WAIT! WHY?

WAIT! WHY?
Teror Berlanjut


__ADS_3

Kaylee panik menghubungi Emi. Tak berapa lama kemudian Emilee datang ke taman, saat itu Kay sudah berdiri dengan beberapa orang yang mendengar teriakannya. Lalu petugas kepolisian mulai berdatangan dan langsung melakukan olah TKP. Kay masih syok, kesulitan mengatur nafas dan air matanya yang merebak kemana-mana.


Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Blake tergeletak tak bernyawa dengan leher tersayat begitu dalam memperlihatkan luka menganga dan darah dimana-mana, merembes di antara rerumputan dan tanah. Wajah pria itu sudah sangat pucat. Lukanya ditimbulkan dari benda yang benar-benar tajam.


Emilee memeluknya dan membawanya agak menjauh bersama seorang polisi yang berjaga. Beberapa orang berkerumun dan berbisik mencurigai Kaylee, tapi Kay tidak peduli, yang ada di pikirannya adalah siapa yang begitu tega melakukan ini dan kenapa?


Polisi yang selesai melakukan olah TKP membawa pergi jenazah Blake. Sedangkan Kay, Emi, dan beberapa orang yang menjadi saksi mata dimintai keterangan di kantor polisi. Emi menemani Kay menjelaskan kronologi kejadiannya sambil terisak dan kesulitan bernapas.


Tidak ada tuduhan yang memberatkan Kay, orang-orang yang menjadi saksi mata juga berkata kalau Kay baru tiba di taman sambil terlihat mencari seseorang. Boss Aaron juga mengatakan bahwa karyawannya baru saja keluar toko, hp Kay dan Blake diperiksa dan tak ada yang aneh kecuali pembicaraan tentang Danny dan Kaylee yang merasa diikuti.


Tak ada sidik jari atau apapun yang tertinggal yang mungkin milik pelaku. Sepertinya juga bukan perampokan karena tak ada barang yang hilang. Kemungkinannya adalah pembunuhan berencana. Proses penyelidikan masih berlangsung.


*****


Pukul 23.00


Kay masuk apartemen dengan lunglai dan sedikit dibopong Emi dan Rascal yang tadi ditelpon untuk menjemputnya. Rascal mengucapkan bela sungkawa atas kejadian yang menimpa Blake, namun tidak mendapat respons dari Kaylee. Tatapan mata gadis itu kosong.


"Makan dan minum ini!" kata Emi sambil menyerahkan segelas air putih dan sepotong sandwich.


"Kita harus pindah...." gumam Kay tak jelas.


"Apa Kay?"


"Kita harus segera pindah. Di sini tidak aman." ujar Kay dengan mata nanarnya.


"Apa kau gila Kay? Tenangkan dirimu dulu dan makan itu." Emilee masuk kamar dan mengambil selimut.


Rascal hanya diam saja di sofa sebelah Kay. Ia menyentuh punggung Kaylee untuk membantu menenangkannya.


"Siapa yang tega melakukan itu?" Kay bergumam.


"Apa kau sedang mencurigai seseorang?" bisik Rascal pada Kay.


"Ya," kata Kay tak jelas "D... nny wi.. f... ed."


"Danny? Penghuni baru apartemen ini? Dia hampir tinggal di sebelah kamarku. Tapi sepertinya tidak mungkin dia pelakunya." Rascal masih berbisik.


Kay diam saja hingga Emi memaksanya untuk mengunyah dan menelan sandwich tadi.


"Dengar Kay... mungkin kau masih syok, tapi jangan menghubungkan pertengkaranmu di toko dengan kematian mengerikan Blake. Dan jangan biarkan lambungmu kosong."


"Tapi bagaimana kalau itu benar dia?" cecar Kay.


Emi memberikan teh hangat pada Rascal, dan tak mempedulikan omongan Kay.


"Ngomong-ngomong aku tak bisa menghubungi mom dan dad." Kay menundukkan kepalanya. Ia sangat penasaran sebenarnya, semua kronologi kejadian hari itu serasa berputar cepat di otaknya.


"Aku tak heran kalau tiba-tiba mereka menghilang...." Emi merebahkan diri di karpet lantai, memejamkan mata. Dia juga lelah, tak ingin berdebat dalam hal apapun malam ini.


