
Pria itu berdiri memandang Kay dengan tatapan aneh. Tingginya sekitar 180 cm. Dia masih terus berdiri hingga Kay menutup pintu di belakangnya. Lalu ia mengajak Kay ke salah satu ruangannya, di dalam rumah itu banyak sekali pintu, dan sepertinya ada ruang bawah tanah juga... Kay tak sempat mengamati lebih jauh dan lebih dalam, pria itu berjalan cukup cepat dan Kay harus mengikutinya.
Kay memasuki sebuah ruangan dengan penerangan yang remang, ada 2 sofa yang saling berhadapan dengan pembatas sebuah meja bulat, sebuah ruang tanpa jendela, dan tak ada perabot atau hiasan apapun dalam ruangan bercat putih itu.
"Duduklah." kata pria itu.
"Apa kau tinggal sendiri?" Kay bertanya untuk memastikan bahwa dia adalah Dr. Chaury
"Iya dan tidak. Jangan banyak tanya, ada yang harus kubicarakan padamu...."
Kay akhirnya duduk di sofa yang berada di sebelah kiri pintu masuk. Pria itu mondar-mandir, seperti orang yang gelisah.
"Apakah ada masalah dengan Emi?"
"Masalah seperti apa yang kau maksudkan?" tanyanya sembari melirik Kaylee.
"Entahlah, kau yang menyuruhku ke sini...." desah Kay.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu. Pergilah dari apartemen itu. Aku sudah mendengar semua kegilaan yang ada di sana...." ujarnya serius.
"Apa Emi yang bercerita?" selidik Kay.
Pria itu langsung berlutut di kaki Kay dan memegang tangannya, tindakannya mengejutkan Kaylee. Dari dekat Kay bisa melihat bahwa pria itu memiliki mata sayu yang cekung, tangannya dingin dan gemetar.
"Kau tak layak diperlakukan seperti itu...." imbuhnya lagi.
Kay mengibaskan tangannya,
"Aku tak mengerti arah pembicaraanmu!"
"Huh... intinya pergilah dari sana." Pria itu berdiri lagi lalu keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru, dia seperti seorang pesakitan.
Kay hendak mengikutinya keluar ketika sadar pria itu menguncinya di dalam ruangan. Kay mulai panik dan menggedor pintu dengan keras.
"HEI! KELUARKAN AKU!" teriak Kay sambil menggebrak pintu.
Brak! Brak! Brak!
"HEI! APA YANG KAU LAKUKAN???" Kay semakin panik.
Brak! Brak! Brak!
Rascal mungkin tak mendengar teriakannya, ruangan ini tadi cukup jauh dari pintu masuk dan semak mawar. Kaylee terus menggedor pintu kayu itu, kemudian terdengar orang memutar kunci, Kay mundur beberapa langkah, ia melihat pria itu membuka pintu dan masuk sambil mengembalikan lintingan bajunya, sekilas Kay melihat luka bekas tusukan di lengan bagian dalamnya.
Pria itu membawa jarum suntik masuk,
"Apa yang akan kau lakukan!? Apa yang kau inginkan?!" teriak Kaylee frustrasi.
"Tenang, ini tidak akan sakit... ini akan membantumu untuk rileks...."
"Hentikan! Biarkan aku keluar!" Kay mencoba mendorong pria itu untuk menyingkir dari pintu.
Tapi pria itu mencengkeram tangan Kay dengan kuat.
"Dengar, aku hanya ingin membantumu...." bisiknya.
Kay meronta dengan keras, tapi pria itu kuat sekali. Mereka saling pandang dalam sesaat, kemudian kurang dari 2 detik perhatian pria itu teralihkan oleh bunyi dari saku celananya sendiri.
Dengan cepat ia mengambil handphone-nya, sehingga Kay punya kesempatan untuk berlari ke depan. Untung saja dia tidak bingung dengan banyaknya pintu di rumah itu.
Kay sudah berada di pintu masuk yang tadi ia tutup sendiri, tapi pintu itu juga terkunci, Kay memukul-mukul pintu itu, dan ia berteriak...
"Rascaaalll!!! Tolong aku!"
Uh! apa dia tidak mendengarku?
"RASCAL! TOLONG!"
Brak! Brak! Brak!
*****
Di dalam mobil, Rascal sedang mendengarkan musik. Mengetuk-ketukan jari-jarinya di kendali mobil, sesekali ia memperhatikan hp-nya, siapa tahu Kay berusaha menghubungi, atau mungkin Rascal harus menyusul ke sana.
