Wanita Itu

Wanita Itu
hey six


__ADS_3

Di sebuah kamar dengan desain minimalis nampak seorang wanita menggeliat tanda ia telah terbangun dari tidurnya, bangun dari tempat tidurnya ia beranjak menuju keluar kamar.


Mita, wanita satu orang anak itu akan melakukan kegiatan rutin dirinya tiap pagi hari untuk menyiapkan sarapan pagi dirinya, suami serta anaknya.


Melangkahkan kaki di bait-bait tangga, dengan masih menggunakan pakaian khas tidur, Mita menguap menandakan dia masih ngantuk. Mita rasa dirinya harus mencuci mukanya agar rasa kantuknya berkurang.


Samar-samar mita melihat pintu dapur miliknya, mungkin kisaran lima langkah dari tempat dia berdiri, berjalan sebentar Mita akhirnya sampai di depan pintu dapur. Mendorong kenop pintu mita bergerak menuju kamar mandi hendak membasahi wajahnya.


Sesampai di kamar mandi Mita memutar kran di pojok dekat wastafel, Menyingkapkan kedua lengan bajunya dilanjut menguncir rambut hitam panjang miliknya ia mulai menangkup air yang mengalir dari kran. Dinginnya air membuat bibir Mita pucat kedinginan hal itu tidak membuatnya sakit, dirasa sudah selesai mita mematikan kran lalu berlalu keluar kamar mandi.


Melihat seisi dapur mita memutuskan untuk menuju ke tempat pendingin makanan dahulu sebelum memulai masak. Membuka pintu pendingin mita menelisik bahan bahan yang dia masak kali ini. Berbeda dengan hari hari biasanya mita masak seperti nasi goreng, sekarang Mita berencana untuk memasak nasi kuning saja, untuk lauk pauk nya Mita menggunakan telor untuk dia buat dadar.


Lama berkutat dengan bahan di pendingin membuat mita kembali merasakan dingin, dia harus cepat-cepat mengambil bahan yang diperlukan. Dirasa sudah cukup mita beranjak dari pendingin menuju ke area kitchen set yang berada di belah barat dirinya.


Berjalan sebentar, tak lupa dia membawa bahan yang diperlukan yang tadi ia ambil di pendingin, meletakkan bahan tersebut setelah sampai di meja kitchen, berbalik menuju kitchen equipment untuk mengambil peralatan memasak.


Sudah setengah jam berlalu, Mita masih berkutat dengan dunianya, sesekali dirinya akan mencicipi masakan yang dibuatnya, jika dirasa ada yang kurang akan ia tambah lagi bumbu.


Jam sudah menunjukkan pukul 5.30, mita juga sudah selesai dengan masakannya. Berjalan ke wastafel ia membasuh tangannya, ia akan membangunkan suaminya itu untuk siap-siap pergi ke tempat bekerja.


Setelah selesai membasuh tangan Mita langsung menuju ke arah kamar milik mereka, membangunkan suaminya yang masih setia dengan selimutnya.


Membuka pintu kamar, mita menuju ke arah suaminya tidur, menggoyang perlahan badan sang suami. "Mas bangun, udah pagi," ucap mita sambil sesekali membenarkan celana suaminya yang hampir lepas itu.

__ADS_1


"Hmm..," balas suaminya dengan deheman.


"Ch. Jangan dehem doang, cepat bangun" ucap mita namun kali ini ia dengan jurus jitu miliknya, apalagi kalau bukan nyubit pinggang suaminya. Lelaki itu pasti akan bangun jika di cubit.


"Au, sakit yang," ungkap tomi terduduk sambil mengosok area yang di cubit oleh istrinya itu.


"Kamu sih, disuruh bangun tidur ga mau," dumel istrinya menunjukkan raut muka kesal, tomi hanya bisa menghela nafas panjang dengan perlakuan istrinya terhadap dirinya.


"Udah buruan bangun, nanti telat berangkat kerjanya," lanjut mita memberi titah kepada sang suami, dengan malas malasan tomi beranjak dari kasur empuknya, lalu menatap Mita sebel, orang yang ditatap malah balas menatap tajam ke arah dirinya.