Tak lama setelah hening mereka bertiga tertidur pulas dalam satu ruangan. Rascal tidak tega meninggalkan Kay dan Emi yang syok dan rapuh, itulah kenapa ia tak segera kembali ke apartemennya.


*****


Pagi-pagi sekali Rascal membangunkan Kay untuk berpamitan, ia harus kembali ke kamarnya. Kay dengan mata sembabnya mengiyakan kepergian Rascal, ia berdiri dan mengantarkannya sampai pintu.


Rascal berpesan untuk Kay agar selalu membawa handphone dan berada di tempat ramai. Kay mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Rascal, ia juga meminta maaf karena sempat mencurigainya. Sekarang dia berpikir, tidak mungkin Rascal yang menerornya dan membunuh Blake. Rascal adalah orang yang baik, begitu pula ibunya.


Kay hendak membukakan pintu saat ia menyadari ada sesuatu di bawah kakinya.... Sobekan? Kertas itu lagi?


Rascal yang menyadari ke mana arah mata Kay tertuju, segera menunduk dan memungut kertas itu, ada tulisan di baliknya... Head.


Kay membelalak dan menahan nafasnya, ia segera berlari membangunkan Emilee,


"Emi, bangun! Emi..." Kay menggoyangkan tubuh Emi dengan keras.


"Ada apa Kay?" Emilee menguap malas.


"Kita harus ke kantor polisi, sekarang!"


"Huh? Kenapa?" Emi duduk sambil menarik-narik otot tubuhnya


"Teror masih berlanjut! Ada kertas lagi...."


Emi melihat kertas yang ditunjukkan Kay. Ia pun ikut panik. Siapa yang akan jadi korbannya? Apakah seseorang dalam apartemen itu? Ataukah orang luar? Yang jelas pasti orang yang mereka kenal.


Mereka sudah bersiap pergi saat akhirnya sadar di luar sedang badai. Tidak memungkinkan untuk pergi, taksi-taksi sedang berhenti jalan, dan mobil lawas Rascal pasti akan mogok setelah 50 meter menderu di tengah badai. Kay berulang kali mencoba menghubungi polisi tapi tak ada tanggapan.


Sialan.


Mereka turun ke bawah, apartemen tempat Kaylee tinggal tidak begitu ramai penyewa, beberapa kamar masih kosong. Mr. Halley tidak ada di tempat jaga, begitu pula bagian resepsionis... kosong.

__ADS_1


Mereka bertiga melihat sekeliling, keadaan bangunan sunyi dan sepi. Kontras dengan badai di luar. Tiba-tiba Emilee teringat sesuatu,


"Cal... ibumu... apa dia baik-baik saja?" tanya Emi.


Rascal langsung berlari untuk naik lift menuju lantai lima,


"Kalian tunggu sampai Mr. Halley datang! Jangan pergi kemana-mana... aku segera kembali. "


Kay dan Emi bersandar ke dinding dekat meja resepsionis. Kay menundukkan kepalanya, membiarkan tatapannya kosong, pikirannya melayang meminta mengingat Blake... tragis, bahkan Kay tak sempat mengucapkan selamat tinggal.


Jenazah Blake masih dalam pemeriksaan. Hatinya terus bertanya-tanya, siapa? Dadanya mulai berdenyut ngilu lagi. Ia masih tak percaya dan tiba-tiba saja air matanya berlinang.


"Kau baik-baik saja Kay?" Emi terlihat waswas dengan saudarinya yang menangis.


"Hmmh, iya... bagaimana denganmu?" Dengan cepat ia mengusap air matanya.


"Aku juga,"


"Kenapa mom dan dad tidak datang dan tidak menghubungi ya?"


"Entahlah, mungkin sibuk dengan anak lain mereka...." ujar Emi sekenanya.


"Kau masih marah ya Em?"


"Di sana bukan tempat yang menyenangkan... aku tak bisa berbohong soal itu," Emilee berbicara sambil mengingat pusat rehabilitasi.


"Maaf Em...." Kay memeluk Emi sejenak.


*****


Rascal belum juga kembali, Kay mulai khawatir. Emilee juga terlihat gelisah dengan keheningan yang ada. Di saat seperti ini pasti para penghuni lain lebih memilih menarik selimut mereka lebih rapat. Hari semakin siang, tapi badai belum nampak akan reda.


