Wanita Itu

Wanita Itu
hey five


__ADS_3

Diruang keluarga, dua orang manusia tengah menatap benda segiempat yang sedang menampilkan acara televisi tentang kesehatan. Tak ada suara keluar diantara mereka berdua Hanya suara tv yang mengisi ruangan itu, sayup-sayup terdengar suara jangkrik namun hal itu tak mengganggu ketenangan mereka menyaksikan siaran televisi di hadapan mereka.


fokus dengan televisi Seseorang tidak tahu bahwa orang disampingnya tengah menyusun kata untuk menanyakan sesuatu, suatu hal yang membuat dirinya tak tenang semenjak pulang dari market tadi siang.


Mita, ya perempuan itu, dia telah siap dengan pertanyaannya, memberanikan diri, menarik nafas pelan lalu menghembuskannya. Dia menatap suami di samping kirinya, menilik samping kanan wajah milik suaminya. Melihat ada orang menatap dirinya dari samping membuat laki-laki itu menoleh ke arah istrinya yang ternyata sedang menatap dirinya, mengangkat kedua alisnya tanda bertanya kenapa kepada istrinya itu.


"Mas, kamu selingkuh dari diriku?," Tembak Mita to the poin sambil menatap lurus ke mata milik suaminya tanpa basa basi.


Raut wajah tomi menunjukan keterkejutan saat pertanyaan itu keluar dari mulut istrinya lalu kemudian mengubah mimiknya menjadi sebiasa mungkin.


Lama terdiam, tomi akhirnya mengeluarkan suara. "Maaf, belum memberi tahu mu sebelumnya," ungkap tomi dengan menampilkan wajah sendu miliknya.


"Apa maksudmu?, Aku tak mengerti" balas mita terlampau bingung dengan ucapan suaminya itu.


Tomi meraih tangan lembut istrinya. "Aku sudah lama ingin mengatakan ini kepadamu sayang," mengelus lembut tangan istrinya, mita hanya menampilkan raut kebingungan.


"Apa!!, Jangan berbelit-belit!!," Ujar mita keras, dia tak menghiraukan jika nanti putrinya terbangun dari tidur.


Menghembuskan nafas tomi menatap dalam wajah istrinya, "aku ingin poligami,"


Mita tak tahu harus bicara apa lagi, dunia miliknya seakan runtuh mendengar jawaban suaminya itu. Beranjak meninggalkan suaminya dengan tatapan kosong, baru berdiri tubuhnya lumpuh seketika, terjatuh bersimpuh di depan sofa airnya matanya keluar dengan deras.


Tomi, lelaki hendak membopong tubuh istrinya namun ditepis keras oleh sang empu, ia tak menyangka bahwa dirinya bukan wanita satu satunya yang ada di hati suaminya itu.


"Jauhkan tangan kotor mu itu dari tubuh ku!!!," Hardik mita menatap tajam ke arah suaminya.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu marah mita," kesal tomi, dia tak tahu kenapa istrinya malah marah kepadanya.


"Kamu masih tak mengerti tomi?, Aku marah aku kesal aku benci" ujar mita terisak memukul dada bidang suaminya.


"Karena apa?, Apa karena aku yang ingin poligami?," Balas tomi, tak habis pikir, apa ada yang salah dengan poligami?.


"Iya!!," Jawab mita keras hingga memekakkan telinga. "Aku hanya ingin dicintai seorang diri, aku tak mau dimadu, kamu tahu aku hanya mencintai dirimu seorang, dan sebaliknya aku juga ingin dicintai oleh dirimu sebagai wanita satu satunya di sini," ucap pelan dengan suara serak memilukan sambil menunjuk nunjuk dada suaminya.


"Tapi aku tak bisa mit," ungkap tomi sambil melepaskan tangan Mita di dadanya.


Mendengar itu, hati Mita serasa disiram dengan air garam, hatinya yang telah luka diawal tambah perih oleh air menyedihkan itu.


"Sudah jika kamu tidak bisa ceraikan saja aku!!," Menatap tajam suaminya lalu berdiri bertopang pada bahu sofa disampingnya hendak meninggalkan suaminya. Belum sempat dia berjalan suara berat lelaki itu mengambil kembali atensinya.


"Aku tak akan pernah menceraikan dirimu, ingat itu," ucap tomi dengan menekan kalimat terakhir.


