UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Simpan Sebagai Rahasia


__ADS_3

See ? Pasti ada maksud lain dibalik semua yang Davian lakukan malam ini. Lagi pula mana ada direktur yang langsung mengajak kencan karyawannya yang baru satu minggu kerja. Tunggu, apa yang Davian maksud ‘kerja lembur’ adalah pekerjaan sejenis ini ?


“Bener. Sorry ya, Ran. Tapi yang kayak gini biasanya kerjaan saingan bisnisnya Papa ” ucap Davian sambil melahap makanan yang tersisa


“Saya gak ngerti…” gumam Dita


“Udah lah. Nanti juga kamu ngerti sendiri. Saya males jelasin. Malem ini kita pacaran aja, Ran” ucap Davian tanpa rasa ragu


Minuman yang Dita teguk hampir menyembur ketika Davian berbicara seperti itu.


“Pak Davi kok ganjen ?” Sial. Dita keceplosan. Untungnya ucapannya itu justru membuat Davian terkekeh.


“Kamu belom pernah diajak pacaran direktur, kan ?” Davian menatap Dita dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Direktur saya dulu opa-opa semua, Pak. Saya bakal kabur kalo mereka ngajak pacaran” Dita terlihat menahan tawanya tanpa melihat ke arah Davian.


Davian pun terlihat mengulum senyum mendengar jawaban Dita barusan.


Jika diperhatikan dari kejauhan, mereka berdua terlihat seperti pasangan sungguhan yang begitu bahagia. Sangat serasi. Kumpulan wartawan di sana terlihat sesekali melirik mereka. Dan memang itulah tujuan Davian malam itu.


#


Alarm yang terus berbunyi berhasil membangunkan Dita. Ia meraih ponselnya dan bergegas mematikan alarmnya untuk kembali tertidur.


Cara terbaik untuk menikmati weekend adalah tidur sepuasnya. Apalagi setelah tadi malam Davian mengajaknya pergi hingga larut malam. Benar-benar puas rasanya tertidur hingga tengah hari.


“Laper…” kata pertama yang Dita ucapkan bahkan ketika matanya masih terpejam.


Dita memang wanita yang kuat untuk tidur. Beberapa bulan sebelumnya Ia bahkan pernah tidur dari tengah malam hingga senja keesokan harinya. Tak heran kedua saudarinya kerap memanggilnya ‘manusia setengah batu’.


Karena di sekitar mess-nya jarang sekali yang menjual makanan, Dita meraih ponselnya dengan maksud akan memesan online. Namun, notifikasi yang muncul di ponselnya membuatnya nyaris kembali kehilangan kesadaran.


“D-dua belas juta ? Pak Davi gak lagi sakit apa yak ? Ini mah banyak banget! Gaji gue aja katanya cuma lima juta. Kalo gini, mending bikin rekening baru lagi aja buat nyimpen lemburan !” Dita mengobrol dengan dirinya sendiri.


Untuk sesaat dirinya tenggelam pada ingatannya beberapa tahun lalu. Demi bisa melanjutkan pendidikannya, segala jenis pekerjaan paruh waktu Ia kerjakan.


Belum berhenti sampai disitu, untuk membiayai pendaftaran kuliah Rosie dan adiknya Radit yang masih sekolah, dirinya masih harus kerja paruh waktu.


Mungkin ketika bekerja di ‘bawah tanah’ itu dirinya sedikit banyak bisa mengurangi beberapa kerjaan paruh waktunya.


“Ran. Saya belom tau gaji kamu berapa, jadi saya kasih segitu dulu” Dita membaca pesan yang dikirim Davian

__ADS_1


“Eh ? Maksudnya gaji gue berubah lagi ? Ah. Bodo amat, lah ! Yang penting gue bisa makan. Eh tapi… Si Randi mau study tour…” nada suaranya semakin melemah.


Selesai mandi dan membereskan kamarnya, Dita menikmati tiap suap Sushi yang sudah dipesannya secara online sambil menonton tayangan drama kesukaanya.


Namun, tayangan di ponselnya terjeda setelah panggilan masuk muncul.


“Euy…” sambar Dita


“Dit. Bapak minta dikirim uang buat benerin kandang reptilnya Bapak. Kamu ada ?” tanya Risha dari sebrang sana


“Hah ?” Dita belum memahami maksud pertanyaan Risha


“Kamu gak ditelpon si Radit ? Katanya kandang uler sama kandang iguana Bapak dirusak si Dexter. Terus buat study tour si Radit, udah ada ?” tutur Risha


“Eh ?” Dita tercengang


“Kalo ada, cepetan kirim, Dit”


“Iyaa…” pungkas Dita singkat.