Pintu lift terbuka,


Rascal sudah kembali.


"Ibuku baik-baik saja... apa Mr. Halley belum terlihat?"


Kay dan Emi sama-sama menggeleng.


"Aneh sekali. Apa lebih baik kita mencarinya?"


"Iya... aku mengkhawatirkan orang-orang di apartemen ini." sahut Kay.


Penghuni lantai satu kebanyakan orang menegah ke atas. Apartemennya luas. Dan mereka memasang sesuatu untuk meredam suara dari luar ataupun dalam. Mr. Halley salah satu yang tinggal di lantai itu. Kondisi apartemen lantai satu bisa dibilang cukup terawat.


Mereka lalu berjalan menuju ruang umum kesehatan, ternyata Cecil ada di sana ditemani rekan shift nya.


"Cecil...."


"Oh, hallo Miss. Mirror... maaf, kepalaku tiba-tiba sakit, apa ada yang kalian perlukan?" sapanya.


"Di mana Mr. Halley?"


"Bukannya dia di depan? Kupikir kalian datang ke sini karena dia memberitahu." ujar Cecil.


"Dia tidak ada di depan." kata Emi.


"Benarkah?" tanya Sarah.


Sarah dan Cecil menjelaskan bahwa tadinya mereka bertiga di depan. Bahkan ketika Sarah membawa Cecil ke ruang kesehatan Mr. Halley masih di tempatnya. Selanjutnya mereka sama-sama tidak tahu.


Kay tidak memberitahu perihal kertas pesan itu, ia tidak ingin membuat orang-orang ketakutan. Lagipula Sarah dan Cecil bersikap sedikit aneh setelah kematian Blake.


Ruang kesehatan itu sebenarnya gelap, tak dapat pencahayaan dari matahari, dan hanya ada 2 ventilasi kecil yang menghadap bangunan sebelahnya. Tapi ruangan tersebut cukup sejuk dengan AC nya. Lampu penerangannya juga cukup bagus, serta kasur-kasur baru yang dirawat kebersihannya.


Walaupun ruangan itu lebih sering kosong, tapi masih memberikan kesan nyaman, setidaknya jika seseorang tiba-tiba tidak enak badan dan terpaksa beristirahat di sini.


Karena tidak bisa menemui Mr. Halley mereka bertiga hendak berpamitan keluar ketika lampu tiba-tiba mati,


Zzzrrttt...


Kay mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia berpegang pada ranjang dan dinding. Gelap, tak ada cahaya, pengap. Karena terlalu panik, Kay tidak sadar kalau dia membawa hp, seharusnya cukup bagus untuk penerangan darurat.


"Emi? Cal?"


"Aku di dekat pintu, pintunya macet." kata Rascal, ia terdengar mencoba membuka pintu geser yang sudah karatan itu, padahal tadi pintunya baik-baik saja.


"Aku masih di tempatku berdiri tadi," kata Emi.


"Ada lilin di meja periksa. Aku akan coba mengambil dan menyalakannya." kata Sarah sambil menyeret kakinya dan tangan meraba-raba dinding.

__ADS_1


*****


Buugh!


Ada benda yang terjatuh.


"Apa itu?" tanya mereka hampir bersamaan.


"Entahlah...."


Sarah mencapai meja, ia menemukan lilin dan koreknya, lalu segera menyalakannya. Mereka berkumpul di arah cahaya, tapi Cecil masih diam saja di ranjang tempatnya duduk.


"Cecil... kemarilah." pinta Kay.


Cecil masih diam saja, kemudian beberapa detik selanjutnya matanya membelalak dan ia mulai berteriak tak terkendali,


"Aaaa.... Aaaaaa...!!!" suaranya kencang sekali.


"Cecil! Ada apa?" tanya Sarah yang kaget.


"Hei, tenanglah." kata Kay mendekati petugas resepsionis itu.


Lalu Rascal melihat ke arah Cecil membelalak. Cecil terus berteriak lagi dan lagi,


"Kepala! Ah! Aaaaaa!" ia menutup matanya, mereka semua melihat sesuatu di pojok ruangan yang remang-remang. Sesuatu yang cukup besar dan berada di kantong plastik transparan. Benda itu agak bulat, tergenang cairan yang berwarna merah kehitaman.


