WAIT! WHY?

WAIT! WHY?
Pria dari Lantai 5


__ADS_3

Kay dan Emi menggunakan lift untuk naik ke lantai atas. Pintu lift terbuka dan ada seorang pria di situ. Pria itu mengangguk dan melemparkan senyum ramah pada Kay dan Emi. 


"Penghuni baru?" tanyanya pada Kay.


"Saudariku Cal. Emi perkenalkan ini Rascal dari lantai 5."


Emilee menjabat tangan Rascal dan mereka pun berpisah ketika Rascal melangkah keluar.


"Kalau ada waktu mampir saja." kata Rascal setengah berteriak.


Kay tidak menjawabnya dengan ucapan, tapi ia menunjukkan ibu jarinya tanda setuju. Setelah itu ia segera naik ke atas.


Kay membuka kunci apartemennya.  Apartemen itu tidak luas,  terdiri dari 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 dapur kecil, ruang tamu yang sekaligus ruang baca. Dinding catnya berwarna ungu muda dan sudah mengelupas di beberapa bagian.


"Emi, kau tidur di kamar itu, aku baru membereskannya."


"Baiklah"


"Kau bisa memakai bajuku, listrik kadang-kadang mati, karena biaya sewa di sini murah sekali. Sehabis memasak atau makan langsung cuci ya? Dan aku bekerja pada hari Minggu sampai Kamis jam 9 pagi sampai jam 5 sore." jelas Kay.


"Oke." sahut Emilee singkat.


"Dan nanti malam aku ada janji keluar dengan Blake."


 "Terserah saja...." Emi langsung masuk ke kamarnya yang sudah dirapikan. 


"Ini kunci duplikat apartemennya. Mom dan dad akan berkunjung juga nanti."


"Aku tidak ingin bertemu mereka hari ini Kay. Tolong... katakan pada mereka untuk datang besok saja. "


 "Well."


*****


Pukul 17.00


Bel berbunyi dan Kay membukakan pintu, di depan apartemennya berdiri seorang pria berambut pirang yang tadi sempat bertemu di lift.


"Kue ucapan selamat datang. Dari ibuku." Rascal tersenyum ramah.


"Oh, masuklah Cal... kau tak perlu repot-repot seperti ini."


Mereka duduk di ruang tamu dan Emilee keluar dari kamar untuk bergabung. Mereka pun mulai mengobrol dengan hangat sambil memakan tart dari ibu Rascal. Rascal adalah pria ramah dan perhatian, Emi mulai nyaman untuk berbagi cerita dengannya meskipun mereka baru berjumpa.


Pukul 19.00


Blake sudah berdiri di depan pintu dengan pakaian rapinya, Kay memperkenalkannya pada Emilee. Blake tak terlalu akrab dengan Rascal sehingga ia hanya bersalaman dengannya dan menyibukkan diri dengan majalah di meja. Menunggu Kay yang berganti pakaian dan akhirnya keluar membawa tas kecilnya.


"Cal, kalau kau tidak sibuk bisa tolong temani Emi?" seloroh gadis dengan tahi lalat di pipi itu.


"Tentu saja... dengan senang hati."


"Kau tak perlu menitip pesan seperti itu Kay, aku bukan anak kecil." Emilee merajuk.


Kaylee tersenyum dan keluar bersama Blake. Mobil Blake terparkir di luar apartemen.


"Kau tidak bermaksud menjodohkan mereka kan?" tanya Blake.


"Tidak, tapi kalau mereka bersama kurasa itu akan bagus."


"Jangan konyol sayang, si Rascal itu menyukaimu...." Blake memasang wajah cemburunya.


"Hentikan omong kosong ini, kita jadi nonton atau tidak?" Kaylee agak kesal pada Blake saat cemburu pada Rascal. Karena ia tidak punya perasaan sama sekali pada tetangganya itu.


Blake mengalah, menghentikan ucapannya dan mulai menyetir menuju bioskop.


*****


Malam telah berlalu, hari ini Rabu pagi. Kaylee harus bekerja,


"Emi, kalau kau mau, kau bisa ikut bekerja di toko tempatku bekerja. Boss berkenan menerimamu...."


