VRMMORPG Another World

VRMMORPG Another World
Chapter 22 : Quest Sampingan


__ADS_3

Setelah puas dengan kehidupan santai yang dipenuhi maid cantik, kami kembali menelusuri lantai 55 yang telah dibuka oleh aliansi pemain lain.


Yang menunggu lantai ini merupakan bos bernama Dorma, seekor Orc raksasa dengan keganasan yang mengerikan. Beberapa bahkan trauma hingga berhenti bermain dan hanya tinggal di kota-kota aman.


Karena sudah dikalahkan jadi kami bisa berjalan santai di lantai ini sembari melihat-lihat bagaimana kondisinya, bekas pertarungan sudah dikembalikan sedia kala dan hanya menampilkan padang rumput dengan hamparan bunga memenuhinya.


Para gadis melompat untuk membaringkan tubuh mereka dan aku berdiri untuk mengintip mereka sebelum mengalihkan pandangan ke tempat lain, mereka saling berbisik.


"Diluar dugaan Yuto yang mesum tidak memperhatikan kita."


"Dia mungkin sudah kecebur ke kolam penyucian."


"Aku rasa dia hanya punya fetish pelayan."


"Aku bisa mendengar kalian oi."


Aku harap mereka tidak menaruh dendam soal hukuman sebelumnya.


"Kita tidak datang kemari hanya untuk bersantai cepatlah bangun."


Mereka mengembungkan pipinya dengan imut namun aku jelas tidak menghiraukannya, bagaimanapun alasan kami adalah untuk menjalankan quest sederhana yaitu berburu burung.


Aku mengeluarkan panah dan busur untuk kami gunakan, untuk Rebecca sendiri dia sudah memilikinya yang jelas lebih baik dari yang kami gunakan.

__ADS_1


"Pastikan untuk mengenai targetnya."


"Baik," jawab ketiganya.


Aku mendesah pelan saat melihat bagaimana Mofu memakai busurnya.


"Bukannya kau kebalik tuh."


"Ah, salahku."


Tuan putri ini memang masih ceroboh, dan untuk Karina aku menarik pipinya. Dia jelas berusaha meniru Mofu hanya untuk ditegur.


Kau ini M kah?


Terhadap perkataanku Mofu memiringkan kepalanya.


"Dia terlalu polos."


"Iya, sebaiknya jangan memberitahukannya."


"Setuju."


"Kalian membuatku penasaran?"

__ADS_1


Kami tidak ingin mengotori jiwa sucinya, akan lebih baik Mofu seperti itu, ketika segerombolan burung berterbangan kami mulai memanah mereka hingga berubah menjadi drop item. Burung hanya terbang di lantai ini dua kali pagi dan sore karena itu kami tidak boleh melewatkannya.


Kami bersiap kembali dengan busur kami kemudian melesatkan panah dari masing-masing orang, beberapa lolos dan beberapa lagi berhasil, hanya Rebecca yang tidak melesat satu pun, bagaimanpun dia memiliki skill pemanah yang dibutuhkan dalam hal-hal seperti ini.


Burung-burung yang terkena mulai berjatuhan dan setelah lima menit berlalu maka kami mulai mengumpulkannya. Semuanya ada sekitar 50 ekor.


"Tangkapan luar biasa, kemampuanku memang berada di tingkat atas saat ini."


Seperti biasa penyakit Karina kumat, sembari menunggu gelombang kedua kami akan menghabiskan waktu untuk melawan monster di sekitar lantai ini.


Kami menemukan beberapa Orc di antara level 100-300 sebuah level yang cocok untuk kami kalahkan.


Tanpa skill adalah hal yang kami coba. Tentu saja pengecualian untuk Mofu yang main jobnya merupakan mage.


Aku menahan pedang Orc yang terbang diagonal ke arahku, saat pedang kami berbenturan baru Karina masuk dan memberikan tebasan beruntun dari pedang miliknya, ketika Orc kehilangan kekuatannya panah Rebecca menembusnya.


Orc hancur menjadi serpihan.


Aku bertanya pada Karina.


"Aku yakin tidak ada main Job atau sub job dari pemanah, tapi kenapa Rebecca memilikinya?"


"Kamu baru menanyakannya? Sangat terlambat, itu karena job berbeda hanya diberikan pada 5 orang pertama yang menjadi Beta tester Another World."

__ADS_1


"Begitukah, jadi soal job sedikit... semuanya disengaja?"


Karina mengangguk sebagai balasan. Dewi ini jelas sangat jahil dan ahli untuk membuat setiap orang iri satu sama lain.


__ADS_2