UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Trap


__ADS_3

“Wah…” Dita mengedarkan pandangannya yang takjub setelah melihat ruangan apartemen, “Saya beneran boleh tinggal di sini, Dok ?”


“Perlu saya tanyain lagi ke om James ?” Adrian jelas mengajak Dita bercanda


“Hihi !” Seringai lebar yang manis terbit dari bibir Dita ketika mendengar jawaban Adrian.


“Barang-barang kamu udah di sini semua, kan ? Gak ada yang ketinggalan di mobil ?” tanya Adrian


“Iya, dok. Udah lengkap semua” balas Dita sambil menengok tumpukan kotak di dekat pintu apartemen, “ini biar saya aja yang rapiin, dok. Dokter istirahat aja. Udah ngantuk banget kayaknya. Apalagi dokter abis masuk malem…”


“Wah. Beneran, nih ?” Adrian memang terlihat kelelahan


“Iya, dok. Dibantuin ke sini juga udah makasih banget” jawab Dita ramah


“Okay, deh. Ini aksesnya, ya. Satu buat kamu, satu lagi Davi yang pegang” ucap Adrian sambil menyerahkan sebuah kartu pada Dita, “balik ya. Dah, tetangga !”


Setelahnya, Adrian benar-benar pergi meninggalkan Dita. Dari tempat Dita berdiri sekarang, Ia bisa melihat Adrian dengan santai memasuki pintu yang berada beberapa meter dari sebelah kanan ruangannya.


Tuhan… Terima kasih, batin Dita


Kotak demi kotak Dita pindahkan menuju sisi lain hunian barunya itu.


“Huh… Huh…” nafas Dita tersengal-sengal, “engap banget gue mindahin barang-barang. Rapiinya mah entar aja, dah. Capek… Huh…” ucapnya sambil melemparkan tubuhnya di sofa.


Sambil mengatur nafasnya, Dita meraih ponselnya yang tadi sempat beberapa kali bergetar.


“Wah… Si Rosie di event itu juga ?” Ia tercengang ketika membuka pesan dari adiknya itu.


“Kak… Ini siapa… Ganteng…” Dita lalu terkekeh setelah membaca isi pesannya. “Bos gue itu, haha” Dita kembali terkekeh.


Di layar ponselnya juga terlihat jelas beberapa foto yang Rosie kirimkan. Momen ketika Davian berada di podium, beberapa foto makanan yang terlihat menggugah selera, serta suasana event yang terasa begitu mewah. Semua itu terus Rosie beri tahu padanya.


#


Sementara itu, Alexxa terus terlihat cemas berada di ruang tunggu Scenic Art. Entah kenapa firasatnya tak enak sejak mendapat panggilan dari Thomas kemarin.


Air mineral yang ada di sana Ia teguk dengan cepat, padahal Ia sama sekali tak merasa haus.


Suara langkah kaki yang terdengar semakin mendekat bisa dengan mudah Ia kenali.


“Hallo… Alexxa !” teriak Thomas ketika dirinya tiba di ruang tunggu

__ADS_1


“Y-ya Pak…” isi kepala Alexxa mendadak kosong.


“Santai aja santai. Kayak sama siapa aja… “ balas Thomas sambil duduk di sebrang sofa tempat Alexxa.


Hening


“Kamu pindah ?” tanya Thomas tiba-tiba


“Anu… Iya, pak Thom… S-saya-”


“Ke mana ?” tanya Thomas memotong ucapan Alexxa


“Itu… Sakura Townhouse, pak…”


“Oooh… Jauh juga ya…”


Aneh. Setelah pertanyaan itu, Thomas kembali bangkit dari tempat duduknya dan tatapannya tajam mengarah ke luar ruangan kaca itu.


Rupanya firasat aneh yang Alexxa rasakan itu benar-benar terbukti. Dari kejauhan, Ia melihat Zake berjalan bersama beberapa anak buahnya. Rasa khawatirnya memuncak melihat iring-iringan pria itu.


Alexxa sempat terperanjat dari duduknya, namun anak buah Zake keburu menghampiri Alexxa dan mencegatnya di tepi pintu ruangan.


“Apaan, sih” Alexxa terdengar kesal. Ia kembali ke posisinya semula.


