
di pagi hari yang asri ditemani embun menambah indah suasana cakrawala, burung burung tampak berkicau menyambut baik kedatangan suara kokokan ayam.
disisi lain, seorang wanita tengah berkutat dengan peralatan dapur miliknya, ia berencana akan memasak nasi goreng untuk suami dan anak tercintanya.
tangan lihai mulai mengiris bawang merah bak seorang chef yang handal, seolah olah ia sedang berkompetisi dalam memasak.
menghidupkan kompor dan meletakkan wajan anti lengket miliknya, ia menunggu wajan tersebut sedikit panas, jika sudah sedikit panas ia menambahkan minyak goreng ke dalam wajan.
dengan terurut dia memasukkan bawang merah yang tadi sudah ia iris tipis, selagi menunggu bawang yang ia tumis jadi setengah matang ia mengambil perbumbuan di atas meja serta nasi yang sudah disiapkan.
tangan tangan bak chef itu terus bergerak lincah mengaduk dan memberi bumbu nasi goreng yang sedang ia masak, waktu sudah berlalu nasi goreng buatannya siap dihidangkan.
harum mewangi masakan dirinya sudah tercium ke hidung milik suaminya, nampaknya sang suami sudah tak tahan untuk melahap habis masakan istrinya.
seperti sekarang, suami nya itu sudah berdiri di belakang sang istri hendak memeluk namun diurungkan karena instrupsi dari sang istri yang telah menyadari bahwa suaminya telah berdiri di belakangnya sejak tadi.
"ga usah peluk-peluk, bau," interupsi mita kepada sang suami yang sedang memasang wajah cemberut.
"kenapa ga boleh sih," kesal tomi selaku suami mita.
mita hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang kekanakan, ia berlalu dari dapur menuju kamar milik putri tunggal mereka untuk membangunkan agar bersiap siap pergi ke sekolah.
"desi, bangun nak, kamu ga sekolah hari ini?" tanya mita pada anaknya sambil menggedor pintu kamar milik putri nya.
"sekolah bu, ini udah bangun," jawab desi, memastikan kepada ibunya bahwa ia telah bangun dari tidur nyenyak nya.
"oh, yauda kalo gitu siap siap nanti turun ke bawah, sarapan," akhir ibunya.
"hmm," jawab desi yang masih memejamkan mata ngantuk miliknya.
mita merupakan seorang ibu rumah tangga, ia memiliki seorang putri bernama desi dan sang suami bernama tomi, sang suami yang bekerja sebagai dokter membuat mita tak tega melihat suaminya bekerja sendiri, ia berniat ingin melamar menjadi seorang guru di salah satu sma di kota mereka tinggali hari ini.
sudah setengah jam desi belum turun dari kamar nya, padahal ini hari pertama ia masuk sekolah sma, bisa telat nanti kalo lambat kayak gini.
mita beranjak dari meja makan untuk menyusul putri nya, kalo saja putri nya itu belum bangun tidur.
"desi, turun sayang, ayo sarapan nanti telat loh," panggil ibunya dari bawah.
"iya ibu, ini juga udah selesai kok," jawab desi ketika hendak turun dari tangga.
"kamu itu jangan suka ngaret, kan hari pertama masuk sekolah, kalo telat gimana?, nanti dihukum ngadu sama ayah kamu," kesal ibunya kepada desi yang terkesan cuek.
"iyaa, ibu cerewet,"balas desi sambil menghindar dari sang ibu ke belakang ayahnya.
"ih,anak ini ngeyel ya kalo dibilangin!!" ucap ibunya seraya menarik tangan desi yang berhasil lolos dari dirinya.
suasana makan kali nampak diselimuti rasa kesal, lebih tepatnya oleh mita sendiri yang masih kesal dengan desi yang ngeyel kalo dibilangin.
setengah jam berlalu dari acara makan makan pagi keluarga tomi, sekarang desi akan diantar oleh ayahnya ke sekolah, tak lupa berpamitan terlebih dahulu kepada sang ibunda tercinta desi.
"bu, desi berangkat dulu," pamit desi sambil menadahkan tangan kanan miliknya tanda ia sedang meminta uang kepada sang ibunda. "hehe.." lanjut desi dengan cengiran.
"dasar kamu ya, jika ada maunya aja sok a6," ucap ibunya diiringi dengan gerakan dari jarinya diakhir kalimat.
"apa tuh bu?" tanya desi yang tak mengerti apa arti dari gerakan ibunya itu.
"dasar, itu asik artinya itu aja ga tau," jawab mita sebal, dia pikir anaknya ini gaul ternyata nolep, ch ch.
