U NIQUE

U NIQUE
TEKA-TEKI


__ADS_3

Sesampainya di bandar udara Adisudjipto Yogyakarta, Abang Harry sudah menanti kami di pintu kedatangan. Barang yang sudah lebih dulu sampai, diamankan oleh pihak bandara di dekat pintu manajer bandara. Beruntung masih banyak orang baik dan kami dipertemukan dengan pihak yang bertanggungjawab dan tidak usil.


 


Sambil menuju ke arah taksi yang sudah di pesan, handphoneku berdering dan tertulis “Senja calling”. Oh Tuhan, ternyata aku lupa mengabarkan sahabatku, dan aku menghilang semenjak kemarin sore. Konsekuensiku sebagai sahabat sangatlah tipis untuk terbilang “sering mengabarkan” kecuali kepada kekasih hati. Aku termasuk kaum posesif kepada pasanganku, bukan karena takut kehilangan tetapi aku takut dicurigai tentang hal yang tidak pernah ku kerjakan. Lebih baik aku sering memberitahu dan ingin mengetahui balik keadaan pasangan, adalah sebagai bentuk keseimbangan bagiku. Aku selalu menomortigakan pasangan selain prioritasku kepada Tuhan, dan keluarga.


 


“Senja, maaf baru mengabarkan. Aku sudah sampai di Yogya dengan selamat. Cuaca di atas awan tadi sangat buruk sehingga aku harus berputar-putar selama setengah jam.” balasku melalui sms.


 


“Wah, untunglah kamu selamat Bunga. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa.” balas Senja, 2 menit setelah ku balas.


 


Aku yang takut terbawa perasaan terhadap perhatian sahabatku sendiri, lebih baik aku menyimpan kembali handphone yang masih ku genggam tanpa membalas smsnya lagi. Aku takut menyukai sahabatku sendiri, sebab aku sadar nanti aku akan kehilangan salah satu dari peran Senja terhadapku, sebagai pasangan jelas takkan mungkin, dan kehilangan sahabat yang sudah jelas jika aku sampai membalas menaruh perasaan Senja.


.


.


Sesampainya pada sebuah indekos laki-laki yang di tempati oleh Abangku, aku langsung mencari tempat tidur di kamar indekos yang berukuran 3x3, yang dilengkapi galon yang sudah tersisa setengah, rak buku pelajaran, jam dan kalender sebagai syarat bahwa 2 benda tersebut juga menjadi sebuah kebutuhan bagi anak laki-laki. Kemudian terdapat tumpukan kain kotor, kabel-kabel yang berserakan, tetapi jika ingin mandi harus pergi keluar dari kamar karena kamar mandi hanya berada di luar. Indekos ala kadarnya.


 


Sesaat setelah membuka pintu kamar, aku mengucapkan salam kemudian aku langsung terlelap tanpa sempat untuk membersihkan diriku karena istirahat harus segera dilakukan sebelum waktu Ashar tiba.


 


*30 menit kemudian


 


“Dek, bangun. Ayuk kita pergi makan. Mama bilang tadi belum pada makan.”


 


“Hmm?? Makan apa?” sambil terus memejamkan mata.


 

__ADS_1


“Makan ayam goreng kriuk kesukaan kamu, tapi ini versi yang murahnya Dek. Harganya 7 ribu sudah sama nasi. Kamu bisa nambah 5 porsi juga tidak sebanding sama harga yang sudah menjadi versi mahal dan banyak digemari orang.”


 


“DIMANA?? Hayuk, kita berangkat sekarang. Abang jauh tidak? Soalnya Aku masih mengantuk. Nanti kalau tempatnya tutup, bagaimana? Aku malas untuk berjalan. Tolong dibawa pulang aja bang.” pintaku.


 


“Yasudah di voting dulu saja, nanti kalau votingnya lebih banyak di bungkus, abang tolong pergi beliin ya.”


 


“Lama Ma, sini abang pergi sendiri aja. Mumpung ada motor teman di bawah. Ada yang mau ikutan tidak?” berusaha mengajak dua adiknya yang nyawanya sudah tertidur pulas.


