
Kertas itu jadi lusuh karena remasan dan keringat tangan Kaylee, sama seperti sebelumnya. Benarkah? Benarkah kemungkinan salah satu dari mereka pelakunya? Kertas itu diminta polisi sebagai barang bukti. Sementara mereka di dalam sel, masing-masing apartemen mereka digeledah oleh polisi.
*****
Esoknya...
Boss Aaron, ibu Rascal, orang tua Sarah dan Cecil, bersedia memberikan uang jaminan dan meyakinkan polisi bahwa mereka tidak akan keluar kota, hingga akhirnya mereka dibebaskan dan tetap menjalani pemeriksaan rutin.
Tapi setelah kejadian itu, Sarah dan Cecil dibawa pulang oleh orang tua mereka masing-masing, hanya beberapa kilo dari apartemen, tapi mungkin lebih aman bagi mereka.
Banyak yang orang keluar dari apartemen itu, membuat suasana kini menjadi lebih lengang, meski beberapa orang tetap bertahan karena fasilitas apartemen yang cukup lengkap dengan harga paling murah untuk sewa tempat tinggal di kota. Lagi pula kebanyakan dari mereka hanya menggunakan apartemen sebagai tempat untuk tidur.
Beberapa yang masih bertahan seperti Rascal dan ibunya, Danny Wilfred, pria mabuk dari lantai dua, Ny. Martin dan keluarganya dari lantai tujuh yang juga pemilik bangunan itu, serta beberapa orang dari masing-masing lantai.
Ny. Martin menawarkan sewa apartemen gratis bagi siapapun yang bersedia menggantikan Mr. Halley sebagai petugas jaga, dan biaya sewa separuh bagi yang berkenan menjadi resepsionis.
Sementara itu Boss Aaron telah menawarkan sebuah rumah mungil berjarak setengah kilo dari toko tempat Kay bekerja. Kay dan Emi bisa membayarnya dengan menyiapkan makan pagi dan makan malam untuk Boss Aaron. Tawaran yang cukup menggiurkan, mengingat apa yang baru saja terjadi di apartemen. Tapi Kay dan Emi tidak bisa langsung menerimanya.
*****
Tiga hari kemudian.
Belum ada titik terang untuk kasus Blake dan Mr. Halley,
Kay dan Emi sedang berada di dapur saat itu. Dapur kecil dengan cat kuning, dua kompor gas, buffet, rak piring yang agak usang, tempat cuci, dan beberapa peralatan masak dan makan.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Kay pada Emi.
"Tawaran Ny. Martin atau bos mu?" Emi memotong ikan segar yang tadi dibelinya di swalayan.
"Tawaran Aaron tentu saja. Kita tak mungkin lebih lama di sini. Dua kali, sudah dua kali kertas pesan itu melewati pintu kita, dan itu berakhir dengan dua kematian yang mengerikan."
Emi hanya menunduk menengkuri ikannya,
"Jadi bagaiamana?" tanya Kaylee lagi.
"Kay, bukan tanpa alasan kertas pesan itu datang padamu. Apa menurutmu ada yang membencimu sehingga orang-orang di sekitarmu dibunuh?"
"Apa? Aku... aku tidak tahu, aku tidak mengerti. Kukira ini ulah Danny tapi sepertinya bukan... aku tak punya pandangan lain siapa kira-kira yang melakukannya."
"Kalau ini semua benar-benar ada hubungannya denganmu, tak ada gunanya kita pindah...." ucap Emi dengan muram.
"Apa maksudmu?" nada Kay meninggi.
"Kalau ini ada hubungannya denganmu, siapapun yang mengincarmu akan mengikuti kemanapun kita pergi. Itu maksudku."
"Lalu bagaimana denganmu?! Kenapa kau berpikir ini semua tentangku?! Ini semua terjadi setelah kau kembali. Mungkin saja orang-orang bermasalah itu atau dokter kenalanmu..."
"Aku baru kenal Blake dan Mr. Halley beberapa hari ini. Bahkan Dr. Chaury belum pernah bertemu mereka!" sembur Emi.
"Bahkan ketika dia berkunjung?" Kaylee menyelidik. Dia sangat frustrasi.
"Iya. Karena waktu itu yang berjaga bukan Mr. Halley tapi petugas satunya yang sekarang sudah angkat kaki dari apartemen ini."
Kay menatap tajam ke arah Emilee, sebelum ini terjadi kehidupannya cukup baik. Tempat tinggal, pekerjaan dan bos yang pengertian, pacar yang perhatian dan menjadi penyemangatnya, mom dan dad yang sering berkunjung. Semuanya hal baik....
Kaylee dan Blake berencana menikah tahun depan dengan bulan madu ke daerah tropis, mereka sudah menabung sedikit demi sedikit. Impian yang sia-sia... kini bahkan ibunya yang tiap bulan rutin menghubungi melalui telepon tidak ada kabarnya sekarang .
Kini mom dan dad bahkan tidak menghubungi lagi, mereka juga tak bisa dihubungi... Aargh!
