
Menjelang sore hari kami mendapatkan banyak burung untuk dibawa ke kedai di lantai pertama, pemiliknya memberikan kami sejumlah uang yang dijanjikan termasuk makan malam gratis untuk hari ini.
Semuanya benar-benar terasa enak.
Karina memulai obrolan dengan apa yang kami lihat sebelum datang kemari.
"Banyak pemain yang menjadi korban PK, apa kita sebaiknya membantu juga?"
"Melawan sesama player aku rasa itu sangat sulit, mereka mungkin sudah punya level cukup tinggi dari semua orang, terlebih barang rampasan yang mereka ambil memperkuat mereka juga."
"Dari yang aku dengar, PK dipimpin oleh beberapa orang kuat dan mereka mengambil lantai 40 sebagai markas mereka."
"Untuk apa mereka melakukan itu?"
"Aku rasa untuk menambah basis mereka semakin besar."
Aku mengangkat tanganku untuk memesan lebih banyak daging untuk dinikmati, ketiga gadis yang sejak tadi berunding menatapku dengan malas.
"Kau sama sekali tidak tertarik soal PK Yuto?"
Aku segera membantahnya.
"Tentu saja aku tertarik, mereka pasti memiliki banyak harta karun untuk diri mereka sendiri, jika merampok dari mereka, aku yakin tidak akan ada yang keberatan."
"Orang jahat."
__ADS_1
"Jahat sekali."
Aku memilih mengabaikan komentar Mofu dan Rebecca begitu saja untuk kembali menyantap pesananku. Para PK, kesatria dan petualang, semakin hari ketiganya semakin besar. Aku tidak tahu harus merasa senang atau tidak mengingat masing-masing dari mereka berkontribusi untuk membuat siapapun bisa mencapai lantai berikutnya.
Pengumuman masuk ke jendela menuku dan itu menampilkan bahwa lantai 70 telah terbuka.
Semua player di sekeliling kami berteriak semangat serta melontarkan pendapatnya.
"Semenjak fraksi kesatria dipimpin nona Alice, prestasi mereka sangat cepat.. kita bahkan tidak perlu menunggu tahunan untuk kembali ke dunia nyata."
"Benar, namun sayangnya kesatria dan petualang kini tidak akur."
"Mau bagaimana lagi dari awal aneh jika kedua hal berbeda bisa bergabung bersama."
Itu menarik perhatianku, aku ingin bertanya lebih lanjut akan tetapi memilih mengurungkannya. Jika ada yang harus aku berikan pertanyaan Alice sendiri adalah pilihan yang tepat.
Kami mulai mengobrol dengan pembicara ringan, mandi di pemandian umum sebelum kembali ke rumah kami di lantai 30 dan tidur dengan tenang. Baru keesokan harinya kami mengunjungi markas kesatria di lantai pertama yang dijaga para kesatria putih di depannya.
Salah satu penjaga menghentikan kami sebelum dia menyuruh temannya untuk melaporkannya dulu kepada Alice. Setelah beberapa saat Alice sendiri muncul untuk menyambut kami.
"Senang kalian mau mampir kemari, masuklah kita bisa bersantai di ruanganku."
Kami sedikit kaget dengan keramahannya hingga kami hanya bisa mengiyakan dan mengikutinya sampai ke ruangan yang di dalamnya dipenuhi sofa empuk.
"Anggap saja ada di rumah sendiri."
__ADS_1
"Aku mengerti."
Aku melompat ke sofa untuk berbaring di sana, Karina juga melakukan hal sama.
"Nyamannya."
Mofu jelas menghentikan kami.
"Kalian jangan bercanda saat seperti ini."
"Tidak masalah, aku tidak keberatan."
Aku melebarkan tanganku untuk menyambut Mofu.
"Kemari Mofu kau juga bisa berbaring di sini."
"Ogah."
Rebecca menatapku pucat.
"Saat aku menjadi maid, dia sering memelukku dengan cara seperti itu."
"Kau seharusnya menolak."
Alice memiringkan kepalanya namun aku rasa sudah waktunya untuk berhenti bercanda, seorang pelayan mulai meletakan cangkir yang dibawanya sementara aku mulai menjelaskan kedatanganku.
__ADS_1
Semuanya hanya pertanyaan yang menjadi buah bibir di antara sesama player belakangan ini.