
Adrian kembali meninggalkan huniannya sekitar satu jam setelah ketibaannya di sana. Sebab sesuai rencananya, malam itu Ia akan menepati janji temunya dengan seseorang yang istimewa baginya.
Sedan putih miliknya terus Ia pacu hingga akhirnya berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang mewah. Di sana, Adrian lalu terlihat menghubungi seseorang dari ponselnya.
“Hallo ?” sapa Adrian ketika sambungan telpon itu berhasil terhubung, “Kak Dara ? Saya udah di depan…” tambahnya
“Ian. Tunggu, tunggu. Kamu ke sini dulu…” wanita itu terdengar tergesa-gesa.
“Okay Kak…” balas Adrian dan kemudian memutuskan sambungan telpon itu.
Bel yang berada di dekat pintu gerbang lalu Adrian bunyikan beberapa kali. Tak lama, seorang wanita terlihat keluar dari rumah itu.
“Mas Adrian ya ? Ayo, Mas. Ikut saya” ucap wanita dengan celemek setengah badan melingkar di pinggangnya
Adrian lalu mengikuti wanita itu berajalan menuju area dalam rumah, mengabaikan panggilan masuk pada ponselnya.
Hingga sampai di ruang tamu, Adrian tersentak melihat pemandangan di sana. Seorang wanita berkemeja kasual dan kulot panjang berdiri persis di samping pria yang duduk dengan tegak di sofa.
Tatapan mata pria dengan rambut yang sudah memutih itu mengarah tajam pada Adrian.
“Malam… Om…” sapa Adrian dengan rasa gugup. Tubuhnya membungkuk memberi hormat pada pria di hadapannya
Pada momen itu, lagi-lagi sebuah panggilan masuk membuat ponsel Adrian bergetar. Meski tanpa nada dering yang nyaring, namun pria di hadapannya menyadari hal itu dan mempersilakan Adrian menjawab panggilan itu.
“Maaf ya, Om. Saya jawab telpon dulu…” pamit pria berkemeja abu-abu tua itu
“Ada apa, Dav ?” ucap Adrian seraya menjauh beberapa langkah dari sana.
Ucapan Adrian tak sengaja terdengar oleh pria itu yang membuatnya mengernyitkan dahinya.
Terhuyung-huyung Adrian kembali ke sana setelah beberapa lama menjawab panggilan telpon.
“Nak Adrian…” panggil pria itu, “tadi Om gak sengaja denger obrolan kamu. Om mau nanya, kamu temannya Davian, putranya pak James ?” tanya pria itu
“Eh ? I-iya Om…” balas Adrian singkat. Iya sedikit bingung untuk memberi tahu atau tidak tentang identitasnya sebagai dokter keluarga James.
“Ooh… “pria itu menganggukkan kepalanya, “Ya sudah. Kamu mau pergi sama Dara kan ? Sana. Om izinin” kata pria itu
Adrian dan Dara spontan saling melempar tatapan setelah mendengar ucapan ayah Dara. Senyum tipis lalu tersungging dari sudut bibir mereka.
“Makasih, Yah…” sahut Dara seraya membungkukkan badannya
“Makasih, Om…” Adrian juga membungkukkan badannya seperti Dara
Keduanya lalu berjalan beriringan menuju arah pintu.
“Pulangnya jangan malem-malem” ujar pria itu sedikit berteriak
__ADS_1
Lagi. Adrian dan Dara kembali membungkukkan tubuh mereka.
“Ian, tau gak ? Tumben banget Ayah gampang gitu ngasih izin !” ujar Dara sambil memasang sabuk pengaman
“Ya… Bagus berarti, Kak. Om Jacob percaya ke saya !” ceplos Adrian sambil mengulum senyum
“Ish…” Dara menepuk bahu Adrian yang duduk di kursi kemudi.
Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan mereka pada malam yang cerah itu.
Adrian tahu benar karakter kedua orang tua Dara yang strict, sehingga rencana yang Ia miliki benar-benar Ia maksimalkan sesuai waktu yang diberikan.
Mobil sedan itu Adrian parkirkan di pelataran bangunan yang sebagian besarnya terdiri dari kaca. Terlihat seperti sebuah restoran, namun hanya ada mereka berdua pengunjung di sana. Benar-benar lengang.
Untungnya, dari sudut pandang Adrian, Dara ini tampak cuek dengan situasi sepi di tempat itu. Sehingga mereka berdua terlihat menikmati momen itu tanpa terganggu sesuatu apapun.
Hingga ketika Dara selesai menyantap hidangan terakhir, seorang pramusaji datang membawa sebuah nampan hidangan.
“Menu spesial kita, khusus kita sajikan untuk tamu yang spesial. Silakan…”
Sebuah coklat yang berbentuk kubah yang akan meleleh jika disiram dengan krim hangat tersaji untuk Dara.
“Lho. Buat saya ?” tanya Dara keheranan. Mendengar ucapan pramusaji itu saja sudah membuatnya terkejut, belum dengan sajian itu yang juga diberikan padanya.
Pramusaji itu berlalu dari sana, meninggalkan Dara dengan pertanyaannya.
Mendengar hal itu, Adrian justru terlihat melengkungkan senyum.
“Cantik banget gitu, mana ada racunnya sih, Kak ?” Adrian mengulum senyum, “sini, buat saya aja” tambahnya
“Ish… Kata pramusajinya tadi buat Aku” Dara memanyunkan bibirnya sambil menyiram kubah coklat itu dengan krim yang memang tersaji bersama.
