
Halo Para Pembaca, Selamat Datang Di Karya Pertama Aku🙏, Aku Harap Kakak Semua Suka😍, Dan Jangan Lupa Untuk Senantiasa Mendukung Karya Ini Ya😊
Terimakasih!!!
Selamat Membaca!!! #
Hari ini, hari ulang tahunku yang kedua belas. Senangnya ha- tiku karena ulang tahunku kali ini dirayakan sangat meriah. "Ada kabar gembira buat kalian semua," kata Papa tiba-tiba.
"Kabar gembira? Kabar gembira apa, Pa?" tanyaku pena-saran. "Iya, Pa? Kabar gembira apa?" tanya Mas Donny. Rupanya, dia pun sama seperti aku. Sementara, Mama hanya tersenyum manis, karena aku yakin, Mama sudah tahu kabar gembira itu.
"Papa dapat tugas belajar di Amerika," jawabnya penuh se- mangat dengan mata yang berbinar-binar.
"O ya?!" aku dan Mas Donny hampir tidak percaya men- dengarnya.
"Selamat, ya, Pa!" kataku sambil mencium tangan Papa dan memeluknya. Mas Donny dan Mama pun melakukan hal yang sama.
"Dan, kita sekeluarga akan pindah ke Amerika," ujar Papa lagi.
"APA?! Kita akan pindah ke Amerika?" tanyaku kaget. "Iya!" jawab Papa singkat.
"Yes!" kata Mas Donny sambil mengepalkan tangannya penuh semangat. Rupanya, dia sangat senang dengan berita itu. "Apa aku enggak salah dengar, Pa?" tanyaku lagi untuk me- mastikan.
"Ya, enggaklah, Sayang!" timpal Mama.
"Tapi, Ma..., Pa?" kataku lagi sebagai tanda bahwa aku keberatan dengan keputusan Papa. "Iiih..., banyak protes, deh! Seneng, kali, kita bisa ke Amerika!" kata Mas Donny yang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
__ADS_1
"Tapi, Pa, aku enggak mau sekolah di sana. Aku mau disini aja!" jawabku.
"Sayang, kami enggak mungkin meninggalkan kamu sen- dirian di sini. Kamu masih belum cukup umur untuk kami tinggalkan. Kami juga enggak mau menitipkan kamu kepada Nenek karena Nenek sudah sangat tua untuk mengurusmu,"
ujar Mama lembut. "Tapi, Ma..., aku enggak mau tinggal di sana," rengekku kepada Mama. Berharap Mama mau mendukungku untuk ti- dak jadi pindah ke Amerika.
"Kapan kita pergi, Pa?" tanya Mas Donny masih dengan semangatnya yang membara.
"Dua minggu lagi," jawab Papa.
"Apa?! Dua minggu lagi?!" jawaban mengagetkan itu mem- buatku semakin tidak berdaya menghadapi keputusan Papa yang didukung mayoritas. Akhirnya, dengan berat hati, aku pun mengalah.
Dua minggu terasa begitu cepat. Kami pun harus segera
Dalam perjalanan menuju Amerika, kami transit di Bandara Changi, Singapura. Lalu, dilanjutkan ke Jepang. Aku berpikir, Jepang? Wah, meskipun hanya singgah di sana, aku nanti keluar sebentar, ah, ajak Mas Donny untuk beli suvenir.
Setelah sampai di bandara internasional Jepang, para pe- numpang diperbolehkan turun satu jam untuk berkeliling dan mencari udara segar. Aku mengajak Mas Donny menemaniku membeli suvenir. Badan kami terasa kaku dan pegal-pegal ka- rena duduk di dalam pesawat selama delapan jam.
Setelah membeli beberapa suvenir, kami pun perjalanan pesawat dan melanjutkan perjalanan.
"Hey, Hana! Bangun!" Mas Donny membangunkanku di an- tara sinar pagi yang menembus jendela kecil pesawat. "Ya...!" aku menjawab sedikit kesal.