*****
Emi menumis beberapa bumbu dan menggoreng ikannya, aroma tumisan itu menyeruak dari dapur dan menyebar ke seluruh ruangan, menggugah selera makan Kay. Aroma yang gurih, rempah-rempah dan amis ikan segar.
"Mungkin aku akan menerima tawaran Aaron... "
Emilee ganti memandang Kay, tubuh saudarinya itu lebih berisi daripada dirinya,
"Mungkin aku akan bertahan di sini, aku sudah mendapat pekerjaan, dan mungkin aku akan menawarkan diri pada Ny. Martin untuk menjadi petugas resepsionis apartemennya." sahut Emi.
__ADS_1
"Aku tak bisa membiarkanmu sendiri Em. "
"Tenang saja, aku sudah terbiasa sendiri dua setengah tahun ini." Emi membalik-balikan tumisan ikannya, aroma wangi masakan terus menusuk-nusuk hidung Kay.
"Bukan begitu maksudku Emi, kita bisa tinggal bersama. Hanya saja dengan keadaan ini aku tidak nyaman berada di sini...." Kay memelas.
"Buatlah dirimu nyaman. Kau bisa pergi kemana pun kau suka, saat ini aku masih ingin di sini." Emilee mematikan kompornya, membagi tumisan itu dalam dua piring.
Kay menuangkan jus jeruk di gelas dan menyiapkan meja makan. Mereka pun menghabiskan makan tanpa bercakap lagi. Setelah membereskan bagiannya. Emi masuk ke kamar mandi dengan membawa gunting, Kay sempat terkejut, ia berpikir Emi marah padanya dan berusaha melakukan sesuatu yang buruk.
Kay menggedor pintu kamar mandi,
duk, duk, duk...
Emi membukanya,
"Ada apa sih?"
Kay terkejut....
Emilee memotong rambutnya sangat pendek.
"Apa yang kau lakukan Em?"
"Aku hanya memotong rambut."
"Astaga... Sorry." Kay langsung berbalik dan menuju ruang tamu.
Emilee memandang punggung saudarinya yang menjauh. Dia pikir aku sedang apa?
*****
Sabtu pagi.
Kaylee berjalan-jalan di apartemen. Ia turun ke bawah melalui tangga darurat. Di lantai satu dia melihat Danny. Ya... Danny menjadi petugas jaga yang baru. Kay mengangguk pelan saat melewatinya, ia terus berjalan hingga sampai ke ruang kesehatan.
Ruangan itu masih dipalang dengan garis polisi. Sudah beberapa hari ini tak ada kejadian aneh dan mengerikan. Mungkin sang pembunuh takut karena polisi lebih giat berpatroli dan masih terus melanjutkan penyelidikan.
Kay merasa mual berada lama-lama di depan ruangan itu. Dia ingat bagaimana suara yang dikira benda itu jatuh, hingga Sarah menyalakan lilin dan Cecil berteriak. Lalu mereka melihat sesuatu dalam plastik itu, jelas dan tidak antara nyala lilin dan bayang-bayang kegelapan... kubangan darah dalam plastik.
Kay memutar badannya untuk kembali ke depan. Dia mengambil kursi di samping Danny.
"Ada tamu?" tanya Kay.
"Beberapa orang. Tamu Ny. Martin dan ibunya Rascal... tadi kulihat Emi keluar dengan potongan rambut barunya, ke mana dia?"
"Kerja. Dia mendapat pekerjaan di percetakan."
"Kau tidak kerja?"
Kay menggeleng dengan murung, "tidak di hari jumat dan sabtu."
"Kenapa kau murung? Tenang saja, pasti polisi akan menemukan pelakunya..." kata Danny menghibur.
"Hmmh, banyak kasus yang tidak selesai Danny, bahkan ada yang sudah bertahun-tahun. Kalau mereka merasa putus asa dengan keterbatasan petunjuk, mungkin mereka akan menyerah untuk mencari tahu siapa dalang di balik semua ini. Tapi aku murung bukan karena itu, aku tidak berharap banyak. Hanya saja ini karena orang tuaku."
"Kenapa Kay?"
"Sudah lebih dari satu minggu ini mereka tidak menelpon. Padahal harusnya mereka menelpon dan datang untuk menemui Emi. Dia butuh perhatian saat ini, dia baru saja keluar pusat rehabilitasi narkotika."
"Hubungi saja mereka... " Danny tidak tampak terkejut.
"Ini masalahnya... mereka tidak merespons panggilanku. Padahal banyak sekali hal yang terjadi, dan nomor hp mereka yang satunya tidak aktif... "
"Hmmh... "
"Emi berpikir ini karena adikku yang lain. Anak ketiga mereka yang sedikit rapuh, Veinlee. Sejak kelahirannya, semua perhatian mereka tercurah untuknya. Aku sendiri memutuskan untuk tinggal di luar rumah, sedangkan Emi bertahan..."
"Apa itu alasannya masuk ke pusat rehabilitasi?"
