Wanita Itu

Wanita Itu
hey three


__ADS_3

betapa terkejut Mita, tanpa sadar pegangan kantong yang berisi ikan patin di kedua sisi tanganya jatuh ke lantai, beriringan dengan benda bening mengalir di pipi miliknya.


jantung nya serasa dihujani tembakan, begitu sakit bahkan dunia ikut campur dalam perasaan miliknya, hujan deras turun begitu cepat menusuk kulit orang yang terkena derasnya hujan.


Menyusuri jalan setapak dengan pandangan kosong, mita tak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.


Orang yang dekat dengan dirinya bahkan selama ini dia tidak pernah menaruh rasa curiga terhadap suaminya itu.


Berjalan sempoyongan, banyak pikiran yang menghujami otak nya, di balik semua itu ia masih gundah memikirkan apakah benar suaminya selingkuh darinya, atau perempuan itu hanyalah sepupu jauh milik suaminya.


Hujan yang deras kini mulai berangsur reda, Mita sudah sampai di depan gerbang rumah miliknya, menatap lamat gerbang tersebut dengan berbagai macam pikiran menerka nerka, rumah ini saksi bahagianya keluarga kecil miliknya.


"dan sekarang atau esok nanti rumah ini akan jadi kenangan semata," bayangnya mengingat tragedi tadi di market, jika terkanya benar bahwa suaminya selingkuh.


Sekelebat bayangan kebahagiaan muncul di pikirannya, Mita menerawang jauh ke masa-masa putri semata wayangnya masih kecil.


**


"Ibu, desi jatuh," aduh sikecil desi kepada mita, ia merengek kesakitan di area lutut nya yang berdarah.


"Kenapa sayang, sini peluk ibu, kita obati oke." Balas sang ibu lembut sambil menuntun putrinya ke arah kursi, mendudukkan putrinya hati-hati.


"Kamu tunggu sini ya sayang, ibu mau ambil kotak p3k dulu di dalam," lanjut ibunya menuju kamar untuk mengambil kotak p3k.


Setelah dapat kotak p3k, mita menuju ke depan tempat desi anaknya berada, sesampainya di sana mita melihat suaminya sudah berada di depan desi, menenangkan si kecil yang merengek tak henti henti.


"Mas, ini kotak p3k nya," panggil mita sambil menyodorkan kotak p3k kepada sang suami, melihat istrinya menyodorkan kotak p3k Tomi segera mengambilnya.


Selagi tomi suaminya, sedang mengobati lutut desi yang berdarah, mita menghibur desi agar tidak merengek lagi, tomi dengan telaten memberi kapas pada area yang berdarah.

__ADS_1


Desi tidak lagi merengek karena sang ibunda memeluknya untuk membuat dia nyaman, Tomi yang dari tadi berkutat dengan kapas pengobatan akhirnya selesai juga.


Mita berniat melepaskan pelukannya pada desi perlahan, namun suara dengkuran halus membuatnya berhenti sejenak dan melirik putrinya yang sedang tidur di pelukannya, lucu sekali anaknya itu.


Memberi isyarat kepada sang suami agar mendekat, untuk membopong tubuh desi ke kamarnya.


Tomi yang diberi isyarat oleh mita kalau desi tertidur bergegas berganti memeluk desi dengan lemah lembut takut anaknya terbangun oleh gerakan miliknya, ia mengangkat tubuh desi untuk di antar ke kamar miliknya.


Keduanya berjalan menuju kamar milik desi, mita membuka pintu kamar desi dengan hati-hati seolah pintu itu bisa membangunkan putri nya.


Memasuki kamar milik desi dengan mita diposisi depan dan disusul oleh suaminya dibelakang sambil menggendong desi.


Tomi meletakkan desi hati-hati ke kasur empuk milik desi, di saat tomi mulai meletakkan ke kasur, desi tiba tiba terkejut, membuat kedua suami istri itu tahan nafas takut desi bangun, dan untungnya desi tidak bangun hanya terkejut biasa, hah mereka lega putri mereka tidak bangun.


