi macam apa ini? >_<" - Batin Linda.
"Kenapa kau diam saja?" Ucap Ratna masih sambil mengobati kakinya.
Linda menggeleng dan mengepal tangannya.
"Aku... hanya tidak tau ingin mengatakan apa." Kata Linda.
"...." (Ratna)
"...." (Linda)
Seketika suasana begitu hening ditambah rasa canggung yang dipikul Linda.
"Aku ingin pingsan saja >_<." -Batin Linda.
***
"Uh... Bentuk perban yang dibuat seorang perfectionist juga perfect yaah." -Batin Linda
"Sudah diperban. Kaki kanan mu memar dan yang kiri keseleo. Siapa yang menguncimu di sana?" Tanya Ratna to the point.
"Eh..? Itu... Vera dan..Kristi." Jawab Linda terbata bata.
"Baguslah kamu tau siapa pelakunya. Besok aku akan menemanimu melaporkan ini ke pihak konseling."
Ucap Ratna sambil mengembalikan kotak P3K ke dalam lemari.
"Jangan! Itu.. hanya akan membuat mereka semakin membenciku. Lebih baik aku diam karna setidaknya mereka hanya mengabaikan dan menggosipiku dari belakang saja daripada mereka berbuat lebih jauh."
Linda mengucapkannya dengan gelisah. Dia lebih mementingkan tentang itu daripada keadilan untuknya. Memang benar, siapa yang tidak ingin kedamaian?
"Ku rasa kita sedikit mirip." -Batin Ratna.
Ratna bergerak dan duduk di sebelah Linda dan membuka kacamatanya.
"Benar juga. Tapi, apa kamu yakin mereka tidak akan berbuat lebih meski kamu diam saja?" Tanya Ratna serius.
"Wah. Subyeknya berubah jadi 'kamu'? Dan lagi mata Kak Ratna cantik banget." -Batin Linda dengan mata berbinar.
"Linda?" Panggil Ratna.
"E..eh iya?"
__ADS_1
"Apa menurutmu mereka tidak akan berbuat lebih meski kamu diam saja?" Ulang Ratna.
"Bu..bukankah itu sudah pasti?" Tanya Linda balik.
"Kamu polos..atau naif? Akan ku kasih tau. Pada dasarnya orang orang yang seperti itu akan semakin menjadi - jadi jika targetnya tidak melawan. Semakin kamu diam semakin mereka senang untuk mengganggumu."
"Ironis bila aku mengatakan ini padahal aku juga sama." -Batin Ratna
Ucapan Ratna membuat Linda bungkam. Mengisyaratkan bahwa perkataannya memang benar. Linda memang sudah tau hal ini akan terjadi, tapi dia lebih memilih memercayai hal yang sebaliknya.
"3 bulan ini.. Ku..Ku lalui dengan harapan agar mereka berhenti membicarakanku. Dan selama 3 bulan ini aku bisa bertahan.. Jika masih belum selesai aku akan terus bertahan."
Linda menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Berharap Ratna tidak melihatnya menangis. Ratna hanya menatapnya dan mencoba memegang kepala Linda. Namun, ia menarik tangannya kembali.
"Kita mirip." Kata Ratna mengalihkan pandangan.
"Mirip?" -Batin Linda.
"Ya.. Orang lain sama sama tidak menyukai kita. Entah itu karna aku perfectionist atau karna kekurangan dirimu. Entah itu di bawah atau di atas, opini sekelompok orang tidak akan berubah. Padahal yang kamu lakukan itu benar, tapi mereka lebih memilih membencimu. Padahal yang ku lakukan tidak mengganggu mereka tapi mereka membenciku. Kenapa? Karena mereka merasa kamu telah menunjukkan kekurangan mereka dan aku telah membuat mereka semakin rendah."
"Kak Ratna curhat secara tidak langsung ya?" -Batin Linda
"Faktanya, beberapa orang membenci orang yang lemah dan lebih membenci orang yang berada di atas mereka. Itu sudah menjadi hukum dunia."
Ratna selesai berbicara dan keheningan terjadi di antara mereka. Sesaat Linda menoleh pada Ratna yang memandang ke luar jendela.
"Lalu... Intinya apa?" Tanya Linda memecah kesunyian.
