
Yup, prediksiku tepat. Nilaiku memang hanya bisa dicapai untuk SMA swasta. Tidak ada yang bisa ku salahkan, selain diriku sendiri. Ini sepenuhnya salahku yang memasukkan hal negatif pada jalan ceritaku sendiri, hidupku. Aku mengizinkan mimpiku benar-benar terkubur dalam. Hanya rasa syukur untuk terus bertahan hidup yang tersisa ku miliki sebelum mengerti mengenai keikhlasan. Bahwa semua yang terjadi, pasti akan terjadi. Sebagus apapun rancanganku, tidak ada yang lebih baik selain ketetapan yang dirancang Tuhan.
Senyum semakin menghilang, feminin ku pun ikut memudar. Aku yang semakin merubah diriku menjadi seperti laki-laki, bukan tanpa sebab - karena aku yakin, hanya dirikulah yang ku punya. Aku sudah tidak banyak berharap dengan manusia - sesaat setelah Papa mengarahkan pisau tajam ke arah dadaku, dan menyiksaku dengan berbagai cara dan alat yang digunakan sampai aku babak belur sebelum akhirnya Mama masuk kembali ke dalam rumah setelah balik dari halaman rumah yang sudah dirubah menjadi kebun.
.
Terpaksa aku menerima segala kenyataan yang ada. Termasuk aku harus mengulang kembali mengulangi sekolah pada sekolah swasta. Aku sangat kecewa dengan diriku sendiri. Teman-teman akrabku, berusaha menghiburku dan berkata: "Ih anak Pak Mul sedih! Tidak apa-apa sekolah lagi disini, kamu kan sudah akrab dengan orang kantin. Jadi kamu tidak perlu beradaptasi lagi. Mama kamu, juga sudah tahu menunggu kamu dimana nanti ketika menjemput kamu pulang sekolah.HAHAHA!”
Seketika aku tersulut emosi, padahal aku awalnya santai dan ikut tertawa sambil berjalan. Namun mendengar olokan itu, dan aku tidak ingin terlihat lemah di mata mereka yang hanya bisa terus menghinaku, lalu aku memutuskan untuk berhenti berjalan, terdiam sejenak, dan berbalik arah. Mereka yang tersadar bahwa aku sudah tidak berada di dekat mereka, akhirnya mengejar dan berusaha membujukku.
Aku yang takkan pernah luluh terhadap maaf seseorang ketika orang tersebut sudah menyakiti ataupun tidak sopan terhadap orangtua, dan mengejek-ejek seolah mereka mengetahui apa yang sudah ku lalui. Bagiku. ."seburuk-buruk orangtua, mereka yang membuat anak sudah lahir ke dunia." Aku semakin kecewa berat pada dunia yang ku jalani, tatapanku kosong, dan masa depanku tak terlihat.
Sore itu dengan fikiran yang berkecamuk, pakaian yang lusuh, raga yang lusu, menyalahkan takdir yang ku jalani dan kemudian tiba-tiba aku berteriak “APA SALAHKU TUHAN? KENAPA AKU ADA DI DUNIA INI? SEPERTI APA MASA DEPANKU NANTI, JIKA KINI AKU SUDAH HANCUR BERKEPING-KEPING.” - sembari menunggu dijemput oleh Mama memakai motor. Aku takut akan kesepian, sebab hanya aku anak SMP yang tersisa di halaman sekolah.
Beruntung aku sangat mengerti tentang diriku, dan teringat bahwa musiklah yang bisa membuat hati dan fikiranku tenang kembali. Aku mulai mengeluarkan earphone dari dalam tas serut berwarna pink yang selalu ku bawa, tas yang sudah menemaniku 2 tahun belakangan ini. Tak lupa aku membuka sepatu emo, dan melipat kakiku menjadi bersila di atas bangku yang disediakan untuk menunggu di dekat ruang labor komputer sekolahku.
Ketika mulai memutar radio pada handphone kecil jadulku, aku diberikan lagu Bunga Citra Lestari - Kecewa. Aku kembali terngiang tentang diriku dan menggambarkan diriku seperti bait pada lagu tersebut
“Ku ingin marah, melampiaskan
__ADS_1
Tapiku hanyalah sendiri disini.
