
Alice diam memikirkannya sesaat lalu ia bercerita kenapa fraksi Kesatria dan petualangan kini berpisah, itu bukan sesuatu masalah besar hanya saja entah petualang atau kesatria menganggap diri mereka lebih baik dari yang lainnya.
Awalnya hanya satu orang kemudian semakin banyak orang yang berfikir bahwa petualang hanyalah hambatan bagi para kesatria maupun sebaliknya hingga pada akhirnya semua orang berpisah.
"Sungguh disayangkan tapi kurasa itu yang terbaik," kata Alice pelan.
Pada dasarnya dua fraksi ini sama-sama besar jadi jika mereka berpisah bukan berarti satu sama lain akan kesulitan.
Terlebih mereka bukan orang yang sama seperti bulan pertama saat kamu terjebak di sini.
50 persen player bergerak untuk menaklukkan game ini, 30 persen memilih hidup sebagai pedagang dan sisanya memutuskan untuk menjalani game ini seperti dunia nyata, beberapa player bahkan menikahi NPC begitu saja dan tinggal seperti di dunia nyata.
Semua orang bebas memilih dan mereka bisa melakukan apapun di dunia ini.
Alice melihat jendela dengan tatapan jauh seolah memikirkan sesuatu.
"Aku tidak suka dunia nyata meski begitu berada di sini tetap terasa seolah hanya sebuah mimpi, akan lebih baik jika kita bisa kembali ke dunia nyata dan masih memainkan permainan ini."
Aku mengangguk sebagai balasan. Tak lama Karina menyela ke arah lebih penting.
"Lalu bagaimana soal penaklukan lantai?"
"Masing-masing orang sepakat untuk bergantian dalam menaklukkannya, sekarang giliran para petualang jika setelah dua Minggu mereka masih belum menang maka giliran kami dan hal itu terus bergantian."
__ADS_1
Aku merasa lega bahwa masalah ini bisa diselesaikan seperti itu.
"Ngomong-ngomong kalian semua apa punya waktu luang untuk besok?"
Kami saling bertukar pandang, sebelum akhirnya mengangguk tanda kami luang.
"Itu sempurna, kami ingin pergi ke lantai 40 jadi aku pikir akan minta bantuan kalian untuk mengalahkan para PK? Rencananya kami ingin mengurung mereka sebelum event berikutnya di mulai."
Aku sudah tahu tentang eventnya namun apa ini waktu yang tepat untuk melakukannya? tanyaku demikian dan Alice mengangguk dengan senang.
"Even berikutnya adalah sesuatu even yang besar karena itulah, aku ingin memastikan bahwa banyak orang yang ikut dan tidak terlibat dengan PK, bagaimana Yuto? Mau bergabung?"
"Selagi dibayar aku tidak keberatan, lagipula tujuan kita mungkin akan terganggu jika terus ada PK di game ini."
Rebecca tersenyum masam.
"Maksudmu kita? Apa hanya kita yang ikut?"
"Tidak, sekitar seratus orang kesatria juga akan terlibat di dalamnya, anggap saja ini seperti sebuah pertempuran sebelum pertempuran sesungguhnya."
Aku mendesah pelan sebagai tanggapan, melawan player bukan sesuatu yang mudah tentunya, namun melihat ekspresi Alice kurasa dia punya satu atau dua ide di belakangnya.
Aku hanya berharap seperti itu.
__ADS_1
Kami mengobrol sedikit lebih lama sebelum akhirnya meninggalkan markas kesatria, sudah tujuh bulan semenjak kami terjebak di sini seharusnya tidak perlu waktu lama lagi untuk kami bisa keluar dari dunia ini.
Saat aku berfikir demikian, aku yakin dewi itu sedang memikirkan rencana licik atau sebagainya.
"Lihat, ada makanan? Mari beli."
"Padahal kau sudah makan tadi."
"Tadi tadi, sekarang, sekarang, keduanya adalah hal berbeda.. tolong seporsi satenya."
"Oke!"
Rebecca mendekat ke arahku setelah dia memastikan ada beberapa orang yang mengawasi kami.
"Tidak perlu diperhatikan, mereka mungkin hanya ingin tahu pergerakan kesatria, hanya itu."
"Jika kau bilang begitu, maka kita tidak perlu melawannya."
Lega karena Rebecca jauh lebih menurut dari orang di depanku.
"Ngomong-ngomong, di mana Mofu?" kataku dan menyadari bahwa Mofu telah terjerumus ke dalam solokan sembari menangis.
Sebaiknya kami membantunya.
__ADS_1