Tomi nampak frustasi menggaruk kepalanya kasar. "Tidak bisa mita!!," Jawab tomi hendak memegang kedua bahu istrinya untuk menatapnya, namun gagal karena mendengar pertanyaan selanjutnya dari istrinya.


"Kenapa," tanya mita nuntut. menghadap suaminya dengan raut datar seperti tidak ada lagi cinta dihatinya.


"Aku... Aku cinta dengannya mit," jawab tomi lelah.


Ayunan tangan Mita berhasil mendarat di pipi mulus suaminya, tamparan keras terdengar seisi ruangan itu bahkan televisi yang masih menyala berlomba dengan suara milik mereka.


"Kau menamparku!?," Ucap tomi menatap tajam istrinya itu bahkan tidak ada lagi kata aku kamu dalam ucapannya, dia terlampau kesal lalu mendekati istrinya, menarik kuat rambut hitam milik istrinya, sang empunya terkejut dengan tarikan kuat suaminya itu.

__ADS_1


"Sakit!! Lepaskan rambutku, bajingan!!!," Teriak mita sambil memukul mukul tangan suaminya.


Tomi yang dibilang bajingan itu tambah mendidih api amarah dirinya.


Mita berhasil keluar dari tarikan suaminya itu, memukul keras tengkuk suaminya, suaminya itu seketika pingsan melihat ada kesempatan dia lalu berlari tertatih-tatih menuju keluar rumah untuk meminta bantuan.


Dalam pelariannya dia tak sadar kalau suaminya telah sadar dari pingsan dan mengendap mendekati dirinya, setelah dirasa sudah dalam jangkauannya, tomi langsung mengungkung tubuh istrinya yang bergetar.


"Dapat, aku tak akan membiarkan dirimu keluar hidup hidup dari sini," ungkap tomi di dekat telinga mita, hal itu membuat diri mita meremang ketakutan.


"Lepas, kamu sudah gila mas," teriak mita, namun tak ada yang mendengar teriakkan itu. Masih berusaha untuk melepaskan tubuhnya dari kukungan tomi, diam sejenak lalu menerjang ke **** ***** suaminya menggunakan pantat miliknya.


Tomi merasakan nyeri di area intimnya, merasakan sakit itu ia tak sadar korbannya telah berhasil lari dari kukungannya. Mengeram kesakitan lalu menyusul Mita dengan menahan rasa nyeri di bagian 'itu'.


Mengambil balok kayu pengganjal pintu, ia segera menyusuri setiap ruangan di dalam rumah miliknya. Tiba di depan dapur ia melihat siluet milik istrinya memasuki ruangan itu, berjalan mendekat membuka pintu secara perlahan tiba-tiba seseorang dengan cekatan melukai tangannya dengan pisau, hal itu membuatnya mengeram keras.


"Kau!!!, Mati kau!," Teriak tomi, sambil memukul kepala mita dengan balok kayu, namun hanya kaki mita yang terkena. Mita merasakan kakinya hancur tulang tulang nya retak membuatnya teriak kencang merasakan sakitnya pukulan kayu mengenai kakinya.


"Hentikan," ucap mita lemas airnya matanya sudah kering untuk menangisi nasibnya bahkan suaranya tersisa serak memilukan di kerongkongan miliknya. Suaminya itu bahkan sudah berhenti memukul kaki mita yang sudah hancur dengan darah berceceran dengan kulit kakinya mengelupas dimana-mana.


Melihat istrinya sudah terduduk lemas dengan darah dimana mana, tomi tersenyum terlihat seperti orang gila Dimata mita. Lalu tomi mengangkat kembali balok kayu itu mengayunkannya menuju ke kepala mita dalam hitungan detik kepala mita sudah hancur lebur bahkan isi kepalanya sudah berpencar.


Mengenyahkan bayangan negatif dibenaknya, mita beranjak dari tempat dia berdiri menuju ruang keluarga menghampiri suaminya duduk.


Huh.. aku belum siap untuk menanyakan 'itu' apalagi hal yang ku takutkan nanti terjadi, lirih batin Mita dengan masih menatap punggung suaminya yang belum menyadari kehadirannya.

__ADS_1


Aku harus mencari informasi sendiri, sebelum itu aku harus berpura-pura tidak terjadi apa-apa, ungkap mita dalam benaknya.


__ADS_2