Selesai dengan drama bangun tidur suaminya mita beranjak dari kamarnya menuju ke kamar putrinya, untuk apalagi kalau bukan membangunkan putri nya itu. Mendorong kenop pintu kamar putrinya, setelah membuka pintu yang hanya dilihat mita hanya kegelapan, duh anaknya itu hobi sekali tidur gelap gelapan, beranjak menuju jendela menyikap gorden yang menutupinya, dalam hitungan detik seluruh cahaya masuk memenuhi ruangan yang gelap tadi.


Atensi wanita itu kini telah teralih pada putrinya yang masih tidur didalam selimut.


Mendekat menuju putrinya, mita menyikap selimut anaknya, merasakan sesuatu yang bergerak membuat desi perlahan membuka mata, cahaya mulai merebut atensinya bahkan silau mulai menyerang matanya, ahk ini pasti ulah ibunya.


"Ibu.. kenapa dibuka?," Kesal desi saat tahu yang membuka gorden kamarnya adalah ibunya.


"Cepat bangun, udah pagi," ujar ibunya, sambil merapikan rambut putrinya.


"Ihh, iya ini aku bangun," balas desi dengan mata masih tertutup rapat.


"Ibu gak akan pergi kalau kamu belum beranjak dari kasurmu," ancam ibunya, desi hanya mendengus.

__ADS_1


"Iya ini udah," ucap desi dengan memperlihatkan bola matanya kepada sang ibunda, mita hanya menggelengkan kepalanya tidak heran dengan perilaku anaknya itu.


Beranjak dari kasur anaknya ia menyusul suaminya di kamar menyiapkan pakaian untuk suaminya, memasuki kamarnya, tampak sepi hanya suara guyuran shower yang terdengar menandakan suaminya itu sedang mandi. Merapikan tempat tidur sebentar kemudian berjalan menuju lemari pakaian hendak mengambil keperluan suaminya.


Setelah memilah dan memilih pakaian suaminya dan diletakkan di atas kasur, Mita berjalan ke bawah menuju dapur untuk menghidangkan masakan yang tadi ia masak buat sarapan pagi.


Mendengar ada suara yang grasak-grusuk di dapur membuatnya mempercepat langkahnya, ia takut binatang telah melahap habis sarapan mereka.


Sesampainya di depan pintu dapur mita terkejut, bukan terkejut karena binatang telah mengambil alih sarapan mereka melainkan putrinya desi dengan telaten menyiapkan sarapan di atas meja makan, tumben sekali anaknya itu melakukan hal yang langka dilakukannya.


"Lah kamu ternyata, kirain," ujar ibunya dengan nafas sedikit ngos-ngosan.


"Hmm, rajin kan aku, biasa anak tauladan," ungkap desi setelah melirik siapa yang berucap dibelakangnya selagi meletakkan mangkok yang berisi nasi kuning.


Melihat itu membuat mita tak tahan untuk mencibir, "iya, tauladan" sarkas mita dengan bibir menceot ke arah putrinya.


Mendekat anaknya, langkah mita terhenti kala suara bariton suaminya menggema di belakangnya, melihat kebelakang mita melirik sekilas pakaian suaminya, dirasa sudah cukup rapi mita kembali berbalik menuju kursi duduk di seberang putrinya.


Setelah menyapa istri dan anaknya tomi beranjak menuju kursi di samping istrinya, melihat sekilas istrinya lalu mencium kening istrinya, mita hanya menerima, tidak mungkin toh dirinya menolak bisa dicurigai suaminya nanti.


Memulai makan pagi mereka seperti biasa hanya suara dentingan sendok yang berbunyi, tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka bahkan kecapan tak terdengar sedikitpun.


Sudah 20 menit berlalu keluarga kecil itu telah selesai dengan makan pagi mereka, beranjak dari meja makan mita mulai membereskan piring milik suaminya yang belum beranjak dari tadi padahal sudah selesai lebih dulu dari mita dan desi, ahk mungkin suaminya ingin menunggu dirinya dan anaknya selesai, romantis sekali suaminya itu pikirnya.

__ADS_1


Namun jauh di dalam benaknya mita terus menimang apakah dirinya harus bergerak sendiri untuk mencari tahu tentang selingkuhan suaminya.


__ADS_2