Unforgettable Moment

Unforgettable Moment
Begini Ceritanya...


__ADS_3

Halo Para Pembaca, Selamat Datang Di Karya Pertama Aku🙏, Aku Harap Kakak Semua Suka😍, Dan Jangan Lupa Untuk Senantiasa Mendukung Karya Ini Ya😊


Terimakasih!!!


Selamat Membaca!!! #


Namaku Yasmin Amira Hanan dan aku ber-umur 12 thn. Aku Memiliki Abang Yang Bernama Mas Donny. Dan aku mempunyai teman di tanah air yang bernama Amanda, Sena, Kevin, dan Chacha, dan aku juga mempunyai teman di Amerika Yang bernama Ellen, Trace, dan Donald. Aku sungguh beruntung mempunyai teman dan sahabat yang baik hati. Terimakasih semua karena kalian selalu ada di saat kesulitan dan membela dari Si Pembuat Rusuh Yang bernama Genny . Dia selalu Bikin Masalah. Tapi banyak momen indah serta masalah yang mereka hadapi dan pecahkan bersama.


Begini Ceritanya ...


KRILING! KRILING! KRIIIIIING! Bel pulang berbunyi sa- ngat nyaring. Anak-anak SMPN 1 Bekasi kaget mendengar bunyinya. Pelajaran di kelas 9-5 pun usai dengan sangat baik dan menyenangkan. Semua siswa langsung menyalami guru dan berhamburan keluar kelas untuk segera pulang. Aku me- nyempatkan diri ke kelas temanku, Amanda. Kami dan bebera- pa teman lainnya berencana pergi ke toko buku untuk mencari beberapa buku cerita yang baru terbit.


"Amanda, kita jadi, kan, ke toko buku?" tanyaku kepada Amanda saat kami tidak sengaja berpapasan. "Jadilah, pastinya! O ya, kita pergi bareng Kevin, Sena, dan Chacha, ya!" "Oke!" jawabku sambil mengacungkan jempol kananku. "Kamu udah izin, kan, Han?" tanya.


Amanda. "Udah, dong!" jawabku.


"Syukur, deh. Jangan sampai orangtuamu khawatir karena kamu pulang terlambat," ujar Amanda, sok dewasa.


"Kalau Pak Kaman?" tanya Amanda lagi. Menyebalkan! Cerewet amat, sih, nih, anak. Ngapain juga nanyain sopirku? "Ngapain juga aku izin sama Pak Kaman?" aku balik ber-


tanya.


"Bukan itu .... Maksudku, sopirmu itu tahu, kan, kalau kamu ke toko buku bareng kita? Jadi, dia enggak usah capek- capek jemput kamu," jawab Amanda. Mmm, betul juga kata Amanda.


"Oooh, kirain! Udah, kok! Lagian, Pak Kaman lagi nganter Donny ke Jakarta," jawabku.


"Ke Jakarta? Emangnya kakakmu ada acara apa di Jakarta?" tanya Amanda lagi.


"Kakakku lagi ikut olimpiade Fisika di Bidakara, Jakarta," jelasku.


"Oooh .... Kalau gitu yuk, kita berangkat sekarang! Kali aja yang lain udah nungguin kita di gerbang sekolah!" ajak Amanda. Lalu, kami pun berjalan menuju gerbang sekolah. Benar saja. Di depan gerbang sudah ada Sena dan Kevin. Chacha datang bersamaan denganku dan Amanda, tapi dia berjalan di belakang kami.


O ya, kami berangkat ke toko buku diantar Kak Shanti, kakak Amanda, dengan mobilnya. Untunglah, kami tidak usah lama menunggu Kak Shanti.


"Lumayan, ngerasain naik mobil baru, nih," kataku menggoda Kak Shanti. Sementara yang punya mobil hanya tersenyum manis kepadaku.


Tanpa basa basi, kami pun segera naik mobil tersebut. Amanda duduk di depan menemani Kak Shanti, aku dan Chacha duduk di tengah, sementara Kevin dan Sena duduk di belakang


Sepanjang perjalanan, Kevin dan Sena tidak henti-hen- tinya memberikan lawakan segar yang membuat kami tidak henti tertawa. Mobil yang kami tumpangi pun jadi berisik di buatnya Mobil yang nyaman, AC yang sejuk, dan teman-teman yang selalu bercanda membuat perjalanan ini menyenangkan. Tidak terasa, kami pun sudah sampai di mal.


