WAIT! WHY?

WAIT! WHY?
Hidup dan Mati


__ADS_3

"Ada apa Kay?"


"Tidak apa-apa... tapi, apakah kau mengenal nomor ini?"


Ada dua nomor yang menghubungi Kaylee, dan keduanya tidak terdaftar. Masing-masing lebih dari dua kali panggilan. Kay tidak mempedulikan hp dari tadi.


Boss Aaron memeriksa melalui hp-nya sendiri lalu ia menggeleng perlahan, "Kenapa kau tidak menghubungi kembali? Atau mengirim pesan pada mereka? "


"Ah, iya...." Kay mengetikkan pesan pada dua nomor tersebut dan langsung mengirimnya. Kemudian ia menenggak minumannya.


"Yakin tidak makan?" tanya Boss Aaron.


"Iya... kau makan saja Boss."


Mereka pun larut dalam perbincangan di sela makan siang, tapi sesekali Kaylee terlihat melamun dengan tatapan kosong. Boss Aaron berusaha menghiburnya dengan menceritakan kedua kakaknya yang dulu sering menjahilinya, dan kini kedua kakaknya justru mendapat modal usaha dari Aaron.


Kay terkekeh, berpikir pasti Boss Aaron puas sekali ketika menggelontorkan dana untuk kedua kakaknya yang memohon bantuan.


Usai makan Boss Aaron mengantarkan Kay pulang. Pria berambut keriting kemerahan itu sebenarnya punya banyak mobil, tapi Kay selalu menolak jika dia menawari tumpangan pulang dengan mobil. Jadi Boss Aaron mengeluarkan motor lamanya dan ternyata Kay tidak terlalu sungkan untuk menumpang lagi.


Jalanan kota cukup ramai hari ini, Boss Aaron mengajak Kay berkeliling sebentar dengan motornya. Menyusuri jalan-jalan di Kota Oakville dengan berbagai rumah kuno di kanan-kiri jalan raya.


Sejenak Kay membayangkan memiliki rumah sendiri, rumah kecil yang hangat dengan seseorang yang mencintainya. Tapi semua pupus sirna ketika bayangannya teringat lagi pada Blake.


*****


"Terima kasih Boss." ujar Kay sambil turun dari motor.


"Tidak masalah. Berhati-hatilah, dan tolong pertimbangkan tawaranku." pinta Boss Aaron sungguh-sungguh.


"Oke. Bye...."


Boss Aaron meluncur melewati jalan beraspal yang lurus. Kay masih berdiri di trotoar memandanginya hingga ia berbelok di tikungan dekat tempat percetakan. Lalu ia berbalik menghadap gedung, melihat jendela-jendelanya... ada seseorang dari lantai lima yang mengawasainya... Rascal.


Kay melambaikan tangan pada pria itu, Rascal balik melambaikan tangannya kemudian menutup tirai jendela.


*****


Kay masuk sambil memandangi hp-nya. Tidak ada balasan dari dua nomor yang menelponnya tadi. Ia mengucapkan salam pada Danny dan langsung naik lift ke lantai tujuh. Emi belum pulang, mungkin sekitar jam 3 saudarinya itu akan kembali. Kay masuk ke dalam kamarnya, melepas jaket dan langsung melemparkan tubuhnya sendiri di atas kasur. Ia melamun...


Kemudian ia teringat apa yang ingin dilakukannya tadi sebelum ke kantor polisi, Kay memandang ke arah dinding tempat foto-foto Blake tertempel, ia memandangi foto itu kemudian memejamkan matanya, membayangkan sosok Blake di masa lalu.


Pria dengan kulit sedikit gelap yang membuatnya lebih maskulin, aroma tubuh Blake yang bernuansa alam, segar. Tatapannya yang dingin pada orang-orang yang dicemburuinya, terutama Rascal. Hmmh... Kay mendengus dan bangkit, mengambil foto-foto itu dari dinding, melihatnya satu per satu secara acak, lalu memasukkannya dalam kotak penyimpanan.