Dara membelalakan matanya ketika kubah coklat itu meleleh perlahan. Bukan makanan yang berada di dalamnya, namun sebuah kotak kecil berbalut plastik wrap-lah yang ada di sana.
“Ian. Ini apaan ya ? ” tanya Dara seketika. Kotak itu Ia raih dan menyingkirkan plastik yang membungkusnya.
Lagi-lagi Dara tercengang setelah kotak itu Ia buka. Tangannya menutup mulutnya yang terperangah melihat isi kotak itu. Dara kembali terkejut menyadari Adrian yang terus menatapnya tanpa henti.
“Ini ?” sebuah susunan imajinasi berkembang dalam pikiran Dara
“Kak…” ucap Adrian. Dirinya terduduk tegak dengan sikut yang bertumpu pada meja, “sebenernya…” Adrian masih mengumpulkan keberaniannya.
“Sebenarnya aku tau, Ian, kamu mau bilang apa. Aku tanya kamu dulu, kamu gak masalah kalo aku lebih tua dari kamu ?” kata Dara. Ia juga terlihat mengambil selembar tissue dan melipatnya menjadi seperti sebuah cincin.
Kini situasi berbalik. Adrian yang menjadi tercengang mendengar ucapan Dara. Momen yang terjadi kala itu benar-benar diluar dugaannya.
“S-saya gak peduli soal umur, Kak” sambar Adrian, “saya udah yakin sama apa yang saya rasain selama ini”
__ADS_1
Dara tersenyum tipis. Ia meraih tangan Adrian dan memasangkan cincin tissue buatannya itu.
“Jadi, sekarang kita punya hubungan istimewa, kan ?” cetus Dara
#
Dalam misinya mengungkap kebenaran tentang siapa sebenarnya Alexxa Gyada, Dita selalu memberi Davian informasi sekecil apapun yang dirinya ketahui.
Pagi itu, setelah seluruh potongan semangka itu Dita masukan ke dalam kotak bekal, gadis itu akhirnya bergegas meninggalkan huniannya dan memulai aktivitasnya.
Setelah kemarin dirinya membuat rekening baru secara daring, kini dirinya harus datang ke lokasi bank untuk membereskan dokumen pendaftaran yang belum lengkap.
Banner bertuliskan sambutan grand opening terpasang di beberapa tempat di sekitar pintu utama bangunan itu.
“Bu Randita, tolong beri paraf setiap halaman dokumen ini ya” ucap customer service (CS) di hadapan Dita
Dita mengamini permintaan CS itu dan membubuhkan parafnya sesuai arahan.
“Tunggu sebentar untuk pembuatan kartu debitnya, ya” CS itu tersenyum ramah seraya menerima dokumen yang telah Dita paraf
“Oiya, Bu. Silakan dibaca dulu ya” ucap CS itu lagi sambil menyerahkan sebuah brosur pada Dita.
Benar kata Rosie. Pada brosur itu tertulis jelas bahwa nasabah baru Bank TRF bisa mengikuti event grand opening cabang terbaru mereka. Namun, apa ini ? Dita sempat tercengang ketika mambaca ketentuan peserta.
“Hanya berlaku bagi nasabah yang belum pernah memiliki rekening Bank TRF, tabungan pertama minimal lima juta, waktu maksimal tabungan pertama H+1 pembukaan rekening… Ealah gua gak bawa duit tunai…” gumam Dita
“Bu, kemarin pas video call, katanya sekarang ke bank untuk setoran pertama, lima ratus ribu. Beda ya sama yang ini ?” tanya Dita segera sambil menunjukkan brosur itu
“Iya, Bu. Jumlah uang lima ratus ribu itu untuk setoran pertama. Kalau di sana di brosur itu tertulisnya ’tabungan pertama’, Bu” jelas CS cantik itu.
“Terus, kalau saya nabung besok atau lusa, gak bisa ikutan event-nya, donk ? Di sini ditulisnya tabungan pertama maksimal H+1 pembuatan rekening…” tanya Dita lagi
“Iya, Bu. Kalau bisa, tabungan pertama harus dihari yang sama dengan pembukaan rekening bank, supaya gak kehabisan kuotanya, Bu. Ini buku tabungan dan kartu debitnya ya...” balas CS itu ramah seraya menyerahkan buku tabungan dan kartu debit pada Dita
“Oalah… Makasih, Bu. Permisi” Dita pergi dari tempat itu sambil terus berpikir
“Berarti gue harus narik duit dulu, nyari ATM lagi. Mana panas banget gini, duh” Dita mengeluh pada udara panas di sekitar sana.
Pada momen itu, Dewi Fortuna kembali menyapa gadis itu. Ketika Dita memasuki sebuah supermarket untuk menghilangkan dahaganya, dirinya baru menyadari bahwa di sana terdapat mesin ATM yang sedari tadi Ia cari.
Dita senang bukan main dan tentu dirinya langsung menarik sejumlah uang tunai sesuai kebutuhan misinya. Sebotol air dingin juga tak lupa Ia beli dari sana.
Dita mengambil langkah cepat dan benar-benar kembali ke bank itu. Customer Service cantik yang tadi membantu Dita pun terlihat melengkungkan senyum melihat Dita berada dalam antrian tabungan.
Beneran fans berat Ocean Fairy sama si Alexxa kayaknya, pikir wanita itu sambil kembali melanjutkan pekerjaannya.
#
__ADS_1
Fun Fact : Dara belum mengetahui rencana Adrian. Wanita itu hanya mengada-ada dan mengikuti firasatnya. Prasangkanya didukung oleh suasana restoran yang berbeda dari biasanya. Sebab, restoran itu sebenarnya adalah tempat favorit Dara menghabiskan waktu luang.