
Halo Para Pembaca, Selamat Datang Di Karya Pertama Aku🙏, Aku Harap Kakak Semua Suka😍, Dan Jangan Lupa Untuk Senantiasa Mendukung Karya Ini Ya😊
Terimakasih!!!
Selamat Membaca!!! #
Musim panas sudah mulai menyapa.
Hinaan "pangeran kesiangan" dan "putri cengeng" masih belum usai juga.
Malah, semakin parah.
Namun, aku dan Trace sudah tidak terlalu menanggapi hal itu.
Kami hanya tersenyum bila diledek ataupun digodain, "Trace, you have to see this!" kata Donald tiba-tiba, saat aku dan Trace berjalan di lorong sekolah.
"Kenapa, sih? Kok, kayaknya penting banget?" tanya Trace kaget.
"You, too," tambah Ellen sambil menatapku.
"Aku?" tanyaku ikut kaget.
"Ya, kamu" sebelum Ellen menyelesaikan kata-katanya, bel sekolah berbunyi.
"Oh My Lovely God, can this school give us a moment?! keluh Ellen kesal.
"Alright, let's settle this.
Meet us after lunch.
Or maybe, if you already figured it out before meeting, tell us.
Okay, bye, Hana! Bye, Bro! Donald menepuk bahu Trace.
Ellen melambaikan tangannya ke arahku.
Aku dan Trace berbagi rasa penasaran sekarang.
Kenapa mereka begitu ingin mengajak kami melihat sesuatu? Aku masuk ke dalam kelas.
Semua anak menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Aku melihat mereka seperti melukiskan tatapan "ada yang salah".
Mereka hanya meng geleng.
Beberapa detik kemudian, Trace masuk.
Semua serentak bersorak, kecuali aku, karena sepertinya mereka semua menyoraki aku dan Trace.
Untung saja, kelas kembali tenang saat guru kami, Mrs. Michael masuk ke dalam kelas.
"Good morning, Class Mrs. Michael menyapa kami.
"Good morning, Ma'am!" kami pun membalas sapaan Mrs.
Michael dengan kompak.
"Hari ini kita akan belajar pengetahuan sosial.
Berpasang pasangan, ya?" kata Mrs. Michael memulai pelajaran.
"Baik, Ma'am," kelas menjawab lagi.
"Ibu pilih," Mrs. Michael menyelesaikan penjelasannya.
"Oh, Man keluh satu kelas berbarengan lagi.. "No complain," kata Mrs. Michael.
Kelas diam dan mengangguk menyetujui.
Kali ini, tidak mungkin Mrs. Michael memasangkanku dengan Trace.
Jelas saja, urutan nama kami jauh berbeda.
Nama Trace diawali huruf T sementara namaku diawali huruf H.
Dalam hati, akutersenyum.
Tapi, senyum itu berhenti seketika, ketika Mrs. Michael berkata, "Diacak."
Nama anak-anak sudah disebut satu-satu, kecuali lima orang lagi.
Pasangan-pasangan yang sudah dibagi terdiri atas dua orang; perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan laki-laki, laki-laki dengan perempuan.
Sisa lima orang.
Berarti salah satu dari pasangan harus bertiga.
Laki-lakinya ada tiga orang, sementara sisanya dua orang perempuan.
"Diana, Daniel, dan Alex," Mrs. Michael membagi pasangan.
Aku menepuk keningku dengan telapak tanganku.
Lagi-lagi, berdua dengan Trace. "Sisanya, Hana dan Trace."
Kelas spontan bersorak "Huuu!" kepada kami berdua.
Trace malu dan menatapku.
Aku pun malu.
__ADS_1
Bayangkan saja, disana ada Mrs. Michael, yang aku yakin sedang bertanya-tanya dalam hati, ada apa dengan aku dan Trace sampai-sampai satu kelas bersorak-sorai.
"What's wrong, Guys?" tanya Mrs. Michael setengah heran, setengah tersenyum.
"Them," salah satu murid yang bernama Devonne menunjukku dan Trace.
