
Setelah tadi sore mendapat kabar bahwa Rosie akan menghadiri rapat persiapan event, Risha hanya terus memainkan ponselnya sambil terus merebahkan tubuhnya. Kini, Ia ditemani kentang goreng yang porsinya terlihat lumayan banyak.
Rosie yang biasanya pulang sebelum matahari terbenam, kala itu bahkan hingga waktu hampir malam pun belum selesai dengan kesibukannya.
“Si Rosie lama amat, deh. Udah malem gini masih aja belum balik” gerutu Risha sambil menggulir layar ponselnya.
Hingga ketika Risha hampir terlelap, Rosie baru datang dengan membawa sebuah paper bag. Merek fashion Ruby terpampang jelas di kantong belanja itu.
Rosie yang melihat Risha terlelap dengan ponsel masih menyala kemudian berusaha tak menimbulkan keributan.
Ajaibnya, ketika Rosie selesai mandi dan bersih-bersih, Ia mendapati Risha terduduk tegap dengan kantong belanja di hadapannya.
“Punya kamu ?” tanya Risha tanpa aba-aba.
“Heheh…” Rosie memberikan seringai lebar yang mudah sekali diartikan.
“Wah…”
Kedua wanita itu nampak takjub dengan isi dari tas belanja itu. Dari sana mereka mengeluarkan sekotak kue kering yang terkenal karena kemewahannya, satu buah syal cantik, serta sebuah buku katalog belanja.
“Dari mana ? Kamu beli sendiri ?” Risha masih tercengang dengan semua benda di hadapannya
“Dikasih…” jawab Rosie polos “mereka tuh klien tempat EO aku part time. Besok kan ada event soft launching mereka” jelas Rosie
“Ooh… Bukannya ini tempat si Dita kerja, ya ?” tanya Risha sambil melihat-lihat katalog
“Iyup. Tapi katanya kak Dita mah gak dateng. Dia masih di luar kota-”
“Masa ampe mau seminggu ? Lamaa aamat…” Risha memotong ucapan Rosie.
Rosie hanya terdiam setelah mendengar ucapan Risha. Jika Ia pikir-pikir lagi, rasanya memang telah cukup lama bagi Dita untuk ke luar kota, bahkan untuk urusan pekerjaan.
#
__ADS_1
Mobil SUV hitam itu Davian parkirkan di pelataran gedung yang luas. Namun, bangunan apartemen itu berbeda dengan yang Ia tempati tempo hari, sepulang dirinya menemani Dita di rumah sakit. Suasana di sana terlihat sudah tak begitu ramai, terlebih karena kala itu memang hampir tengah malam.
Davian bergegas berjalan memasuki lobby dan buru-buru memasuki lift yang kebetulan cepat terbuka. Di lantai sepuluh, Ia keluar dari lift dan memasuki ruangan unit 1002.
Ruangan itu terlihat sangat terawat. Pasalnya, barang-barang seperti tempat tidur, lemari pakaian, hingga sebuah kulkas dua pintu yang tersedia di sana terlihat sangat rapi.
“Si Om rajin juga ngurus ini tempat. Rapi bener…” gumamnya sambil memeriksa setiap sudut ruangan itu.
Setelahnya, Davian merebahkan tubuhnya di sofa sambil meraih remote TV. Ia memang menyalakan TV itu, namun tayangan di layar kaca itu sama sekali tak menarik perhatiannya. Davian hanya tak suka jika ruangan itu terlalu sunyi.
“Ck. Gegara rapat direksi kelamaan, kerjaan gue jadi banyak yang belom kelar. Mana belum nyiapin sambutan buat event…” Davian terus saja menggerutu sambil memijat keningnya perlahan.
Hingga mungkin karena dirinya terlampau kelelahan, Davian akhirnya tertidur di sofa itu.
#
Keesokan paginya, setelah meninggalkan Rumah Sakit, Dita dan Adrian kembali terlebih dulu menuju mess untuk mengemasi barang-barang milik Dita.
Hanya saja, luka jahitan di belakang telinganya masih harus diperban untuk beberapa hari kedepan. Juga beberapa luka lebam di tubuhnya masih sesekali terasa sedikit ngilu.
Namun, masalah itu tak begitu berarti bagi Dita. Hal itu juga tak menghalangi dirinya untuk membantu Adrian mengemasi barang-barangnya.
#
Di tempat lain, Davian baru terbangun dari tidurnya setelah cahaya matahari yang menembus gorden berhasil menimpa tubuhnya. Suara nyaring dari tayangan kartun di layar kaca yang tadi malam belum sempat Ia matikan juga sukses membuat kesadarannya terkumpul.
“Padahal kalo di apart, di rumah, gak bisa tidur kalo ga minum obat” ucapnya sambil mematikan televisi.
Setelah berpikir bahwa keadaan di sana baik-baik saja, Davian bergegas pergi dari sana. Selain harus bersiap diri menghadiri event siang nanti, Ia juga tak mau jika Dita dan Adrian menciduknya di sana.
Sambil menyetir mobilnya, Ia mendadak terus memikirkan alasan perbuatannya tadi malam.
“Ck. Dipikir-pikir gua ngapain ke sono…” gumamnya lalu meneguk sebotol air mineral.
__ADS_1
#
“Ros… Rosie !” panggil seorang pria
Sepertinya Rosie tak mendengar panggilan pria itu. Ia masih saja sibuk merapikan beberapa dus besar bersama Lea.
“Heh. Lu dipanggil, tuh” Lea yang ketika itu kebetulan berada di dekatnya memberi tahu Rosie bahwa ada seorang pria memanggilnya.
“Hah ? Kok gue gak denger” Rosie tersentak setelah melihat tatapan maut dari pria itu, “Ya udah, gue ke sono dulu yak” pamitnya pada Lea
Rosie benar-benar terkejut karena tak menyadari panggilan itu sebelumnya.
Akhirnya, Ia bergegas menghampiri pria yang memanggilnya dan menyerahkan urusan dus-dus itu pada Lea.
“Paket merchandise udah beres, kan ?” tanya pria itu pada Rosie
“Ya, pak. Tadi saya sama Lea masih beresin sisanya” balas Rosie. Ia tanpa sadar terus menatap kotak yang pria itu bawa.
“Oh. Bagus. Terus sekarang kamu anter ini ke lantai tiga. Di sana ada ruangan klien kita, namanya pak James. Kirim ke sana. Bilang aja dari pimpinan EO, gitu. Udah tau kok dia” jelas pria itu sambil menyodorkan kotak yang sedari tadi Ia bawa
“B-baik, Pak” Rosie segera mengambil kotak itu dan membawanya pergi sesuai arahan pria itu.
Setelah beberapa kali mengetuk ruangan yang pria tadi maksud, Rosie dikejutkan dengan kemunculan pria ganteng dari balik ruangan itu. Kita mungkin sudah mengetahui siapa pria dengan setelan rapi dan aroma wangi yang mempesona itu.
“Maaf. Apa… Ada pak James... Di dalam ? Saya diminta kirim ini untuk beliau…” Rosie menunjukkan kotak itu. Dengan suara yang terdengar terbata-bata, Ia jelas merasa sangat canggung
“Oh ? Buat papa ?” tanya Davian dengan menampilkan tampang polosnya
“Eh ? I-iya untuk pak James… Dari pimpinan Ureshii EO…” kotak itu lalu Roshi serahkan pada Davian.
“Okay. Makasih ya” Davian menerimanya dengan hangat.
Rosie lalu berpamitan dan kembali ke tempatnya semula. Pertemuan perdananya dengan Davian meningalkan kesan yang cukup baik baginya.
__ADS_1