"Kalian Kakak turunin di depan pintu mal saja, ya! Nanti, kalau sudah mau pulang, telepon Kakak," kata Kak Shanti.


"Oke!" jawab Amanda singkat sambil tersenyum kepada kakaknya. "Terima kasih. Kak!" kataku dan Chacha pada Kak Shanti sebelum turun dari mobil, diikuti Sena Kevin.


Semua turun dari mobil saat sudah sampai di depan pintu masuk mal. Lalu, kami pun naik ke lantai atas, tempat toko buku berada. Awalnya. Sena berencana mengajak Kevin ke toko games. Tapi, aku mengusulkan kepada mereka, kalau ke toko games-nya setelah dari toko buku saja, karena kami pun ingin ikut bersama mereka. Untungnya, usulku mereka terima. Jadinya, kami ke toko buku bersama-sama.


Awalnya, aku dan Amanda berniat membeli buku cerita baru. Namun, buku-buku ceritanya masih edisi minggu se-Belumnya. Jadi, dengan berat hati, kami membeli buku lain. Sedangkan, Chacha sedang asyik mencari majalah baru. Dia sangat menyukai Justin Bieber dan Nick Jonas. Setiap ada maja- lah dan buku yang mengungkit kisah hidup dua artis terkenal itu, pasti Chacha membelinya. Tidak peduli uangnya habis seketika, yang penting baginya, Nick dan Justin sudah menjadi miliknya.


"Cha, nge-fans banget, sih, sama Nick Jonas dan Justin Bieber? Beli majalahnya sampai lima gitu!" tanya Sena yang heran melihat Chacha mengambil majalah bersampul Nick dan "Emangnya kenapa, Sen? Enggak suka?" kata Chacha tanpa menatap Sena. "Ya, enggak juga, sih. Cuma heran aja! Emang isinya apaan aja, sih?" tanya Sena lagi.


"Ya .... pokoknya ..., isinya tentang segala sesuatu yang ber- sangkutan dengan Justin Bieber dan Nick Jonas!" jawab Chacha sekenanya. Mungkin dia juga bingung mau menjawab apa. Namanya juga nge-fans. Jadi, apa pun yang berkaitan dengan idolanya, wajib dia tahu.


"Ya ..., di TV juga banyak kalau tentang Bieber dan Nick Jonas doang, mah!" timpal Sena. biarin, dong! Suka-suka aku! Kamu ngiri, ya?"


"Yeee.... goda Chacha. "Ngiri apaan?" "Kamu mau, kan, diidolain sama aku?" goda Chacha lagi.


"Vece, siapa juga yang mau diidolain sama kamu!" ban- ah Sena "Ah... bohong... Makanya, kalau mau diidolain sama aku, haras ganteng kayak Justin," Chacha terus menggoda Sena

__ADS_1


yang salah singkah dibuatnya. "Ih, males banged Sorry, ye, penggemarku udah kebanyak- an, malah sebagian mau aku lelang!" kata Sena lagi, sambil ter- tawa.


"Dasar! Dikira baju, dilelang!" balas Chacha kesal.


Aku yang dari tadi memperhatikan mereka berdua, cekiki- kan sendiri. Tanpa sadar, aku menyenggol bahu Amanda. Dia kaget dan bertanya ada apa. Aku hanya menunjuk ke arah Chacha dan Sena. Amanda pun ikut tertawa.


Setelah dari toko buku, sesuai kesepakatan bersama, kami pun menuju toko games. Meskipun aku, Amanda, dan Chacha perempuan, kami pun ikut mencari games seperti Sena dan Kevin. Kami melihat-lihat permainan untuk perempuan. Ada Barbie, Princess, dan lain sebagainya.


Lima belas menit kemudian, Sena sudah menenteng plastik berlogo stik Playstation. Ada dua games yang Sena beli. Kevin sendiri membeli tiga. Aku heran sama anak laki-laki, suka sekali permainan-permainan seperti itu. Sama seperti Mas Donny. Udah gede, mainannya masih aja PS, game-boy, Nintendo DS. Aneh, del, aku membatin.


Tidak terasa, jam makan siang sudah lewat. Tadi, kami pulang sekolah pukul dua belas siang. Untung saja, saat tadi menunggu mobil, kami menyempatkan shalat di sekolah. Kini, tinggal laparnya saja yang kami rasakan.