Inginku tunjukkan, pada siapa saja yang ada.
Bahwa hatiku kecewa.”
Benar, tak ada yang tahu tentang diriku selain diriku sendiri. Aku semakin terhanyut pada setiap lagu yang ku dengan namun Mama belum juga sampai di sekolah. Aku yang mulai meratapi dan kembali menangis, berusaha untuk menutup mukaku dengan telapak tangan, pelan-pelanku menutup mataku meskipun trauma yang ku rasakan sewaktu aku mmemejamkan mata. Semua kejadian tampak jernih, dan sesuai pada alurnya. Nafas yang sesak, dan air mata yang semakin mengalir, kemudian aku mendengar bunyi klakson mobil.
Ternyata Mama sudah sampai dan membawa mobil, ternyata Mama sekalian menjemput Abangku lebih dulu dari SMA yang jaraknya jauh lebih dekat dari rumah ketimbang sekolahku. Mama bilang kami bertiga akan ke Yogya, menemani abangku yang lulus di UGM dengan jalur undangan. Bukan senang yang ku rasa, tetapi aku semakin terpuruk. Aku hanya senang ketika akhirnya aku kembali ke Yogya. Sebelumnya aku sempat ke Yogya, tetapi melalui jalur darat bersama Abangku yang sudah menunggu di Jakarta untuk mengunjungi Abangku yang menjadi mahasiswa S2 di UGM. Takdirku sangat sempurna.
Mataku yang sembab dan kepalaku yang pusing akhirnya memilih untuk istirahat dan menerima akan di bawa kemana tubuhku pergi. Selama tertidur aku hanya berfikir, langkahku sudah benar. Soal aku pergi meninggalkan temanku dan memilih untuk berhenti berteman sebab bagiku usiaku sudah akan memasuki tahap masa remaja akhir. Berarti aku akan memasuki usia yang dewasa. Tidak mungkin aku untuk lebih lanjut, berteman dengan tipe manusia seperti mereka. Orang-orang yang sudah ku anggap sebagai sahabatku. Mereka memang tidak ku izinkan untuk mengetahui, apa saja yang sudah ku lalui. Bersama mereka aku menjadi suka ikut merundung anak orang yang tak bersalah untuk lucu-lucuan. Syukur anak tersebut tidak sakit hati padaku, karena mereka tahu bahwa aku hanya ikut-ikutan. Sebenarnya aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya merundung anak orang, menurutku memang bahagia namun hanya sesaat, sesudahnya aku menyesal dan meminta maaf pada penciptaNya.
Menurutku mereka bertigalah yang setidaknya paling tahu tentang diriku tanpa perlu ku bercerita penjang lebar. Pernah suatu hari aku pernah pergi sekolah dengan mata yang sembab, aku memindahkan kasurku ke sekolah, aku memilih duduk di belakang untuk tertidur pulas, sebab aku takut dan trauma melihat kamar tidurku. Kemudian mereka menjadi saksi bahwa badanku penuh luka yang mengakibatkan darah yang membeku dan menjadi berwarna ungu di sekujur tubuhku karena aku lupa memakai luaran jaket, mataku berdarah di kedua sisi, dan aku sering sakit-sakitan dan banyak meminum obat-obatan yang dengan terpaksa aku harus membawa itu ke sekolah, dan mereka berkata pada guru Fisika yang juga menyayangiku dan abangku yang menjadi muridnya: "Pak, sebentar ini si Bunga harus minum obat..ada 10 kapsul isinya. Kasihan Pak, Saya tidak tahu apa yang sedang dialaminya, tetapi pasti ada sakit yang sedang ditutupinya Pak. Itu privasinya Pak, kami tidak memaksa meskipun kami sahabatnya Bunga."
.
.
Suatu hari aku permisi untuk ke kamar mandi, padahal aku ingin melihat proses tim tari yang sebelum kecelakaan aku sempat latihan berhari-hari sebelum hari libur semester kemarin. Aku hanya bisa melihat mereka latihan dari balik pintu, persiapan teman-temanku untuk melakukan tari piring yang dilakukan di ruang aula sekolah dekat kelasku. Aku yang melihat dengan haru biru, tiba-tiba dikagetkan oleh teman kelasku yang berkata: “Ngapain disini Bunga? Sedih ya jadi cacat? Jadi dikeluarin deh dari tim tari ini? Makanya jangan kecelakaan dong, harusnya kamu yang ada disanakan? Udah deh kamu tidak berhak untuk bermimpi banyak lagi.”
