
Tidak terasa, sebulan sudah aku tinggal di Amerika.
Aku, Ellen, Trace, dan Donald menjadi sahabat dekat.
"Hex New Girl" kata Genny dengan wajah liciknya yang membuatku sedikit terganggu.
"Apa?" aku menjawabnya sambil membuka loker biruku.
"Ih, kamu, tuh! Siswa baru di sini, sok banget gayamu! Aku, kan, nyapa baik-baik!" kata Genny meninggikan suaranya.
"But I have a name and it is not 'New Girl!' aku membentaknya dan pergi meninggalkannya.
Dia pun mengejarku.
"Oh, so now you're not afraid of me?! tanya Genny tajam sambil menghentikan langkahku dari arah depan.
"Why should I be afraid of someone like you? Worthless! kataku sambil menyingkir ke samping kiri Genny.
Salah satu temannya, Veronica, menghalangi.
"Move!" ujarku "Berani sekali!" Veronica berlagak marah di hadapanku.
Aku menatap Genny dan Veronica serta teman satunya lagi yang bernama Sarah.
Mereka berbisik dan kembali menatap tajam dan menakutkan ke arahku.
"See you later, LOSER! ledek Genny seperti mengancam.
Aku berjalan menuju kelas selanjutnya.
Entah mengapa, aku jadi tidak selera mengikuti pelajaran gara-gara tiga perem- puan centil tadi.
Aku masih bingung sama mereka.
Kenapa harus anak baru yang mereka bully dan ganggu? "Hey!" sapa Donald yang muncul entah dari mana dan langsung mengambil tempat duduk di sampingku.
"Oh, halo," sapaku balik dengan senyum terpaksa.
"Ada apa denganmu?" tanya Donald penasaran karena raut wajahku sangat berbeda.
"Genny," kataku berbisik.
"Apa? Aku tidak dengar," kata Donald memintaku mengulang.
"You know Genny? The really socalled popular girl?" aku menaikkan suara, berusaha menahan amarah.
"Oh. Maaf.
Ada apa dengannya?" tanya Donald lagi.
"Dia sudah menghilangkan mood belajarku sebelum masuk kelas tadi.
Dia menghadangku dan meledekku," kataku kesal.
"Chill, Girl! Donald menenangkan dengan logat Negronya. "Sabar! Dia memang selalu begitu.
namanya semakin terkenal di sekolah!" ..., mencari sensasi agar "Kenapa dia selalu begitu, Don?" tanyaku.
"Katanya, dia punya kakak bernama Jennifer yang juga pernah bersekolah di sini.
Jennifer, tuh, murid paling terkenal di sekolah ini.
__ADS_1
Tapi, Jennifer baik hati dan tidak sombong.
Ketika pesta kelulusan, Jennifer meminta Genny untuk mewarisi kepopulerannya.
Genny berhasil.
Tapi, Jennifer tidak pernah tahu kalau adiknya terkenal bukan karena kebaikannya, melainkan karena kesombongannya," jelas Donald.
"Oh. Kok, kamu bisa tahu?" tanyaku penasaran.
"Kakakku bersahabat dengan Jennifer.
Kakakku tahu betul bagaimana sifat Genny. Kakakku, Greg, sempat mengingatkanku.
Makanya, aku malas sekali mendekati Genny," kata Donald "Kok, bisa, ya, tabiat kakak dan adik berbeda?" kataku datar.
"Bisalah.... Namanya juga manusia ...," ujar Donald.
"Kalau kamu tahu ibunya, kamu pasti akan lebih kaget lagi," tambah Donald.
"Memang, ibunya kenapa?" tanyaku.
"Her mom is like an angel.
She's sweet, caring, and I think shes the fifth nicest woman I've ever known in my life," jawab Donald.
Wow, benarkah? Aku jadi ingin tahu seperti apa ibu Genny.
"Len, tasku hilang!" kataku kaget karena saat membuka loker, tasku tidak ada di dalamnya.
"Kok, bisa hilang? Kan, tasmu disimpan di loker.
Trus, enggak ada yang tahu kombinasi nomor lokermu," tanya Ellen heran sekaligus kasihan.