 


“Abang pergi sendiri saja ya. Kasihan mereka yang harus begadang agar tidak terlambat ke bandara hari ini.” bujuk Mama.


 


“Iya Ma, tetapi kalau ingin pergi jalan keliling Yogya besok saja ya. Dimulai dari pagi hari, kita ke pasar tradisional Beringharjo, ke Tugu Yogya, Malioboro, yang dekat-dekat saja. Besok soalnya hari Sabtu, pasti akan sangat ramai.”


 


 


.


.


 


“Bang, kalau Candi Prambanan itu dimana Nak? Bagus tidak tempatnya? Jauh dari sini?” pagi-pagi setelah semua mandi, sebelum memutuskan untuk sarapan pagi dan berangkat jalan-jalan. Kami di Yogya hanya sampai hari Rabu pagi, siang hari kami langsung berangkat menuju bandara. Liburan yang singkat.


“Candi Prambanan itu sepertinya di daerah Klaten, Ma. Mau kesana saja? Soalnya kita berangkat hanya bisa menggunakan transportasi umum, busway namanya. Murah meriah pula.” penawaran abang kepada kami semua.


 


“Yaudah yuk, tetapi makan dulu ya bang.” ucapku.


 

__ADS_1


“Apa makanan yang enak lagi bang, selain ayam goreng kriuk kemarin?” tanya Abang George.


 


“Gado-gado atau lotek ada tidak bang?” Mama yang ikutan berbicara sambil memakai jilbabku dan membantu memakaikan jilbabku.


 


“Ada di bawah, enak juga. Lumayan bersih, dan anak-anak indekos juga sering makan disana Ma, dek.” ucap Abang Harry.


.


.


Hari sudah semakin siang, matahari sudah menunjukkan panas yang terik, kami belum juga sampai di Malioboro. Di Malioboro terdapat halte busway menuju Candi Prambanan. Selama perjalanan aku hanya memerhatikan barang-barang agar kami tidak dicopet. “Tetapi kalau masih siang, masih aman Mba. Malam itu yang seram, ada sekelompok anak muda yang disebut Klitih.” Ucap Ibu-Ibu yang duduk di sebelahku karena Ibu itu selalu memerhatikan gelagatku yang was-was di atas bis kota - mobil antik khas Yogya, seperti sejarah pada zaman penjajahan yang terjadi di Yogyakarta, kota Istimewa.


 


Di perjalanan aku melihat sekelompok orang yang ramai mengitari sekelompok lain yang sedang membawa perlangkapan syuting. “Ada syuting? Apa disana ada Zach? Mengapa harus aku ingin tahu, itu Zach atau bukan? Peduli apa aku dengan kebaradaannya di bumi ini, toh aku juga tidak akan pernah untuk dipertemukan semesta.” aku yang semakin bete, karena perjalanan belum juga sampai tetapi aku sudah menghabiskan setengah hari untuk sekadar menuju ke Candi Prambanan.


.


.


*GUBRAK!


 


Tiba-tiba ada yang menabrakku sambil berlari dari arah belakang, sewaktu aku sedang mengantri di jalanan Malioboro untuk menunggu busway. Halte yang digunakan masih berukuran kecil, sehingga penumpang harus mengantre di trotoar Malioboro. Namun salahku, aku berdiri memang agak ke tengah jalan. Aku tidak ingin terlalu sesak berdiri di dekat antrean. Sekalian modus-ku untuk melihat proses syuting yang sedang dilakukan.


 


“Maaf ya Mba, kami sedang syuting.” ucap wanita yang sedang mengejar laki-laki yang menabrakku.


 


Aku ingin kesal, namun langsung mereda dan berucap: “Itu tidak mungkin Zach, aku lelah dari SD untuk memecahkan teka-teki ini. Biarkan saja.”


 


Tak lama, busway-pun datang. Memasuki busway aku masih termenung dan berusaha mengingat apa yang telah aku keluhkan. Dari 2009? Memangnya iya? Aku baru tahu namanya baru tahun ini, mengapa aku merasa begitu? Apa ternyata aku pernah menonton dia pada karakter lain yang sudah di perankan?

__ADS_1


 


__ADS_2