“Untung pak Davi gercep langsung bayarin lemburan. Eh bentar. Emangnya kalo lemburan gak bareng sama gajian ? Di kantor lama kayaknya dibayar sama gaji. Pusing ah” Dita mengoceh terus


“Ros ! Rosie ! Liat, deh” teriak Risha padahal Rosie berada di hadapannya


“Apaan, sih ?” Rosie terus merapikan krim yang baru saja Ia oleskan pada wajahnya


“Nih…” Risha menunjukkan ponselnya pada Rosie


Pada layar ponselnya, tampak sebuah foto yang sengaja diburamkan. Meski begitu, bisa diketahui bahwa itu adalah foto sepasang pria dan wanita tengah makan bersama. Merasa déjà vu ?


“Hah ? Itu kayak Kak Dita ? Ya gak, sih ?” Rosie terbelalak dan tatapannya membulat


“Ya kagak tau ! Tapi ini cewek sekilas mirip banget si Dita. Sayang banget fotonya blur banget gini” balas Risha sambil terus menatap layar ponselnya


“Nanti kalo fotonya HD terus itu beneran kak Dita, gak bahaya kah ?” Rosie kembali meratakan krim wajahnya


“Eh, Ros. Liat lagi deh. Tadi Kakak minta duit buat Bapak sama si Radit, Si Dita ngirimnya dua juta, dong !” ucap Risha lagi. Kali ini lebih heboh.


“Terus ?” tanya Rosie datar “Kan biasanya juga kak Dita kasbon, kan ?”


“Iya sih…” Risha kehabisan ide untuk menjawab

__ADS_1


“Nah. Ya udah…” Rosie kembali lanjut merias wajahnya tanpa terlalu mempedulikan ucapan Risha.


#


Udara di ruangan itu sangat pengap. Jangankan pendingin udara, sebuah ventilasi udara saja tidak terlihat sama sekali.


Beberapa orang pria dengan setelan kemeja hitam berdiri disana. Mereka terlihat garang dan penampilannya begitu berantakan.


Yang mengherankan adalah keberadaan seorang gadis yang terlihat ketakutan dan kesakitan menahan tangisnya.


Kedua tangan dan kakinya terlilit lakban dan diikat dengan tali tambang kecil. Jangankan berjalan atau melarikan diri, untuk berdiri saja terlihat tidak mungkin. Mulutnya juga tersumpal sebuah kain, tak mungkin Ia bisa berteriak meminta pertolongan.


“Gobl*k !” ucap seorang pria berambut gondrong. Ia lalu menampar muka gadis itu dengan hanya menggunakan sedikit tenganya.


Gadis yang malang. Dirinya terdengar meringis dan air matanya kembali bercucuran.


“Eh, ****** ! Lo Cuma tinggal ng**e sama bocah itu. Sampe gagal lagi gue babat abis bokap nyokap lo yang udah pada bau tanah. Ngerti ?!” hardik pria itu beberapa senti di hadapan wajah gadis itu


“Bos. Tuan Nichi…” pria berkepala plontos mengantarkan ponsel padanya.


“Angkat, Zake. Nyalain speakernya” ucap pria itu, “Ya Bos !” Juan lalu berbicara terlebih dahulu pada penelpon.


“Juna !” teriak Nichi di sebrang sana “Kenapa anggaran rapat direksi segini mahalnya ?!”


“Bos ! Kau salah orang ! Yang kau telpon ini Juan, bukan Juna” sambung pria berambut gondrong itu.


“Sh!t. Kenapa nama kalian berdua mirip, sih ! Sialan” umpat Nichi. Telpon itu lalu dimatikannya begitu saja.


“Cih. Pria gila. Kenapa aku ini bisa tahan kerja sama orang itu” pikir Juan


“Sampe mana kita tadi, Alexxa-ku yang t*lol ?” Juan menarik rambut gadis itu.


Alexxa ? Ah. Benar. Gadis yang terlibat skandal palsu dengan Davian. Penampilannya terlihat berbeda jauh dengan apa yang selalu muncul di media online.


“Ouh… No... Sakit, kan ? Harusnya kamu jangan gobl*k, sayang. Tuh !” Juan menempelkan sebuah plastik zipper kecil pada dahi Alexxa yang bercucuran keringat “pastiin posisi lu deket si Davi sialan itu abis dia ngabisin ini bubuk. Gampang, kan ?”


Alexxa membelalakan matanya dan mulai berusaha menghentikan ringisannya. Ia menganggukkan kepalanya tanda memahami ucapan Juan


“Zake. Lu mending urus deh ni curut. Enek banget gua liatinnya” perintah Juan kasar


Zake membuka ikatan pada kaki Alexxa dan memaksanya berjalan mengikutinya dengan tangan yang masih terikat.

__ADS_1


__ADS_2