U NIQUE

U NIQUE
BUNGA BERBUNGA


__ADS_3

“Hai, ini Angel bukan ya? Aku dapat nomor ini dari teman kelas yang lain. Hehe. .”


.


Minggu pagi ini syukurnya aku terbangun lagi, karena suara nyanyian yang nyaring, dan tidak sesuai arahan guru les vokal sehingga suaranya tidak enak untuk di dengar. Tersadar kalau hari ini ada acara nikahan tetanggaku yang semakin kencang volumenya, padahal perumahannya berseberangan dari perumahanku. Sangat menguji kesabaran tetangga terdekat, pastinya.


Aku yang masih merasakan kelelahan dan kehabisan begitu banyak energi tentang hari kemarin, mimpi buruk yang nyata. Sejenak ku mengulangi untuk memejamkan mata dan berucap dalam hati: “kemarin tidak terjadi apa-apa” dan pada saat membuka mata, aku menghembuskan nafas yang panjang, kemarin memang terjadi seperti roller coaster.


Kemudian aku iseng untuk melihat sudah menunjukkan pukul berapa sekarang pada layar hp qwerty-ku, mengapa matahari sudah naik saja. Pantas saja matahari sudah lumayan menyinari kamarku, hari sudah memasuki pukul 9 pagi, hmm rasanya baru 1 jam aku terlelap lagi setelah selesai Sholat Subuh tadi.


Tersadar kalau handphone-ku sudah memiliki beberapa panggilan telefon yang tidak terangkat olehku, dan sms yang membuatku lumayan terkejut. “Maaf siapa ini? Oh iya tidak apa-apa, aku memang tidak memberitahu banyak orang informasi tentang diriku.” balasku cepat, setelah ku lihat dengan secara sadar bahwa sms itu masuk dari Rabu sore.


Lho? Kalau memang teman sekelasku, mengapa tak menyapaku langsung dan menyuruhku untuk membalasnya. Aku merasa tak enak hati, tapi. .


“Ini Senja, Bunga maaf kira-kira aku mengganggu kamu tidak?” balasnya dalam semenit.


Maaf Senja, aku telah kehabisan pulsa, maka tidak mungkin aku membalas lagi. Mudah-mudahan teman sekelasku, Senja, tidak mengiraku sombong. Lagipula jika ingin mendekatiku, kenapa tidak inisiatif untuk membelikanku pulsa? *ge-erku. Teman macam apa ini, haha.


Memang setelah kejadian kemarin di keramaian, dan mendengar nama Zach, dan mendengar suaranya secara langsung begitu jelas, berat terkesan sangat maskulin, semenjak itu pula aku menjadi sering mesem-mesem. Aku tahu bahwa yang sedang ku isengi bukan bernama Zach. Tetapi aku malah menyamakan semua lelaki, adalah Zach. Semoga aku tidak membandingkan antar sesama manusia. Wujud Zach yang belum berhasil ku jumpai, mampu membuatku meredam niat awalku yang memang ingin membandingkan.


Aku yang dipanggil Mama untuk sarapan pagi, dan bersiap-siap karena harus pergi ke kantor travel untuk membeli tiket pesawat disana. Karena hari Jum’at kami harus segera berangkat ke Yogyakarta.

__ADS_1


.


.


Sesampainya di kantor travel, aku melihat brosur dan tentang Kota Jakarta - tempat kelahiranku. Aku ingin kembali tinggal dan menetap di Jakarta, aku tidak mau lagi disini. Aku sangat lelah menjalani hari-hari disini.


Kemudian karyawan travel yang melihatku menatap lama brosur-brosur itu berkata: “Adek, itu namanya kota Jakarta - Ibukota Indonesia.” Aku menatapnya tajam dan jengkel, lalu pergi duduk tepat di sebelah Mama.


Mama penasaran namun hanya sekadar: “Sini Nak, besok siap-siapnya harus cepat ya, karena rumah kita jauh dari bandaranya.” Aku membalas dengan anggukan dan tersenyum kecut, karena sebal dengan pernyataan Mbak-mbak yang memberitahuku hal yang sangat informatif sekali tadi.


Jenuh menunggu proses pembelian tiket, aku kembali mengecek ada pemberitahuan apa yang masuk ke dalam hp-ku. Ternyata Senja memberitahuku bahwa,: “Bunga, kamu apa kabar? Kamu tidak apa-apa kan? Aku baru saja mengirimu pulsa 20 ribu yang ku kirim ke nomormu, sudah masuk belum kira-kira? Balas ya, Senja.”


