
*ANNOUNCEMENT*
Bagi penumpang pesawat JT257 tujuan Jakarta, silahkan memasuki area pesawat melalui tangga yang sudah disediakan.
Hari Jum’at tiba. Aku dan Mama menemani Abangku - George untuk melakukan daftar ulang ke UGM, masa depannya. Dari Padang menuju Yogyakarta, kami memerlukan transit terlebih dahulu melalui Jakarta, kemudian akan melanjutkan perjalanan menuju Bandar Udara Adisudjipto Yogyakarta.
Pagi itu cuaca sangat cerah. Aku yang takut ketinggian bisa sedikit mengurangi rasa cemas, sebab seluruh kru maskapai memberitahu bahwa langit di Jakarta juga tak kalah cerahnya dengan cuaca di Padang.
.
Aku yang masih menunggu antrian, memutuskan untuk melanjutkan membaca novel yang kemarin sempat tertunda dikarenakan aku harus belajar mengenai pembahasan soal Ujian Nasional (UN) terdahulu.
Semenjak melihat Mamaku berjilab, Mama akhirnya menyuruhku untuk mengikuti jejaknya. Namun, aku yang remaja, berusaha untuk pelan-pelan mempelajarinya dan berjilbab sebagai keseharianku saja tanpa mementingkan kewajiban dalam mengenakannya.
Hari itu menjadi hari pertamaku untuk mulai melatih diriku dalam membaluti rambutku dengan selembar kain yang dinamakan jilbab. Berjilbab diluar sekolah - karena di daerah tempat tinggalku mewajibkan untuk seluruh perempuan Muslim memakai jilbab pada saat ke sekolah sedari masa Sekolah Dasar.
Aku mencoba dengan segala mode yang ingin ku kenakan, tetapi memang paling nyaman hanyalah mode jilbab Zazkia Adya Mecca. Pada zamannya, mode ini sangat menjadi tren. Rata-rata memakai seperti mode yang sedang aku pakai. *ala hijabers-hijabers.
Mode ini menurutku memang sangat modis, dengan melingkar jilbab pashmina kaos ke atas kepala dan memutarnya hingga menjadi berlapis-lapis dan memiliki banyak jarum pentul untuk melekatkannya sehingga jilbab tidak bisa terlepas. Mode ini juga bisa untuk menutupi bagian dadaku. Aku mulai nyaman memakainya, meskipun hanya baru beberapa jam setelah aku berangkat dari rumah. Memakai jilbab, aku jadi lebih dihargai sebagai perempuan, dan memiliki sedikit jiwa yang berwibawa. Memang, berjilbab sangatlah gerah, sehingga aku berlari kencang ke kencang ke toilet bandara untuk segera melepasnya.
Ketika aku ingin membuka jilbab, dan di depan cermin seperti ada yang berbisik dan di atasku sedang ada yang menatap dan ingin memerahiku jika aku membukanya begitu saja. Aku malu untuk membuka pada suasana yang ramai, toilet ramai dan mengantri, tetapi tidak untuk berkaca di depan cermin.
“Pakai jilbab yang benar, sayang.”
“Iya Mommy, tetapi aku gerah. Sangat panas ditutupi seperti ini.”
__ADS_1
“Lebih baik panas yang kamu rasakan di dunia, ketimbang kamu merasakan panas api neraka. Pelan-pelan, karena semua butuh proses. Istiqamah memang sangat sulit untuk dilakukan, namun memakai jilbab menjadi suatu yang wajib untuk kita para perempuan Muslim. Kamu tidak akan pernah tahu kapan kamu mengakhiri hidup. Kamu tidak akan pernah tahu kapan kamu dapat benar-benar dalam keadaan yang benar, karena kita hanyalah manusia Nak. Setiap hal yang kita lakukan, meskipun menurut kita hal tersebut sudah yang terbaik, tetap saja bagi orang yang tidak mengenal sepenuhnya mengenai kehidupan yang sudah kita jalani, akan selalu salah. Maka perbaiki sekarang, sebelum tidak diperbaiki sama sekali. Patuhi perintahNya - Jauhi laranganNya. Karena yang memiliki kamu seutuhnya hanya Tuhan yang Maha Esa. Ibu-Ayah-Saudaramu, hanyalah perantara dalam kamu menjadi hidupmu selama di dunia. Tetaplah berbuat baik, dan jangan menghakimi kehidupan seseorang, karena manusia lain juga memiliki akal untuk membalas penghakimanmu terhadap dirinya.
Aku yang tidak sengaja mendengarkan percakapan antara Ibu - anak perempuan yang masih belia, Ibu yang sedang memakaikan ****** ***** kepada sang anak ketika anak sudah selesai membuang air kecil.
Ketika mereka berdua pergi, aku meneteskan sedikit demi sedikit air mataku. Aku tersadar, bahwa untuk anak perempuan yang sudah akil baligh, sudah wajib dan bertanggungjawab terhadap akhirat kedua orangtua, termasuk teruntuk Ayah. “Tidak adil” ucapku dalam hati. Seketika cermin di depanku berembun banyak. “TIDAK ADIL!!!” ucapku sekencang mungkin di dalam hati.
Abang yang mulai menghampiriku dan memanggil, “Bunga, sudah? Lama sekali. Nanti kita terlambat, antrian sudah mulai sedikit. Ayuk.”
“Maaf bang, disini mengantri panjang. Aku buang air kecil nanti saja di atas pesawat.” Aku yang izin ke toilet untuk membuang air kecil, mudah-mudahan Mama dan Abang tidak mencurigai mataku yang memerah dan basah pada bulu mataku.
