
Kay terbangun bersamaan dengan suara petir yang menggelegar. Ia geragapan menyalakan lampu, keringat mengalir di pelipis dari sela-sela rambutnya. Lampu tidak menyala, AC juga tidak menyala. Ah, listrik mati... pantas saja ia berkeringat seperti ini.
Jantungnya masih berdetak dengan kencang, ia sedikit bingung di tengah kegelapan, apakah ia terbangun karena suara petir atau karena mimpinya? Barusan Kay memimpikan hal yang sama lagi dalam waktu seminggu ini, mimpi yang berulang.
Mimpi tentang dua angsa dan danau darah. Kay mengambil handphone, mencoba untuk menghubungi Blake pacarnya. Tapi melihat jam yang terpampang di jam meja ia mengurungkan niat, hari sudah cukup pagi, dan ia yakin sebentar lagi matahari akan menampakkan sinarnya, tepat di balik awan-awan kelabu yang menurunkan rintik-rintik air di luar sana.
10 menit kemudian,
Kay beranjak dari kasur dan membuka tirai jendela apartemen lantai tujuh, lalu berjalan ke dapur untuk minum susu dingin sambil memeriksa handphone, ada 2 pesan....
"Pastikan kamu menjemput saudarimu jam 10.30, love u honey." (Mom)
"Hari ini toko libur." (Boss Aaron)
Oh, good. Beruntung sekali ia tak harus buru-buru hari ini.
Kaylee Mirror merebahkan diri di kasur lagi, lalu ia memencet nomor dan menghubungi Blake, mengatakan ia tak perlu menjemput untuk mengantarkannya ke toko karena hari ini libur, dan ia akan naik taksi untuk menjemput Emilee. Dari seberang telepon Blake bersikeras untuk menemaninya tapi Kay menolak, karena ia membutuhkan waktu berdua dengan saudarinya.
"Barusan aku mimpi lagi, sayang. Hal yang sama." kata Kay agak murung, "Menurutmu ada artinya?"
"Astaga Kay. Jujurlah apa mungkin ada hal tertentu yang kau pikirkan?" Blake terdengar khawatir.
"Entahlah, aku tidak yakin. Tapi ini membuatku takut. Mimpinya jelas dan terus berulang tiap malam."
"Kau tidak harus tinggal sendiri di apartemen tua itu sayang. Kita bisa tinggal bersama. Aku hanya perlu membereskan sedikit bagian dapur dan halaman belakang."
"Oh, kita sudah membahasnya. Aku akan bertahan di sini sampai aku menemukan seseorang untuk Emi." ujar Kay dengan keras kepala.
"Kau tidak harus jadi mak comblang, dia sudah dewasa, dia akan menemukan pria-nya sendiri. Kau tidak bisa selalu bertanggungjawab atas dirinya sayang."
"Hmmh, aku tahu. Hanya saja...."
__ADS_1
"Jangan terlalu menganggap ini sebagai beban dan santailah sedikit. Malam ini kita nonton, ya?"
"Oke. Nanti kuhubungi lagi. Aku harus mandi."
"Baiklah. Bye Kay sayang."
"Bye."
tut... tut... tut....
*****
Pukul 10.00 Kaylee Mirror sudah naik taksi menuju pusat rehabilitasi. Kay membuka jendela mobil dan membiarkan angin menerpa rambut pirangnya yang dibiarkan terurai. Dalam 20 menit yang tidak terlalu macet Kay sudah sampai di gedung dua lantai itu. Usai membayar taksi ia segera masuk ke lobi dan menanyai petugas tentang saudarinya yang akan keluar hari ini.
"Nn. Emilee Mirror, 21th. Kamar 213 akan keluar pukul 10.40, silakan mengisi formulir dan tunggu di sana!" perintah seorang petugas seraya menunjuk bangku di ujung ruangan.
"Terima kasih." Kaylee beringsut mundur.
Wanita di balik meja itu terus menyibukkan dirinya dengan komputer dan tumpukan kertas. Kadang ia merengut dan kadang berawajah datar.
