
Bagaimana rasanya mendambakan memiliki suami yang bisa menjadikannya ratu, dan memili keluarga yang sangat perhatian kepadanya,namun impiannya terwujud untuk keluarga yang perhatian, yang ia inginkan adanya pernikahan yang sangat mewah namun ia harus mengubah impiannya itu.
Nikah secara sederhana di KUA, iya karena yang Clarice tau bahwa Darren hanya mempunyai kemampuan sebatas itu, apakah ia menyesal telah menyetujui permintaan papanya, jawabannya tidak mungkin ini sudah menjadi jalannya.
Sedangkan Erlan sangat tidak setuju dengan pernikahan adiknya dengan Darren,apa papa tidak memikirkannya bagaimana selanjutnya kehidupan putrinya, bagaimana nanti kata rekan dan teman-teman Clarice setelah tau dia menikah dengan pria yang sangat sederhana.
"Erlan gak tau lagi pa, apa papa tidak memikirkan kehidupan Cla selanjutnya bagaimana jika Darren tidak bisa mencukupi kehidupan Cla pa, sungguh Erlan tidak rela melihatnya pa, bagaimana papa bisa percaya kepada laki-laki yang baru papa kenal, seharusnya anak bungsu di keluarga kita menikah dengan acara yang mewah pa, bukan seperti ini" Erlan paling tidak bisa melihat adiknya hidup susah, kenapa tidak karena ia selalu memanjakan adiknya itu, apapun yang diminta Clarice selalu dituruti oleh Erlan.
"Biarkan adikmu untuk mandiri bersama suaminya,papa yakin Darren bisa menjadi suami yang baik untuk adikmu" papa mencoba menenangkan Erlan maupun Mama, walaupun tidak ada senyuman diantara mereka.
Disinilah Clarice berada, dirumah yang sangat sederhana bahkan disini tidak ada mobil ataupun rumah yang besar, apakah takdirnya akan seperti ini ia harus merelakan kehidupannya yang selama ini mewah dan manja.
"Mbak Cla mau istirahat,duduk sini mbak kita ngobrol hehe Shanum pengen banget punya kakak perempuan eh dapatnya kakak laki-laki seperti Abang Darren hehehe,tapi tenang bang Darren itu baik mbak" Shanum mencoba mengajak ngobrol kakak iparnya itu, bagaimana tidak terpesona kecantikan Clarice, lihatlah Darren memang tidak salah memili Istri, sudah cantik mau susah senang bersama.
"Kamu masih kuliah ya, udah punya calon apa belum" iya Clarice memang sangat cepat bergaul dan akrab bersama orang baru, dulu dia menjadi anak bungsu sekarang dia mempunyai adik, seru sebenarnya tapi agak canggung saat masih bersama.
Karena ini pertama kalinya Clarice bertemu oleh keluarga suaminya, niatnya hanya lamaran tapi malah menjadi pernikahannya, gugup awalnya tapi lama-lama Clarice akan terbiasa kan.
"Doain apa ya mbak, pengen banget nikah muda kayaknya mama bakal merestui soalnya kan bang Darren sudah menikah" iya bahkan Clarice masih sangat belum akrab dengan ibu mertuanya itu, ia awalnya ragu saat kumpul bersama tapi Darren selalu menenangkannya.
__ADS_1
Sedangkan di jauh sana, Mama Papa dan Darren sedang berbicara bertiga,ia masih sangat heran dengan putra sulungnya itu, bagaimana tidak memiliki karir yang bagus, kerjaan yang enak namanya terkenal tapi mengapa masih saja menyamar menjadi orang biasa.
"Sampai kapan kamu mau menyamar,kasihan istri kamu lihatlah pasti orang tuanya tidak rela melihat putri mereka satu-satunya hidup susah" papa Yudo memulai pembicaraannya, ia ingin membuat putra sulungnya mengakhiri sandiwara ini.
"Tunggu 2 bulan Darren bersamanya pa, jika dia benar-benar tulus maka Darren akan menyudahi sandiwara ini, Darren juga tidak ingin melihat istri Darren susah pa" bagaimana tidak kenal baru, belum ada satu bulan tapi mereka langsung menikah, karena Darren tidak ingin menundanya lagi, ia takut ia gagal menikah lagi.
"Ingat ya, mama gak mau tau kamu sampai lama-lama kayak gini, mama bongkar " mama Mita memperingati putranya itu, sedangkan Shanum dan Clarice mereka sudah mulai akrab, banyak obrolan yang mereka bicarakan tentunya tentang perkuliahan dan permasalahan perempuan.
"Ayo Shanum pulang, Cla papa sama mama pulang terlebih dahulu ya, kapan-kapan mama kesini lagi " mama Mitha tersenyum menatap menantunya yang sangat cantik itu, Clarice hanya menganggukkan kepalanya ia takut salah bicara kepada dihadapan kedua orang tua Darren.