"Kita mau makan di mana, nih?" tanyaku. Sepertinya, perutku sudah tidak bisa diajak kompromi "Terserah aja, deh, yang penting makan!" timpal Kevin.


"Ya, sudah, kita ke food court aja, yuk!" ajakku. "Ayo!" jawab yang lain kompak. Lalu, kami pun segera ke food court yang ada di mal.


"Eh, Han! Kamu, kan, katanya pernah ke Amerika. Bagi- bagi pengalamannya, dong!" Kevin memintaku bercerita sambil menyenggol sikuku. "Nanti, sambil makan-makan, cerita sama kita. Oke? Lagian, masih jam dua. Sepanjang-panjangnya cerita kamu, kan, enggak selama dari sini ke Belanda!" "Hahaha! Melawak kamu, Kev?" kataku menjawab Kevin. "Iya, deh. Nanti aku ceritain!" Di food court.... Semua mata tertuju kepadaku. Mereka penasaran sekali dengan cerita Amerika-ku. "Ayo, dong, mulai ceritanya!" pinta Amanda.


"Mmm.... nanti aja, deh, ceritanya! Kalau aku lagi laper, biasanya aku enggak semangat ngapa-ngapain!" kataku beralas- an. Tapi, aku emang lagi laper dan lagi males untuk cerita. "Yah..., Hana! Payah amat, sih, kamu!" ujar Chacha kecewa.


"Entar aja, ya? Please!" aku memohon kepada teman- temanku. Jujur, siang ini, aku lagi males banget cerita.


"Ya, udah, deh! Tapi janji, ya, kamu harus cerita. Awas aja kalo enggak!" ancam Chacha.


"Iya, deh, iya!" kataku terpaksa mengiakan, karena kalau enggak, entah apa yang akan mereka perbuat kepadaku.


Pesan dari Sahabat


"Siapa yang suruh Facebook aku?" tanyaku kesal kepada


Mas Donny yang waktu itu sedang asyik membuka-buka Facebook-ku. Kebiasaan, deh! Kakakku yang satu ini emang selalu ingin tahu urusan orang.


"Ini, ada pesan baru dari teman kamu yang ada di Amerika. Itu... Si Ellen!" kata Mas Donny mengalihkan pembicaraan.


Mendengar ada pesan dari sahabatku, Ellen, aku enggak bisa marah lagi kepada Mas Donny. Marahku hilang berganti senang.


"Oya?" kataku nyaris tidak percaya. Masalahnya, sudah lama sekali aku dan Ellen tidak saling komunikasi. "Maaf, ya, sekarang giliran aku. Jadi, silakan Kak Donny angkat kaki dari kursi itu!" candaku.


Namaku Yasmin Amira Hanan dan aku ber-umur 12 thn. Aku Memiliki Abang Yang Bernama Mas Donny. Dan aku mempunyai teman di tanah air yang bernama Amanda, Sena, Kevin, dan Chacha, dan aku juga mempunyai teman di Amerika Yang bernama Ellen, Trace, dan Donald. Aku sungguh beruntung mempunyai teman dan sahabat yang baik hati. Terimakasih semua karena kalian selalu ada di saat kesulitan dan membela dari Si Pembuat Rusuh Yang bernama Genny . Dia selalu Bikin Masalah. Tapi banyak momen indah serta masalah yang mereka hadapi dan pecahkan bersama.


Begini Ceritanya...


KRILING! KRILING! KRIIIIIING! Bel pulang berbunyi sa- ngat nyaring. Anak-anak SMPN 1 Bekasi kaget mendengar bunyinya. Pelajaran di kelas 9-5 pun usai dengan sangat baik dan menyenangkan. Semua siswa langsung menyalami guru dan berhamburan keluar kelas untuk segera pulang. Aku me- nyempatkan diri ke kelas temanku, Amanda. Kami dan bebera- pa teman lainnya berencana pergi ke toko buku untuk mencari beberapa buku cerita yang baru terbit.


"Amanda, kita jadi, kan, ke toko buku?" tanyaku kepada Amanda saat kami tidak sengaja berpapasan. "Jadilah, pastinya! O ya, kita pergi bareng Kevin, Sena, dan Chacha, ya!" "Oke!" jawabku sambil mengacungkan jempol kananku. "Kamu udah izin, kan, Han?" tanya.