Itu... kepala... Mr. Halley...


Mereka semua otomatis berlari ke arah pintu.


Dari mana datangnya? Sepertinya jatuh dari lemari pakaian ganti... atau ada yang menjatuhkannya dari lubang plafon?


Sarah langsung muntah, tak tahan lagi melihat kepala yang tergenang darah itu melotot ke arah mereka.


Pintu terbuka, dan lampu menyala. Seseorang berdiri di balik pintu itu. Danny.


"Kau!" teriak Kay spontan, "kenapa kau di sini?!"


"Oh, kau tinggal di sini juga? Aku baru tahu. Aku dengar ada yang berteriak, aku sedang di depan tadi." jelas Danny dengan nada datar.


Cecil dan Sarah langsung menghambur ke arah Danny, menggapit lengannya, meminta perlindungan. Danny terlihat agak bingung, hingga akhirnya ia menyadari apa yang membuat mereka ketakutan dan berteriak.


"Apa-apaan itu?" seru Danny seakan tak percaya.


"Kita harus menghubungi polisi!" cecar Kay, "dan kau... ada yang harus kita bicarakan."


Danny diam saja, ia memegangi Sarah untuk jalan ke depan. Rascal menutup pintu itu dan berharap tidak ada yang masuk untuk menyaksikan pemandangan mengerikan dan membuat mual itu. Mereka berjalan ke arah lobi, tempat resepsionis.


*****


Badai telah berhenti pukul 08.00, Kay berusaha menelpon polisi lagi. Akhirnya telepon diangkat, dan polisi akan tiba sekitar sepuluh menit lagi.


Kay menyuruh Danny untuk menyingkir ke lorong bersamanya, Danny menurut saja tanpa banyak bicara.


"Katakan padaku, apa kau yang melakukan semua ini?" tanya Kay dengan bibir bergetar menahan takut dan marah.


"Kau gila ya?! Aku bukan pembunuh, oke? Aku tidak membunuh siapapun. Sorry, aku mendengar tentang pacarmu dari Rascal."


"...."


"Dengar ya... kita memang sempat cekcok beberapa hari lalu, tapi aku bukan pembunuh." Danny meyakinkan, nadanya terdengar serius dan tulus.


Kay memperhatikan Danny, orang yang di depannya ini berbeda dengan orang brengsek yang berbuat tidak sopan padanya waktu itu, orang yang memegang pantatnya sambil tersenyum menggoda.


"Apa kau mengikutiku?" tebak Kay.


"Tidak.... Hei, aku minta maaf untuk kejadian waktu itu, aku baru pulang dari klub dan pikiranku tidak jernih, lagi pula bos-mu itu sudah memberiku pelajaran."


"Benarkah? Lalu kenapa kau pindah ke sini?" Kay masih menyelidik.


"Hmmh, karena sewa tempat ini sangat murah, aku baru saja kehilangan rumahku... Di sita pihak bank." ujarnya ringan.


"Huh?" Kay mengernyitkan dahi.


"Urusan pribadiku, kau tak perlu mengoreknya lebih jauh. Tak ada hubungannya dengan ini, kecuali kalau kau ingin lebih mengenalku."


Bodoh.


"Baiklah. Biarkan polisi yang bertindak..." Kay berjalan ke depan lebih dulu, entah Danny jujur atau tidak, tapi penjelasannya membuat Kay sedikit tenang.


Mereka kembali ke depan, tak berapa lama kemudian polisi datang. Polisi yang sama dengan yang menangani Blake. Polisi itu memandang semua orang dalam apartemen dengan curiga. Tim forensik langsung menuju ruang kesehatan yang ditunjukkan Sarah dan Rascal, memalang pintu dengan garis polisi berwarna kuning terang.

__ADS_1


Kay dan yang lain di bawa ke kantor polisi lagi, diperiksa dan ditanyai, tapi kali ini mereka harus menginap dalam sel tahanan. Polisi harus memeriksa satu per satu dengan teliti, dan tak seorang pun boleh pergi meninggalkan kantor. Karena kemungkinan salah satu dari mereka adalah tersangka.


__ADS_2