Unforgettable Moment

Unforgettable Moment
First Day Wasn't So Bad...


__ADS_3

Halo Para Pembaca, Selamat Datang Di Karya Pertama Aku🙏, Aku Harap Kakak Semua Suka😍, Dan Jangan Lupa Untuk Senantiasa Mendukung Karya Ini Ya😊


Terimakasih!!!


Selamat Membaca!!! #


Ini hari pertamaku berada di Amerika. Rasa lelah masih terasa, entah kapan hilangnya. Bayangkan saja, perjalanan kami ha- rus ditempuh selama tiga hari dua malam. Selama itu, kami menghirup udara di dalam pesawat, walaupun sempat keluar pesawat sebentar.


O ya, hari ini, kami sudah berada di apartemen. Mas Donny kelihatannya juga sangat lelah. Kini, dia terbaring di sofa ruang tamu. O ya, perlengkapan utama apartemen, seperti sofa, tempat tidur, lemari, kulkas, kompor, alat dapur, meja makan, meja televisi, lampu, dan perlengkapan mandi sudah disediakan housing. Housing adalah yang bertanggung jawab atas penduduk apartemen dan yang akan menagih biaya apartemen serta semua tagihan yang menyangkut apartemen ini.


Mama dan Papa membereskan barang-barang kami yang masih berantakan. Sebenarnya, aku ingin membantu Mama dan Papa. Tapi, karena aku masih sangat lelah, Mama dan Papa memperbolehkan aku beristirahat seperti Mas Donny.


Pagi yang indah. Ini hari keduaku di Negeri Paman Sam. O ya, hari ini, Papa akan mengajakku ke sekolah baruku. Entah kenapa, aku, kok, takut, ya? Tapi, apa boleh buat. Aku harus sekolah, karena enggak mungkin aku enggak sekolah. Jadi, mau enggak mau, aku harus melawan rasa takutku ini.


"Hana, siap-siap, ya!" sahut Papa. "Siap-siap apa, Pa?" aku pura-pura lupa. "Kamu pura-pura lupa, ya?" tebak Papa. Sepertinya, Papa tahu persis aku sedang pura-pura lupa kalau hari ini kami akan pergi ke sekolah baruku.


"Mmm..., ke sekolah, ya. Pa?" tanyaku malu. "Pa, kok, aku takut, ya?" tiba-tiba aku mengutarakan khawatiranku kepada Papa.


"Takut apa?" tanya Papa. Sepertinya, dia heran dengan pertanyaanku.


"Enggak tahu! Tiba-tiba aja. sini!" jawabku. aku takut untuk sekolah di "Papa boleh tebak?" ujar Papa tiba-tiba. Aku hanya mengangguk pelan.


"Kamu khawatir dengan teman-temanmu di sini, kan?" tanya Papa lagi.


Yup! Tebakan Papa benar. Andai saja tebakan ini ada ha- diahnya, pasti Papa yang dapat hadiah itu. Pertanyaan Papa hanya aku jawab dengan anggukan pelan."


"Kamu tidak usah takut. Kamu, kan, anak yang pandai bergaul" puji Papa. "Papa yakin kamu bisa beradaptasi de ngan teman dan lingkungan barumu," Papa mencoba meng- hiburku.


"Tapi..., aku, kok, enggak yakin kalau aku bisa," jawabku tetap dengan kekhawatiranku.


"Sudah sekarang sebaiknya kamu bersiap-siap. Tidak enak kalau kita terlalu siang sampai sekolah. Setelah Papa antar kamu ke sekolah, Papa akan mengurus kuliah Papa," pinta Papa.


"Kalau Mas Donny kapan sekolahnya?" tanyaku.


"Ya..., sekarang. Kita akan berangkat bersama, tapi Donny tidak satu sekolah denganmu," jawab Papa.


"Nanti Papa jelaskan, ya!" jawab Papa lagi.


Akhirnya, aku pun menuruti apa kata papa, menuruti apa kata Papa, lalu pergi ke kamar untuk berkemas. Dengan mobil pinjaman dari sahabat Papa, kini kami sudah tiba di depan sekolah yang bernama Lionstown Junior HighSchool. Aku memperhatikan ke sekelilingnya. Kulihat ada tem- pat parkir mobil dan sepeda, tempat anak-anak berbaris dan bermain, dan masih banyak lagi. Halamannya pun sangat luas dan hijau. Pohon-pohon yang menghiasinya juga banyak. Beberapa bangku berjejer di antara pepohonan.


"Yuk!" ajak Papa kepada kami untuk keluar mobil. Aku pun melangkahkan kaki dengan malas.


"Kenapa, sih, kamu?" tanya Mas Donny kepadaku. Mungkin dia heran melihatku yang tidak bersemangat.