Aku yang bergabung bersama Mama dan Abang, berhasil membalikkan suasana hatiku untuk terlihat bersemangat kembali. Teringat, percakapan sebelum akhirnya kami memutuskan untuk berangkat di hari Jum’at, hari ini.
Kata Mama alangkah lebih baik jika aku ikut meneruskan SMA di Yogya saja. Wah, aku sangat girang, dan cahayaku terlihat bersinar dan auraku terpancar seperti corak warna jilbab yang ku pilih berwarna merah. Keputusan tersebut diambil Mama, tentu sudah menjadi kesepakatan bersama Papa, sehingga kini aku membawa semua berkas-berkas yang nanti akan dibutuhkan.
.
.
Kamu tahu? Bagi manusia yang takut ketinggian sepertiku, aku benar-benar sudah mempersiapkan diri sebelum berangkat. Sudah mencari alat darurat yang sering diaba-aba oleh pramugari-pramugari yang cantik, kemana aku akan pergi, dan seperti apa nanti aku akan menenangkan diri. Sebab dalam keadaan genting, tidak boleh panik sedikitpun.
Teorinya sih begitu, mungkin akan jauh berbeda dengan praktiknya. Ketika semua sudah ku ikhtiarkan, waktunya aku memasrahkan diriku kepada Tuhan. Tentang bagaimana takdirku, di atas langit yang tingginya mencapai ribuan kaki.
Melihat pramugari yang cantik, tinggi, dan pandai bersolek indah, dan juga bisa bekerja kemanapun bisa mengelilingi dunia, aku sempat berfikir mengenai cita-citaku untuk menjadi pramugari saja. Siapa tahu nanti jodohku adalah pilot, yang bisa membawaku kemanapun kami pergi, dan selalu beterbangan kemanapun kami inginkan. Aku jadi bisa untuk mengontrol ketakutanku terhadap ketinggian. Sembari tersenyum, aku melihat dan memerhatikan setiap gerakan, juga arahan para pramugari cantik yang berada di depanku.
.
.
__ADS_1
Alhamdulillah Allah selalu memberikanku takdir yang baik. Meskipun pada kenyataannya aku memilih untuk tidur setelah memerhatikan pramugari, karena selain ketinggian, aku benar-benar takut dengan bunyi mesin pesawat ketika berjalan mengudara ke atas langit biru untuk meninggalkan lepas landas dan juga kampung halamanku. Meskipun melihat lukisan Tuhan, yang menjadi pemandangan bagus dan keren jika dilihat dari atas awan yang cerah, sangat menakjubkan dan dapat memanjakan mata.
Semua yang ku fikir tampak besar, seperti rumah bertingkat, gedung-gedung yang tinggi, gunung, ataupun burung yang juga terbang di atas awan.. benar-benar tampak kecil dari atas pesawat. MashaAllah.
.
.
Sesampainya di Bandar Udara Soekarno Hatta, tiba-tiba ada pengumuman pesawat yang ingin ku naiki menuju Yogyakarta, dalam 20 menit kedepan akan segera berangkat. Sedangkan kami baru saja menyentuh gedung Bandara Soetta dengan sepatu yang berdencit akibat Jakarta tiba-tiba hujan sewaktu pesawat mencari parkiran.
Aku mulai panik, karena takut akan celaka atau terjadi apa-apa nantinya jika cuaca di Yogyakarta juga sedang hujan. Tentu, dari segala kepanikan yang ada, aku jauh lebih panik ketinggalan pesawat yang sudah dibeli tiketnya. Kami berada di berbeda pintu. Gate menuju Yogyakarta berada di Gate 7 sedangkan kami berada di gate 2.
Akankah kami akan mencapai pesawat, dan tidak harus membeli tiket yang baru? Apakah lari kami bertiga bisa sekencang superhero? Waktu kami terburu-buru waktu sudah tersisa 10 menit lagi pesawat JT 758 akan segera berangkat. Tuhan tolong kami.
Sesampainya di gate 2, kami bertiga menjadi penumpang terakhir yang sedang diumumkan di dalam ruangan. Sebegitu mudahnya menjadi terkenal, ucapku. Namaku, nama Mama, dan nama abangku begitu jelas terdengar. Kami bertigapun dibimbing menuju masuk ke dalam belalai yang sudah tidak ada penumpang lain untuk berjalan disana. Mereka memaklumi karena kami adalah penumpang transit yang jadwal pesawatnya memang dikhususkan bagi penumpang transit dari Kota Padang. Separuh penumpang ke Yogyakarta adalah penumpang pesawat yang sama denganku sebelumnya. Berjodoh berkali-kali. Hehe.
.
.
*ANNOUNCEMENT*
Bagi pe-num-pang, mohon maaf bagi penumpang yang ingin menuju Yogyakarta selamat datang pada maskapai kami. Para penumpang kami, mohon maaf untuk bersabar pesawat pada nomor penerbangan JT0503 harus mengalami penundaan dikarenakan cuaca yang sedang buruk. Mohon maaf, dan mohon untuk menunggu selama di atas pesawat. Saya Capt. Zach Abu Zidan beserta kru pesawat lainnya mengucapkan terimakasih atas perhatiannya. Selamat sore.
“Kapten Zach? Hah? Dia seorang pilot? Oh mungkin namanya mirip, mana ku tahu soal nama panjangnya, wujudnya saja samar terlihat.” ucapku sembari menata nafasku yang masih terengah-engah karena harus menjadi atlet dadakan, dan seperti sedang berada di adegan mata-mata yang mengejar target untuk dilumpuhkan. “Kenapa harus Zach nama pilotnya? Kenapa selalu dia?” ucapku lirih ketika melihat air hujan yang membasahi jendela pesawat dan sedikit kilat yang menyambar secara bergantian.
__ADS_1