Ratna berbalik ke arah Linda.
"Intinya, Kamu hanya perlu jadi diri sendiri. Setidaknya mereka hanya membencimu, tapi tidak menganggapmu lemah. Mereka tidak bisa melakukan apa apa pada orang di atas mereka. Bahkan jika melakukannya, aku akan membalas mereka." Ucap Ratna.
Mereka saling memandang dengan ekspresi yang berbeda. Sebenarnya, pendapat mereka berdua berbeda, karenanya Linda kembali mengatakan hal yang lain.
"Apa dengan membalas sudah cukup?" Tanya Linda.
"....., bagiku.. itu sudah cukup." Jawab Ratna.
"Kakak bilang kita mirip, tapi ku rasa tidak begitu. Kakak pasti mengatakan kita mirip karena kita dibenci orang orang. Bukan bagaimana kita menyikapi mereka." Ucap Linda pelan dan membuat Ratna terkejut.
"Maksudmu?" Tanya Ratna.
"Maksudku, aku lebih memilih bertahan karna jika membalas, hanya akan membuat mereka semakin membenciku dan malah dendam denganku. Dendam dibalas dendam dibalas dendam lagi. Semuanya tidak akan berakhir... Tapi aku yakin suatu saat mereka akan menerimaku. Hati manusia kan selalu berubah tergantung situasi. Jika aku bisa memenangkan mereka, maka itu hal yang bagus." Ucap Linda.
Ratna terdiam. Menganggap seseorang yang di sampingnya adalah orang yang naif. Dia merasa itu hal yang tidak mungkin.
Perkataan Linda membuatnya tersadar. Selama ini, Ratna hanya mementingkan benteng yang dibuatnya untuk melindungi diri, dan dia tidak sadar bahwa dia tidak mengenali orang yang benar dan salah.
"Jika kakak diam, berarti aku benar kan? Kalau begitu.. apa aku boleh menjadi temanmu? Lagipula, kakak juga sudah membuka gerbang untukku kan?" Linda mengulurkan tangannya dan tersenyum.
Aneh sekali melihat Linda yang mengulurkan tangannya dengan ekspresi yang cerah. Padahal selama ini dia levih banyak menunduk dan mengatakan maaf meski tidak salah.
Saat itu, Ratna memandangi tangan Linda yang masih terulur menunggu balasannya. Sesaat, Ratna tersenyum, lalu membalas jabatan tangan Linda.
"Kamu tau? Aku sudah menganggapmu teman ketika aku memanggilmu 'kamu'. Tapi tetap saja, presepsi seseorang belum bisa berubah sebelum adanya bukti. Aku akan menunggu bukti itu. Jadi, lakukan yang terbaik."
Ucap Ratna mengelus kepala Linda dengan senyum yang belum pernah Linda lihat sebelumnya. Sementara Linda terpelongo melihat senyuman yang sangat sangat sangat jarang terjadi itu.
"Baiklah. Ayo kita pulang." Ucap Ratna bangkit dari duduknya.
"Eh, wajah kak Ratna memerah?" -Batin Linda.
"Tunggu apa lagi? aku akan membantumu." Ucap Ratna mengambil tasnya.
"Ah iya. Tunggu sebentar, aku ingin pesan ojek dulu." Kata Linda mengeluarkan hpnya.
"Tidak perlu, aku akan mengantarmu." Ucap Ratna menarik hp Linda.
"Hah?"
***
"A... aku baru ingat Kak Linda itu anak orang kayaaa!!??" -Suara hati Linda yang menjerit.
Di depan gerbang sekolah sudah terparkir mobil mewah beserta supir yang membuat Linda shock tak terdeskripsikan.
"Ayo, masuk." Ucap Ratna membantu tubuh Linda.
"Tu..tu..tunggu!! Kita..kita akan naik ini?!" Kata Linda histeris menghentikan Ratna.
"Tentu saja. Kenapa kamu sekaget itu?" Tanya Ratna.
"Gimana aku nggak kaget?! Kalau aku pulang dengan turun dari mobil mewah kayak gini, tante dan tetangga pasti ngira hal hal aneh tentangku!! (°ロ°٥)" -Jerit batin Linda.