"Kenapa dengan mereka?" tanya Mrs. Michael lagi.
"Tanya saja kepada mereka berdua," jawab Ray.
Aku dan Trace menggelengkan kepala saat Mrs. Michael menatap kami berdua.
Kemudian, dia menenangkan suasana dan pelajaran kembali serius.
"You still don't know?" tanya Ellen kebingungan saat aku, Trace, Ellen, dan Donald makan siang di kantin sekolah saat isti- rahat.
"Tapi, Len, kenapa anak-anak selalu berteriak heboh saat aku dan Trace berdua?" tanyaku penuh rasa heran.
"Iya, Len.
Aku enggak ngerti, kenapa setiap aku dan Hana berdua atau dibuat jadi dekat satu sama lain, pasti anak-anak langsung, deh, cheering like phsyco," keluh Trace.
"Oh, Lord.
Kenapa kalian terlalu lugu buat mengerti, ya?" tanya Ellen sedikit kesal.
Besok libur musim panas.
Namun, Donald dan Ellen belum juga memberitahuku kenapa anak-anak sekarang suka meneriakiku dengan semangat saat aku berdekatan dengan Trace.
Dua hari terakhir ini juga, Trace menjauhiku.
Entah apa alasannya.
Yang jelas, ketika kucoba untuk berbicara dan bercanda, dia hanya tersenyum kecil dan pergi.
Saat istirahat, aku menghampiri Trace yang sedang berdiri di depan sendirian.
Aku memberanikan diri mengajaknya bicara agar aku tahu apa alasannya, mengapa dalam dua hari terakhir ini dia lebih banyak menjauhiku.
"Hey, Trace!" sapaku bahagia.
"Hey, Han! Maaf, aku harus ke kelas selanjutnya," Trace buru-buru minta izin dan berbohong dengan alasan ada kelas.
Padahal, setelah istirahat ini, semua siswa diperbolehkan pulang lebih cepat.
"Tapi, tidak ada kelas setelah istirahat, Trace.
Tunggu, deh, "aku menghentikan langkah Trace.
"Look, if you really need to talk, go now! I don't want people think I LOVE you more than a friend.
Okay, now maybe you're right, it's embarrassing to be humiliated by those lame names and I can't you.... Never mind.
"But, I wasn't even "aku hampir menyelesaikan kalimatku sampai Trace memotongnya lagi.
"You LOVE mee.
Why didn't you be honest?" Trace seakan- akan baru saja meledakkan hatinya di depanku.
"WHAT?!" aku terperanjat kaget setengah mati.
"I? You? LOVE?! No, there's no way I LOVE you more than friends.
That's just wr "Ayolah, jangan ditutup-tutupi lagi! Kamu naksir sama aku? Aku enggak kenapa-kenapa, kok.
Tapi, kamu seharusnya jujur.
Enggak perlu ditutupin dari aku.
Kita teman, dan teman enggak saling nyimpan rasa suka berlebihan.
Meskipun yang kadang Aku memotong kata-kata Trace.
"Look, I DON'T like you or LOVE you more than friends, Trace.
Wait! Is it because Genny? aku bertanya sambil menatap Trace tajam.
"Tapi.... Ya, Genny memberitahuku.
Satu sekolah sudah tahu.
Bahkan, Donald dan Ellen ingin membicarakan ini sama kita.
Aku malu selalu diejek yang bukan-bukan dan aku capek, Han.
Sekarang kamu lebih baik jujur aja," bujuk Trace.
"Aku.... Terus, kamu percaya begitu aja? You know what? I'm tired, too.
But, I never like you as more than a friend.
And, I can't believe you've believed Genny! aku meninggalkan Trace tanpa kata, menuju lokerku, lalu mengambil tasku, dan segera pulang tepat saat aku mulai menangis.
Bel pun berbunyi.
Saat itu juga, aku keluar dari sekolah dan menuju parkiran menunggu Papa dan Mas Donny.
Sampai di apartemen, aku merebahkan diri di atas kasur kamarku dan kembali menangis.