Kay sangat merindukan Blake, segala perhatiannya, wajahnya, tubuhnya, sikap cemburunya... semuanya. Ia ingin mengunci semua kenangan itu dalam kepalanya, dan membiarkan hatinya terus berdebar karena itu. Kalau polisi tak bisa menemukan siapa pembunuhnya, Kaylee akan memastikan dirinya untuk mencari tahu.


Kay memutar musik melalui hp-nya. Kemudian ia melihat dua pesan dari dua nomor yang menghubunginya tadi...


Pesan 1, sebuah pesan panjang.


Apa mom dan dad di situ Kay? Sudah berhari-hari mereka tidak pulang. Sopir dan pelayan juga tidak tahu keberadaan mereka. Aku mencoba menghubungimu tapi di sini sinyal sulit didapat. Aku khawatir, mereka bilang akan menemui si Emi... kabari aku secepatnya. (Vein)


Kening Kay mengkerut, mom dan dad tidak bersama Vein, dan sudah berhari-hari?


Pesan 2,


Aku Chaury. Temui aku di Jl. Florish no. 58 , jangan balas pesan ini, dan hapus! (243-xxx-xxx)


Dr. Chaury? Kenapa dia menulis pesan aneh begitu? Dari mana dia dapat nomorku? Apa ada masalah dengan candu Emilee? Ah!


*****

__ADS_1


Kay segera menghubungi nomor Veinlee,


"Halo... "


"Kay? Kay... apa kau tahu di mana mereka? "


"Apa maksudmu tidak pulang berhari-hari?!"


"Ini sejak mereka berpamitan untuk menemuimu dan Emi, setelah itu tak ada kabar dari mereka...."


"APA?! Kenapa tidak segera menelpon polisi?!"


"Aku tidak bisa Kay, aku tidak bisa. Tolong jangan menelpon polisi, mereka akan datang ke rumah untuk bertanya-tanya...."


"Aku tak mengerti apa maksudmu Vein! Aku akan menelpon polisi. Kau bilang kau khawatir tapi kau tidak mengambil tindakan apapun???" Kay mulai emosi.


"Maaf Kay, aku... Aku hanya tak bisa... Tolong jangan telepon polisi... Mari kita cari sendiri saja... Kumohon...."


"Dasar anak gila! Aku benar-benar tak mengerti bodoh! Orang tua kita hilang." Kay kehilangan kesabarannya.


"Aku tak bisa membiarkan polisi datang ke rumah. A... aku 'make' Kay... aku kecanduan. Di... di rumah banyak barang-barang itu. Aku tak bisa. Tidak mungkin membuangnya. Kumohon...." Veinlee mulai menangis dari seberang telepon.


"Dasar kau J*lang brengs*k egois!!! Aku telepon polisi sekarang!"


tut... tut... tut...


Kay menggenggam hp-nya. Orang tuanya menghilang? Vein kecanduan? Setelah ini apa lagi? Kasus Blake dan Mr. Halley belum selesai juga. Masih ditambah Emi dan pesan aneh Dr. Chaury.


Kay kemudian ragu-ragu untuk menelpon polisi. Semua terlalu kebetulan. Kertas berisi pesan, kematian Blake, Mr. Halley, orang tuanya. Kenapa semua terjadi di sekitarnya? Kay mencoba mengingat-ingat apa mungkin ia punya musuh?


Kay menggelengkan kepalanya... sepertinya tidak ada. Ah! tiba-tiba Kay teringat, bukankah ia pernah bertengkar dengan mantan penjaga resepsionis itu?


Sarah...


*****


Cklek.


"Kau pulang lebih awal Em?"


"Iya." sahut Emilee sambil mengangguk melewati kamar Kay.


"Emi, kemarilah sebentar."


Emi masuk ke kamar Kay dan Kay menceritakan apa yang menjadi kegelisahannya, bahkan ketika ia ragu apakah harus menelpon polisi atau tidak.


"Oh! Dasar gadis sialan! Lalu bagaimana?" umpat Emi.


