UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Mengguncang Jantung


__ADS_3

Setelah beberapa jam lamanya Zake menempuh perjalanan, malam itu tibalah dirinya di depan bangunan yang sudah tak asing baginya.


Para penjaga di sana yang masih merupakan anak buah Juan terlihat menyapa Zake dengan mengangkat tangan mereka.


Zake terus melanjutkan langkahnya hingga Ia bertemu dengan dua orang penjaga. Benar, mereka lah yang bertugas menjaga ruangan tempat Alexxa berada.


Kedua orang itu menyambut kedatangan Zake dan mulai membuka obrolan.


“Zake ! Gua turut prihatin soal adek lo….” ujar salah seorang pria


“Gak usah dipikirin. Salah sendiri dia ngob*t sambil mab*k” sahut Zake


Kedua pria di sana hanya saling melempar tatapan. Mereka kehabisan kata-kata untuk menjawab ucapan Zake.


“Gimana si curut ?” Zake melirik ke arah pintu yang terkunci


“Dia ? Aman” ucap pria di sebelah Zake sambil membuka kunci pintu itu.


Dibalik pintu itu, Alexxa terlihat tengah melahap sepotong roti tawar. Namun, pemandangan apa itu ? Meski Alexxa memang memakan roti itu, tatapannya sangat hampa. Ia benar-benar terlihat tak menikmati apa yang Ia suapkan ke mulutnya.


“Woi ! Curut. Makan yang bener! Ada orang makan sambil bengong gitu ?” pekik Zake.


Pria itu kemudian menarik sebuah kursi dan memilih duduk sedikit lebih jauh dari Alexxa.


Alexxa melirik Zake perlahan. Rasa putus asa terlihat jelas pada sorot matanya.


Zake mengernyitkan dahi melihat reaksi Alexxa. Ia baru kali ini merasa ngeri sendiri melihat gadis di hadapannya.


“Pak Zake…” lirih Alexxa


Zake batal menyulut rokok yang sudah Ia apit dengan bibirnya. Ia keheranan menatap Alexxa yang baru saja memanggilnya.


“Pak Zake kenapa gak bun*h saya aja ?” ujar Alexxa dengan raut wajah sangat datar.


Zake terkesiap mendengar perkataan Alexxa barusan. Kalimat cacian dan makian yang biasanya enteng Ia ucapkan itu kini seolah hilang dari isi kepalanya.


“Pak Zake…” Alexxa mencoba bangkit dari tempat tidur usang itu.


Ia mengumpulkan tenaganya untuk kemudian mendekat ke arah Zake. Alexxa terlihat berjalan dengan menyeret satu kakinya yang ketika itu memang terasa sakit.


“K-kenapa saya, Pak ?” lirih Alexxa. Gadis itu kemudian menghentikan langkahnya tepat di hadapan Zake


“Ngapain lu ?” bentak Zake sambil mendorong bahu gadis itu.


Alexxa tak tinggal diam. Ia mencengkram lengan Zake lalu menariknya menuju lehernya. Gadis itu seolah ingin Zake mencekiknya saat itu juga.


“Bun*h saya aja, Pak. Bun*h !” teriak Alexxa

__ADS_1


“G*la lu ya !” Zake berusaha melepaskan cengkraman Alexxa


“Gak ! Justru sebelum saya g*la, saya minta kalian bun*h saya sekalian !” Alexxa benar-benar terlihat seperti orang yang berbeda dari yang Zake tahu selama ini


“Eh, curut ! Lo gak usah sok nantangin gua buat bun*h elu ya ! Kalo bukan karena bokap lu-” Zake tiba-tiba menghentikan ucapannya.


“Ayah saya kenapa ?” tanya Alexxa dengan lantang. Tatapan tajam juga Ia pusatkan seluruhnya ke arah Zake.


“Cih. Lu pikir orang tua yang tinggal sama lu beneran bokap nyokap lo, huh ?” bisik Zake beberapa senti dari telinga Alexxa.


Mereka saling berbalas tatapan mengerikan. Alexxa benar-benar terlihat ingin menerkam Zake. Sementara pria berkepala plontos di hadapannya hanya memberikannya seringai angkuh.


Sebuah tanda tanya besar mencuat di benak Alexxa.


Kebenaran apa yang belum Ia ketahui tentang orang tuanya ?


#


“Ujannya gak berenti-berenti…” gumam Dita.


“Hm ? Kamu bilang apa, Ran ?” tanya Davian sambil sedikit melirik gadis di sampingnya.


“Itu… Hujannya, masih deres banget, Pak. Saya juga jadi gak enak kan pak Davi jadi anterin saya…” jawab Dita setengah yakin


Memang. Derasnya hujan masih menemani perjalanan mereka malam itu. Hingga mobil SUV hitam itu tiba di komplek apartemen pun, hujan itu masih tetap setia bersama mereka.


“Kamu ada payung, Ran ?” tanya Davian sambil terus mengemudikan mobilnya.


“Gak ada ?” tanyanya lagi. Padahal pria itu jelas tahu apa yang akan Dita katakan padanya.


Davian akhirnya menghentikan laju mobilnya tepat di depan lobby gedung.


“S-sebentar…” Davian terlihat berusaha keras meraih sesuatu di belakang kursi kemudi.