__ADS_1
Apa yang ingin dibicarakan pemilik rumah ini dengan Kay? Kenapa dia tak ingin ada orang lain yang ikut masuk? Apa Kay baik-baik saja?
Rascal menurunkan volume musiknya. Samar-samar ia mendengar teriakan dari dalam rumah, Rascal menurunkan kaca mobilnya dan mematikan musik. Benar. Ada suara minta tolong. Rascal keluar dari mobil dan bergegas menuju pintu depan.
*****
Kay masih panik mencoba mencari kunci pintu, dan dari lorong di belakangnya muncullah pria itu, Chaury.
Ia berjalan dengan terpatah-patah dan berpegangan pada dinding, sedangkan tangan satunya masih memegang handphone. Matanya kosong menatap layar handphone itu. Lalu ia berhenti 4 meter dari pintu depan, ia memandang Kay dengan amarah. Pria itu melemparkan sesuatu pada Kay, sebuah kunci. Kunci rumah... Kay memungutnya.
"Keluar! Seharusnya kau tidak memberitahu siapapun! Padahal aku bermaksud menolongmu!" sembur pria itu dengan ngeri.
*****
Rascal berusaha mendobrak pintu, tapi kemudian pintu terbuka dari dalam dan Kay menghambur keluar, menubruk tubuh Rascal.
"Kay?"
"Ayo pergi!" kata Kay setengah tercekat.
Kay menarik tangan Rascal sambil menuruni beberapa anak tangga. Mereka terus berlari, melewati semak mawar.
Masih terus berlari tanpa menoleh ke belakang....
Nafas Kay memburu....
Akhirnya mereka sampai di mobil, Rascal langsung menyalakan mesin dan melajukan mobilnya, sekilas Kay melihat rumah dengan pintu yang sudah tertutup lagi itu.
Di dalam mobil Kay mengatur nafasnya.
"Kay, ada apa sebenarnya?" Rascal mendesak.
"Di... dia... dia hampir menyuntikku dengan sesuatu...." Kay bergidik dan menekuk lututnya.
"Apa?!"
"Entahlah Cal, dia sangat aneh, rumahnya penuh aroma yang aneh juga."
"Iya... hanya terkejut, dia mengunciku di dalam ruangan...."
Rascal menepuk bahu Kay dengan lembut, agar Kay juga merasakan bahwa dia mengkhawatirkannya.
"Dokter macam apa dia?" gerutu Rascal.
"Aku harus membicarakan ini dengan Emi, sepertinya Dr. Chaury itu juga seorang pengguna. Aku takut kalau Emi masih menggunakannya juga." Kay mengerutkan kedua alis lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
*****
Malam itu Kay dan Rascal tidak langsung pulang, gadis berambut pirang itu mengajak Rascal mampir di kafe. Kay memesan sebotol Vodka dan camilan, dengan tambahan Cappuccino untuk Rascal, pria itu sedang ingin dalam keadaan sadar, apalagi dia harus mengemudi dan membantu ibunya besok pagi.
Kay langsung menenggak minuman itu dari botol. Rascal mengamatinya sambil memutar-mutar cangkir Cappuccino-nya.
Malam itu Kay mabuk berat setelah menghabiskan 2 botol Vodka dan terus-menerus menceritakan semua yang menjadi bebannya selama ini, sebelumnya ia tak pernah mabuk-mabukan. Rascal sedikit kesulitan memapahnya ke mobil karena dia berputar-putar dan terjatuh berulang kali.
*****
Rascal mengetuk pintu dan memencet bel apartemen Kay, gadis itu hanya diam bersandar di dada Rascal dalam keadaan berdiri terpejam, tak berapa lama kemudian Emi membuka pintu.
"Dari mana saja kalian? Aku coba menghubungi Kay tapi tak tersambung... astaga! Dia mabuk?"
"Iya. Maaf aku tak bisa menghalanginya, dia terlihat begitu tertekan."
"Tolong bawa ke dalam." pinta Emi.
Emilee masuk lebih dulu ke kamar Kay, dan menatakan seprei untuk saudarinya.
Setelah Rascal menidurkan Kay dia langsung berpamitan untuk pulang. Tapi Emi masih menanyakan dari mana mereka, Rascal dengan tenang mengatakan mereka hanya berkeliling kota sebentar lalu berbincang di kafe. Emi menyipitkan mata dengan curiga, memandang ragu pada pria dari lantai lima itu.
