
Beberapa serangan yang Dita terima malam itu menyisakan luka yang cukup serius. Bagian kepala yang membentur tembok tepatnya di sekitar bagian belakang telinganya harus mendapat dua jahitan, area pipinya masih memar, luka lecet di kedua pergelangan tangannya, serta beberapa luka lebam di tubuhnya masih terlihat menyakitkan.
Melihat Davian terus menemani Dita, tiba-tiba Adrian teringat sesuatu yang menurutnya sangat penting.
“Dav. Lu udah kabarin keluarganya ?” tanya Adrian sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
“Gua bingung cara bilangnya, Om. Malah gua bilang ke sekretaris gua kalo dia ikut tugas ke luar kota” Davian pun berjalan menuju sofa tempat Adrian.
Di ruangan rawai inap tipe VIP itu, Davian dan Adrian sama-sama diliputi rasa was-was melihat kondisi Dita. Meski kini Dita terlelap sebab efek obat-obatan yang Adrian berikan, namun tetap saja tubuhnya yang ‘babak belur’ itu menimbulkan kecemasan bagi mereka.
“Ya udah. Tunggu dia sadar aja dulu. Entar lu jelasin lagi ke dia. Tapi, Dav. Om gak paham kenapa dia bisa sama preman-preman tadi ?” Adrian berusaha bangun lalu memberikan tempat duduk untuk Davian.
“Gua juga gak tau, Om. Tapi emang hari ini dia gak ke kantor. Gak ada kabar-” balas Davian terdengar putus asa.
“Lu gak nyariin dia ?” sela Adrian.
“Y-ya gue kebetulan lagi sibuk banget, Om” Davian kikuk. Karena memang jika Davian sudah ‘tenggelam’ dengan pekerjaannya, Ia selalu menjadikan pekerjaanya sebagai prioritasnya.
“Ckck. Lu masih belum berubah ya, Dav. Udah berapa kali lu putus sama cewek gara-gara lu terlalu cuek ke mereka”
“Apa sih, Om ?” Davian tak mengerti maksud ucapan Adrian.
“Ya gitu. Lu terlalu cuek. Seenggaknya lu bisa mastiin kabar orang-orang di deket lu, Dav. Ini juga masih untung dia dibawa ke rumah sakit gue” jelas Adrian sambil mengupas pisang yang ada di atas nakas.
“Entar dah gue cobain sarannya” balas Davian seraya mencomot pisang yang Adrian selesai kupas “makasih, Om” ucapnya tanpa merasa bersalah melihat Adrian kehilangan setengah bagian pisangnya.
“Lu mendingan pulang dulu, Dav. Jangan sampe ngerawat orang sakit jadi ikutan sakit” ucap Adrian sambil melahap sisa pisang di tangannya.
“Iya deh, Om. Gua balik ke apartemen aja. Lebih deket kalo dari sini. Titip PA gua, Om” pamit Davian seraya menggulung lengan kemejanya.
“Iye. Dah sono” pungkas Adrian.
#
Kembali tertahan di dalam kantor polisi rasanya membuat Zake sangat frustasi.
“Sial*n. Bos Juan pasti bakal bun*h gua” ucapnya sambil mengusap kepala plontosnya. Ketika itu, Ia tak sengaja melihat ke arah salah seorang anak buahnya yang ternyata terus menatapnya.
__ADS_1
Emosinya mendadak memuncak dan satu pukulannya akhirnya mendarat di kepala anak buahnya tadi “Napa, lo ? Ga seneng lu sama gua, hah?” pekik Zake.
Melihat hal itu, kedua anak buah Zake yang lain mencoba melerai keributan itu. Namun, Zake semakin menggila dan berteriak dengan kencang.
“Heh ! Heh !” dua orang polisi datang dan menengahi mereka “ribut mulu !” gertak salah seorang polisi itu
“Oi ! Lu berempat tau gak ? Bos kalian udah nyuruh kita ngasih pelajaran buat ket*lolan kalian. Cuma ya… Kalian hoki aja kita lagi males ngurusin kalian” ungkap seorang polisi lagi.
“Tuh ! Denger ! Mangkanya kalian diem. Tinggal tunggu ampe bos kalian dateng besok !” ucap temannya lagi. Kedua polisi itu kemudian meninggalkan mereka terkurung di dalam sel yang dingin.
Zake dan ketiga anak buahnya saling bertatapan. Sorot mata mereka memancarkan kebingungan dan kekhawatiran akan reaksi Juan kelak.
Keesokan harinya, Juan benar-benar datang ke kantor polisi. Kemarin Ia sudah dihubungi oleh petugas yang mengurus Zake dan anak buahnya beberapa saat setelah meringkus mereka di rumah sakit.