"Aku akan cari tempat lain saja. Hari ini mereka juga akan datang, jadi aku di rumah saja. Lagipula nanti siang Dr. Chaury akan mengunjungiku."


"Dr. Chaury?"


"Dokter yang merawatku."


"Kalau ada apa-apa hubungi aku atau kau bisa memanggil Rascal. "


Kaylee pun berangkat kerja, ia berpapasan dengan Rascal yang membawa banyak tumpukan kardus roti. Ya... ia dan ibunya punya usaha untuk membuat roti dan sepertinya cukup laris.


"Pagi Kay."


"Pagi Cal."


*****


Di tempat kerja Kaylee Mirror,


"Brengs*k, tidak ada yang memintamu berada di sini!" Kay berteriak pada seorang pelanggan toko yang telah memperlakukannya dengan kurang ajar.


"Berani sekali kau berteriak padaku?!"


"Kalau salah ya salah saja! Bukannya minta maaf malah bertindak keterlaluan!" sembur Kay.


"Dasar perempuan jal*ng!"


Boss Aaron keluar dari kantornya menuju tempat kasir dan si pelanggan.


"Ada apa?" tanyanya.


"Dia tidak sopan padaku."


"Kau kan hanya pelayan bukan ratu, apa aku harus menyembahmu...?" sahut pria yang wajahnya sudah merah padam itu.


"Silakan anda keluar dari sini Tn. Danny." pinta Boss Aaron.

__ADS_1


"Apa?! Berani sekali kau mengusir pelanggan!"


Tanpa banyak bicara lagi Boss Aaron meninju wajah Danny dan ia langsung terhuyung ke belakang menabrak rak makanan siap saji. Danny memegangi hidungnya yang berdarah dan keluar sambil mengumpat dan mengancam Boss Aaron dan Kaylee.


Kay berterima kasih pada Boss Aaron dan ia merapikan makanan-makanan kaleng yang sempat terjatuh dan bercecer. Rasanya kesal sekali kalau mendapatkan pelanggan yang berani menyentuhnya.


*****


Sorenya ia tidak mendapat tumpangan untuk pulang, sehingga ia memutuskan untuk berjalan kaki karena ia tak mau merepotkan Blake.


Kay mulai menyusuri jalanan yang mulai sepi. Ada yang aneh, sepertinya ada yang mengikutinya. Apakah itu pelanggan toko tadi? Kay mempercepat langkahnya, hari mulai gelap.


Sial...  Sial...  Sial... Apa aku sedang diikuti?


Kay berbelok dan mengambil jalan yang berbeda dari biasanya. Ia tidak ingin si penguntit tahu di mana ia tinggal. Begitu sampai di tikungan besar, ia merasa aman, jalanan lebih terang dan banyak orang. Sepertinya ia tidak diikuti lagi. Kaylee menengok kanan dan kiri memastikan dirinya aman.


*****


"Tidak diantar Blake?" tanya Emi yang sedang membaca sebuah novel saat Kay datang.


"Tidak, aku jalan kaki. Bagaimana mom dan dad?"


"Mereka tidak datang, tapi Dr. Chaury datang dan memintaku untuk pemeriksaan lebih lanjut besok di tempat praktiknya."


"Tidak datang? Aku akan menghubungi mereka...."


"Tidak perlu. Aku tak membutuhkan perhatian mereka, biarkan saja mereka tidak mengunjungiku. Kau juga lebih senang tanpa mereka kan?"


"Hmmh, astaga Em. Oh iya, tutup jendela kamarmu saat tidur dan pastikan pintu depan terkunci."


"...."


*****


Tengah malam, Kaylee mendengar pintu depan diketuk. Ia menyalakan lampu, dan keluar kamar, Emi juga keluar kamar.


"Siapa malam-malam begini?" tanya Emilee.


"Entahlah. Siapa di luar?"


Hening.


Kay bertanya lagi,


"Jangan macam-macam. Siapa di luar?"


Masih hening dan tidak ada jawaban. Kay pun membukakan pintu diikuti oleh Emilee. Lorong remang-remang dan kosong, tak ada siapapun.


"Siapa?" tanya Emilee yang terlihat khawatir.


"Tidak ada orang...." Kay segera mengunci pintu dan meminta Emi tidur dengannya.