__ADS_1


Aku menjawab pertanyaannya hanya dengan gelengan kepala "Kamu sakit?" tanyanya lagi.


Aku menggelengkan kepala lagi. Papa melangkah cepat, sementara aku melangkah perlahan-lahan, mengamati setiap detail sekolah ini. Akhirnya, kami sampai di pintu utama.


"Sekarang ke mana, Pa?" tanyaku penasaran. "Ke kantor kepala sekolah. Ayo!" ajak Papa lagi.


"Terima kasih atas kunjungannya, Pak. Kami harap, putri Bapak bisa bersekolah dengan nyaman di sini," kata seorang wanita yang menjabat sebagai kepala sekolah SMP ini. Aku tidak sabar ingin masuk sekolah. Padahal, tadinya aku paranoid banget. Tapi, setelah mendengar penjelasan dari kepala sekolah, paranoidku berkurang sedikit. Katanya, aku harus banyak berbicara dan berinteraksi dengan siswa yang lain agar aku bisa berteman dengan mereka.


"Bye, Dad!" sahutku, saat sampai di depan gedung sekolah. Aku menarik napas panjang dan dalam.


"Bye, Sweetie!" Papa balik menyahut. Aku pun tersenyum. Aku mulai berjalan mendekati pintu masuk. Seorang anak perempuan menghampiriku. Entah siapa namanya, yang jelas dia cantik dan kelihatan baik.


"Hey, kamu pasti anak baru, ya?" tanyanya sambil menyeng- gol bahuku. "Oh, iya. Aku memang anak baru. Hmmm..., nama kamu


siapa?" tanyaku memberanikan diri.


"Ellen, Ellen Cole. Namamu?" dia balik bertanya sambil mengulurkan tangannya.


Aku menjabat tangannya dan tersenyum. "Hana, Hana Dheanita Hasanah! Maukah kamu memberitahuku tentang seluruh isi sekolah ini pada jam istirahat nanti?" "Nama yang bagus. Ummm ..., boleh-boleh. Nanti, aku ajak dua temanku, ya? Mereka baik. Tenang aja," kata Ellen sambil menepuk bahuku. "Oh, baiklah," jawabku tersenyum. Aku dengan terbata- bata berusaha membalas kata-katanya. Mungkin, bahasa Inggris- ku masih kacau, tapi aku akan terus mencoba.


Aku berjalan bersama Ellen masuk ke dalam gedung. Ka- mi pergi ke cafetaria untuk sarapan. Biasanya, kata Ellen, ada jatah sarapan buat anak-anak yang belum makan pagi. Aku ikut saja, itung-itung menemani Ellen menikmati bekal yang dibawanya.


Setelah sarapan selesai, Ellen mengajakku ke loker. Kom- binasi nomor lokerku aneh, entah dari mana asalnya, adalah tanggal ulang tahunku.


"Pagi, Miss!" jawab semua anak serempak.


"Hari ini, kita kedatangan murid baru. Dia dari Indonesia. Ayo, Hana!" kata guru tersebut menatapku dengan lembut dan tersenyum manis. Aku membalas senyumnya dan maju ke depan kelas. Awalnya, kaki dan tanganku gemetar. Tapi, setelah aku berbicara dan memperkenalkan diri di depan, aku menjadi sedikit lebih ringan dan tidak gugup.


"Oke, kamu bisa duduk kembali," kata Mrs. Harold. Na- manya ternyata tercantum di map nilai mengangguk, lalu duduk di sebelah Ellen. yang dia bawa. Aku Pelajaran Biologi kali ini membingungkan. Mungkin, karena aku baru pertama kali belajar Biologi dengan bahasa Inggris dan yang mengajar asli orang Amerika Aku tidak hentinya bertanya pada Ellen. Untunglah, dia hanya cekikikan saat aku tidak berhenti bertanya.


"Apa yang lucu?!" tanyaku sedikit frustati.


"Wajahmu. Kamu terlihat sangat bingung dan kelihatan lugu sekali," kata Ellen hampir melepas tawa. "Ya, lucu sekali. Sudahlah, ayo, bantu aku!" kataku me mohon.


"Oke," jawab Ellen sambil menghentikan tawanya.


"Nah, ini perpustakaannya," kata Ellen saat kami sampai di depan pintu lebar yang menuju ruangan membaca. "Yuk, kita masuk! Kebetulan teman-temanku sudah ada di dalam."


"Baiklah!" jawabku sambil mengikuti langkah Ellen me- masuki perpustakaan.


Ellen menuntunku ke tempat baca di dekat jendela. Di sana, ada dua anak laki-laki.