"Terima kasih sudah membawanya kembali." kata Emi, lalu ia mempersilakannya pulang.
Emilee ikut tidur sekitar pukul 2 pagi.
*****
__ADS_1
Kay terbangun dengan tiba-tiba, ia langsung memegangi perutnya yang bergejolak dan kepalanya yang sangat pusing. Kay berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi, dan ia mutah di closet, mengeluarkan semua cairan dan makanan yang sedari tadi mengaduk-aduk lambung.
"Hhhh...." Kay mendesah dan bersandar di dinding, merasakan kepalanya sangat berat, dan kini ia lapar... sangat lapar... dan haus hingga lambungnya terasa perih,
Dengan gontai gadis itu berjalan ke dapur, mengambil selembar roti tawar dan duduk di kursi makan. Kadang juga meringkuk di meja sambil memandangi ruangan yang gelap. Ia memusatkan perhatiannya pada jam dinding, sekarang pukul 4.50 tapi ia merasa tak bisa tidur lagi.
Kay menyalakan lampu ruang baca dan mulai bersandar di kursi sembari tetap mengunyah roti dengan malas. Dia masih merasa mual, sesekali ia berhenti mengunyah. Mabuknya belum juga reda setelah lewat beberapa menit. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke dalam kamar.
Kay berjalan melewati kamar Emi, kamar itu sedikit terbuka, Kay berencana menutupnya... tapi kemudian ia menyadari bahwa Emi tidak ada di tempatnya.
"Em...?" Kay membuka lebar pintu kamar.
Kamarnya sangat berantakan, tak seperti biasa. Hp dan beberapa barang Emi tergeletak begitu saja di lantai.
Emilee Mirror benar-benar tidak berada dalam kamar, dengan bingung dan kepala yang masih pusing Kay menuju ke pintu depan, ia menyalakan semua lampu.
Kunci pintu depan tidak ada.
Kay menarik nafas panjang untuk membantu meringankan pusingnya.
Dia melihatnya lagi,
Sesobek kertas dengan tulisan merah...
Kay memungutnya...
Chest & Eye...
Kay setengah berlari ke kamarnya dengan sempoyongan, mengambil kunci cadangan dan membuka pintu apartemen dengan kasar tanpa menutupnya lagi.
*****
Dengan tergesa ia masuk ke lift dan memencet tombol lantai satu.
Di tempat jaga ada seorang pria yang sepertinya dari lantai satu. Bukan Danny yang sedang berjaga.
"Di mana Danny?"
"Dia keluar dan belum kembali sejak kami ganti shift." jawab pria itu sekenanya.
Pintu utama lobi terbuka, sesorang masuk dengan tumpukan kardus di depannya.
"Cal?" sapa Kaylee.
Rascal menurunkan kardus-kardusnya di depan meja resepsionis.
"Kay? Ada apa pagi-pagi begini?"
"Tolong...." ucap kay lirih, nyaris putus asa.
Pria di pos jaga tidak memperhatikan, dia sibuk dengan video call-nya.
"Ada apa?" Rascal bertanya lagi.
"Emi hilang..."
"Apa dia tidak sedang jalan-jalan?"
"Tidak, tolong lihatlah ini...." Kay menyerahkan kertas itu.
"Hah? Padahal baru beberapa jam yang lalu aku meninggalkan kalian, dan Emi menutupkan pintu untukku."
"Aku harus mencarinya." Kay sudah hampir menangis.
"Biar kutanyakan pada Jesse." Rascal mendekati pria di tempat jaga.
Pria bernama Jesse itu menggeleng pelan saat Rascal menanyakan apakah ia melihat Emi atau orang lain yang ke atas.
"Mungkin saat Danny berjaga." sahut Jesse sedikit cuek.
Rascal menitipkan kardus di depan meja resepsionis dan mengajak Kay menaiki mobilnya. Mereka meluncur ke tempat Dr. Chaury. Setidaknya saat ini di sanalah kemungkinan Emi berada. Meski sangat aneh jika Emi berkonsultasi dengan dokternya pagi-pagi sekali.
Saat itu mereka berpapasan dengan Danny yang berjalan kaki dengan pakaian serba hitamnya... ia berjalan menunduk, kembali ke dalam apartemen. Rascal dan Kay mengamati Danny dengan curiga.
__ADS_1