Amanda. "Udah, dong!" jawabku.


"Syukur, deh. Jangan sampai orangtuamu khawatir karena kamu pulang terlambat," ujar Amanda, sok dewasa.


"Kalau Pak Kaman?" tanya Amanda lagi. Menyebalkan! Cerewet amat, sih, nih, anak. Ngapain juga nanyain sopirku? "Ngapain juga aku izin sama Pak Kaman?" aku balik ber-


tanya.


"Bukan itu .... Maksudku, sopirmu itu tahu, kan, kalau kamu ke toko buku bareng kita? Jadi, dia enggak usah capek- capek jemput kamu," jawab Amanda. Mmm, betul juga kata Amanda.


"Oooh, kirain! Udah, kok! Lagian, Pak Kaman lagi nganter Donny ke Jakarta," jawabku.

__ADS_1


"Ke Jakarta? Emangnya kakakmu ada acara apa di Jakarta?" tanya Amanda lagi.


"Kakakku lagi ikut olimpiade Fisika di Bidakara, Jakarta," jelasku.


"Oooh .... Kalau gitu yuk, kita berangkat sekarang! Kali aja yang lain udah nungguin kita di gerbang sekolah!" ajak Amanda. Lalu, kami pun berjalan menuju gerbang sekolah. Benar saja. Di depan gerbang sudah ada Sena dan Kevin. Chacha datang bersamaan denganku dan Amanda, tapi dia berjalan di belakang kami.


O ya, kami berangkat ke toko buku diantar Kak Shanti, kakak Amanda, dengan mobilnya. Untunglah, kami tidak usah lama menunggu Kak Shanti.


"Lumayan, ngerasain naik mobil baru, nih," kataku menggoda Kak Shanti. Sementara yang punya mobil hanya tersenyum manis kepadaku.


Tanpa basa basi, kami pun segera naik mobil tersebut. Amanda duduk di depan menemani Kak Shanti, aku dan Chacha duduk di tengah, sementara Kevin dan Sena duduk di belakang


Sepanjang perjalanan, Kevin dan Sena tidak henti-hen- tinya memberikan lawakan segar yang membuat kami tidak henti tertawa. Mobil yang kami tumpangi pun jadi berisik di buatnya Mobil yang nyaman, AC yang sejuk, dan teman-teman yang selalu bercanda membuat perjalanan ini menyenangkan. Tidak terasa, kami pun sudah sampai di mal.


"Kalian Kakak turunin di depan pintu mal saja, ya! Nanti, kalau sudah mau pulang, telepon Kakak," kata Kak Shanti.


"Oke!" jawab Amanda singkat sambil tersenyum kepada kakaknya. "Terima kasih. Kak!" kataku dan Chacha pada Kak Shanti sebelum turun dari mobil, diikuti Sena Kevin.


Semua turun dari mobil saat sudah sampai di depan pintu masuk mal. Lalu, kami pun naik ke lantai atas, tempat toko buku berada. Awalnya. Sena berencana mengajak Kevin ke toko games. Tapi, aku mengusulkan kepada mereka, kalau ke toko games-nya setelah dari toko buku saja, karena kami pun ingin ikut bersama mereka. Untungnya, usulku mereka terima. Jadinya, kami ke toko buku bersama-sama.


Awalnya, aku dan Amanda berniat membeli buku cerita baru. Namun, buku-buku ceritanya masih edisi minggu se-Belumnya. Jadi, dengan berat hati, kami membeli buku lain. Sedangkan, Chacha sedang asyik mencari majalah baru. Dia sangat menyukai Justin Bieber dan Nick Jonas. Setiap ada maja- lah dan buku yang mengungkit kisah hidup dua artis terkenal itu, pasti Chacha membelinya. Tidak peduli uangnya habis seketika, yang penting baginya, Nick dan Justin sudah menjadi miliknya.


"Cha, nge-fans banget, sih, sama Nick Jonas dan Justin Bieber? Beli majalahnya sampai lima gitu!" tanya Sena yang heran melihat Chacha mengambil majalah bersampul Nick dan "Emangnya kenapa, Sen? Enggak suka?" kata Chacha tanpa menatap Sena. "Ya, enggak juga, sih. Cuma heran aja! Emang isinya apaan aja, sih?" tanya Sena lagi.