Keduanya memandangi wajah putri mereka sambil berpelukan hangat menyalurkan rasa bahagia mereka bersama. **


Bayangan masa lalu itu sirna kala suara seseorang mengagetkan dirinya, mita berbalik ingin melihat siapa yang mengagetkan dirinya.


Lama terdiam menatap sang putri, mita mulai membuka mulutnya menanyakan sesuatu.


"Eh, kamu baru pulang, sudah makan?," Tanya sang ibu kepada desi anaknya.


berbanding terbalik dengan desi yang jengah dengan ibunya yang ditanya malah balik bertanya kepada dirinya.


"Ih, ibu desi kan nanya ibu ngapain berdiri disini ga masuk ke dalam," cerca desi jengkel dengan ibunya yang ditanya malah balik bertanya.


"Oh..., Disisi adem," jawab mita, terlihat sekali ada gurat cemas di mimik wajahnya, takut anaknya akan mencurigai dirinya sedang menangis.


"Ha?," Aneh sekali ibunya ini, depan gerbang adem?

__ADS_1


"Oh ya ibu lupa, ibu mau masak pindang pegagan kesukaan ayah kamu," ujar mita mengalihkan pikiran anaknya yang menurut mita sudah mulai curiga terhadap dirinya.


"Kamu belum makan kan?," Sambung mita dengan pertanyaan berikutnya tanpa peduli sang anak yang ingin menjawab apa yang ibunya katakan walaupun sekadar 'iya'.


"Belum," jawab desi sedikit pelan sambil berpikir apa yang sedang ibunya tutupi darinya, apa ada hal yang membuat ibu sedih, walaupun ibunya basah kuyup karena kehujanan desi tahu ibunya habis menangis.


mengenyahkan pikiran itu mungkin ketika sedang berlari dibawah derasnya hujan mata ibunya kelilipan air hujan, mungkin karena itu, pikir desi.


"Masuk bu, nanti kedinginan baju ibu basah tuh," titah desi karena dari tadi ibunya hanya diam tanpa menyuruh dirinya masuk ke rumah.


"Hmm," jawab mita, dengan tangan kanan nya sudah digenggam oleh desi dipapah menuju ke dalam rumah.


"Ayah belum pulang bu?," Tanya desi setelah sampai di ruang tengah, wajah ibunya terlihat kembali raut kesedihan namun hanya sepersekian detik kemudian berubah bingung, desi jadi bingung apa yang sedang ibunya tutupi.


"Loh, ibu kira bareng kamu pulangnya," jawab mita dengan sekuat hati mempertahankan mimik bingungnya, sebenarnya dia tak mau anaknya tahu masalah dirinya sekarang, mungkin akan ia tutupi sampai waktunya udah pas.


"Ga tuh," ujar desi dengan raut curiga, mita yang melihat raut kecurigaan dari putrinya hanya berpura-pura tidak peka, ia belum siap bercerita masalah ini ke putrinya.


"Udah, ibu mau ganti pakaian dulu, kamu juga ganti baju juga," ucap ibunya diiringi perintah untuk anaknya.


Semoga rasa curiga putrinya tidak membuat dia penasaran, mita sayang sekali kepada putrinya itu, dia tak mau anaknya akan sakit hati dan kecewa ketika tahu ayahnya selingkuh,


Mas tomi aku harap itu semua hanya salah paham diriku saja, batin mita harap.


Disisi lain tomi sudah menyelesaikan urusannya dengan wanita yang bersama dirinya di market tadi, memilih pulang ke rumah untuk istirahat sejenak dari hiruk pikuk kehidupan dirinya sebagai dokter di salah satu rumah sakit milik swasta di negara nya.


Tomi mengendarai mobil miliknya menerjang derasnya hujan hari itu, dia heran perasaan tadi hujan sudah reda tapi ketika dia beranjak menuju mobilnya tiba-tiba hujan turun lagi, alam memang susah diprediksi batinnya.


Diperjalanan menuju pulang tiba tiba jantungnya berdetak gelisah, entah apa yang membuat dirinya itu gelisah.

__ADS_1


"Ada apa dengan diriku, tiba tiba gelisah?," Tanya dirinya dengan udara.


__ADS_2