
Setelah melewati pagi seperti biasanya kami bergegas untuk menemui Alice di tempat yang sama seperti kemarin, di sana dia telah siap dengan beberapa puluh kesatria di bawah kendalinya.
Bahkan hanya sekilas penampakan semuanya terlihat luar biasa, dengan suara keras serta tatapan penuh tekad, Alice memperkenalkan kami sebagai pasukan bantuan tentu saja tidak ada yang tidak tahu tentang kami, semenjak kami berhasil menjadi pemenang di event sebelumnya nama kami cukup terkenal di dunia ini.
Kami selalu menyembunyikan level kami karenanya tidak akan ada yang tahu bahwa kami sudah mencapai level maksimal.
"Kalau begitu, mohon bantuannya untuk hari ini."
"Sama-sama," kataku selagi menjabat tangan Alice.
Karina terlihat bersemangat.
"Ini akan menjadi pengalaman pertama kalinya aku melawan pemain lain, apa menurutmu mereka kuat Yuto?"
"Aku rasa sangat kuat."
"Aku sedikit tidak percaya diri," tambah Mofu.
Mengingat seberapa banyak orang yang telah mereka kalahkan itu wajar saja merasa takut, beberapa kali aku melihat pemain di rank 100 ke atas juga mengalami hal sama hingga seluruh peralatannya dirampok.
Apapun yang terjadi, kami tidak boleh kalah atau akan berakhir kehilangan segalanya.
__ADS_1
Setelah mempersiapkan kristal teleportasi kami telah muncul di lantai 40, lantai ini merupakan lantai yang dibuat menyerupai reruntuhan kota besar dengan puing-puing terlantar di sekelilingnya banyak tumbuhan yang hidup namun kebanyakan diisi oleh lumut dan rumput. Melihat bagaimana ini dimaafkan oleh para player kill mereka cukup pintar.
Tujuan kami adalah wilayah tengah jadi setelah membagi diri dalam beberapa kelompok kami menyerang dari tempat berbeda.
"Rebecca."
"Serahkan padaku."
Rebecca menarik anak busur lalu melesatkannya ke langit hingga meledak membentuk sebuah percikan kembang api, itu akan menjadi tanda kami untuk menyerang.
Hanya kelompok aku dan Rebecca saja yang terdiri dari dua orang demi memudahkan kami menyusup dalam keributan yang akan terjadi.
Setelah yakin dengan apa yang kami pilih, kami berdua melangkah maju, setiap ada player PK kami langsung menjatuhkannya. Aku melompat untuk menangkap Rebecca sebelum membawanya bersembunyi di belakang tembok.
"Kau pasti bercanda, ada pemain dengan job khusus di kelompok mereka."
Sama seperti Rebecca ada orang lain juga yang memiliki kemampuan diluar job yang ditawarkan game ini. Suara pria terdengar kepada kami.
"Haha kalian berusaha untuk menghancurkan kita di sini bukan, sayang sekali rencana kalian sudah kami ketahui sejak awal.. aku yakin teman-teman kami juga sudah menghadang kalian dari berbagai tempat."
Sial, harusnya aku tidak melewatkan hal ini.
__ADS_1
Sudah jadi hal lumrah ada kesatria yang berkhianat terutama di dalam permainan, aku mengeluarkan sedikit tanganku dan sebuah tembakan menembusnya hingga tanganku hancur, aku bisa melihat baris bar HPku berkurang.
"Ugh, penembak jitu."
"Yuto tanganmu?"
"Ini akan kembali dalam waktu beberapa menit."
"Jadi apa rencanannya?"
"Sederhana, aku akan alihkan perhatiannya dan kamu menyerang."
"Terdengar berbahaya mari lakukan."
Aku mengangguk mengiyakan sebelum melemparkan sebuah krikil ke tempat lain, saat tembakan jatuh di sana aku langsung berlari ke tempat berbeda.
Tembakan lain terdengar akan tetapi aku sudah bersembunyi, untuk memaksimalkan rencana ini aku telah menggunakan bom asap untuk membungkus seluruh area sekeliling.
"Kau mau main-main denganku, baiklah akan kulayani."
Skillnya bukan hanya skill penembak jitu saja, dia pasti memiliki skill bersembunyi serta skill pengeras suara yang seolah-olah terdengar dari segala arah, benar-benar merepotkan.
__ADS_1
Satu hal yang bisa aku lakukan hanyalah menebak darimana datangnya peluru tersebut lalu berharap Rebecca dapat menyerangnya.