__ADS_1
Seketika aku terkejut dan menahan emosi, apalagi hari itu sebelum jam istirahat, walikelasku berkata tentang anak yang pintar-pintar akan menjadi kesayangannya dan diingat sampai sudah menjadi alumni. Walikelasku meyakini anak yang pintar-pintar akan masuk SMP negeri, sedangkan aku dan teman-temanku yang tidak pernah ranking, akan masuk SMP swasta.
Aku yang mulai kecewa dengan keadaan dan situasi yang ku alami dan penuh amarah dengan perkataan-perkataan yang ku terima selama ini, akhirnya aku memutuskan untuk melawan orang yang merundungku. Aku menendang meja belajarku sampai terbalik, dan berlari menghampiri anak kecil perempuan yang berucap kasar kepadaku tadi, sebut saja namanya, Putri.
Aku menarik hijab bergo yang sedang dipakainya dari belakang, dan menjatuhkan badannya ke lantai. Teman akrabku yang bermuka dua, sedang makan bersama dengan Putri terkejut. Aku yang berubah menjadi impulsif dan berani melawan perundungan yang sudah lama ku alami dan pendam lama.
.
Badanku yang merasa terguncang, ku fikir gempa bumi yang besar kembali terjadi, maka pelan-pelan aku membuka mata. Abang yang sudah membangunkanku dan berkata: “Dek, bangun ayuk kita makan dulu kata Mama. Kamu kenapa?” dengan nada cemas dan khawatir. Aku tetap dengan jurus jituku, “Aku tidak apa-apa.” Semua kejadian yang alami, tak ada yang mengetahui, karena semua sudah menjadi suratan takdirku. Aku yang kerap memendam, akhirnya mencoba untuk pelan-pelan melupakan semuanya.
Aku yang tertinggal di mobil, buru-buru ku berlari untuk masuk ke dalam rumah makan Lamun Ombak yang berada di Jalan Khatib Sulaiman. Rumah makan Padang yang enak, rasanya selera kami sekeluarga, harganya juga sesuai dompet meskipun Uda-Udanya menghidangkan makanan sampai penuh satu meja, dan bertingkat-tingkat seperti susunan kartu remi yang dimainkan pesulap. Sedangkan makanan yang diambil paling banyak mungkin hanya 2-3 piring saja. Tetapi itulah khas masakan Padang, keikhlasan dalam melayani, menata, dan mengambil kembali semua yang sudah diletakkan. Membuatku selalu merindukan kotaku tercinta, meskipun tidak dengan kenangannya.
.
“Mas boleh foto tidak?”
"Mas Zach, foto dong! Mas keren banget, Saya ikutin di film yang tentang tsunami Aceh itu Mas."
“Uda boleh tolong fotoin tidak bersama Mas Zach? Saya mengidolakannya.”
__ADS_1
Aku yang sambil berjalan malas-malasan hanya terkejut dan jantungku berdebar sangat kencang. Zach? Zach yang selama ini ku benci namun juga ku nanti? Bibirku tiba-tiba merekah, namun aku tidak berhasil menoleh, karena rombongan kru film sudah terlanjut masuk ke mobil, dan semua berlari-lari seolah sedang di kejar pesawat. Mungkin memang mengejar pesawat, karena Bandar Udara Minangkabau sangatlah jauh.
“Zach apakah itu benar kamu?” kepalaku kembali terasa ringan, dan sekejap aku melupakan semua kejadian, dan memaafkan. Apakah ini sebuah harapan yang nyata tentang kehidupanku selanjutnya, darimu YaaRabb. Mendengarkan suaranya dengan sekadar berucap “terimakasih uni” di dekat tempatku berjalan, membuatku sangat bersyukur. Namun seperti apa parasnya? Mengapa Tuhan memberiku kisi-kisi hanya berupa potongan puzzle ribuan yang hendak ku susun sendiri. Aku tidak peduli, yang penting aku baru tahu seperti itu rasanya bahagia.