Kenapa Genny tega sekali membuat isu seperti itu dan yang aku enggak percaya, kenapa Trace dengan segampang itu percaya pada kata-kata Genny?! Aku capek sekolah di sana.
__ADS_1
Ternyata, Trace, sahabatku sendiri, sudah berpikir kalau aku suka, naksir lebih tepatnya, sama dia.
Padahal, aku sama sekali tidak pernah ada rasa suka lebih dari teman.
Walaupun, sempat ada, tapi sudah lama sekali.
Itu pun sekadar suka.
Dan sekarang, sudah tidak sama sekali.
Aku selalu ingat pesan Mama.
Kami masih anak-anak. Urusan sekolah jauh lebih penting daripada pacaran.
Aku tidak mau waktu belajarku terganggu cuma karena suka sama seseorang.
Hari pertama libur musim panas.
Aku masih kesal dan tidak percaya atas kabar yang tersebar di sekolah, terutama isu yang disebarkan Genny.
Sampai-sampai, Trace percaya dengan semua bualan mereka.
DING! DONG! Bel apartemen berbunyi.
Mas Donny dan Papa sedang belanja di supermarket, Mama sedang mandi, Hanya aku yang sedang tidak sibuk.
Akhirnya, aku membukakan pintu.
Saat kubuka, ada wajah ketiga temanku.
Aku ingin menutup pintu kembali saat tiba-tiba, Donald menarikku keluar.
"Mom, I'm gonna be outside, okay?" aku berteriak agar Mama mendengar.
"Okay, Honey," sahut Mama.
Di luar apartemen, Ellen mengajakku duduk di bangku yang berada persis di depan rumahku.
Aku diam saja tanpa suara.
Aku masih kesal dengan mereka, Trace khususnya.
"Say it!" suruh Ellen sambil memukul lengan Trace.
"Okay!" kata Trace seraya mengelus lengannya yang kesakitan.
"Sekarang?" "Enggak, tahun depan, Trace," kata Donald kesal.
"Ya, iyalah.
Aduh!" "Han, aku minta maaf, ya. Aku udah nuduh kamu.
Terus, terlalu percaya sama gosip Si Genny.
Terus, udah kepedean bilang kamu naksir aku gara-gara gosip itu, udah buat kamu nangis dan capek sama semuanya, udah buat kamu kesal, udah buat kamu...." Sebelum Trace menyebutkan satu persatu kesalahannya, aku tersenyum dan mengangguk.
"Udah .... aku udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf.
Tapi, aku masih enggak percaya kenapa kamu bisa masuk perangkap Si Genny dan dengan segampang itu memercayai segala kebohongannya.
Kenapa, Trace?" tanyaku dengan nada kesal.
"I don't know.
Maybe, I was really mad and didn't know what to deny.
Then, I believed it easily.
For the last time, I'm really truly sorry.
"Trace meminta maaf lagi.
Aku tersenyum.
Kami pun senang.
"Astaghfirullah, sampai segitunya Si Genny bikin berita.
Mana Trace pede banget nuduh kamu.
Hahaha...." Sena berkomentar setelah aku selesai bercerita.
"Hahaha.... Tau tuh! Dia lagi kerasukan devil, kali, waktu itu.
Aku maafin untungnya.
Si Genny buat aku kesal dari ujung kepala sampai ujung jempol kaki.
Waktu itu, rasanya aku pengin ajak ribut Si Genny," aku ikut berkomentar yang tidak sedap.
"Tapi, kok, kamu langsung nangis pas Trace nuduh kamu?" tanya Chacha.
"Namanya kesal, Cha.
Aku udah enggak tahan.
Makanya, aku nangis.
Untung saja enggak sampai berhari-hari," aku menjawab pertanyaan Chacha sambil mengganti posisi duduk.
Bersambung!!! #~
__ADS_1
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian, Dengan Cara Like, Komen, Vote, Gift And Favorit! Author Tunggu Dukungannya. Terimakasih!!! #~