"Ya .... pokoknya ..., isinya tentang segala sesuatu yang ber- sangkutan dengan Justin Bieber dan Nick Jonas!" jawab Chacha sekenanya. Mungkin dia juga bingung mau menjawab apa. Namanya juga nge-fans. Jadi, apa pun yang berkaitan dengan idolanya, wajib dia tahu.


"Ya ..., di TV juga banyak kalau tentang Bieber dan Nick Jonas doang, mah!" timpal Sena. biarin, dong! Suka-suka aku! Kamu ngiri, ya?"


"Yeee.... goda Chacha. "Ngiri apaan?" "Kamu mau, kan, diidolain sama aku?" goda Chacha lagi.


"Vece, siapa juga yang mau diidolain sama kamu!" ban- ah Sena "Ah... bohong... Makanya, kalau mau diidolain sama aku, haras ganteng kayak Justin," Chacha terus menggoda Sena


yang salah singkah dibuatnya. "Ih, males banged Sorry, ye, penggemarku udah kebanyak- an, malah sebagian mau aku lelang!" kata Sena lagi, sambil ter- tawa.


"Dasar! Dikira baju, dilelang!" balas Chacha kesal.


Aku yang dari tadi memperhatikan mereka berdua, cekiki- kan sendiri. Tanpa sadar, aku menyenggol bahu Amanda. Dia kaget dan bertanya ada apa. Aku hanya menunjuk ke arah Chacha dan Sena. Amanda pun ikut tertawa.


Setelah dari toko buku, sesuai kesepakatan bersama, kami pun menuju toko games. Meskipun aku, Amanda, dan Chacha perempuan, kami pun ikut mencari games seperti Sena dan Kevin. Kami melihat-lihat permainan untuk perempuan. Ada Barbie, Princess, dan lain sebagainya.


Lima belas menit kemudian, Sena sudah menenteng plastik berlogo stik Playstation. Ada dua games yang Sena beli. Kevin sendiri membeli tiga. Aku heran sama anak laki-laki, suka sekali permainan-permainan seperti itu. Sama seperti Mas Donny. Udah gede, mainannya masih aja PS, game-boy, Nintendo DS. Aneh, del, aku membatin.


Tidak terasa, jam makan siang sudah lewat. Tadi, kami pulang sekolah pukul dua belas siang. Untung saja, saat tadi menunggu mobil, kami menyempatkan shalat di sekolah. Kini, tinggal laparnya saja yang kami rasakan.


"Kita mau makan di mana, nih?" tanyaku. Sepertinya, perutku sudah tidak bisa diajak kompromi "Terserah aja, deh, yang penting makan!" timpal Kevin.


"Ya, sudah, kita ke food court aja, yuk!" ajakku. "Ayo!" jawab yang lain kompak. Lalu, kami pun segera ke food court yang ada di mal.


"Eh, Han! Kamu, kan, katanya pernah ke Amerika. Bagi- bagi pengalamannya, dong!" Kevin memintaku bercerita sambil menyenggol sikuku. "Nanti, sambil makan-makan, cerita sama kita. Oke? Lagian, masih jam dua. Sepanjang-panjangnya cerita kamu, kan, enggak selama dari sini ke Belanda!" "Hahaha! Melawak kamu, Kev?" kataku menjawab Kevin. "Iya, deh. Nanti aku ceritain!" Di food court.... Semua mata tertuju kepadaku. Mereka penasaran sekali dengan cerita Amerika-ku. "Ayo, dong, mulai ceritanya!" pinta Amanda.


"Mmm.... nanti aja, deh, ceritanya! Kalau aku lagi laper, biasanya aku enggak semangat ngapa-ngapain!" kataku beralas- an. Tapi, aku emang lagi laper dan lagi males untuk cerita. "Yah..., Hana! Payah amat, sih, kamu!" ujar Chacha kecewa.


"Entar aja, ya? Please!" aku memohon kepada teman- temanku. Jujur, siang ini, aku lagi males banget cerita.


"Ya, udah, deh! Tapi janji, ya, kamu harus cerita. Awas aja kalo enggak!" ancam Chacha.


"Iya, deh, iya!" kataku terpaksa mengiakan, karena kalau enggak, entah apa yang akan mereka perbuat kepadaku.

__ADS_1


Bersambung!!! #~


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian, Dengan Cara Like, Komen, Vote, Gift And Favorit! Author Tunggu Dukungannya. Terimakasih!!! #~


__ADS_2