Hah? Pulsa 20 ribu? Tersambar petir apa seorang anak tamatan SMP dengan sukarela membelikan “teman sekelas” pulsa? Haha padahal aku sendiri masih ada uang jajan untuk membelinya, tetapi aku saja yang malas untuk mengisinya. Aku tidak ingin di dekati dengan siapa-siapa, tidak ada yang bisa membuatku benci menjadi cinta, seperti yang Zach sudah lakukan kepadaku.


“Aku sudah bekerja, aku menjaga warnet. Aku tinggal hanya berdua dengan Ibuku, Bunga. Aku ikut membantu keuangan keluargaku.” Aku terkejut, ternyata ada lelaki pekerja keras dan bertanggungjawab namun masih sebaya denganku. Bagaimana ya Senja, aku menyukai yang jauh lebih tua dariku.


“Oh begitu, omong-omong terimakasih banyak ya. Tetapi pulsaku masih ada kok sebenarnya, kamu tidak perlu repot-repot untuk membelikan sebanyak ini untukku. Maaf ya, aku hanya jarang bermain handphone, dan aku baik-baik saja. Terimakasih, ya.


“Maukah kamu menjadi sahabat wanita pertamaku, Bunga? Aku belum pernah memiliki teman cerita perempuan.”


Aku yang berfikir, bahwa sahabat dan pasangan memiliki prioritas, batasan, dan perasaan yang jauh berbeda. Maka aku mengiyakan inginnya Senja.

__ADS_1


Aku bercerita bahwa aku ingin berangkat ke Yogya, dan aku sedang berbunga-bunga.


“Bunga berbunga.” sahut Senja dalam membalas pesanku.


Mudah-mudahan Senja tidak salah faham. Tetapi aku rela mengorbankan pulsaku untuk membeli paket hemat dalam berkomunikasi agar lancar komunikasi bersama Senja. Apalagi nanti sepasang sahabat ini nanti akan berhubungan jarak jauh. Hanya melalui sms, aku mengetahui betapa pintar dan ambisius Senja dalam mengejar mimpi-mimpinya. Meskipun Senja merupakan anak tunggal, dan menjadi anak yatim sejak kelas 2 SD.


Berbanding terbalik denganku, hidupku yang sangat menyedihkan, kepada Senja saja juga aku tutup rapat mengenai diriku. Aku tidak boleh tampak lemah, termasuk di mata sahabatku yang tangguh dan mempunyai mimpi yang besar.


.


.


Setiap hari aku di SMS oleh Senja, dan aku memang merespon sebatas sahabat, karena sesuai permintaan Senja.


Hari Jum’at telah tiba, akhirnya aku kembali ke Yogyakarta. “Jodohku, aku datang” teriak-ku di dalam kamar mandi. Lalu ada sahutan dari luar, yang ternyata abangku yang sudah mengantri sejak 30 menit yang lalu dan berkata: “Iya tolong dong, jodoh sih jodoh, nanti ditinggal pesawat ini! Duh.” Aku yang kaget dan hanya bisa membalas tertawa terbahak, dan bertanya pada diri sendiri,: “jodohku? Siapa memangnya? Jodohku memangnya di Jogja? Hahaha.”


“BURUAN!!!” sahut abangku dengan emosi yang tidak bisa terbendung.


“Jodohku maunyaku dirimu!” isengku sambil bernyanyi ke arah luar kamar mandi dengan mengenakan handuk putih panjang yang ku kenakan.


“Mandi lama banget, tapi masih asam ketiaknya! Dah buruan sana siap-siap, nanti Abang gagal jadi anak UGM nih, hihi. Dek hati-hati dirumah ya, semangat terus ya, yang kuat kamu. Kamu hebat, jaga diri kamu baik-baik. Abang percaya sama kamu, jangan khianatin kepercayaan abang ya.” dari iseng jadi haru biru.

__ADS_1


“Jodohku maunyaku dirimu, Yogyaaa aku datang!!” balik bercandaku.


“Aamiin, semoga nanti memang ketemu seseorang di Yogya ya. Tapi memangnya nanti kamu bisa jadi anak UGM? Haha, pasti bisalah, kan pintaran kamu daripada Abang. Semangat ya sayang, jangan bikin susah Mama.” pesan abangku.


__ADS_2