Dengan membayar uang tebusan dan ‘uang terima kasih’ kepada petugas di sana, Juan membawa pulang kembali keempat anak buahnya.
Benar. Mereka kembali berada di ruangan yang pengap dan tanpa pentilasi udara itu lagi. Kali ini Juan tidak lagi bertindak kasar. Ia hanya menatap keempat anak buahnya yang berdiri di hadapannya dengan tatapan malas.
“Zake” ucapnya datar.
“Ya bos…” balas Zake tanpa berani menatap Juan yang duduk di kursi di hadapan mereka.
“A-ampun Bos !” Zake berlutut di hadapan Juan. Ketiga anak buahnya juga terlihat berlutut seperti Zake.
“Well. Kalo lu bawa lagi si Alexxa balik, gua pikirin lagi kerjaan lu-”
“S-siap Bos!” Zake terburu-buru menjawab ucapan Juan.
“Cewek si Davian itu… Masih idup ?” tanya Juan.
“Masih Bos. Cuman kemaren dia sempet kritis” jawab Zake.
“Bodo, lah. Penting si Davi sial*n itu udah dikasih pelajaran. Sekarang, cari aja si Alexxa” pekik Juan. Setelahnya, Ia meninggalkan ruangan itu begitu saja.
Anak buahnya yang masih di sana hanya berdiri namun merasa lega sebab Juan masih mengampuni mereka.
#
__ADS_1
Davian kembali menyempatkan diri menjenguk Dita setelah mengirim beberapa email pekerjaan pada sekretarisnya di kantor. Meski Adrian sudah memberi tahu bahwa Dita sudah siuman dan kini sudah lebih baik, Ia tetap ingin melihat kondisi Dita dengan mata kepalanya sendiri.
Kemarin ketika Dita hendak dipindahkan ke ruang rawat inap, Davian menjadikan dirinya sebagai wali atau penanggung jawab pasien. Sehingga kini dirinya bisa menjenguk Dita tanpa terikat jam besuk rumah sakit.
Tiba di sana, Davian terkejut ketika melihat Dita berdiri di tepi jendela. Cahaya matahari yang terik itu tak membuat Dita bergerak sedikitpun dari posisinya. Sepertinya Dita tengah melamun sebab Davian yang semakin masuk ke ruangan itu saja tak Dita gubris.
“Ran ?” panggil Davian
“Pak Davi ? Udah dari tadi di sini ?” Dita tersentak
Benar saja. Entah apa yang menganggu pikiran Dita sampai-sampai keberadaan Davian saja tak Ia sadari.
“Pasti sakit ya, Ran?” Davian tak menjawab pertanyaan Dita. Ia menatap Dita dari ujung kepalanya hingga ujung kakinya “maafin saya…” tambahnya.
“Itu…” Dita menggantung ucapannya. Sakit ? Ya memang sakit. Namun, Ia pernah merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan dari hanya sekadar luka-lukanya itu.
Apalagi Dita kini terpaku melihat tatapa sendu Davian, Ia takut jika ucapannya nanti akan membebani Davian.
“Cuma luka kecil kok, Pak. Gak aneh, gak sakit” balas Dita sambil menerbitkan senyum palsu.
“Maksudnya ?” Davian keheranan.
“Eh ? Maksud saya… Saya baik-baik aja, Pak” jika diperhatikan, gesture tubuh Dita seolah seperti tengah menutupi sesuatu dari Davian.
“Ya udah. Sekarang, kamu tenang aja. Fokus sama kesehatan kamu dulu” ucap Davian seraya berjalan mendekati jendela di dekat Dita “Ngomong-ngomong, Ran. Saya belum kabarin keluarga kamu. Saya malah bilang kamu lagi tugas ke luar kota, Ran. Sorry ya. Nanti kita lurusin lagi masalah ini” tambahnya.
Dita kembali menatap pemandangan di luar jendela dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Gak apa-apa, Pak. Saya aja nanti yang kabarin” ucap Dita datar
“Kamu juga gak bisa saya hubungin, Ran. Hape kamu gak aktif” balas Davian lagi
Tatapan mata Dita melebar. Ia baru teringat bahwa ponselnya mungkin terjatuh ketika anak buah Zake menculiknya. Entah karena efek obat-obatan atau trauma karena kejadian malam itu, Dita benar-benar lupa tentang ponselnya.
“Kenapa, Ran ?” tanya Davian lagi kini menghadap kearah Dita
“Mmm… Kayaknya hape saya ilang deh, Pak” jawab Dita ragu
__ADS_1
“Di mana ?” Davian terkejut
Dita kemudian menjelaskan kemungkinan ponselnya jatuh di dekat pelataran mess. Setelahnya, Davian meminta Dita untuk tak perlu terlalu memusingkan masalah ponselnya dan hanya fokus pada kesehatannya saja.