Entah dari arah mana dia datang.
"You?!" aku membentaknya dan mencoba merebut kembali Tapi, Genny mengopernya ke Veronica.
"You'll never get it back, Loser!' ejek Veronica.
"Genny! Hentikan?!" bentak Ellen tiba-tiba.
"Apa urusanmu?! Masalah ini hanya antara aku dan Si Anak Baru! Sudah sana pergi! Jangan ikut campur! Apa kamu mau aku buat begini juga?!" pancing Genny dengan mata melototnya.
"Girls, STOP!" teriak Trace dari kejauhan.
Dia mencoba menghentikan pertengkaran kami.
"Sudahlah, kalian tidak usah bertengkar terus!" "Trace berusaha menenangkan kami.
"Tasku dirampas Genny dan teman-temannya," jelasku penuh amarah.
"Girls are DRAMATIC! Trace geram dan langsung menghadap Genny.
Genny dan kedua temannya menatap Trace dengan wajah angkuh.
Mereka seolah-olah menunggu Trace menghajar mereka, terlihat sekali gurat wajah menantang dari mata ketiga perempuan itu.
"Give her backpack back, Genny!" pinta Trace kepada Genny.
"Now! Give it back to the owner! "Siapa kamu?! Apa urusanmu dengan tas ini?" tantang Genny kepada Trace.
__ADS_1
"Kembalikan tasku! Atau kulaporkan ke kepala sekolah!" ancamku.
"Ini tasmu," kata Genny menyodorkan tasku.
Namun, dia menariknya kembali ketika aku hampir mengambilnya.
Lalu, dia mencampakkan tasku ke dekat tempat sampah yang ada di lorong sekolah.
Kemudian, Genny pun berlalu sambil tertawa puas.
Aku menghampiri tempat sampah itu dan mengambil tasku.
Trace dan Ellen mendekatiku untuk menghiburku.
Saat itu, aku sudah menangis karena tidak tahan dengan perlakuan Genny.
Waktu pulang sekolah sudah lewat lima menit.
Semenjak kelakuan Genny tadi pagi, aku tidak mau lagi berpapasan dengannya, apalagi menyapanya.
Aku yakin dia masih punya cara baru untuk menjailiku.
Aku mengembuskan napas.
seribu Ketika aku pulang, Mas Donny tiba-tiba muncul dari tempat parkir sekolah.
Dia mengajakku pulang.
Sekolah kamiberbeda, dan itulah yang membuatku susah mengadu tentang semua masalahku kepadanya.
"Yuk, pulang!" ajak Mas Donny sambil menuntunku.
"Ka- mu kenapa?" tanya Mas Donny.
"Kamu lagi bete, ya?" tanyanya lagi.
"Genny!" jawabku singkat.
"Siapa Genny? Kenapa dia?" tanyanya lagi.
"Manusia paling menyebalkan di dunia!" jawabku.
"Dia mengerjaiku hari ini!" jawabku lagi.
"Oh..., sudahlah.... Enggak usah kamu ladeni.
Lama-lama dia juga akan bosan ngerjain kamu!" nasihat Mas Donny.
"Tapi, Mas...!" aku tidak terima Mas Donny menasihatiku seperti itu.
Menurutku, kalau Genny dibiarkan berulah se- enaknya, dia akan keenakan.
"Mending kita pulang aja, yuk! Aku laper, nih, pengin cepet makan di rumah!" jawabnya lagi, sama menyebalkannya dengan Genny! Bukannya menghibur adiknya yang sedang sedih, malah mikirin makanan.
Aku menghentikan ceritaku dan semua temanku sudah memasang muka kesal karena perlakuan Genny.
Ups! Temanku yang tidak kenal Genny pun sudah kesal dengan tingkah lakunya, apalagi aku yang setahun lebih di-bullied.
"Sebegitu menyebalkannyakah dia?" tanya Kevin penasaran.
"Ya, gitu, deh!" jawabku singkat.
__ADS_1
"Kalau aku ketemu dia, pengin banget mukul, tuh, anak!" ujar Kevin lagi.