Petugas itu menyadari Kay yang mengawasinya di kursi tunggu, Kay segera menundukkan kepala, berdiri dan menyerahkan formulir itu pada petugas. Ia duduk di kursi tunggu lagi bersama beberapa orang lain yang sepertinya juga menantikan keluarganya keluar dari bangunan ini.
Tepat pukul 10.40 seorang petugas wanita lain membawa saudarinya keluar. Seorang gadis yang mirip dengan Kay, hanya saja sedikit lusuh dan kurus, tapi selebihnya tak berbeda dengan Kay. Tingginya, kulitnya, rambutnya.
Petugas wanita itu menyerahkan Emi pada Kay, dan kemudian pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kay mendengus dengan kelakuan para petugas itu, ia tak bisa membayangkan bagaimana perlakuan para petugas itu pada saudarinya selama dia di sini. Seketika ia merasa bersalah dan menyesal.
"Emi..." Kay memeluknya, "senang bertemu denganmu lagi." ujarnya berusaha ceria.
"Yah... sama-sama." Suara Emi terdengar lemah.
"Kau lapar? Ayo kita makan!" Kay menggandeng tangan Emi menuju pintu.
__ADS_1
"...." Emilee tersenyum samar di belakang saudarinya.
Mereka berdua pun keluar dari pusat rehabilitasi dan menuju restoran cepat saji yang tidak terlalu jauh dari situ.
*****
Kay dan Emi berhenti di Steak and Burger Resto. Mereka memilih duduk di dekat jendela. Kay memesankan Emi dua porsi steak saat ia melihat saudarinya itu dengan lahapnya menghabiskan porsi pertama. Keduanya tak saling mengobrol sama sekali selama makan. Yang terdengar hanya perbincangan pengunjung kain yang samar.
Pisau dan garpu berdenting di tiap sudut resto. Saat mengunyah potongan terakhir Emi memandang Kay dengan tatapan yang aneh, kecewa, senang, dan menuntut rasa penasaran.
"Bagaimana kabar mom dan dad?" tanya Emi tanpa melihat lawan bicaranya, sesekali matanya melihat arah luar jendela.
"Mereka baik saja..." Kay meletakkan pisaunya dan melihat ke arah Emi, "lalu bagaimana denganmu? Bagaimana keadaanmu?"
"Aku? Kau bisa melihat keadaanku. Aku baik-baik saja." Emi terkikik.
"Mom sangat khawatir...." Kay menyampaikan apa yang dirasakan oleh ibu mereka.
Emilee tersenyum sinis kemudian. Memandang dalam ke mata Kaylee.
"Orang yang khawatir padaku adalah orang yang sama dengan orang yang memasukkanku ke tempat terkutuk itu." sahutnya penuh kemuraman.
"Ini demi kebaikanmu. Kau tahu itu kan?" Kay coba menjelaskannya dengan sabar.
"Kebaikan huh? Aduh, sumpah lucu sekali." cemooh Emi.
"Kalau kau tidak berhenti, itu akan membahayakan nyawamu." Kali ini Kay terdengar lebih serius.
"Sudahlah, tolong tak usah membahas itu lagi. Aku ingin istirahat." Emi meletakkan garpu dan menghabiskan minumnya.
Kaylee membayar tagihan dan mereka berdua pun meneruskan perjalanan menuju apartemen Kaylee. Emilee Mirror sudah 2,5 tahun berada di pusat rehabilitasi itu karena penggunaan narkotika, tentu bukan hal yang mudah untuk menerimanya begitu saja meskipun itu memang bagian dari risikonya. Dan Kay berpendapat Emi masih merasa tak terima atas keputusan kedua orang tuanya di masa lalu.
__ADS_1
Kay dan Emi mencegat taksi, meluncur menuju Apartemen Arthuri, apartemen paling murah di kota itu. Harganya hanya sepersepuluh sewa di tempat lain. Kondisi bangunannya masih kokoh meski perlu perbaikan di beberapa titik. Beberapa cat tampak berjamur dan mengelupas. Namun di dalamnya ada beberapa kamar yang terbilang mewah bagi kebanyakan orang.