Tulip Di SMA

Tulip Di SMA
Procyon [Chap 3 - 7 Remaja]


__ADS_3

DING DONG DING DONG


Bel masuk berbunyi menandakan seluruh siswa harus masuk ke kelas masing masing. Dari ruang OSIS terlihat 6 siswa yang keluar dengan pucat dan lelah di wajah mereka. Serta seorang gadis berkaca mata yang berekspresi puas sambil menutup pintu ruang OSIS.


"Aku hampir pingsan... ya Allah." (Batin Farzan)


"Dia benar benar iblis." (Batin Rezvan)


"Perkataannya sangat panjang hingga membuat otakku ingin lari." (Batin Ezra)


"Kak Ratna benar benar keren." (Batin Linda. Karna Linda seorang yang suka belajar, di juga suka mendengar orang lain menjelaskan).


"Ugh.. Ku harap aku bisa mengulang waktu." (Batin Chessy).


"Baru kali ini ku dengar dia banyak bicara dan itu menakutkan." (Batin Elvin).


Mereka lemas bagai orang yang tidak makan 3 hari. Di sisi lain Ratna dengan santai ingin menuju ke kelasnya, sebelum berbalik ia bahkan masih sempat mengingatkan 6 orang itu.


"Jangan lupa istirahat ke -2 kita akan rapat dan pembagian tugas lagi.Jangan coba coba lari." Ucap Ratna.


Ketika mereka melihat Ratna yang bicara dengan serius dengan suara yang sedikit rendah miliknya disertai kacamatanya yang terlihat bersinar, mereka bergegas meninggalkannya.


"Tidak tidak tidak keren sama sekali." -Batin Linda


Mereka kembali ke kelas masing masing dengan keadaan lelah.


Kelas Ezra


Sambutan ceria dari teman teman Rezvan dan Ezra membuat mereka semakin lemas.


"Udah balik bro? Gimana gimana? Konseling dari si perfect demon gimana? Kok lemes gitu bro? Wkwkwkwk." Ledek teman mereka.


"Si**an. Kami sudah setengah mati gini lu pada masih ngetawain. Awas lu nanti." Kesal Rezvan.


"Awokwokwokwok."


Mereka tertawa dengan kondisi Rezvan dan Ezra yang menyedihkan


Di tempat lain kelas Farzan


"Loh, Kok lama amat Zan? Ngapain aja di sana?" Ucap teman Farzan.


"Ku mohon jangan tanya aku. Aku serasa memasuki rumah hantu, Ukh." Keluh Farzan.


"Wkwkwkwk. Sabar ya ***, mungkin kak Ratna gabut kali." Seloroh temannya.


"Gila. Gabut kok tiap hari.. Mana gak bisa lari. Bisa mati aku bahkan sebelum habis 3 bulan. Hahhh." Keluh Farzan.


"Gimana ya Zan. Gue sih seneng bisa makan gratis. Wkwkwkwk."


"***." Kesal Farzan


"Awokwokwok."


Di tempat lain kelas Elvin.


"Eh. Kamu kenapa Vin?" Sapa teman cewek Elvin yang naksir padanya.


"Tidak ada." Toleh Elvin pada Ratna yang duduk si kursi di depannya.

__ADS_1


"Kok kamu capek banget? Aku ada minum nih.. kamu mau?" Ucap cewek itu lagi dengan centil.


"Tidak. Terima kasih ya." Kata Elvin tersenyum masam.


"Ooh...Yaudah." Kata cewek itu kecewa.


Elvin kembali ke kebiasaannya dengan menunggu guru sambil membaca buku dan sesekali mencuri dengar perkataan teman teman cewek di kelasnya.


"Eh eh. Aku tadi sempat merhatiin Elvin melirik cewek itu loh. Katanya Elvin masuk OSIS kan? Ih, kesian banget Elvin." Bisik salah satu cewek.


"Iya. Si Ratna sok cuek tapi diem diem pasti goda Elvin kan? Soalnya tadi gue liat tatapan si Elvin kayak aneh gitu." bisik cewek lainnya


"Iyuuh. Baguslah kita nggak deket deket dengan dia. Udah sok sempurna, suka goda cowok lagi. Ih." Bisik yang lainnya.