Namun, dibalik kekesalan yang Ia tunjukkan, Alexxa jelas berusaha menyembunyikan semua rasa takut dan rasa khawatirnya.


“Wah… Wah… Wah…” suara Zake menggema di ruangan itu, “Si cantik yang hobinya nyusahin orang ini udah mau kabur lagi ?” tambahnya


“Udah, kan ? Kerjaan gua masih banyak, bro” sela Thomas


Zake ini benar-benar minus etika dan sopan santun. Ia sama sekali tak menggubris ucapan Thomas dan membiarkan Thomas berlalu begitu saja.


“K-kalian kenapa ?” Alexxa perlahan-lahan menjauhi Zake dan anak buahnya yang duduk di dekatnya.


“Halah… Gak usah pura-pura b*go. Apa sekarang emang beneran b*go ?” ucap Zake dengan nada suara yang tak terlalu tinggi bahkan terdengar seperti berbisik.


Alexxa terlampau kesal sehingga tak menjawab ucapan Zake barusan.


“Heh !” Zake memanggil anak buahnya dan memberikan tatapan mata yang sudah dimengerti oleh mereka.


Tanpa diduga, salah seorang dari mereka mengeluarkan sapu tangan dan berusaha membekap Alexxa dengan bantuan rekannya yang lain.

__ADS_1


“Lepasin. Saya laporin kalian ! Di sini ada cctv !” Alexxa terus memberontak


Para pria itu hanya menyeringai mendengar ocehan Alexxa dan tetap menjalankan aksinya.


“Dih, cctv lu bilang ?” ucap Zake


Alexxa kini terlihat semakin lemas. Kasihan sekali rasanya.


“Lu kira otak gue melempem kayak otak lu ? Cctv udah gua matiin. T*lol” ucapan Zake itu kini tak terdengar lagi oleh Alexxa.


Alexxa benar-benar telah kehilangan kesadarannya hingga Zake dengan mudah membawanya meninggalkan ruangan itu.


#


Memang sudah menjadi kebiasaan Dita untuk gampang tertidur dimanapun ketika dirinya berada dalam posisi yang nyaman. Seperti sekarang ini, Ia terlelap begitu saja ketika menonton acara siaran langsung event Rubynist di ponselnya.


Dita baru terbangun setelah mendengar ketukan pintu apartemennya. Tanpa berlama-lama, Ia bergegas mengecek interkom ‘pengintip’ pintu.


“Dokter Adrian” gumamnya


Dita bergegas membuka pintu ketika mengetahui siapa yang datang berkunjung.


“Randita… Saya mau ganti perban kamu” ucap Adrian begitu pintu apartemen terbuka.


“Eh ? Iya, dok. Sekalian ajarin saya buat ganti perban sendiri” balas Dita sambil menutup pintu.


Mereka berjalan menuju sofa dan Adrian segera membuka kotak peralatan medis yang Ia bawa. Dengan hati-hati Ia kembali membalut luka bekas jahitan di kepala Dita.


“Randita. Kalo kamu keberatan kerja dibawah Davian langsung, kamu bilang ke saya aja. Nanti saya bantu omongin ke anak itu buat cari posisi yang gak terlalu bahayain kamu” ujar Adrian sambil merapikan kotak peralatan medisnya.


“Waduh… Gak apa-apa, dok. Saya okay, kok” Dita terdengar canggung


“Yaa… Kalo kamunya gak mau mah. Ya udah…” Adrian bangkit dari duduknya, “perbannya udah diganti. Saya pamit, yo”


“Iya, dok. Makasih banyak ya” balas Dita ramah


Setelah Adrian kembali menuju unit huniannya, Dita kembali pada posisinya semula; terlentang dan bersantai di sofa. Tak banyak rencana yang akan Ia lakukan selain rencana merapikan barang-barang bawaanya.


Meski tak ikut hadir dalam kegiatan Rubynist siang itu, Dita tetap mendapatkan berita terbaru melalui postingan sosial media beberapa rekan sekantornya. Rosie juga kerap mengirimkan jepretan momen yang terjadi di sana.


Namun, satu hal yang Ia lewatkan kala itu adalah berita tentang insiden yang terjadi ketika acara Rubynist berakhir.

__ADS_1


__ADS_2