Sebuah tanda tanya timbul di benak Dita melihat tingkah Davian.


“Nih…” ujar Davian. Ia memberikan sebuah gulungan jas hitam pada Dita, “saya juga gak ada payung. Pake ini aja dulu. Bersih, kok”


“Oh. Iya, pak. Makasih” jawabnya seraya menerima niat baik Davian. Gadis itu lalu bergegas membuka sabuk pengaman yang melintang di tubuhnya.


Melihat Dita berlindung dari hujan menggunakan jas pemberiannya, Davian merasa sedikit lega sebab setidaknya air hujan tak menyentuh kepala Dita yang berhias perban.


Sebentar, perasaan aneh apa ini ? Davian mendadak merinding ketika ingatan tentang ‘mimpi anehnya’ terlintas di pikirannya.


“Ish… Lu kenapa sih, Dav !” sungutnya sambil mengedipkan matanya dengan cepat. Pria itu lalu menyalakan kembali mobil SUV kesayangannya.


#

__ADS_1


Langit terlihat indah dengan kilauan jutaan bintang. Bulan sabit juga malu-malu menampakkan dirinya dan memilih bersembunyi di balik awan. Pemandangan itu sangat menakjubkan terlebih jika dinikmati dari ketinggian.


Seperti dari atap bangunan itu, seorang wanita dengan midi-dress berwarna mint terlihat terus menatap langit malam yang memamerkan pesonanya.


Tetapi, seperti ada yang tak biasa dengan wanita itu. Pasalnya, langkah kakinya terus menuntunnya menuju tepian gedung.


“Karina…” terhuyung-huyung seorang pria berteriak dari kejauhan. Tampaknya Ia baru saja tiba di atas gedung itu.


Wanita itu berhenti sesaat. Langkahnya hanya terpaut beberapa senti saja dari tepian gedung. Angin malam yang sejuk menerpa rambut panjangnya yang halus. Lirikan matanya yang seperti tak bernyawa itu kini terarah pada seseorang yang baru saja memanggilnya.


“Karina... Tolong, berhenti…” ucap pria itu. Dirinya juga melangkahkan kakinya perlahan demi mendekati wanita itu.


Untuk sesaat pria itu terlihat seperti James, ayah Davian. Namun, Ia tampak beberapa tahun lebih muda dari James yang sudah kita kenal. Rambutnya saja masih hitam seluruhnya. Berbeda dengan James yang sekarang, rambutnya sudah banyak yang memutih.


“Sayang…” lirih wanita itu.


Ia lalu membalik badannya, “tolong jaga anak kita…” senyuman tipis kemudian terbit dari sudut bibir wanita itu.


“Karinaa…” teriak James. Aneh. Tubuhnya seolah membeku sepersekian detik setelah teriakannya tadi.


Matanya terbelalak menyaksikan tubuh wanita bergaun mint itu terjun bebas dari atap gedung.


“Karina…” James terus mengerang. Ia terbaring lemah di tempat tidurnya dan masih belum sadarkan diri. Bulir keringat dingin juga terus membasahi dahinya.


Adrian yang baru tiba di ruangan kamar itu sontak dikejutkan oleh erangan keras James. Segelas air minum yang baru saja Ia ambil bahkan tak jadi Ia teguk.


“Om…” Adrian menyeka dahi dan leher James yang nyaris basah kuyup.


‘Apa ke rumah sakit aja, ya ? Kasian banget si Om kalo dibiarin di rumah…’ pikir Adrian sambil mengganti kain untuk menyeka keringat James.


Setelah banyak pertimbangan dalam pikirannya, Adrian meraih ponselnya dan langsung mencari kontak Davian untuk Ia hubungi.


Ditengah derasnya hujan, nama Om Adrian terpampang nyata pada head unit mobilnya. Tanpa lama menunggu, Davian segera menjawab panggilan masuk yang kerap membuat jantungnya berdegup lebih kencang itu.


“Ya, Om ? Ada apa ? Davi masih di jalan…” sambar Davian


“Oh. Cepetan ya. Om tungguin.” balas Adrian singkat. Panggilan itu lalu Adrian putuskan tanpa salam penutup apapun.


Setelah mendapat panggilan singkat itu, Davian memacu mobilnya lebih cepat. Dalam pikirannya, Ia hanya ingin secepat mungkin tiba di rumah James dan memastikan kembali kondisi ayahnya.


Di rumahnya, James kembali terlelap setelah Adrian memberinya obat penenang dengan dosis sekecil mungkin. Ia juga sama khawatirnya melihat kondisi James yang semakin sering meracau.


“Om Ad- !” ucap Davian ketika tiba di kamar tempat James terbaring


“Sstt…” Adrian mengacungkan jari telunjuknya di dekat bibirnya. Isyarat itu juga dengan mudah dipahami oleh Davian.


Kedua pria itu akhirnya beranjak meninggalkan kamar itu dengan mengendap-endap demi menjaga ketenangan kamar.

__ADS_1


Di depan kamar, Adrian baru memberi tahu apa yang mengganggu pikirannya terkait kondisi James. Beruntung, Davian memahami apa yang Adrian khawatirkan.


Tanpa banyak pertanyaan lagi, Davian menyetujui saran Adrian untuk merawat James di rumah sakit secepat mungkin.


__ADS_2