Setelah kepulangan mertuanya, Clarice duduk di ruang tamu iya ada ruang tamu yang tidak terlalu besar seperti dirumahnya, ia hanya menatap kosong meratapi pernikahannya dengan Darren ini.
"Tidak ada yang saya sesali mas, ini sudah takdir kita mungkin dengan ini saya bisa belajar untuk mandiri" apakah Darren bisa memahaminya, bahwa dia memang terbiasa dengan hidup yang mewah.
"Kalau kamu keberatan, setidaknya kita pertahankan sampai lima bulan kedepannya, jika kamu tidak betah maka saya izinkan kamu untuk berpisah dengan saya" apa maksud Darren mana mungkin dia mempermainkan pernikahan ini, pernikahan yang sah secara agama dan negara.
"Tidak mas saya tidak keberatan, disini sepi ya mas tapi enak sih tinggal disini cuma belum kebiasaan aja, yaudah mas boleh saya ke kamar saya capek besok harus kerja" Clarice berpamitan kepada Darren,iya mereka berdua sama-sama menuju kamar mereka.
Kamar tidak terlalu besar, tidak AC disini hanya kipas saja dan lihatlah ranjangnya tidak terlalu besar, kemungkinan akan berdempetan ketika tidur bersama.
__ADS_1
"Saya tidak dirumah tamu saja, biar kamu nyaman tidur di ranjang" Darren mengambil satu bantal untuk ia bawa keluar,namun Clarice mencegahnya ia sangat takut untuk tidur sendirian, apalagi dirumah baru.
"Tidak jangan pergi mas, saya takut sendirian disini gpp mas kita tidur saling berdempetan " Darren mengurungkan niatnya untuk pindah tidur, jujur saja dia juga tidak nyaman disini.
Tidur seranjang dengan seseorang pria yang bagi Clarice masih sangat asing, kenapa tidak belum ada satu bulan perkenalan dia sudah menikahinya.
Keesokan paginya, Clarice bangun terlebih dahulu ia bingung apa yang harus ia masak untuk sarapan di pagi hari ini, Clarice belanja secukupnya iya dia ingin memasak sop tidak lupa dengan tempe dan tahu, hanya ini yang bisa ia beli walaupun Clarice bisa membeli semuanya.
Ia takut jika menggunakan uangnya, Darren akan merasa bahwa dia menghinanya,sebisa mungkin Clarice untuk menerima keadaannya yang seperti ini. ini.
"Kamu masak, maaf uang bulanan belum saya kasih ya, semalem saya capek sekali makanya belum memberikannya" Darren mengambil lima lembar uang seratus ribu di sakunya itu dan memberikannya kepada istrinya.
"Apa uang segini cukup untuk kebutuhan kami, sedangkan semua serba mahal tapi jika aku terlalu menuntut kasihan mas Darren" di dalam hatinya dengan masih memengang lembaran uang itu Clarice berpikir bahwa hidupnya akan sangat sederhana.
"Maaf ya, saya tidak bisa memberikan lebih maaf jika saya mengajakmu untuk hidup susah, kehidupan kamu yang mewah biasanya makan enak sekarang sirna saat kamu tinggal bersama saya, saya tidak memberikanmu kemewahan tapi malah kesengsaraan" apakah Darren akan menyudahi sandiwaranya ini, berapa lama mereka akan hidup bersama dalam keadaan yang seperti ini.
"Lebih baik kita sarapan,karena saya juga harus bekerja dan untuk uangnya saya pasti akan mengaturnya dengan baik, terimakasih mas" Clarice memang pintar membunyikan kesedihannya, bahkan dia tidak melawan suaminya saat dalam keadaan seperti ini.
"Jujur saya beruntung memiliki istri seperti kamu Cla, yang tidak melawan saya menerima saya apa adanya,tapi ini belum seberapa Cla maaf telah membuatmu merasakan kehidupan seperti ini, tunggu sampai dua bulan ya Cla, setelah itu kita akan pindah kerumah kita yang sebenarnya" Darren berkata hal itu dalam hatinya, memiliki istri yang baik, lemah lembut, tidak membantahnya, walaupun ia tau jika diluar sana istrinya menjadi seseorang yang keras kepala, pemarah, cuek,dingin dan egois.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Darren mengantarkan istrinya ke kantor, Darren kira Clarice akan menolaknya tapi justru Istrinya mau ia antar, entah apa kata rekan kantornya nanti, tapi Clarice akan menjawab semua pertanyaan yang mereka tanyakan saat mereka melihat suaminya, kenapa ia harus menutupi semuanya toh sekarang hidupnya hanya berdua saja disini dengan Darren.