Elvin kesal dan mencoba menghentikan pembicaraan tidak mengenakkan mereka.


"Hei.. Aku sedang membaca. Apa kalian bisa berhenti mengobrol, Tolong?" Ucap Elvin.


"Eh.. I.. iya. Maaf."


Ucapan Elvin membuat mereka berhenti bicara dan kembali ke kesibukan mereka masing masing. Meskipun Ratna sudah pasti mendengar bisikan kuat mereka tapi dia sudah terbiasa dengan itu dan hanya mengabaikannya.


"Kau baru saja membuang buang tenaga berbicaramu untuk mereka. Tapi aku tidak akan berterima kasih." Ucap Ratna pelan dan sedikit menoleh ke belakang.


"...., Yah.. Aku hanya memang terganggu dengan obrolan mereka. Kenapa aku harus mengharapkan terima kasihmu?" Kata Elvin sambil membaca bukunya.


"....., Terserah." Tegas Ratna kembali memerhatikan bukunya.


Posisi tempat duduk Ratna dan Elvin memang sedekat itu, tapi hubungan mereka hanya seperti kenalan yang hanya tau nama saja. Sifat Ratna yang menutup diri dan perfectionisme dia yang tidak memerlukan bantuan orang lain membuatnya menjadi orang yang tidak memiliki banyak teman. Sedangkan Elvin adalah orang yang selalu tersenyum dan terbuka juga orang yang lumayan pintar di kelasnya. Ya, kepribadian mereka bertolak belakang.. Tentu saja mereka juga memiliki rahasia masing masing yang tidak diketahui. (Akan dijelaskan ketika chapter khusus untuk mereka).


Di tempat lain kelas Chessy.


"Guys. Kalian bawa minum? Minumku habis." Pinta Chessy pada teman teman Cheerleedernya.


"Uuuh. Kalian kan tau aku dimasukin OSIS. Tadi jam istirahat dihabiskan dengan penjelasan. panjang x lebar x tinggi kak Ratna. Itu masa masa yang sulit. Glek glek glek." Keluh Chessy sambil minum.


"Kak Ratna? Yang memimpin mos habis ketos itu? Yang pake kacamata itu?" Seru temannya yang lain.


"Hahh. Iya! Aku heran bagaimana bisa dia bicara tanpa kesalahan dan juga panjang begitu. Apa dia dianugerahi kekuatan berbicara apa? Ku pikir berlebihan mereka nyebut kak Ratna perfect demon. Ternyata julukannya persis dengannya. Ukh. Bukannya mau menghakimi yah, tapi kami tadi di sana tersiksa hanya dengan pidatonya. Pidato dia lebih panjang dari Pak Kepsek." Keluh Chessy.


"Iya iya. Lu istirahatin aja tuh telinga. Karna habis ini lu akan membutuhkannya hahahaha." Seloroh teman di sampingnya


Sementara di kelas Linda


"Wahh lihat. Dia balik lagi hihihihi. Dia pengen naik pangkat atau turun pangkat sih? Hahahaha." Bisik orang orang.


"Tetap saja dia lusuh begitu. Sudah, jangan hiraukan. Hahahaha."


Linda kembali ke tempat duduknya dan melihat banyak coretan di mejanya. Dengan berat hati, dia membersihkannya dengan sapu tangan dan air tapi ternyata itu adalah spidol permanen.


Guru masuk dan salah seorang murid mengadu kalau Linda telah mencoret mejanya sendiri. Dengan sikap Linda yang penakut, dia diam saja difitnah oleh mereka. Linda dihukum berdiri sementara yang lain menertawakannya.


Hingga pelajaran berakhir dan masuk istirahat ke -2. Linda mencoba membersihkan mejanya. Sampai beberapa lama, Mejanya kembali bersih dan dia baru teringat dengan OSIS.


Linda segera berlari tanpa sadar dengan tangannya yang kotor karna tinta spidol.