__ADS_1
"Ehmm... Aku pesen ojek aja deh kak.." Ucap Linda tersenyum masam.
"Jika memesan ojek kamu akan menunggu lama. Lebih baik kamu diantar saja. Sekalian aku akan menjelaskan cedera ini pada orangtua mu." Kata Ratna meyakinkan Linda.
Linda berpikir sesaat hingga akhirnya menyetujui usulan Ratna. Bisa saja tantenya akan memukulinya karena terlambat pulang meski dia terluka.
Di perjalanan, mereka tidak bicara apa apa. Di satu sisi, Ratna tidak suka basa basi dan di sisi lain Linda tidak tau ingin bicara apa.
"Canggung banget >o
Di persimpangan, mobilnya berhenti.
"Rumahmu di mana?" Tanya Ratna tiba tiba.
"Ah. Di..Di jalan C." Jawab Linda.
"Kita pergi ke sana dulu ya pak." Ucap Ratna pada supirnya.
Mobilpun segera melaju ke arah rumah Linda dn beberapa lama mereka sampai di depan rumahnya.
"Ini rumahmu?" Tanya Ratna.
"I..iya. Kakak.. ingin mampir?" Tanya Linda balik.
"Aku kan memang ingin mampir dan menjelaskan pada orangtuamu." Ratna turun dari mobil?
"Eh... Eehhhhh?! Ku pikir kak Ratna tidak serius!!" -Batin Linda.
"Ehmm. Kakak serius?" Tanya Linda.
"Tentu saja. Ayo cepat."
Sebelum masuk, tiba tiba pintu terbuka dan keluar ayahnya Linda dari sana.
"Loh? Linda? Kenapa baru pulang?" Tanya Ayahnya.
"I.. itu." Sambut Linda gugup.
"Maaf, Pak. Saya akan menjelaskannya. Tapi sebelum itu, bisakah kami masuk karena Linda sekarang sedang cedera." Ucap Ratna dengan sopan.
"Cedera? Astaga! Kakimu kenapa? Ayo masuk!" Seru ayahnya khawatir.
Di dalam rumah Ratna segera mendudukkan Linda di sofa dan mereka memulai pembicaraan.
"Tolong jangan katakan yang sebenarnya kak." -Batin Linda.
Ratna sadar dengan tatapan Linda dan mengerti maksudnya.
"Ada apa denganmu?" Tanya ayahnya.
"Biar saya yang menjawab, pak. Linda terpeleset di kamar mandi hingga membuat kedua kakinya terkilir. Lalu saya mengobatinya di UKS, itu sebabnya dia pulang lama." Ucap Ratna.
"Benarkah? Kenapa kamu bisa ceroboh? Lain kali hati hati. Terima kasih sudah membantu anak saya nak." Sambut Ayah Linda.
Ratna mengangguk dan melihat seseorang keluar dari kamar.
"Linda? Kenapa kamu baru pulang?"
"Kalau begitu saya permisi pulang,Pak." Ratna bangkit.
"Ah iya. Trima kasih ya.." Ucap Ayah Linda.
"Saya pulang dulu, Buk." Pamit Ratna.
"Eh.. i.. iya."
Ratna keluar diantar ayah dan ibu Linda. Ketika mereka melihat Ratna yang masuk mobil mewah, mereka sangat terkejut.
Mobil itu melaju menunggalkan rumah Linda. Ayah dan ibu tiri Linda masuk kembali ke dalam rumah.
"Anak itu sopan dan baik. Kamu beruntung. Kalau begitu ayah masuk dulu." Ucap ayahnya.
"Dengar.. Anak itu orang kaya. Kamu harus berteman baik dengannya. Kalau nanti ada waktu, ajaklah dia ke sini." Ucap ibu tirinya.
"Meski kak Ratna nggak kaya, aku memang akan jadi temannya." - Batin Linda.
Dari sini kita tau, kalau ibu tiri Linda itu lumayan matre.
Chapter 6 selesai
Akhirnya up. Maapkeun saya karna jarang up. Di bawah ada Ratna yang saya gambar sendiri. Mohon dukungannya manteman ^o^
__ADS_1
......Indira Ratnasari Kiran......
Koment siapa yang saya gambar selanjutnya yah ≡^ˇ^≡