"Temanmu laki-laki?" tanyaku sambil berjalan di samping- nya.

__ADS_1


"Iya. Tapi, tenang saja. Mereka itu tidak seperti yang lain- nya. Mereka baik sekali, kok. Mereka juga teman yang menye- nangkan," kata Ellen.


Aku pun kini berada di hadapan kedua anak laki-laki itu. Mereka tersenyum kepadaku dan aku membalas senyum mereka. Kami mulai berbincang-bincang, Aku mulai tahu, kenapa Ellen senang bergaul dengan mereka berdua. Satu, karena keduanya tidak membosankan untuk diajak bicara. Dua, mereka supel, lucu, dan gaul. "Eh, kami belum tahu nama kamu!" tanya salah seorang yang berkulit hitam.


"O ya. Namaku Hana. Kalau kalian?" aku balik bertanya seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan me- reka.


"Aku Trace," kata seorang lagi yang berkulit putih dan be- rambut pirang.


"Aku Donald," kata yang berkulit hitam. "Nah, udah saling kenal, kan? Sekarang, kita mau ngapain?" tanya Ellen sambil mengelus lengannya.


"Gimana kalau kamu cerita tentang Indonesia? Menurut yang pernah aku baca di buku, Indonesia itu negara yang sangat indah," kata Donald.


"Setuju!" kata Ellen.


"Baiklah!" jawabku. Aku pun mulai bercerita tentang Indonesia kepada mereka. Tentang alamnya yang indah, pen- duduknya yang ramah, dan masih banyak lagi. Kulihat mereka sangat antusias mendengar ceritaku.


Sehabis makan siang, aku pergi ke kelas sendirian karena jad- walku tidak ada yang sama dengan ketiga teman baruku. Aku dan kebetulan, itu pelajaran yang kurang aku minati, tapi harus diambil. Jadi, aku memilihnya pada jam terakhir.


Di kelas, aku melihat ada anak perempuan yang keren se- kali penampilannya. Tapi, genitnya enggak nahan, deh! Ku- lihat, dia bolak-balik menatapku tajam. Aku mencoba tidak menghiraukannya. Aku terus mencatat semua yang di white board. ditulis guru Kemudian, anak yang duduk di belakangku mencolekku. Aku berbalik dan dia memberiku kertas kecil. Aku memasang wajah "apa-ini-penting." Aku menghadap ke depan lagi dan membuka lipatan kertas itu. Tulisannya: "Quit staring at me! You admire me? Come toward me Ugh! You're a freak! New kid belongs to the nerdy gals .... -_-" Aku meremuk kertas itu dan langsung menatap tajam ke arah anak perempuan yang genit tadi.


Dia balik menatapku dengan tatapan sinis yang luar biasa menyeramkan. Aku hanya menggelengkan kepala menandakan kalau tulisan di kertas itu tidak berpengaruh padaku.


Setelah kelas Geografi, aku keluar membawa buku tulisku. Tapi, aku merasa ada yang mengikutiku. Aku berbalik badan dan benar saja, anak perempuan itu dan teman-temannya ada di belakangku.


"Mau apa kamu?!" tanyaku.


jangan belagu, ya! Anak baru itu enggak bisa main masuk sekolah ini dengan segampang itu! Ada waktu orientasi buat kamu! Enggak sopan sekali!" kata anak perempuan itu.


"Ya, terserah," aku menjawab datar. Mereka kembali mena tapku. Aku hanya membalas dengan ekspresi wajah "aku-tidak- peduli-sama-kalian".


"Kenapa Si Genny?" tanya Trace saat pulang sekolah. Aku berjalan bersama ketiga temanku.


"Enggak tahu!" kataku dengan kesal. "Tenang aja ... Genny memang begitu. Selalu cari gara-gara. Apalagi sama anak baru," hibur Donald, "Kenapa harus begitu?" tanyaku heran, "Entahlah!" kata Trace seraya menghentikan langkahnya.


"O ya, kamu pulang sama siapa?" tanya Trace lagi. "Papa!" jawabku. "Mmm.... paling sebentar lagi dia datang. Kamu mau pulang? Kalau mau pulang, pulang saja," kataku sambil tersenyum.


"Enggak apa-apa nunggu sendirian?" tanya Donald yang muncul di samping kiriku.


"Enggak apa-apa," kataku meyakinkan.


"Oh, ya, sudah. Kita pulang dulu, ya!" kata Ellen. "Sampai besok, ya!" katanya lagi. Ketiga temanku itu melambaikan tangannya dan berlalu.


Bersambung!!! #~

__ADS_1


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian, Dengan Cara Like, Komen, Vote, Gift And Favorit! Author Tunggu Dukungannya. Terimakasih!!! #~


__ADS_2