"oh, mana uangnya?" jawab desi dan langsung to the poin ke pertanyaannya, maklum butuh uang, jadi pikiran nya hanya ke uang.
"minta sama ayah, ibu ga pegang uang," ucap ibunya acuh, karena kesal.
"ih, ibu kok gitu, kalo ga ada bilang ga ad dari tadi, ayah desi telat!!," kesal Desi karena merasa di bohongi sambil menghentakkan kakinya menuju mobil sang ayah.
__ADS_1
ayah desi hanya menggelengkan kepala sambil berdecak. "Yauda cepat masuk, nanti telat nyalahin ayah,"
karena pekerjaan rumah sudah beres, desi dan suaminya juga udah berangkat sekolah sekarang waktunya mita menuju ke tempat ia ingin melamar kerja sebagai guru.
tapi sebelum berangkat ia harus bersih bersih badan dulu, dari bangun tidur hanya basuh muka, untuk nyiapin sarapan suami dan anaknya, beres-beres rumah jadi ga sempat kalo mandi dulu tadi.
akhirnya selesai juga acara mandi mandi ku batin Mita senang.
sambil menyiapkan pakaian formal miliknya ia memesan taksi online karena mita tidak bisa mengendarai mobil, lagipula dia tidak memiliki mobil, hanya suaminya saja yang memiliki benda bergerak tersebut.
sambil bersenandung kecil tangannya lihai menggerakkan benda pengering rambut yang sering disebut hairdryer itu ke sela-sela rambut miliknya.
sudah satu jam mita menata penampilannya dan baru sekarang dia selesai dengan wajah miliknya di depan cermin kamarnya, menjadi seorang wanita sangat lah sulit ternyata, harus duduk berjam-jam di depan cermin hanya untuk mempoles wajah.
dan jangan lupa sudah 20 menit taksi yang dipesan mita tadi, parkir di depan rumah miliknya, sungguh pengorbanan yang harus diacungi jempol mamang taksi tersebut,yang merelakan kebosanan menggerogoti dirinya.
mita bergegas menuju mobil taksi yang menunggu dirinya sejak tadi sambil sesekali memikirkan ulang apakah ada barang yang ketinggalan, dirasa tidak ada ia langsung masuk kedalam taksi tersebut setelah mengunci pintu rumah miliknya.
"aduh, maaf pak, belum lama kan bapak nunggu saya?," maaf Mita, takut bapak taksi tersebut kesal karena nunggu lama.
"gapapa, hanya nunggu sebentar, cuma 20..," maklum mamang taksi tersebut namun langsung dipotong oleh mita.
"detik?" potong mita
"menit," jawab mamang taksi jengkel namun bersanding terbalik dengan mimik wajahnya yang senyum.
diperjalanan tidak banyak basa basi yang keluar dari mulut si mamang, serasa mereka berdua memiliki dunia masing-masing, ya boleh disebut sama sama intropert.
sesampainya di depan gerbang sekolah mita langsung turun
"pak, sudah saya bayar via aplikasi tadi," ucap mita dari luar.
"iya bu, terima kasih," jawab sang mamang ramah, setelah mengecek hp miliknya berisi notif pembayaran dari mita.
"mas, tolong bukain gerbang nya, saya mau masuk," pinta mita kepada satpam seumuran dengan dirinya.
pak satpam yang baru melihat wajah mita merasa asing dan tak pernah melihat, bertanya kepada mita sebelum membuka gerbang untuk perempuan tersebut.
"maaf, ada keperluan apa ibu datang kemari?," tanya satpam ramah.
"oh, perkenalkan saya mita, ingin melamar jadi guru disini," jawab mita tak kalah ramah.
"baik, silakan masuk mbak..." dipersilakan oleh satpam sambil mengingat nama perempuan itu.
"mita mas," sambung mita.
"oh ya, mita, silakan" ucap pak satpam sambil membuka gerbang untuk mita.
sekarang mita sedang menyusuri lorong kelas menuju ruang tu untuk menyerahkan berkas berkas lamaran mita.
diperjalanan menuju ruang tu seluruh kelas riuh saat ia berjalan, banyak yang berbisik bisik mengenai dirinya apakah murid baru disekolah mereka.
mita rasanya ingin terbang, serasa dipuji oleh banyak orang, ternyata dirinya masih terlihat muda dan cantik walaupun sudah berumur 32 tahun.
uhh.. bangganya batin Mita berteriak kegirangan.
diujung lorong mita melihat papan bertuliskan ruang tu, mita rasa ia sudah sampai di depan ruang tu dan langsung masuk tak lupa mengucapkan salam.
seluruh orang mengira mita siswa pindahan dan mengajak ia berbicara.