Malam itu Kaylee agak kesulitan untuk memejamkan mata, perasaannya was-was. Ia telah banyak mendengar teror mengerikan dari koran-koran dan novel misteri yang dimilikinya. Ia berpindah posisi memunggungi Emi, dan seperempat jam kemudian ia mulai bisa tertidur.


Pagi harinya Kay dan Emi bertanya pada petugas jaga dan bagian resepsionis apakah ada orang yang datang di tengah malam. Kata petugas ada tiga orang yang datang tengah malam. Seorang pengantar pizza untuk sang petugas, pria mabuk dari lantai dua, dan Rascal dari lantai lima. Kay langsung menuju ke lantai lima dan menemui Rascal.


"Jangan mengganggu kami." kata Kay singkat.


"Maaf? Apa maksudmu?" ekspresi wajahnya langsung berubah.


"Kau tak perlu iseng dengan mengetuk pintu tengah malam dan kemudian pergi."


"Aku? Aku tidak... hei, aku langsung tidur semalam, aku bahkan tidak naik ke lantai tujuh." sergah Rascal.


"Jangan bohong, Blake bilang kau mungkin tertarik denganku atau Emi. Akhir-akhir ini kau juga sering berkunjung... tapi tolong jangan melakukan hal konyol."


"Well, ucapanmu agak frontal ya? Tapi aku benar-benar tidak melakukan apa yang kau tuduhkan Kay. Apa mungkin... kau punya masalah dengan seseorang?"


Kay terhenyak, ia teringat kejadian di toko dengan Danny. Tapi petugas jaga bilang hanya ada tiga orang yang datang tengah malam, dan hanya dua yang naik.


"Maaf. Aku sedang kacau, untuk saat ini jangan mengunjungi kami dulu, Cal." Kay mengajak Emi naik ke apartemennya, dan meninggalkan Rascal yang melongo sedih.


*****


Di dalam kamar Emi,


"Emi, apa kau punya masalah dengan seseorang?"


"Apa? Ada apa denganmu? Kenapa kau tanya begitu?"


"Jawab saja... "


Ah! Rasanya bisa gila! Aku jadi paranoid. Batin Kaylee.


"Tidak."


"Jujur saja... maksudku, kau berada di tempat orang-orang bermasalah..."


Emilee mengernyit, Kay mondar-mandir di hadapannya.


"Dengar ya Kay! Aku tak punya teman atau musuh kecuali dinding dingin dan kasur keras pusat rehabilitasi itu." Emi terlihat marah.


"..." Kay terdiam. Hmmh, ya tentu saja. Maaf.


"Lagipula orang yang berada di sana tak seburuk yang kau kira." imbuhnya.


"Tentu...."


"Atau mungkin kau punya masalah dengan orang-orang yang menyukaimu?" Emi balik tanya.


"Emilee!" bentak Kay.


*****


Kay keluar kamar dan menghubungi Blake.


"Halo?" sapa Kay.

__ADS_1


"Hai sayang, ada apa?"


"Ada yang mengetuk pintuku semalam, dan aku tidak tahu siapa yang melakukannya...."


"Apa?!"


"Itu sangat menggangguku...."


"Kau sudah tanya petugas jaga?" tanya Blake.


"Sudah. Tak ada yang naik kecuali pemabuk lantai dua dan Rascal."


"Mungkin si sialan itu...." geram Blake.


"Tidak, sepertinya bukan. Aku sudah bertemu dengannya."


"Mana mungkin dia mengaku, sayang?"


"Entahlah Blake, aku agak takut. Beberapa hari lalu aku cekcok dengan Danny Wilfred."


"Kenapa kau tidak cerita padaku sayang?"


"Aku... aku tak ingin membuatmu khawatir."


"Hmmh, nanti pulang kerja temui aku di Cafe RX. Aku tak nyaman jika harus bertemu Rascal atau berbincang dengan Emi. "


"Baiklah."


Kay menutup panggilan dan pergi mandi 5 menit kemudian, Emilee sudah keluar untuk mencari pekerjaan. Saat mengeringkan rambut, Kay mendengar ada yang mengetuk pintu lagi. Dengan ragu ia mengintip dari lubang kunci. Tapi tak ada siapapun yang terlihat. Kay mundur dengan panik, ia menginjak sesuatu dari lantai yang menimbulkan bunyi kemeresak, sesobek kertas...  bertuliskan Bloods.