"Mungkin kita bisa minta bantuan Rascal atau siapa pun, asal tidak perlu memanggil polisi."


"Menurutmu... apa ada kemungkinan mereka masih hidup?"


Kay terdiam menatap Emi. Benar.... Belum tentu mereka masih hidup, apalagi kalau ternyata mereka diculik oleh pembunuh Blake. Tapi Kay harus tetap mencari mereka.


Setelah menentukan jalan yang harus ditempuh, Kay mempersilakan Emi untuk istirahat. Dia harus menemui Rascal. Jadi sore itu Kay turun ke lantai lima dan mengetuk pelan pintu apartemen Rascal.


Pintu terbuka,


"Hai Cal...."


"Kay? Ada apa?"

__ADS_1


"Bisakah kita bicara di dalam?"


Rascal tampak keberatan untuk mempersilakan tamunya itu masuk, lalu ia menawarkan untuk berbincang di ujung koridor dengan kamar kosong,


"Ibuku sedang sakit, kita bicara di sana saja, oke? "


"Baiklah...."


Rascal memakai sandal dan mengunci apartemen, kemudian mereka pun berjalan menuju tempat yang ditentukan. Kay meminta bantuan Rascal, dan ia ingin pria itu menemaninya menemui Dr. Chaury. Rascal mengangguk setuju, ia tampak khawatir mendengar hilangnya orang tua Kay.


"Malam ini... malam ini temani aku untuk menemuinya."


"Baiklah. Sampai bertemu nanti malam. Jangan lupa pakai pakaian hangat."


"Okay. "


*****


Kay mengambil gelas di rak, dan menuangkan air putih ke dalamnya, tapi tiba-tiba gelas itu tersenggol dan jatuh,


Praaang!!!


"Ah! Astaga." Kay terkejut dan bergumam sendiri.


Emi keluar dari kamar, langsung menuju dapur,


"Ada apa Kay?"


"Oh, tidak apa-apa. Jangan ke sini, aku menjatuhkan gelas...."


Emi tak menghiraukan perkataan Kay dan membantu saudarinya itu untuk mengambil pecahan-pecahan gelas.


"Em, nanti malam aku ada acara... kau di rumah saja tidak apa-apa?"


Emilee mengangguk, "mau ke mana?"


"Menemui seorang teman...."


"Berhati-hatilah di saat begini."


"Iya. Kalau kau merasa tidak nyaman sendirian, kau bisa meminta Ny. Martin menemanimu."


"Aku lebih suka sendiri saja..."


*****


Kay naik mobil tua Rascal dan mereka menuju rumah Dr. Chaury di Jl. Florish no. 58,


Sekitar 20 menit mereka sudah sampai di rumah yang dituju, rumah tersebut berlantai dua dengan cat putih bersih. Semak-semak mawar di depannya sangat terawat dan bunganya menebarkan harum.


Bip... Bip... Bip...


Kay membuka hp-nya begitu ia dan Rascal turun dari mobil dan mengamati sekitar,


"Seharusnya kau datang sendiri. Suruh pria itu menunggu di mobil. "


Kay tertegun. Ia memandang ke arah rumah, ke arah jendela. Tak ada satupun yang terbuka. Tapi akhirnya Kay memberi pengertian pada Rascal, dan meyakinkannya bahwa ia akan baik-baik saja di dalam. Rascal menurut dengan terpaksa, ia pun kembali masuk ke dalam mobil.


Kay melangkahkan kakinya ke rumah Dr. Chaury, ia berdiri sejenak di depan pintu... Ia serasa di ambang kematian setelah banyak hal buruk yang terjadi. Kay belum pernah bertemu dengan pemilik rumah, ragu dan yakin bercampur satu.


Kay bimbang sejenak...

__ADS_1


Kemudian mengetuk dan langsung membuka pintu itu dengan tangannya sendiri, aroma-aroma aneh langsung menusuk hidung Kaylee. Di balik pintu, telah berdiri seorang pria dengan kemeja putih dan celana jeans sobek di lutut kanan.


__ADS_2