__ADS_1
"Iya, sepertinya... Emi tidak tahan dan memakai barang terlarang itu sebagai pelarian. Dan lagi, orang yang disukai Emi ternyata lebih menyukai Vein. Umurku dengan Emi hanya terpaut beberapa menit, kami kembar. Tapi Vein, dia lahir empat tahun setelah kami. "
"Astaga... itu sedikit kompleks." Danny turut bersedih atas kisah Kay dan Emi.
"Aku bisa mengerti perasaan Emi. Tapi tentu aku tak bisa mengendalikannya untuk membuang rasa marah itu. Kasih sayang yang hilang, orang dicintai yang berpaling, lalu mom memasukkannya ke tempat itu tanpa menanyai Emilee kenapa dia sampai menggunakan narkotika, dan bahkan Vein tidak peduli dengan keberadaan kami, dia menguasai semuanya."
"...."
*****
Pintu lift terbuka, Rascal dan ibunya keluar dari kotak itu.
Rascal sedikit kaget melihat Kay sedang bersama Danny, ada perasaan berkecamuk di hatinya. Rascal sudah menyukai Kay sejak lama, dia berusaha untuk selalu menarik perhatian gadis itu, sayangnya kemudian Blake datang. Dan gadis itu kemudian tidak menoleh padanya sama sekali.
Sekarang Blake sudah pergi, Rascal berpikir ini adalah waktunya untuk mengambil tindakan, dia berpikir Kay akan menjadi miliknya. Tapi tiba-tiba Danny muncul, dan sepertinya mereka bisa akrab dengan cepat. Apa Danny akan menjadi penghalangnya untuk mendapatkan Kaylee?
"Mau kemana Cal?"
"Mengantar ibuku periksa... kau sedang apa di sini Kay?"
"Hanya mengobrol. Bosan di kamar."
"Oh. Baiklah, kami pergi dulu..." Rascal mengajak ibunya keluar tanpa bicara apa-apa lagi.
Ddrrttt... Ddrrttt....
Hp Kay bergetar di kamar.
Baru pukul 10 Kay kembali ke atas, itu juga setelah dia menghabiskan mie instan bersama Danny.
Kay masuk ke apartemennya.
Dia pergi ke westafel dan mencuci mukanya. Dia akan ke kantor polisi hari ini dengan Boss Aaron. Setelah mandi, Kay berganti kaos putih dan rok selutut, dia mengenakan jaket birunya, di hadapan cermin dia melihat dirinya sendiri, sekarang dia memiliki lingkaran hitam di matanya, Kay menggelung rambutnya ke atas, melamun. Lalu dia melihat sesuatu di dinding belakangnya melalui cermin.
Foto-foto Blake....
Aku akan membereskannya setelah dari kantor polisi. I'm sorry my love.
Kay memasukkan hp ke dalam totebag-nya. Boss Aaron sudah menunggu di bawah, dia berbincang basa-basi dengan Danny. Tampak hangat, karena Danny juga tidak sedang mabuk.
Kalian pikir aku memanggil Boss Aaron karena dia "bos"? Tidak... itu karena memang dia dinamai seperti itu... Boss Aaron. Dia adalah orang yang temperamental pada orang-orang bersifat pengacau. Contohnya seperti Danny waktu itu. Mungkin dia akan sangat berang dengan pemabuk lantai dua yang sering menghancurkan barang, dan sangat mungkin dia akan membuat babak belur hingga sekarat orang yang telah membunuh Blake dan Mr. Halley... Boss Aaron cukup disegani di kota ini, dan dia termasuk salah satu orang terkaya di kota.
*****
Tiba-tiba Kay teringat mimpinya, tentang dua angsa dan danau darah. Mimpi yang selama seminggu penuh menghantui tidurnya hingga akhirnya berhenti saat Emi datang. Kay jadi berpikir mungkinkah ada hubungannya dengan pembunuhan yang terjadi.
Saat Boss Aaron memboncengnya, Kay membuka percakapan dan bertanya kemungkinan apa artinya.
"Wow... itu mimpi yang aneh. Kau dan Emi kembar kan? Mungkin dua angsa itu menggambarkan pertemuan kalian, dan darah? Tentu saja darah adalah kejadian ini...."
"Hmmh."
"Mungkin pertemuan kalian menyebabkan... atau merupakan tanda, saat kalian bertemu maka akan ada pertumpahan darah. Entahlah, untuk saat ini jangan terlalu dipikirkan. Oke?"
"Ya."
"Kita sudah sampai...." ujar Boss Aaron begitu memakirkan motor di depan kantor polisi.
*****
1 jam kemudian,
Selesai dengan urusan kantor polisi, Boss Aaron mengajak Kay makan di kafe. Tapi Kay sedang tidak ingin makan, jadi dia hanya memesan segelas bir untuk membuat rileks sarafnya yang sudah tegang selama beberapa hari.
Ia mengambil hp dari tas-nya.
Ada misscall?
Siapa?
__ADS_1
Aku tak kenal nomor ini...
Kay memandang ke arah Boss Aaron dengan tanda tanya.