Kay membekap mulutnya, ia meremas kertas itu, berpakaian dan langsung menyambar tasnya untuk menemui petugas jaga.


"Mr. Halley... apakah barusan ada yang naik?"


"Oh, tidak ada Miss. Mirror. Apakah ada yang mengganggumu?"


"Hmmh, tidak... tidak apa-apa." Kay keluar apartemen dan menuju toko, ia merasa ada yang mengikutinya lagi. Apakah orang yang sama? Atau hanya perasaanku? Kay segera memanggil taksi.


*****


"Pagi Kay!" sapa Boss Aaron.


"Pagi Boss, Boss Aaron lihat ini...!" Kay menunjukkan kertas dan pesan itu pada Boss Aaron.


"Apa ini?" tanyanya keheranan.


"Berada di apartemenku tadi pagi, sepertinya dimasukkan dari bagian bawah celah pintu...."


"Orang iseng?"


"Sepertinya tidak, karena semalam aku mendengar orang mengetuk pintuku, pagi ini juga. Jadi aku mengambil kesimpulan bahwa siapapun orang itu, dia berusaha menggangguku."


"Sudah lapor polisi?"


"Mereka mungkin hanya akan menertawakanku kan?"


"Apa menurutmu ini ulah Danny?" tanya Boss Aaron.


"Aku juga berpikir begitu... aku merasa diikuti selama dua hari ini, tapi tidak ada orang lain yang masuk apartemenku selain pengantar pizza."


"Tapi, bukankah Danny memang pindah ke apartemenmu?"


"APA???"


"Yah, aku mendengar kabar dari tetangga rumah lamanya, dia pindah pagi ini. Mungkin ia tahu kalau kau tinggal di situ. Kalau ada apa-apa panggil saja aku, petugas jaga, atau polisi."


Shit.


Bip...  Bip...  Bip...  1 pesan dari Emilee.


-Aku keluar menemui Dr. Chaury, dan tadi sepertinya ada penghuni baru.-


Kay membuang kertas itu dan mulai berdiri di depan kasir. Lagi pula untuk apa dia khawatir, banyak orang peduli di sekitarnya.


Pulang kerja Kaylee langsung berjalan menuju Cafe RX, hanya perlu waktu 5 menit jalan kaki. Perasaannya tiba-tiba tidak enak lagi. Ia terus-terusan gelisah. Ada pesam masuk lain,


-*Kita bertemu di taman saja- (My B*)


Kay mendengus, dia belum makan dan Blake malah memintanya berjalan 10 menit lagi untuk menuju taman. Dia mempercepat langkahnya. Detak jantungnya meningkat, ia merasa ada yang mengikutinya lagi.


Sampai di taman.


Keadaan terlihat sepi, hanya ada satu atau dua orang yang berlalu lalang, Kay mencari kesana kemari. Padahal Blake bilang menunggunya di dekat tempat bermain anak-anak.


Mana sih dia?


Kay pun menelpon nomor hp Blake. Tidak segera diangkat. Lalu samar-samar ia mendengar suara musik hp Blake, ia melihat sekeliling dan menajamkan pendengarannya.


Oh, aku tak ingin main-main.


Kaylee mencari arah suara, dan ia tiba di depan gerombolan semak. Ia menutup hp-nya dan mulai menelpon lagi, ada suara yang berbunyi di dekatnya. Kay mencoba memanggil, ia berpikir pasti Blake bersembunyi di sekitar sini.


"Blake!"


"...."


"Sayang."


"...."


"Ayolah! Jangan becanda lagi! Aku akan marah!" Kay sudah lelah dan kesal.


"...."


Asal suara berdering itu di dalam rerimbunan semak. Kay membuka semak-semak di depannya itu secara perlahan, hatinya berdesir tak keruan. Dan begitu semak tersibak, apa yang dilihatnya?


Handphone, Blake, dan Bloods.

__ADS_1


"Aaarrrkkkhhh!!!" teriaknya nyaris pingsan.


__ADS_2