Semua penumpang satu per satu turun dari pesawat un- tuk melanjutkan perjalanan mereka masing-masing. Kami pun segera berkemas dan turun seperti mereka.
O ya, kami berada di Amsterdam, Belanda. Ini transit ketiga dan kami harus menunggu sampai sepuluh jam untuk bisa naik pesawat berikutnya. Akan sangat membosankan jika tidak ada aktivitas yang kami lakukan. Oleh karena itu, kami memanfaatkan waktu sepuluh jam ini untuk jalan-jalan dan berbelanja suvenir khas Belanda. Aku terkesima pada kota ini, sangat klasik dan tentunya menarik untuk dijelajahi.
__ADS_1
Delapan jam sudah, kami menunggu penerbangan berikutnya. Lama sekali rasanya jarum jam bergerak. Karena bosan, aku mencoba memejamkan mata sambil mendengarkan MP3-ku, Mas Donny sedang asyik dengan PSP-nya, sementara Mama dan Papa hanya bercerita-cerita.
"Announcement! Attention to the American Airlines YJ 143 passengers, your plane is now boarding. First call to the American Airlines YJ 143 passengers, your plane is boarding. Thank you for your attention!" kata seseorang dengan pengeras suara sehingga terdengar ke seluruh penjuru bandara. Bahasa Inggrisnya ber- logat British yang sangat kental.
Kami segera masuk ke pintu gerbang dan berjalan melewati lorong yang berujung pintu pesawat. Pesawat yang ini lebih besar. Ada dua tingkat; lantai atas untuk penumpang VIP dan lantai bawah untuk penumpang bisnis dan ekonomi. Aku dan keluargaku dapat di lantai bawah. Meskipun tidak jauh beda dengan lantai atas, tapi aku ingin sekali duduk di tempat orang-orang yang mendapat tiket VIP. Jadi, bisa sedikit merasa sederajat lebih tinggi. Walaupun, tidak akan berpengaruh de- ngan penampilanku.
Setelah peraturan dan cara-cara evakuasi ditunjukkan, pe- sawat lepas landas. Aku berdoa dalam hati agar selamat sampai di tujuan. Tempat yang dituju sekarang lebih jauh dan lebih panjang perjalanannya. Kata Papa, saat sampai di Chicago, kami berangkat lagi ke Urbana, tempat yang akan kami tinggali nanti.
"You want something to eat, Doll-face?" tanya seorang pramugari bernama Brittney.
Aku terdiam karena dia baru saja memanggilku "doll-face". Memangnya mukaku seperti boneka? Kalau boneka yang lucu dan imut-imut, sih, tidak masalah. Tapi, jika yang dia maksud, boneka yang jelek dan lapuk, awas saja!
"Yeah, I want a glass of orange," jawabku masih belum meng- erti apa yang tadi dia katakan. "Okay!"
"Here you go, Muffin," kata Brittney lagi sambil berlalu, men- dorong cart makanan.
Aku terdiam lagi. Sekarang, dia bilang aku "muffin"? Apa maunya, ya?! Kemudian, aku menatap Papa. Papa menjelaskan maksud perkataan pramugari tadi.
"Oh, muffin dan doll-face itu kata lain dari 'sayang' atau 'manis'. Jadi, karena tidak tahu namamu, dia berkata 'manis' kepadamu! Itu biasa di Amerika. Malah, masih banyak lagi. Se- perti sweetheart, sweetie, honey, baby, baby-doll, sunshine, pump- kin, dan dua kata tadi," beri tahu Papa sambil mengelus pung- gungku.
Nah, sekarang aku mengerti maksud kata-kata itu. Aku jadi malu sendiri.
Bersambung!!! #~
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian, Dengan Cara Like, Komen, Vote, Gift And Favorit! Author Tunggu Dukungannya. Terimakasih!!! #~
__ADS_1