"eh murid baru?, pindahan ya" tanya seorang guru perempuan berlipstik merah merona.
"maaf, tapi saya bukan murid baru bu," jawab mita ramah.
__ADS_1
"loh, bukan murid baru, wali murid?" tanya lagi guru tersebut dan berharap jawabannya kali benar.
"saya mau melamar jadi guru bu, bukan wali murid"
balas mita setengah hati. "untuk ruang tu nya di arah mana nya bu?," tanya mita.
"oh, mau melamar jadi guru toh, bilang dari tadi, ruang tu nya disitu mbak," jawab bu guru tersebut dengan sedikit candaan.
"ya, terimakasih bu," ucap mita akhir.
mita menuju ruang yang ditunjuk oleh bu guru bibir tadi, maaf bukan maksud menghina tapi faktanya seperti itu, jadi maaf kalo kalian tersungging hehe.
setelah sampai di depan ruang tu mita mengetok pintu berharap yang di dalam mendengar dan mempersilakan dirinya untuk masuk.
dari dalam ruang tersebut keluar seorang guru yang diyakini mita sebagai kepala tu.
"loh, siapa" tanya kepala tu kepada mita.
"selamat pagi bu, perkenalkan saya mita yang ingin melamar menjadi guru disini bu," sapa Mita dan Langsung memperkenalkan diri serta maksud kedatangannya kesini.
"oh yang kemaren menghubungi saya, masuk masuk" balas kepala tu itu ramah dan mempersilakan mita untuk masuk ke ruang tu miliknya.
"silakan duduk mbak mita," ucap kepala tu ramah.
"baik, terima kasih bu," terima Mita tidak sungkan sungkan.
"kebetulan sekali kamu hari ini datang, kamu langsung ngajar aja ya," senang ibu kepala tu tersebut kepada mita.
"tapi bu, berkas berkas ini belum ibu cek," balas mita sungkan.
"gaperlu, yang di pesan WhatsApp kemarin udah cukup," balas ibu kepala tu ringkas.
"tapi, bu?," jawab mita merasa tidak enakan.
"ga usah tapi tapi, letakkan aja disitu berkas kamu, kita Langsung ke kelas fase 1," pungkas ibu kepala tu tanpa ada bantahan.
mita yang tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah dari kepala tu itu ikut ikut saja, terserah dia mau di bawa kemana, eh katanya ke kelas fase 1, ya fase satu.
diperjalanan mita diam saja hanya ibu kepala tu ibu beti, Mita tahu namanya setelah bu beti memperkenalkan diri tadi pas diperjalanan, kemaren kenapa Mita tidak tahu namanya padahal sudah berbalas pesan WhatsApp karena mita pikir itu WhatsApp sekolah jadi gaperlu tahu nama.
Bu beti terus berceloteh dan mita hanya manggut-manggut atau sekadar bilang `ya bu'
sudah setengah perjalanan bu beti mengatakan bahwa mereka sudah sampai di fase 1.
mereka masuk beriringan dengan mita berada di belakang bu beti, selagi bu beti lagi menerangkan perihal adab kepada guru Mita hanya menatap seluruh siswa dengan senyum manis miliknya, maklum menjadi seorang guru harus lah ramah tamah.
"baik anak anak, sekarang bu wita akan memperkenalkan dirinya di hadapan kalian,"
ucap bu beti kepada anak muridnya setelah selesai memberi arahan perihal adab kepada guru.
"bu wita, silakan," perintah bu beti kepada wita.
"baik, halo semuanya, perkenalkan nama ibu, bu wita ibu disini mengajar mata pelajaran bahasa Inggris, semoga ibu dan kalian bisa akrab, terimakasih " ucap mita memperkenalkan diri sebagai guru bahasa Inggris baru mereka.
"oke, ibu mau ke kantor dulu, disini ibu wita yang akan mengajar kalian, jangan gaduh!," peringat ibu beti
setelah bu beti meninggalkan kelas, seluruh siswa laki mulai menunjukkan taring playboy nya, niat wita yang awalnya ingin mulai mengajar malah urung oleh tingkah siswa playboy di kelas.
"ibu, ibu kok cantik banget," ucap murid dengan perawakan bak preman.
"bisa aja kamu, asal kamu tahu saya sudah punya suami, mau kamu bersaing dengan suami saya?" diladeni mita, lagipula ini hari pertama, gapapa lah seru seruan tapi lain waktu Mita akan bertindak tegas.
"saya mau," saut laki-laki yang duduk di meja paling pojok dengan raut muka datar.
__ADS_1