"Maaf! Aku terlambat.. hahh.. hahh." Ucap Linda terendah engah.


Ratna memerhatikan tangan Linda yang kotor dan langsung menyuruhnya masuk. Bisa dibilang, Ratna adalah orang yang cukup peka.

__ADS_1


"....,Tanganmu kenapa?" Tanya Chessy


"Eh? Emmm. Bukan apa apa." Jawab Linda menutup diri.


Percakapan singkat itu membuat mereka semua memandang Linda.


"Eeee... Kenapa?" Tanya Linda.


Mereka pun kembali memerhatikan Ratna dan mendengarkan penjelasannya.


"Tugas pertama kita mendata anggota klub musik, tari, dan teater. Perlu diberitahukan jika 3 klub ini memerlukan anggota sementara untuk bergabung dalam lomba atau penampilan, maka kalian harus ikut berpartisipasi." Ucap Ratna serius.


"Hah?!" Mereka semua terperanjat dan bahkan ada yang menggebrak meja.


"Apa ada masalah dengan itu?" Tanya Ratna serius.


"Tentu saja ada! Bagaimana bisa kami ikut berpartisipasi? Bakat di 3 bidang itu saja tidak ada.." Seru Farzan.


"I.. itu. Aku tidak pernah menari atau berakting. Sedangkan menyanyi suaraku tidaklah cocok." Ucap Linda pelan.


"Yang benar saja. Jika itu benar, berarti kau juga ikut kan..?" Tanya Elvin.


"....,Ya.. Aku memang ikut. Kalian tidak perlu khawatir. Hanya saja kalian juga tidak perlu takut. Aku sudah memeriksa data data kalian. Chessy yang merupakan anggota cheerleader bisa di klub tari, Ezra yang hobi main gitar bisa di klub musik, dan Elvin bisa di teater. Dan aku.. aku bisa semuanya. " Kata Ratna.


"....,Iya iya anda adalah kesempurnaan yang tiada duanya." -Batin Rezvan, Ezra dan Farzan.


"Apa? Kenapa kau memasukkanku di teater? Aku bahkan tidak pernah berakting." Kata Elvin heran.


"Aku sudah melihat kemampuanmu tadi.." Kata Ratna.


"Ha..?" Elvin mencoba mengingat apa yang Ratna maksud.


"Jangan jangan, tentang cewek cewek tadi..?" -Batin Elvin


"Woi woi. Bagaimana bisa kau menyimpulkannya hanya dengan kejadian singkat itu..?!" Kata Elvin kesal.


"Aku yang memutuskan. Lagipula, Mereka hanya memerlukan kita pada saat yang benar benar terdesak, jadi tenang saja. Kalau begitu kita harus bergerak. Cepat." Ratna bangkit dan keluar.


Sedangkan mereka hanya saling memandang satu sama lain.


"Ha.. Untung saja namaku tidak disebutkan." Ucap Rezvan pada Ezra.


"....,Kau beruntung sekali teman lucknut." Kata Ezra kesal.


"Yuhuuu. Aku tidak perlu ikut klub." Seru Farzan kegirangan."


"Ehmm...Maaf." Ucap Linda pada Chessy.


"Ehh? Kenapa kamu minta maaf?" Tanya Chessy.


"Jika saja aku punya satu bakat, kamu tidak akan ditunjuk." Ucap Linda pelan.


"....,Tidak perlu. Lagipula aku senang menggerakkan badan. Kan kak Ratna sudah bilang tenaga kita hanya diperlukan di keadaan terdesak. Sudahlah jangan murung." Ucap Chessy ceria.


Linda diam dan mereka pergi mengikuti Ratna ke ruang klub lain.


Mereka kompak membantu Ratna mendata anggota klub tari, musik, dan teater seakan akan mereka sudah berteman lama. Hingga bel masuk berbunyi.


Mereka lagi lagi melupakan satu hal.

__ADS_1


"Makann! " Jerit mereka semua. (kecuali Ratna yang sedang menatap mereka dengan kaget)


Chapter 3 selesai.


__ADS_2